
Kata orang, dunia tak selebar daun kelor, tapi, kata-kata itu tak berlaku bagi Alia, faktanya kemana pun ia pergi bayang-bayang Hisyam selalu mengekorinya dan sekuat apapun ia berusaha lari pada akhirnya ia akan berakhir di tempat yang tak semestinya, yaitu tempat yang berkaitan dengan kehidupan Hisyam...
****
Adegan haru Nisha dan keluarganya telah usai, nyonya Farida kini melerai pelukannya setelah melepas rindu pada Nisha dan mengajak keponakan satu satunya itu untuk mengobrol sambil menikmati makanan yang di sediakan oleh bik Ina.
"Oya, aunty, dia Alia sahabatku, masih ingat, kan, gadis yang kuceritakan waktu itu?"
Ucap Nisha sembari menghampiri Alia yang tampak salah tingkah.
"A-Alia...." Ucap Farida terbata-bata.
"Hisyam, Alia...." Ucapnya pada putra sulungnya sambil memegang lengan Hisyam, mengisyaratkan bahwa menantu yang di carinya selama ini sekarang berdiri tepat di hadapannya.
Sementara Alia yang masih tak percaya dengan semua kebetulan yang di alaminya hari ini hanya bisa terdiam melihat reaksi Hisyam yang tampak biasa saja.
"Um, sepertinya ini bukan waktu yang tepat, aku harus pergi" Ucap Alia, mencoba memberi alasan agar Nisha tak merasa kecewa dengan sikapnya.
"Tapi Alia! Kita baru saja tiba, dan, makan malamnya...." Nisha yang tak tahu apa-apa merasa janggal dengan sikap Alia yang tiba-tiba berubah.
"Ini makan malam keluarga, seharusnya aku tidak ada di sini dan mengganggu acara makan malam kalian" Jelas Alia sembari meraih tasnya, ia ingin segera pergi dari tempat itu.
"Tapi kamu juga bagian dari keluarga ini, Alia!" Teriak Farida, netranya mulai berkaca-kaca.
Mendengar hal itu Alia merasa terenyuh dan sejenak terdiam, "Tidak! Aku tak boleh berubah pikiran, mereka bahkan telah merencanakan perjodohan untuk tuan Hisyam, itu artinya aku tak punya tempat lagi di keluarga ini" Batin Alia.
Tanpa menoleh lagi Alia kembali mengayun langkah namun tiba-tiba Hisyam menghampirinya dan memegang tangannya yang telah bersiap pada handle pintu.
"Ayo, kita bicara, aku akan menjelaskan semuanya padamu!" Ucap Hisyam sembari membukakan pintu untuk istrinya dan....
"Suprise!"
Kehadiran Renata membuat seisi mansion itu menatap jengah, terutama nyonya Farida dan Nisha yang terlihat tak suka dengan kehadiran ibu kandung dari Ozan itu.
"Renata, um, Alia datang untuk menjenguk Ozan, bukan begitu, Alia?"
Tak ingin mengubah suasana hati Renata dengan kehadiran Alia di sana, Hisyam pun mencari alasan, meski lagi-lagi hal itu membuat Alia kecewa dengan sikapnya.
"That's great but, kamu bisa pulang sendiri, kan?" Sindir Renata sinis.
Dengan jengkel Farida menjawab, "Dia tamuku, aku yang mengundangnya makan malam di sini.... there is a problem with you?"
Farida menghampiri Alia dan membawanya ke meja makan sementara Nisha mengekorinya dari belakang.
"What is she doing here!" Tanya Renata sambil melipat tangan di depan dada.
"Itu kehendak mama, aku bahkan tidak tahu jika mama sedang merencanakan makan malam"
Suasana hati Renata seketika berubah, bisa terlihat dari tatapan matanya yang tajam menatap ke arah Hisyam kini berubah lembut saat Hisyam mulai melancarkan aksinya dengan membelai lembut jemari mantan istrinya yang runcing.
Menu makan malam telah tersedia di atas meja, nyonya Farida menuntun Alia ke kursi yang paling dekat dengan kursi putra sulungnya, sementara dirinya ikut duduk di samping menantu kesayangannya itu.
Tahu apa yang di rencanakan oleh bibik-nya, Nisha pun berinisiatif mengambil posisi berhadapan dengan Alia otomatis Renata tak akan punya celah untuk mendekati sepupunya itu.
Setelah beberapa menit sepasang sejoli yang tampak bahagia itu pun ikut bergabung namun seketika raut wajah Renata berubah kecut dan melepas rangkulan tangannya yang sejak tadi menempel pada mantan suaminya itu.
Renata memanyunkan bibir, melihat Alia dan Nisha sudah lebih dulu duduk di sana, membuatnya semakin kesal.
"Pukk! Pukk! Atention, please..." Renata berepuk tangan, membuat semua orang di ruangan itu beralih menatapnya.
Renata senyam-senyum sambil memperlihatkan cincin pada jemarinya, "Surprise! We are engaged!" Pamer Renata dengan penuh percaya diri.
Dengan puasnya wanita bertubuh semampai itu menghampiri Alia dari belakang, "Tidakkah kamu ingin memberi selamat padaku?" Cibir Renata sambil mendaratkan kepalanya di pundak Alia.
Tak ingin Alia semakin tersakiti, dengan cepat Hisyam menarik mantan istrinya menjauh dari ruangan itu.
Hisyam menghempas kasar tangan Renata, "What are you doing!"
"Nothing! Hanya ingin menyadarkan wanita tak tahu diri itu bahwa kamu adalah milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku"
Jawab Renata dengan tatapan tajam mengarah pada Alia.
"Kenapa? Apa karna wanita itu... Kamu harus ingat, Hisyam! Perusahaanmu bisa bangkit kembali karna suntikan dana dariku dan seharusnya kamu tahu, dalam dunia bisnis tak ada yang gratis!" Ungkit Renata.
Merasa dirinya telah berjasa atas pengembalian aset milik Hisyam, dirinya tanpa rasa malu mengungkit bantuan yang di berikan.
"Hm....!" Hisyam menghela nafas kasar, kali ini ia benar-benar sudah tak tahan dengan sikap Renata yang begitu terobsesi padanya.
"Aku harus pergi, i have work to do"
"Ingin ku temani?" Bisik Renata sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Hisyam.
"No!" Hisyam beranjak.
Dengan jengah ia meninggalkan Renata dan juga makan malamnya, "Hope you enjoy your dinner!"
Teriakan Hisyam memenuhi ruangan sehingga membuat Alia tersedak mendengar lengkingan itu.
"Uhukk.... uhuukk...!"
Semua menatap ke arah Alia, membuatnya tampak salah tingkah, terutama para maid yang menatap sinis padanya, "Um.... Sebaiknya aku pulang sekarang"
Ucap Alia undur diri, tak menghiraukan Nisha dan nyonya Farida yang sedang memohon agar dirinya tetap tinggal.
Di waktu yang sama ia berpapasan dengan Renata yang serta merta mencegatnya, "Puas kamu melihat kehancuran keluargaku!" Maki Renata.
Setelah menyudutkan Alia, wanita itu kemudian berlalu ke lantai atas dengan wajah yang merah padam menahan amarah.
Alia yang bertubuh lebih kecil dari Renata sempat terpojok ke sudut akibat senggolan kasar dari wanita tinggi itu.
Setelah Renata menghilang di balik pintu kamar Ozan, barulah Alia merapikan pakaiannnya yang kusut.
Alia menatap ke lantai dua, rasanya ia ingin pulang saja jika membayangkan kemesraan suaminya dengan wanita lain, tapi kerinduannya pada Ozan tak terbendung lagi hingga ia pun memutuskan untuk ikut menaiki anak tangga, meski sekadar melihat Ozan dari jauh sudah cukup mengobati rasa rindunya pada bocah gembul itu.
Alia mengintip di celah pintu, terlihat Ozan sedang bermain bersama pengasuhnya, sementara Renata sibuk berbicara di telepon tanpa memperdulikan Ozan yang berusaha menjalin keakraban dengannya.
"Hm....." Terdengar helaan napas yang cukup berat.
Alia mendongak melihat sosok jangkung di hadapannya, "Tu... tuan...."
Belum sempat Alia melanjutkan kata-katanya, tangan kekar Hisyam sudah lebih dulu membekap mulutnya dan membawanya menuju ruang pribadinya.
"Kamu merindukan Ozan?" Hisyam menelisik wajah istrinya saat tiba di ruang kedap suara itu.
"Aku bisa mengantarkannya ke rumah Nisha, kalian bisa saling melepas rindu"
Alia hanya terdiam.
"Tidak! Mengurus satu balita saja sudah merepotkan, apalagi harus mengurus dua balita sekaligus" Alia berkilah.
"Jadi kamu tidak rindu? Kalau sudah tidak peduli kenapa harus mengintip seperti itu, bukankah itu artinya kamu masih sayang padanya, iya, kan?" Tanya Hisyam lembut, tak seperti biasanya.
"Siapa bilang aku merindukannya! Lagipula dia bukan anak kan..." Alia menghentikan kata-katanya, menurutnya kata-kata itu terlalu kasar, lagi pula Ozan masih terlalu kecil dan bahkan belum mengerti apa yang sedang terjadi.
"Astaghfirullah.... aku jahat sekali, kenapa harus melimpahkan kesalahan ayahnya pada bocah yang belum mengerti apa-apa itu" Dalam hati Alia memaki diri sendiri atas sikapnya yang sudah keterlaluan.
"Um, maaf aku harus pergi" Melihat tatapan Hisyam yang tajam, ia kembali muak dengan sikap plin-plan yang Hisyam tunjukkan padanya, membuatnya ingin segara pergi dari tempat itu.
"Aku tahu kamu tidak bermaksud mengatakan itu!" Ucapan Hisyam membuat Alia berhenti sejenak.
"Kamu mengatakan hal itu karna marah padaku, kan?" Alia berbalik dengan senyum jengah, ia muak mendengar nada bicara Hisyam yang kontras dengan karakternya selama ini dan menurutnya itu hanya omong kosong.
Hisyam mendekati Alia yang sudah siap untuk pergi, "Kamu tidak salah, akulah yang....."
"Salah? Kenapa baru sekarang tuan menyadarinya, hah!" Alia mendekat seakan ingin menguliti suaminya hidup-hidup.
"Alia aku...." Tahu istrinya sudah di kuasai emosi, Hisyam berusaha menenangkannya, namun Alia malah menepisnya dan mulai menyerangnya.
"Apa ini rencananya? Tuan sengaja ingin menyakitiku!Kenapa harus menungguku hancur karna cinta yang sepihak ini! Kenapa tuan begitu egois, hah! Aku benci pada tuan!"
Alia terus menyerang dengan brutal, hingga Hisyam harus berusaha keras agar bisa merangkul istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Benar apa yang kamu katakan, Alia, aku pria egois, selalu menyakitimu, but to be honest...
Aku sangat takut kehilanganmu, karna itu aku terpaksa menggantungmu tanpa kepastian aku pantas di benci, Alia"
"Takut kehilanganku, huh?" Alia mendorong tubuh kekar Hisyam, "Tapi malah menjalin hubungan dengan wanita lain, apa itu yang di namakan cinta!"
Alia menjerit histeris ia tahu tak akan ada yang mendengar teriakannya di ruang kedap suara itu.
Alia terus meluahkan emosinya, berteriak, bahkan memukuli dada bidang Hisyam yang ingin menenangkannya, hingga tenaganya terkuras, tubuhnya mulai melemah hingga merosot ke lantai, seiring kata-kata yang ia lontarkan, netranya pun tak henti mengeluarkan cairan bening menandakan betapa hatinya begitu terluka dengan semua perlakuan Hisyam selama ini.
Alia merosot di lantai, melihat wanitanya begitu terluka membuat dadanya terasa sesak dan sekali lagi mendekati wanita yang sedang memeluk lutut sambil menyembunyikan wajah di balik kedua lengannya.
"Aku tahu aku salah, tapi please, biarkan aku menyelesaikan semuanya, terutama skandal yang melibatkan namamu dan perusahaanku hancur"
Alia yang tadinya tak perduli dengan semua bujuk rayu suaminya kini mendongak menunjukkan wajah sembabnya, ia penasaran dengan kelanjutan dari kasus yang berawal dari kepolosannya itu.
"Apa yang terjadi?"
"Hm...."
Hisyam menghela napas lega saat emosi Alia sudah mulai redah dan tanpa sadar ia langsung memeluk istrinya yang begitu polos dan menggemaskan dimatanya.
BRUUKK!
"Auuww..." Hisyam meringis mendapat dorongan kasar dari Alia.
"Jika tuan hanya ingin mempermainkanku, maaf, tapi aku tak ada waktu untuk semua itu...." Ucap Alia.
"Okay, okay, i'm so sorry, i didn't mean to" Cegat Hisyam sambil mengelus bokongnya yang sakit.
"Biar ku jelaskan kesalahpahaman ini, please...." Hisyam memohon dengan tatapan mata yang penuh harap.
"Hm! Hanya lima menit!" Ucap Alia tegas.
Hisyam menghela napas sebelum memulai kata-katanya "Dalang dari tragedi malam itu.... bukan Mike ataupun Mr.Lee"
Mendengar hal itu membuat Alia seketika membulatkan mata, "Ma-maksud tuan?" Tanya Alia dengan suara bergetar.
"Mike dan Mr.Lee telah mengatakan yang sebenarnya bahkan melakukan serangkaian test, termasuk pendeteksi kebohongan dan terbukti, pengakuan mereka kali ini benar"
"Lantas, apa yang berubah? Toh, aku tetap telah...."
Alia tak melanjutkan kata-katanya, menurutnya biarlah peristiwa buruk itu ia simpan sebagai pengingat diri bahwa tak semua pria yang bersikap manis akan memiliki niat yang baik pula.
Dan saat ini ia berusaha untuk melupakan peristiwa buruk itu meski kehormatannya telah di regut paksa oleh pria brengsek itu.
"Aku tak ingin membahas masalah itu lagi"
"Mike tidak melakukannya"
Mendengar ucapan Hisyam yang tak masuk akal, membuat Alia mengamati dengan seksama sepasang mata emerland milik suaminya.
"Hah!" Alia tergelak kecil, "Apa ini lelucon? Kita sama-sama telah melihat video menjijikkan itu!" Alia bingung dan merasa dirinya sedang di permainkan.
"Alia, listen, it's not a joke, polisi telah memeriksa keaslian video itu, video itu rekayasa...."
"Ta-tapi saat itu aku...."
"Thats right, Alia, dengan melihat kondisimu saat itu, aku juga berpikir bahwa Mike telah....
Tapi setelah melihat rekaman asli dan pernyataan Mike, Mr.Lee dan juga Sarah baru aku mengerti kenapa mereka sampai menyembunyikan Sarah setelah kejadian itu" Jelas Hisyam penuh yakin.
"Sarah? Apa itu benar? Jadi aku tidak...." Alia meghentikan kata-katanya dan anggukan Hisyam sudah meyakinkan dirinya bahwa kata-kata Hisyam barusan bukanlah sebuah lelucon.
"Kamu benar, Mike tidak melakukannya tapi biar bagaimana pun mereka tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka karna telah membantu Renata dalam menjalankan rencananya"
"Re-Renata? Maksud tuan dalang dari semua ini adalah nyonya Renata?"
Hisyam mengangguk mengiyakan.
"Tapi, aku masih tak mengerti, kenapa dia menjebakku, bukankah kedatanganku di tempat ini atas keinginannya, lantas, di mana salahku?"
Alia semakin bingung, saat itu ia masih baru di kota itu, bahkan sekedar keluar pun ia tak berani karna tak memiliki kenalan selain keluarga Osmand dan keluarga bibik-nya, lantas apa salahnya sampai orang-orang itu melakukan hal buruk padanya bahkan menjebaknya dengan cara yang sangat keji dan memalukan seperti itu.
"Alia...." Suara dan sentuhan Hisyam yang mendarat di pundaknya kembali membawanya ke alam sadar.
"Dengar, kamu tidak salah, akulah yang salah, Renata membencimu karna merasa cemburu dengan kedekatanmu dengan Ozan dan sekarang rasa bencinya semakin besar setelah merasa bahwa aku juga semakin dekat denganmu" Ucap Hisyam sambil membingkai wajah istrinya.
"Tetaplah bersamaku, Alia, ku mohon bertahanlah sampai aku berhasil mengungkapkan semua kejahatan Renata di depan publik" Ucap Hisyam sambil menghapus bekas basah di pipi istrinya.
Ia begitu berharap Alia mempercayai kata-katanya karna jujur ia tak bisa kehilangan wanita itu lagi dan perasaannya yang dulu masih sulit ia artikan kini sudah sangat ketara bahwa dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada gadis indo itu.
"Bagaimana dengan tuan? Apa tuan juga sudah siap, jika sampai publik mengetahui bahwa seorang Hisyam Al Jaziri Osmand telah menikahi seorang pengasuh seperti...."
"Cup....."
Kecupan lembut Hisyam tanpa permisi telah membungkam mulut Alia.
Seolah tak ingin mendengar apa yang akan di ucapkan istrinya ia pun tak ingin cepat mengakhiri sentuhan langka itu sampailah Alia meronta karna sudah kehabisan napas.
🖤🖤🖤