Single Parents

Single Parents
Malaikat mencabut nyawa



Seorang bocah kecil tengah duduk tenang dibawah pohon yang rindang, sambil menunggu seseorang yang mengurus data-data kepindahannya. Fokusnya saat ini ialah buku yang berada ditangannya, entah buku apa itu. Anak itu terlihat acuh dengan keadaan sekitar yang begitu berisik, ia sepertinya tidak terusik sedikitpun.


"El, belum dijemput?." seorang wanita paruh baya membuyarkan fokusnya, terpaksa ia mendongak, melihat siapa gerangan orang yang sudah mengusiknya. Dibelakang wanita paruh baya itu ada seorang gadis kecil yang tengah bersembunyi, takut-takut jika El akan murka karena ketenangannya terusik.


"sudah." jawabnya singkat. El memang selalu menjaga jarak dari orang-orang yang tidak ia kenal sejak dulu.


Wanita paruh baya itu menelisik keadaan sekitar.


"onty keruang kepsek." seolah tau apa yang akan ditanyakan selanjutnya, El sudah lebih dulu menjawabnya.


Wanita paruh baya itu hanya ber oh ria, kemudian ia berpamitan dengan El dan menggandeng tangan kecil putri kesayangannya pergi.


Tak selang berapa lama, onty Clara terlihat setengah berlari menghampiri El yang hanya fokus pada buku ditangannya.


"maaf El, onty lama ya.." Clara berusaha mengatur nafasnya yang memburu.


"no onty, nih.." El menyodorkan sebotol air mineral mini pada Clara.


"belum aku minum." lanjutnya.


"makasih sayangnya onty." Clara mengacak-acak rambut El sayang sebelum ia menghabiskan minuman yang masih utuh itu.


"onty, kenapa dihabiskan?!." El memberengut sebal.


"eh?." dilihatnya botol kosong yang ada ditangannya, sejurus kemudian Clara tersenyum bodoh pada El yang memasang wajah kesal tapi terlihat imut.


"maaf, onty kelepasan, haus banget."


"ayo pulang, nanti onty beliin di Alfa mart depan sana." Clara menggandeng tangan kecil El, membawanya keluar dari lingkup sekolahnya.


"mommymu pasti udah nungguin dirumah."


"jadi berangkat hari ini onty?."


"iya."


El memang sudah tau jika mereka akan pindah ke ibu kota hari ini. Dira selalu terbuka pada El, walaupun El masih kecil, tapi pemikiran bocah itu diatas rata-rata anak kecil pada umumnya. Jadi ia harus meminta persetujuan dulu pada El sebelum mengambil langkah selanjutnya pada jalan hidupnya.


Mobil yang membawa Clara dan juga El berhenti disalah satu Alfa mart terdekat, seperti yang dijanjikan Clara tadi.


"El mau minuman yang sama kaya tadi atau yang lain?." tawar Clara.


"sama aja onty."


"ok, ayo."


"no! onty saja, El tunggu disini." tolak El mantab.


"oke kalo gitu, tunggu onty, onty gak akan lama." Clara membuka pintu mobilnya setelah berkata demikian.


Setelah Clara masuk kedalam Alfa mart, El juga ikut turun, bocah itu menyapu keadaan sekitar, matanya tertuju pada bocah seumurannya tengah berjalan dijalan raya, matanya menyipit, memastikan jika yang ia lihat tidaklah salah.


Awalnya ia acuh, tapi ketika sebuah klakson panjang mendengung ditelinganya ia sekuat tenaga berlari dan mendorong bocah itu ketrotoar pembatas jalan, bahkan dirinya pun ikut terjerambah disana.


Ciiittt


Decitan ban mobil bergesekan dengan panasnya aspal jalan raya.


Sepersekian detik kemudian, keadaan sekitar sudah mulai ramai.


"kasihan sekali bocah itu, untung saja temannya sempat menolong."


"kenapa bawa mobil ugal-ugalan seperti itu, dikira ini jalan punya nenek moyangnya apa?."


"mentang-mentang orang kaya, seenaknya sendiri."


Itulah sekilas desas desus yang tertangkap oleh sang tersangka.


Ia acuh, tetap berjalan pada dua bocah yang saling bertatapan, entahlah apa arti tatapan itu.


"ma makasih El." seru bocah yang ditolong oleh El.


"hemm." El melirik lutut yang terasa perih, ada darah segar yang mengalir disana, mungkin terkatuk trotoar tadi, sedangkan orang yang ia tolong sedikitpun tidak terlihat terluka.


"e El, a aku minta maaf karna selama ini udah jahat sama kamu, dan makasih udah mau nolong aku." ujarnya takut-takut.


"gak masalah, q udah maafin."


"ta.."


"kalian tidak apa-apa?." Semmy menyela obrolan keduanya, ia berjongkok dihadapan kedua bocah itu.


"nope." jawab El acuh.


"orang tua kalian dimana?." Semmy menelisik wajah El yang terlihat sangat familiar.


"El."


"Egy."


Dua suara yang memekik heboh, membuat fokus Semmy menguar. Ia berdiri dan membalikkan badannya.


Awalnya raut wajahnya terlihat terkejut ketika mendapati dokter Clara dihadapannya, bahkan menyerukan salah satu nama dari dua bocah itu, tapi sejurus kemudian ia sudah mampu menguasai dirinya lagi.


Clara sendiri tak kalah terkejut dengan apa yang ada dihadapannya saat ini.


'malaikat pencabut nyawa ku, pliss beri aku tenggang waktu beberapa jam lagi.' batin Clara menjerit.


Pandangan beralih pada El yang berusaha berdiri menahan sakit dikakinya.


"El, kamu gak papa?." khawatir? tentusaja. anak orang ini, tanggung jawab!.


"gak papa onty."


"onty?." ulang Semmy.


"eh.. i itu.. tu.."


"Sem.." panggilan itu bagaikan malaikat penolong bagi Clara, tapi sejurus kemudian ia mendadak melihat malaikat pencabut nyawanya menjadi dua.


"dokter Clara?."


"tu tuan Dean."