
Alia membuka mukena yang menutupi tubuhnya dari dinginnya udara pagi pulau nan eksotis itu.
Karna tak tahu letak kamar Ozan, iapun memutuskan untuk duduk di depan jendela, menanti fajar yang sebentar lagi akan memancarkan sinarnya.
Bosan tak melakukan apa-apa, Alia pun keluar dari kamarnya, terlihat villa masih sangat sepi dari aktivitas penghuninya.
Hingga ia berinisiatif untuk menyiapkan sarapan untuk semua penghuni villa itu.
Berapa menit berkutat dengan alat di dapur itu, akhirnya semua menu sudah tersaji di atas meja, hingga ia memutuskan untuk melihat-lihat semua ruangan yang belum sempat di ditelusurinya kemarin.
Setelah berkeliling menyusuri koridor,, Alia berhenti di sebuah kolam yang terletak di dalam ruangan yang hanya di batasi kaca dengan ruang gym di sebelahnya, dan di situlah Hisyam sedang melakuan aktivitas paginya.
"Sepertinya semua masih terlelap karna kelelahan, sebaiknya aku bersantai di sini sebelum Ozan terbangun dan membutuhkan aku"
Pikir Alia, tanpa di sadari Hisyam sedang memperhatikan dirinya sambil melakukan olahraga tepat di belakangnya
Alia menjulurkan kakinya ke dalam air dan mengeluarkan benda pipih dari saku celananya, ia tersenyum menatap foto keluarganya yang sudah menjadi wallpaper sejak awal ia memiliki ponsel itu.
"Aku sangat rindu dengan kalian... mungkin karna itu, aku sampai memimpikan mereka semalam, tapi, kenapa aku hanya melihat wajah papa yang lesu, apa papa baik-baik saja...."
Seketika Alia teringat akan mimpinya semalam dan wajah lelah papanya yang terus membuatnya khawatir dan membuatnya ingin menghubungi keluarganya di kampung.
Baru saja ia ingin menekan tombol dial pada ponselnya iapun teringat akan posisinya yang tak memungkinkannya untuk menghubungi kaluarganya.
"Kalau aku memghubungi mereka sekarang, mereka pasti akan sedih kalau tahu aku sedang berada di indonesia untuk merayakan ulang tahun Ozan, padahal Assyifa juga berulang tahun di hari yang sama dan apa yang bisa aku lakukan...
Jangankan berada di sana, memberinya hadiah saja adalah hal yang mustahil untuk ku lakukan"
Alia yang tadi antusias dengan keputusannya, kini kembali meletakkan ponselnya dengan lemah, dan memutuskan untuk memutar music player pada aplikasi ponselnya.
Dengan menengadahkan wajahnya, ia mulai menikmati music dengan mata terpejam.
Alia manghayati bait demi bait lirik lagu perfect dari suara merdu Ad sheeran yang membuatnya relax dan sedikit melupakan keresahannya pada keadaan papanya.
"Nice song!" Hisyam menghampiri Alia yang hanyut dalam setiap makna dari lagu itu.
Bagai seorang mangsa yang terancam oleh predator, wanita itu spontan bangkit dan hampir tercebur kedalam kolam.
Beruntung tubuh atletis Hisyam seakan terlatih untuk situasi darurat yang terjadi, hingga dengan pantas tangan kekar Hisyam melingkar di pinggang kurusnya.
"Apa aku semenakutkan itu bagimu, sampai kamu lebih memilih jatuh dari pada menjawab pertanyaanku"
"Bu-bukan seperti itu tuan, hanya saja, tuan datang dengan tiba-tiba, tentu saja aku terkejut dan hilang keseimbangan"
Jawab Alia gugup sembari mencoba melepas diri dari rangkulan kuat bosnya.
"Ehm....!"
Nyonya Farida menghampiri saat Hisyam sudah melepas rangkulannya dari pinggang Alia.
Beruntung nyonya Farida tak melihat aksi hero putranya menyelamatkan calon menantu idamannya.
Karna kalau sampai hal itu terjadi ia pasti akan sangat geregetan, dan semakin antusias menjalankan rencananya untuk mendekatkan keduanya seperti yang ia inginkan sebelumnya.
"Um... maaf, saya tidak bisa menemukan kamar Ozan, jadi saya putuskan untuk menunggu di sini"
Alia secepatnya memberi penjelasan, takut nyonya Farida salah mengerti, dan mengira dirinya menerima perjodohan yang di rencanakan oleh nyonya besar itu sendiri.
"Tidak apa-apa, Alia, kami juga tahu, wanita itu kadang butuh waktu untuk diri sendiri....
Thats why, sebelum birthday party Ozan di adakan malam ini, saya ingin kamu merekomendasikan spa dan salon terbaik di kota ini"
"Apa! Salon? Tapi, aku sama sekali tidak berpengalaman soal itu"
Alia di buat kebingungan, pasalnya seumur hidupnya ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu, apalagi kedatangannya semata mata untuk melakukan perawatan diri.
"Alia, ini kan negaramu, tentu kamu tahu kan, spa dan salon terbaik di kota ini....
Tenang saja kita hanya pergi berdua kali ini, jadi tak perlu merasa canggung dengan Hisyam, oke"
Bujuk Farida lagi, dengan berbisik seakan Hisyam tak mendengar gombalan maut mama pada Alia.
"Mom, come on, spa, salon, apa pun yang mama inginkan, kita punya semuanya di sini, lagi pula aku akan keluar untuk menemui rekan bisnisku, lalu siapa yang akan menjaga Ozan nantinya"
Hisyam panik jika membayangkan dirinya akan mengurus Ozan kali ini tanpa bantuan siapapun.
Ucap nyonya Farida sembari membawa Alia beredar dari tempat itu.
"But, mom...."
"The party will go perfectly....!"
"(Pestanya akan berjalan dengan sempurna....!)"
Teriak nyonya Farida seakan mengejek putranya yang masih terlihat tak percaya dengan keputusan mamanya.
"Whoa...! Apa hal ini akan sering terjadi jika aku benar-benar menikahi wanita itu?"
Hisyam menggerundel menatap dua wanita yang tampak serasi sedang berjalan meninggalkannya tanpa peduli dengan aksi protesnya.
-
Setelah membersihkan diri dan menyiapkan Ozan Alia akhirnya keluar dari kamar dan menghampiri para penghuni villa yang sedang menikmati sarapan yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Nah, ini dia penyelamat kita pagi ini"
Ucap nyonya Farida saat melihat Alia hanya menatap bingung, tak mengerti maksud dari ucapan nyonya besarnya.
"Aduh, Alia, bibik pasti kecapean sampai bangunnya kesiangan, maaf ya, jadinya kamu yang nyiapin sarapannya"
Tutur bik Ina, dengan rasa bersalahnya, ia mengulurkan segelas susu untuk pengasuh itu.
"Nggak apa-apa, bik, Alia senang kok, akhirnya bisa membantu" Ucap Alia lembut dan mulai menyantap sarapannya.
Selesai dengan sarapannya masing-masing, Alia dan nyonya Farida pun keluar berjalan menuju mobil.
Sementara Hisyam yang sedang menggendong Ozan hanya bisa mengekori dua wanita itu dari belakang, berharap keputusan mamanya masih bisa di tawar.
"Mom, biarkan Ozan ikut bersama mama kali ini, please...."
Hisyam masih terus merayu mamanya meski kedua wanita itu sudah duduk di dalam mobil dan bersiap untuk berangkat.
"Mm.... mungkin sebaiknya aku tidak usah ikut nyonya kali ini, biar aku saja yang menjaga Ozan"
Alia yang merasa tak enak berada di antara perdebatan ibu dan anak itu berusaha mengalah sembari membuka pintu, namun segera di tahan oleh nyonya Farida.
"Tidak! Kalau dia masih bersikeras ingin mempertahankan statusnya sebagai ayah tunggal, seharusnya dia juga harus belajar untuk mengurus Ozan dengan tangannya sendiri!"
Tegas Farida dengan nada sindiran.
Namun Alia yang melihat Hisyam sama sekali belum siap untuk mengasuh Ozan seorang diri, membuatnya tak tega jika harus meninggalkan bocah itu di tangan daddy nya.
"Nyonya sepertinya apa yang di usulkan oleh tuan memang benar, bagaimana kalau Ozan rewel dan lapar..."
"Baiklah! Kalau begitu biar mama yang menemani Ozan menjalani baby spa....
Tapi, sebagai gantinya kamu juga harus menemani Alia menjalani perawatan di spa milik teman mama itu, karna mama sudah berjanji akan mengunjunginya saat berada di sini"
Tawar nyonya Farida, namun Hisyam hanya bisa menghela napas beratnya, sambil melirik Alia yang terus menunduk tak myaman harus berada di situasi seperti itu.
"Hm.... keluarlah kita berangkat sekarang!"
Titah Hisyam, dengan nada kesal ia masuk kedalam mobil sportnya tanpa menuggu persetujuan dari Alia.
"Kalian akan membutuhkan waktu untuk saling mengenal..." Bujuk Farida.
"Tapi nyonya, aku merasa tidak enak pada tuan Hisyam"
"Pergilah...." Nyonya Farida mendorong Alia hingga ke dalam mobil.
"Syam, jangan lupa perkenalkan dirimu pada tante Miranda, dia pemilik salon dan spa teman mama"
"But mom, aku ada pertemuan penting hari ini...!" Hisyam berteriak lagi.
"Okay, have a nice day...!"
Nyonya Farida menutup pintu, saking antusiasnya wanita paruh baya itu tak memberi ruang pada Alia dan Hisyam untuk menolak keinginannya kali ini.
Hinggalah mobil meluncur meninggalkan villa kedua insan yang berada di dalamnya pun masih tetap membisu tanpa ber-inisiatif untuk mengakhiri suasana canggung yang melanda.