
Hisyam berdecak sebal sepanjang langkahnya, mengingat godaan bik Ina tadi membuatnya semakin kesal, apalagi saat ia ketahuan diam-diam mencari keberadaan Alia di kamar putranya.
"Apa salahnya jika aku mengecek ke kamar Ozan, dia kan, putraku!"
Hisyam bergumam sambil menuruni anak tangga.
Baru saja Hisyam menapakkan kakinya di lantai bawah, kekesalannya pun seketika hilang saat terdengar suara Alia dari luar, tepatnya dari arah kolam yang hanya di batasi dinding kaca yang tembus pandang.
Hisyam mencari asal suara yang tafi di dengarnya, terlihat Alia masih berbicara dengan Hamish lewat panggilan video call.
"Akulah yang beruntung bisa di terima di keluarga ini, padahal semua orang tahu, seorang ibu tunggal yang tak berpendidikan sepertiku hanya akan membawa aib dalam keluarga Osmand yang terkenal dan terpandang"
Ungkap Alia dengan senyum samar yang di paksakan.
"Tak ada yang tak mungkin, Alia, ingat filosofi tentang bunga dandelion yang pernah kuceritakan padamu?"
Alia menautkan alis mendengar pertanyaan dari Hamish yang mengingatkannya pada awal pertemuan mereka di taman waktu itu.
Tak ingin Hamish yang sedang menatapnya dari layar ponsel menyadari kegelisahannya memikirkan hotel milik Hisyam yang terancam bangkrut karena ulahnya, membuatnya kembali mengulum senyum yang di paksakan.
"Tentu saja aku ingat, saat itu kamu memberiku dandelion kan, dan asal kamu tau.....itu bunga pertama yang kudapatkan dari seorang pria"
Bisik Alia, meski sebenarnya Hisyam masih bisa mendengar gurauannya.
Mendengar pengakuan Alia membuat Hamish membelalak, tak percaya dengan pengakuan kakak iparnya itu.
"Ekspresinya biasa aja, kamu terlihat meledekku sekarang...." Alia memanyunkan bibirnya.
"Oya! Tadi kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, tentang apa?" Lanjut Alia, tak ingin Hamish semakin meledeknya.
"Oh, itu...." Hamish kembali terdiam.
Melihat raut keceriaan, di wajah Alia, membuat Hamish tak ingin mengacaukan suasana hati wanita itu.
"Hey...! kenapa diam saja, bukankah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan denganku"
"Ah.... bukan apa-apa, aku hanya ingin meminta maaf karna menyembunyikan identitasku waktu itu...." Ucap Hamish sambil menatap prihatin wanita di hadapanya.
Sejak mengetahui Alia hanya memperkenalkan dirinya sebagai pengasuh dan mengakui wanita di video itu adalah dirinya, Hamish pun semakin khawatir dan tak sabar ingin mengetahui kabar Alia yang pastinya sedih dengan segala permasalahan yang di hadapinya.
Namun karna tak tega membuat Alia mengingat kembali peristiwa buruk yang menyisakan trauma pada wanita itu, akhirnya ia memutuskan untuk mengurungkan niat awalnya, dan beralih menggoda kakak iparnya itu.
"Malam semakin larut, sebaiknya kamu masuk ke dalam sebelum Hisyam keluar dan mencari keberadaan istrinya...."
"Cih... itu mustahil" Alia sedikit berbisik "Tapi, sebenarnya kami....."
Ingin saja Alia menceritakan semua masalahnya, tapi ia sangat sadar, meski pernikahannya dengan Hisyam hanyalah sebuah kesepakatan, tapi tak seharusnya ia menceritakan masalah rumah tangganya pada pria lain.
"Oya! Cek ponselmu sebelum tidur, aku akan mengirimkan sesuatu yang bisa membuatmu kuat seperti dandelion, tut...."
Tak memberi kesempatan pada Alia, tanpa aba-aba Hamish memutuskan panggilan videonya.
"Tiinnggg...." Selang beberapa detik ponsel yang baru saja di masukkan Alia ke dalam sakunya kembali berbunyi.
Alia pun bangkit dari duduknya dan berjalan sambil men-setel ulang wallpaper bertema dandelion yang baru saja di kirimkan Hamish padanya dan....
"Bruuukkk....!" Alia terpental.
Hampir saja ia terjatuh ke lantai setelah menabrak sosok jangkung di hadapannya.
Untung saja Hisyam sigap meraih tubuh mungil istrinya dengan tangan kekarnya, dan menarik Alia dalam rangkulannya
Posisi mereka sudah tak berjarak, meski begitu Hisyam tetap dengan ekspresi datar.
Menanti tubuhnya terkapar di lantai, Alia hanya bisa menutup mata dengan pasrah.
Hisyam yang memerhatikan wajah tegang istrinya dari jarak yang begitu dekat, hanya bisa menelan ludah seiring detak jantungnya yang bergemuruh.
-
Untuk sepersekian detik mereka dalam keadaan itu, Alia yang penasaran akan seseorang yang menjadi penyelamatnya, kini perlahan membuka matanya.
"Tu-tuan!"
Alia gugup saat menatap mata coklat milik suaminya hingga membuatnya seketika menciut.
Melihat reaksi suaminya yang tak bersahabat, membuat tubuh Alia seketika membeku, wajahnya menegang, namun masih berusaha menarik lekungan di bibirnya.
Alia tersenyum ragu, "Tuan sedang apa di sini?" Alia kembali bertanya.
"Kamu pikir apa yang ku lakukan di sini? Tentu saja untuk mengingatkan dirimu akan tanggung jawabmu" Jawab Hisyam ketus.
"Ta-tanggung jawab, maksudnya?" Alia menerka-nerka maksud dari kata-kata suaminya.
Dengan dengup jantung yang bergemuruh, Alia mencoba untuk menghindari tatapan mata suaminya yang senantiasa tajam menusuk hingga ke jantung.
"Apa aku bisa melepasmu sekarang.... dan satu hal lagi, perlukah aku mengingatkan tanggung jawabmu sebagai seorang ibu setiap hari?"
Menyadari ketidak nyamanan Alia dalam dekapannya membuatnya sadar dan perlahan melerai rangkulannya.
"Umm.... jika merasa tak nyaman, kamu bisa tidur di kamar anak-anak malam ini" Ucap Hisyam dengan berat hati.
"Tapi.... bagaimana dengan nyonya dan para pelayan lainnya?" Tanya Alia
Takut jika salah satu pelayan memergoki mereka tidur di kamar yang berbeda.
"Apa kamu ingin aku merubah keputusanku ini?" Pancing Hisyam yang sebenarnya sangat berharap jika Alia juga berpemikiran yang sama dengannya.
"Tidak! Tidak perlu! Aku akan tidur di kamar anak-anak malam ini!"
Alia yang tadi sempat gugup, kini dengan antusias mendengar usul dari suaminya, hingga dengan girang ibu muda itu mengatur langkahnya meninggalkan Hisyam seorang diri.
Sementara suaminya hanya bisa memerhatikan istri kecilnya itu berlari kecil menaiki anak tangga.
"Pasti suasana hatinya sedang baik hari ini" Gumam Hisyam lalu mengikuti istrinya ke lantai atas
-
Alia berkacak pinggang di antara twin bed milik Ozan dan Assyifa.
Setelah mendapat solusi agar bisa tidur bersama kedua anaknya ia pun mulai menata ulang letak twin bed di kamar itu.
Alia yang mulai lelah dengan aktivitasnya terlihat sesekali menyeka keringat yang membasahi wajahnya hingga sebuah tangan yang tampak berotot kini ikut membantunya dan menyatukan kedua tempat tidur itu dengan sekali dorongan.
"Oo....? Tuan belum tidur?" Tanya Alia, tak menyangka jika Hisyam datang membantunya tanpa adanya perdebatan.
"Apa suara berisik ini membangunkan tuan?" Alia memulai kata-katanya setelah keduanya terduduk di lantai sambil menyeka peluh.
"Um.... kebetulan aku sedang lewat...."
Jawab Hisyam lalu meraih sebuah botol kosong di sampingnya dan menunjukkannya pada Alia bahwa dirinya hanya kebetulan ada di tempat itu.
"Oh, maaf, aku sampai lupa menyiapkannya" Alia bangkit.
Melihat Hisyam menujukkan botol kosong padanya, membuat wanita itu berpikir Hisyam sedang menyuruhnya untuk mengambil air mineral untuknya.
"Cih....! Apa setiap kali aku mengatakan sesuatu padanya akan di tanggapinya seolah itu suatu perintah yang harus ia lakukan!" Hisyam berdecak sebal melihat tingkah polos istrinya.
Sambil melirik Alia dengan ekor matanya, Hisyam hanya bisa berdecak sebal melihat tingkah polos istrinya, padahal ia sangat berharap Alia bisa merubah keputusannya untuk tidur di kamar yang berbeda dengannya.
Alia kembali ke kamar Ozan dengan membawa sebotol air mineral di tangannya.
Melihat Hisyam bertingkah santai di atas sofa membuat Alia hanya bisa menghelah napas kasar tak tahu harus melakukan apa agar Hisyam meninggalkan tempat itu.
Seolah tak ingin beranjak dari kamar itu, Hisyam malah merubah posisi tidurnya dan menselonjorkan kakinya di atas sofa sambil menikmati live football yang sedang tayang di televisi.
"Um.... tuan, aku membawakan air mineral yang tuan minta" Alia mengulurkan sebotol air mineral.
"Letakkan saja di situ, aku akan mengambilnya nanti" Jawab Hisyam datar, sementara matanya tetap fokus pada pertandingan yang sedang berlangsung.
Alia melirik ke arah tv, meski ia sama sekali tak mengerti tentang bola, ia tetap penasaran, akan memakan waktu berapa lama lagi pertandingan itu selesai agar Hisyam secepatnya bisa kembali ke kamarnya.
"Ada apa....?" Tanya Hisyam setelah menyadari Alia masih berdiri di sampingnya.
"Uh....! Aku hanya penasaran, berapa lama lagi pertandingan ini berlangsung?"
Hisyam menoleh sejenak ke arah Alia, "Aku baru tahu, wanita sepertimu juga tertarik dengan olahraga ini" Ucap Hisyam sambil memerhatikan penampilan Alia dari kepala hingga kaki.
"Sebenarnya.... aku hanya penasaran tentang hal itu"
"Then, come and join me! (bergabunglah denganku!) Pasti akan lebih seru menontonnya dengan seseorang"
Usul Hisyam lalu menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Alia duduk di sampingnya.
Mendapat tawaran dari Hisyam, membuat Alia serba salah, dan terpaksa menuruti keinginan suaminya.
"Oya, apa kamu bisa menebak berapa goal yang akan di peroleh red devils (setan merah) di babak ini?"
Tanya Hisyam sambil menatap Alia, sengaja ingin memancing pengetahuan istrinya tentang olahraga yang satu itu.
"Aaaa..... sat.... dua! Ya, dua.... mungkin?" Alia menjawab ragu.
Hisyam mengerutkan dahi kemudian mengangguk, "Hm.... masuk akal juga, bagaimana dengan pemainnya, siapa yang kamu idolakan?"
Alia kembali bingung dengan pertanyaan suaminya, mengingat ia sama sekali tak mengerti apapun tentang bola apalagi mengidolakan salah satu dari pemainnya.
"Halooo.... i'm still waiting.... (aku masih menunggu....)"
Lanjut Hisyam sembari melambaikan tangannya di depan wajah istrinya.
"Bisakah kita fokus pada pertandingannya...!" Sambung Alia dengan nada kesal.
"Hah...! Sepertinya kamu benar-benar menikmati pertandingannya" Sindir Hisyam.
Dengan tawa yang di tahan Hisyam berusaha terlihat santai lalu kembali fokus pada acara televisi.
Hinggalah beberapa menit berlalu Hisyam masih tampak menikmati acara televisi, sedang Alia berusaha keras menahan kantuknya...