
Hisyam sudah bersiap di dalam mobil yang di kemudikan oleh orang suruhan Mr.lee, sementara dua kontainer lainnya mengikuti mereka dari belakang.
Seharusnya Hisyam mengikut sertakan seseorang yang bisa ia percaya dalam pengiriman pertamanya ini, namun Hisyam tak ingin mengambil resiko, karna semakin banyak orang yang terlibat akan semakin rendah tingkat keberhasilan misi yang ia jalankan.
Hisyam mengisyaratkan truk di bawah komandonya untuk berhenti di sebuah lahan yang bertuliskan milik pribadi.
Di situ ia hanya berdiri memperhatikan beberapa orang suruhan Mr.Lee memindahkan isi kontainer yang beberapa isinya di isi dengan bahan logistik, fungsinya untuk mengecoh para petugas check point yang mereka lalui sepanjang perjalanan menuju ke tempat itu.
Rawa yang gelap dan menakutkan sudah terbentang di depan mata, sekali lagi Hisyam mengeluarkan ponsel, menghubungi seorang kenalan yang akan membawa barang itu ke sebuah negara yang memiliki angka kejahatan yang cukup tinggi.
Setelah memastikan semua barang bergerak ke titik kordinat yang sudah di tetapkan, Hisyam pun bergerak mengambil jalur alternatif lain agar tak mengundang kecurigaan para petugas check point nantinya.
Setelah itu Hisyam melakukan panggilan lagi, mengabarkan bahwa target akan melewati perbatasan di jam yang telah di perkirakan.
"Berpura-pura lah tak menemukan apa-apa, aku ingin mereka di ringkus sampai ke akar-akarnya! Dan ingat, ini hanyalah sebagian kecil dari yang kita tahu, aku yakin, ada yang lebih besar dan lebih serius dari Arms Smuggling yang mereka tunjukkan, maka dari itu periksa semua dermaga, pelabuhan dan semua jalur air hari ini, mengerti!"
Saran Hisyam pada kenalannya yang bertugas mengamankan jalur laut.
Hisyam tak ingin mengambil langkah gegabah dan malah melepaskan kesempatan emasnya untuk meringkus Mr.Lee, karna ia tahu ada yang lebih menakutkan dari penyelundupan senjata dan itu ada kaitannya dengan kasus perdagangan manusia yang semakin marak terjadi akhir-akhir ini.
"Ingat, jangan sampai terkecoh, kasus ini bukan hanya tentang penyelundupan senjata, tapi sudah merambat ke arah Human Trafficking, mengerti!" Pesannya lagi sebelum memutuskan panggilan.
Hisyam kembali melajukan mobilnya ke sebuah rumah sederhana, menemui seseorang yang akan mengantarkan barang tadi dengan sebuah kapal.
"Hm....!" Orang yang di temuinya mendesah cukup dalam, "Kalau saja tuan adalah orang lain, saya tak akan mengambil langkah senekat ini" Jawab si pria paruh baya itu dengan berat hati.
Namun pria itu tak akan lupa jasa Hisyam yang telah menyelamatkan putrinya dari cengkraman pria buas seperti Mr.Lee.
Ya, putri dari pria itu adalah Sarah-selir Mr.Lee, wanita yang terpaksa mengikuti permainan licik Mr.Lee dan hampir menjerumuskan Alia kini kembali ke keluarganya dan semua itu karna kebaikan Hisyam dan keterampilan asisten Davis dalam menjalankan sebuah misi tanpa di ketahui siapa pun.
"Tak perlu khawatir, tuan hanya perlu mengantarkan barang itu dengan aman ke tempat tujuan, selebihnya saya akan mengurus semuanya....
Oh iya, jangan lupakan alat ini, alat ini bisa mendeteksi di mana pun keberadaan anda!"
Hisyam memberikan sebuah GPS (Global positioning system) dengan adanya alat yang di design berbentuk pematik, ia bisa melacak di mana pun keberadaan pria paruh baya itu tanpa harus menghubunginya.
Setelah urusannya selesai, Hisyam pun pamit, meninggalkan ayah dari Sarah dengan raut wajah tegang.
Beberapa hari setelah meninggalkan rumah, pekerjaan yang di berikan Mr.Lee akhirnya selesai juga, tinggal menunggu hasilnya yang pasti akan menggegerkan dunia bisnis internasional.
-
"Come in!"
Jawab Mr. lee yang sedang menikmati teh matcha sambil mengecek laporan keuangan hasil penjualan senjata ilegalnya bulan lalu.
"Boss, tamu yang kita tunggu ada di sini"
Lapor si cantik yang baru di rekrutnya-menggantikan Micheal yang menjadi tumbal atas berjalannya bisnis kotornya.
"Let him in!"
Perintah bos bermata sipit itu dan dengan senyum menggoda wanita berkuku panjang bercat merah itu keluar dengan lenggok gemulai, sungguh tak ada yang menyangka jika wanita secantik dan se-elegant itu salah satu kaki tangan Mr.lee yang cukup di percaya dalam mengelola bisnis haramnya.
Cindy yang baru saja keluar kini kembali masuk membawa seseorang yang di maksudnya dan mempersilahkan tamuya untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.
"Nona Cindy, siapkan makan malam yang enak untuk tamu kita" Sambut Mr. Lee ramah.
Setelah mendapat kabar dari orangnya kalau semua aset berharganya telah melewati perbatasan dengan aman tanpa kendala, tentu saja membuat suasana hatinya menjadi semakin bersemangat.
"Tidak perlu berbasa-basi! Aku datang kesini untuk mengambil video itu" Jawab Hisyam tegas.
"Oh, come on, kita perlu merayakan keberhasilan ini, bukankah begitu nona Cindy?"
"Of course, honey" Jawab wanita berbibir merah itu, dan tanpa di minta Cindy mulai bergelayut manja di pangkuan Mr.Lee.
Sementara dua wanita lainnya yang baru saja masuk kini duduk di samping kiri dan kanan Hisyam, seorang menuangkan champagne ke dalam gelas dan yang satunya lagi mulai nakal memainkan jemarinya di pundak sang tamu.
Hisyam mengalihkan pandangan ke arah lain, selama ini ia memang terbiasa dengan pemandangan menjijikkan seperti itu, tapi bukan berarti dirinya dengan mudah tergiur dengan kemolekan wanita yang sering menjajakan tubuhnya demi uang.
"BRRAAKKK!"
"Listen! Aku sudah melakukan tugasku, dan sekarang giliranmu untuk menepati janjimu!" Tuntut Hisyam.
Dengan nada tegas ia menggebrak meja kemudian bangkit merapikan pakaiannya.
Karna melibatkan Hisyam dalam bisnis kotornya sangat menguntungkan baginya, akhirnya Mr.Lee mengalah juga dan memberikan video yang di minta oleh Hisyam.
Lagi pula target yang sebenarnya sudah ada dalam genggamannya dan Micheal tak ada apa apanya jika di bandingkan dengan keuntungan yang di dapat dari hasil kerja samanya dengan Hisyam.
"Hm.... baiklah kita bisa merayakan keberhasilan ini lain kali"
Mr.Lee mendengus kecewa sambil membuka laci nakas di sampingnya.
Dan dengan terpaksa memerintahkan Cindy agar membatalkan pesta yang telah di siapkan untuk penyambutan Hisyam sebagai kolega baru dalam lingkup bisnisnya.
Bukannya tanpa alasan ia melakukan hal itu, tapi nama besar Hisyam tentunya akan sangat berpengaruh untuk meyakinkan para koleganya dan secara otomatis bisnis haramnya akan lebih aman dengan adanya petinggi dan nama besar yang mendukung usaha kotornya ke depan.
Anyway, semua yang kamu inginkan ada disini" Mr.Lee meletakkan sebuah flashdisk di meja dan tanpa membuang waktu Hisyam langsung menyambarnya dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"I hope we can work together again!"
Teriakan Mr.Lee hanya di anggap angin lalu di telinga Hisyam, ia tak ingin membuang waktu lagi untuk pulang ke rumah, tapi sebelum itu ia harus menemui seseorang yang bisa memperbaiki video rekayasa itu ke rekaman aslinya.
Urusan video telah selesai, Hisyam akhirnya bisa pulang melepas rindu pada keluarganya, atau lebih tepatnya ibu dari anak-anaknya.
Hampir seminggu meninggalkan Alia membuatnya tak bisa berbohong lagi bahwa dirinya begitu merindukan istri kecilnya itu.
"Tinggal selangkah lagi, Alia, setelah kelicikan Mr.Lee terungkap aku berjanji tak akan menunda waktu lagi" Tekad Hisyam.
Sambil menatap pantulan dirinya di dalam cermin ia baru sadar bagaimana penampilannya sekarang.
Ya, penampilannya kini sangat jauh dari penampilanya selama ini yang selalu tampil rapi dan berwibawa.
"Argh! terlalu mendalami peran sebagai mafia membuatku lupa mengurus diri sendiri..."Hisyam bergumam sendiri sambil merapikan rambutnya yang tak beraturan.
"Bagaimana tanggapan Alia setelah melihat penampilanku saat ini? Hm... sebaiknya aku membersihkan diri dulu sebelum menemuinya"
Tak butuh waktu untuk berpikir Hisyam memutar stir, mengarahkan kendaraannya ke sebuah hotel.
"Biasanya dia akan menyambutku di depan pintu, dan tanpa di minta, ia akan menyiapkan air hangat untuk suaminya..." Gumam Hisyam sembari menilik penampilannya yang terlihat fresh setelah selesai dengan ritual mandinya.
"Tunggu, tunggu! Apa, suami? Apa aku baru saja menyebut diriku suami, Huh, aku pasti sudah tidak waras"
Hisyam sepertinya sudah sangat rindu pada Alia, sejak ia keluar dari restoran jepang tadi hinggalah ia selesai membersihkan diri, tak pernah sedetik pun ia berhenti memikirkan istrinya.
Bahkan saat menjalankan misinya, pun, Hisyam selalu menyempatkan waktu, men-stalking akun facebook milik wanita itu.
Meski harus menelan kekecewaan karna tak menemukan aktivitas apapun pada akun satu-satunya yang Alia miliki saat ini.
Hisyam lagi-lagi menatap ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidur, ingin menanyakan kabar, tapi harga diri senantiasa ia junjung tinggi hingga detik ini.
"Hish! Kenapa aku jadi galau seperti ini" Hisyam merutuki kelakuannya yang bak anak abg.
"Dreettt... dreettt....!"
Hisyam menyambar ponselnya dengan semangat, namun seketika semangatnya memudar kala nomor yang tertera bukan dari rumah melainkan dari pria bermata sipit itu lagi.
"Dia lagi! Apa dia sudah mendapatkan hasilnya, secepat itu?"
Hisyam tak ingin menerka-nerka sebaiknya ia memastikannya sendiri.
Hisyam memutar knop dan tiba-tiba seorang pria bertubuh tegap lebih dulu masuk tanpa permisi.
"What the....!"
Baru saja Hisyam ingin bertanya, sebuah senjata lengkap dengan peredam suara sudah lebih dulu menempel di kepalanya.
"Don't be stupid, just follow me!"
Suara gahar keluar dari mulut pria itu, namun bukannya takut, Hisyam malah menggunakan kesempatan itu untuk menghindar, dengan gerakan yang cukup cepat Hisyam berhasil melempar senjata itu ke sudut kamar.
Duel seimbang pun terjadi, mereka sama-sama menunjukan keahliannya dengan tangan kosong.
Hisyam cukup kesulitan menandingi kekuatan otot yang di miliki lawan mainnya.
Memiliki postur tubuh yang lebih besar darinya, membuat Hisyam kewalahan menghadapi pria raksasa itu.
Tapi dengan semangat yang cukup besar tidak mustahil jika pada akhirnya pria itu tumbang saat Hisyam menyerang tulang rusuk dan titik kelemahan lawannya secara bertubi-tubi.
"Katakan, siapa yang mengirimmu? Jawab!" Teriakan Hisyam tak membuat pria yang sudah terkulai itu menjawab pertanyaannya.
Karna terlanjur di kuasai amarah, Hisyam kembali mengepalkan tangan, mendaratkan tinjunya sekali lagi ke rahang lawannya tanpa memperdulikan security yang berusaha membawa pria itu keluar dari kamarnya.
Dan alangkah terkejutnya dia mendapati sosok yang tak asing sedang menatapnya atau mungkin telah menyaksikan pergulatan mereka sadari tadi.
"Jangan bingung begitu...."
Melihat ekspresi Hisyam yang tampak penasaran Renata pun mendekati mantan suaminya itu.
"You okay? Aku memanggil security kesini, tidak apa-apa, kan?"
"Hm!"Hisyam mendengus, "What are you doing here?"
"Owh, aku kebetulan lewat dan mendengar suara gaduh dan ternyata itu kamu, um, biarkan aku mengobatimu dulu"
Renata mengeluarkan sapu tangan dari tasnya.
"Tidak perlu!" Tepis Hisyam, "Aku harus pulang"
"Tapi lukamu!"
Tanpa menghiraukan Renata yang terlihat kesal, Hisyam berlalu tanpa bereaksi, bukan wanita itu yang ingin ia temui saat ini.