Single Parents

Single Parents
Desain



sudah satu jam lebih mereka membahas proyek pertama yang bertema baju haram, sesuai kesepakatan awal saat pertama kali mereka tanda tangan kontrak.


Walaupun menurut Dira dalam kontrak itu ada beberapa poin yang menurutnya janggal, tapi sejauh ini kerjasama diantara mereka baik-baik saja. Mungkin ia yang berfikir terlalu banyak.


"jadi bagaimana desain yang akan anda buat nona Dira?." Deva kini melempar pertanyaan pada Dira setelah mendengar penjelasan tentang desain dari Amel dan Mega.


"karena ini bertema baju haram, jadi saya membuat underwearnya juga tuan. Jadi untuk bra-nya saya akan membuat model dengan satu tali seperti ini, agar memudahkan untuk membukanya." Dira melihatkan gambar desain pada Deva.


"dan juga untuk yang bawah, saya akan membuat model tali saja dibagikan kanan dan kiri, hanya bagian depan saya buat desain model kupu-kupu supaya menarik."


"untuk bajunya, saya akan membuat model seperti digambar ini, dengan bahan yang transparan agar lebih menggoda." lanjut Dira. Ia memperlihatkan seluruh tampilan desain yang ia buat pada Deva dan juga Dean.


"tuan Dean bagai mana menurut anda?." Deva menyenggol pelan Dean yang duduk disampingnya, pasalnya sedari tadi ia bukannya mendengar apa yang Dira jelaskan tetapi malah memandang wajah Dira yang tengah serius.


'menggemaskan.' batin Dean.


"tuan Dean." Semmy menepuk pelan bahu Dean pelan, tapi nihil, Dean hanya memandang Dira dengan senyum-senyum tak jelas.


"ehem, maaf tuan, apakah desain saya kurang memuaskan?, saya akan membuat desain baru jika anda tidak puas, mohon beri saya sedikit waktu lagi tuan." Dira berbicara dengan sangat hati-hati, walau bagaimanapun ketiga pria didepannya ini bukanlah pria yang bisa disinggung oleh orang kecil seperti dirinya.


"oh, tidak tidak, saya sangat puas dengan desain anda nona. Kalian bisa mulai merancangnya. Bukan begitu tuan Deva?." Dean melempar pandangan pada Deva yang hanya tersenyum mengejek pada Dean.


"ah iya, apakah nona Dira ada waktu lusa?, ada beberapa bagian pada desain yang nona Dira buat yang perlu kita bahas, benarkan tuan Deva?." lagi-lagi Deva dijadikan kampung hitam oleh Dean.


"iya nona Dira, ada beberapa bagian pada desain anda yang perlu kita bahas lusa." pasrah Deva.


"iya tuan, betul kata nona Dira, bagaimana jika kita bahas sekalian." Mega menyetujui usul Dira.


"tidak bisa nona Mega, satu jam lagi saya ada pertemuan yang lain." tolak Dean halus.


'aku kan hanya ingin berdua dengan Dira, aku butuh penjelasan darinya.' Dean melirik El yang sedari tadi fokus dengan buku ditangannya.


"baiklah kalau begitu tuan, dimana nanti kita akan membahasnya?."


"anda bisa datang kekantor saya waktu makan siang nona."


"baiklah."


"tuan, bagaimana dengan desain kami?, apakah ada kesalahan?." tanya Amel.


"oh, tidak nona, desain anda dan nona Mega cukup bagus, kalian bisa mulai merancangnya." jelas Deva.


'desain nona Dira pun juga sangat memuaskan, Dean saja yang mempunyai maksud tersendiri, dasar.' Deva hanya bisa pasrah dengan apa yang diinginkan oleh Dean.


"baiklah kalau begitu, meeting kita Samapi disini dulu. Untuk nona Mega dan nona Amel, saya berharap hasilnya nanti dapat memuaskan. Untuk nona Dira sampai bertemu lagi lusa." Deva berdiri dari duduknya diikuti oleh yang lainnya.


"baik tuan Deva, terimakasih atas kesempatan kerjasamanya, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Mega, Amel dan Dira membungkuk hormat pada ketiga pria didepannya.


🖤