
Cuaca pagi masih terasa begitu sejuk dan lembab, terlihat Hisyam dan Alia sedang menikmati minuman hangat di balkon kamar hotel mereka.
Asap kopi masih terlihat mengepul membentuk sebuah asap kecil di udara.
Sengaja Hisyam hanya memesan minuman tanpa makanan agar bisa mengajak Alia sarapan ke sebuah restoran, hitung-hitung bisa menebus kesalahannya semalam.
"Ingin ku pesankan sesuatu?" Hisyam akhirnya memulai pembicaraan.
"Nanti saja, kita bisa sarapan bersama anak-anak"
Jawab Alia setelah beberapa menit mereka saling terdiam.
Entahlah, suasana terasa semakin canggung setelah mereka berdua memutuskan untuk memulai awal yang baru.
"Wait a minute...."
Hisyam bangkit kemudian berjalan ke dalam kamar dan kembali dengan jas yang semalam di kenakannya.
"Suasana disini sangat sejuk saat pagi, kamu bisa sakit nanti"
Mendengar penjelasan Hisyam tentang cuaca sekitar membuat Alia berasumsi jika ini bukan pertama kalinya pria di hadapannya menginap di hotel itu.
Dan pertanyaannya adalah, dengan siapakah suaminya menginap di hotel itu?
"Apakah dia kemari bersama seorang wanita? Atau sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja? Akh, entahlah...."
Merasa terlalu dini untuk cemburu dengan hal yang tak pasti, membuat Alia hanya bisa menyunggingkan senyuman yang sulit di artikan.
Memang benar mereka telah sepakat untuk memulai awal yang baru tapi, entah kenapa dirinya masih ragu untuk menempatkan dirinya sebagai istri dari seorang Hisyam Al Jaziri Osmand, seorang konglomerat yang namanya sering menjadi sorotan publik.
"Apa aku pantas mendampinginya, bagaimana jika hubungan kami berdampak buruk pada karir dan nama baiknya?"
Lagi-lagi kekurangan yang di milikinya membuat dirinya ragu dalam menjalani hubungan yang baru saja ia mulai.
Hmm.....
Alia menghela napas berat sembari melempar pandangannya ke arah laut yang terlihat jelas dari balkon kamar hotel mereka.
"Ingin ku pesankan sesuatu?"
Tanya Hisyam lagi setelah memerhatikan istrinya berulang kali menghelah napas.
"Tidak usah, kita bisa sarapan bersama anak-anak nanati...." Jawaban Alia tetap sama.
"Um, bisakah kita pulang sekarang? Maksudku, kita sudah semalaman meninggalkan anak-anak, saya takut nyonya Farida kewalahan mengurus dua balita sekali gus"
Sejenak pria itu terdiam memikirkan sesuatu, mungkin sedang mencari cara untuk mengajak Alia menikmati sarapan di sebuah restoran.
"Baiklah....." Jawab Hisyam singkat.
Setelah menyeruput kopinya, Hisyam pun pergi tanpa memperdulikan Alia yang tergopoh-gopoh menyamai langkah panjangnya menuju lift.
Sadar Alia telah tertinggal jauh di belakang, Hisyam pun memutuskan untuk menunggu wanitanya di lobby hotel.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Alia muncul sambil mengurut betisnya yang terasa pegal akibat high heels yang di gunakannya.
Melihat tingkah Alia, membuat Hisyam tersenyum lucu di balik majalah di tangannya.
Bukan hanya high heels, Alia juga merasa tak nyaman dengan belahan gaun yang menampakkan pahanya itu.
Dengan susah payah Alia menutupi belahan itu dengan jas yang di berikan Hisyam padanya, namun justru hal itu yang membuat dirinya tampak aneh, membuat para pengunjung hotel terlihat menghujat penampilannya, bahkan berbisik, bergunjing satu sama lain.
Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Alia pun mempercepat langkahnya meninggalkan lobby tanpa menyapa Hisyam yang pastinya tak ingin di kaitkan dengan wanita kampung sepertinya.
Alia bernapas lega setelah tiba di area parkir, tak menunggu waktu lama ia pun melepaskan heels yang di kenakannya dan kembali mengayun langkahnya tanpa peduli Hisyam sedang berteriak sembari mengekorinya dari belakang.
"Alia, tunggu!" Teriak Hisyam sekali lagi.
Namun Alia masih tak menggubris panggilan suaminya, ia terus berlari keluar meninggalkan keramaian.
Setelah suasana terlihat sepi barulah Alia memperlambat langkahnya dan tak butuh waktu lama Hisyam pun menghampiri Alia.
Dengan napas yang terengah-engah pria itu menarik tangan istrinya kasar.
"Alia! mau ke mana kamu?"
"Oh, itu, aku sedang mencari mobil tuan.... tapi, sepertinya aku lupa tuan membawa mobil yang mana, hehe..."
Jawab Alia cengengesan, meski ia sudah berusaha mencari alasan, namun di mata Hisyam sangat jelas terlihat ada raut kesedihan di wajah istrinya.
"Hm! Aku memarkirkannya di tempat lain, dan....
Apa kamu pikir aku punya waktu untuk meladeni sikapmu yang ke kanak-kanakan itu!"
Karna terlalu lelah mengejar istrinya, tanpa sengaja Hisyam meluahkan kekesalannya lewat nada suaranya yang sedikit tinggi, hingga senyum yang susah payah di tunjukkan oleh Alia seketika memudar.
"Maaf, tapi, aku tak bermaksud untuk membuang waktu tuan yang sangat berharga itu"
Jawab Alia dengan suara yang bergetar, menahan tangisnya dengan susah payah.
"Hm, ya sudah masuklah ke dalam mobil"
Titah Hisyam setelah seorang pria berjas hitam menghentikan mobil di hadapan mereka dan mengembalikan kunci padanya.
-
Mobil sport yang di kendarai Hisyam melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area hotel.
Melihat tingkah Alia yang terus terdiam membuat Hisyam merasa bersalah telah meninggikan suaranya pada wanita itu.
"Setidaknya itu lebih baik dari pada aku harus menunjukkan sikap prihatinku yang justru akan membuatnya merasa di rendahkan"
Seketika ia berubah pikiran, teringat kata-kata Farhan bahwa wanita tangguh yang saat ini duduk di sampingnya sangat benci di kasihani, tapi justru hal itu yang membuat Hisyam kagum dengan prinsip Alia, meski hidupnya sering di rundung kesusahan namun sebisa mungkin ia berusaha menyembunyikannya.
"Bahkan dalam kesedihannya pun, kamu tetap berusaha memberikan kebahagiaan dalam hidup Ozan"
Tak ingin berlarut dalam keheningan membuat Hisyam berinisiatif untuk mencairkan suasana.
"Mm.... tidakkah kamu merasa lapar? Kita bisa sarapan sebelum...."
"Tidak! Terima kasih tapi aku..... kruck.... kruck...."
Alia spontan memegang perutnya, baru saja ia ingin menolak ajakan Hisyam, namun suara segerombolan cacing yang sedang berdemo dalam perutnya, sepertinya menolak untuk di ajak kompromi.
Umpat Alia dalam hati dan segera melempar pandangan keluar jendela, menyembunyikan wajahnya yang memerah karna terlalu malu.
Sementara Hisyam yang berusaha menahan tawanya, hanya bisa menutup rapat mulutnya sembari menepikan mobilnya ke sisi jalan.
"Tu-tuan! kita mau kemana?"
"Mencari makan untuk cacing peliharaanmu!" Sindir Hisyam sembari berjalan ke arah kerumunan dengan senyum mengejek.
Karna penasaran Alia terpaksa ikut turun dari mobil, mengekori suaminya seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
Mungkin jika Hisyam memarkirkan mobilnya ke parkiran restoran atau cafe, Alia tak akan bertanya lagi, tapi ini terlalu aneh baginya karna pria itu malah menepikan mobilnya di parkiran terbuka yang terlihat ramai seperti sebuah pasar tradisional.
"Sebenarnya kita mau kemana, sih, ini?" Tanya Alia setelah lelah berjalan.
Dan Hisyam, pria itu hanya melewati semua deretan gerai tanpa membeli apapun, padahal perut Alia terus menjerit setiap kali mencium aroma jajanan di sepajang jalannya.
"Huh! Katanya ingin mentraktirku makan, yang ada cuma makan angin dan makan hati!" Gumam Alia sambil memijat betisnya.
Sementara Hisyam yang terlihat bingung, tak tahu ingin membeli makanan apa, tiba-tiba berhenti, mendengar umpatan Alia di belakangnya.
"Sebaiknya kita cari restoran saja, di sini terlalu terbuka, pasti makanannya pun tidak sesehat makanan restoran kan?"
Bisik Hisyam sambil mengibas-ibaskan tangannya agar tak terkena asap dari bakso dan ayam panggang di hadapannya.
"Apa! Jadi sedari tadi kita berkeliling hanya untuk mencari makanan sehat dan tertutup? Hah! Benar-benar tidak bisa percaya!" Umpat Alia sembari menatap sinis suaminya.
"Permisi tuan, nona, apa anda ingin memesan sekarang? Banyak yang antri, soalnya"
Tanya si pedagang sambil menunjukkan sederet orang-orang yang sedang berbaris di belakangnya.
"Maaf, tuan, tapi kami tidak jadi memesan" Jawab Alia sebelum meninggalkan Hisyam dengan tatapan tajam, seakan ingin menguliti suaminya hidup-hidup.
"Cih! Pria itu benar-benar.... kalau saja aku bisa pulang sendiri" Umpat Alia kesal.
Sesampainya di mobil, wanita itu segera melepas heels yang membuatnya tak nyaman, sambil menunggu Hisyam yang sama sekali belum terlihat batang hidungnya.
kruckk.... kruckk....
Aroma makanan semakin menusuk ke indera penciumannya, membuat Alia sekali lagi memegangi perutnya yang meminta untuk segera di isi.
"Ah.... aku bahkan berhalusinasi seakan makanan itu berada di sekelilingku" Lirihnya, sambil menyandarkan tubuhnya pada mobil.
Dan tanpa di sadarinya, Hisyam sudah berada tepat di hadapannya dengan beberapa kantongan plastik di tangannya.
"Ikut aku!" Titah Hisyam datar.
Tanpa menunggu jawaban dari Alia, pria itu berlalu ke arah bangku yang terletak tak jauh dari tempat mobilnya di parkirkan.
Dengan lesu Alia terpaksa mengekori Hisyam dari belakang tanpa mengenakan alas kaki yang membuat langkahnya terpincang-pincang.
"Kenapa kita tidak pulang saja, sih?"
Dengan lunglai Alia masih sempat protes dengan sikap Hisyam yang seakan sengaja mengulur waktu sarapannya.
"Duduklah! Dan pilih makanan apa saja yang kamu suka"
Titah Hisyam sambil meletakkan beberapa bungkusan gorengan di atas bangku.
Melihat isi dari bungkusan itu, membuat Alia seketika membelalak, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Apa tuan membeli semua menu di gerai tadi"
"Hmmm...." Jawab Hisyam.
"Bisa aku memakannya sekarang?"
"Terserah...." Acuh.
Bukannya tak tertarik, tapi melihat langsung proses pembuatannya, membuat Hisyam melupakan rasa laparnya dan tak berselera lagi.
"Ah...." Alia menghela puas.
"Sudah lama aku ingin memakan gorengan seperti ini, gleek.... gleek....
Seekaaligus, tanpa harus memikirkan biaya yang harus ku keluarkan, hm.... ini benar-benar....." Ungkap Alia puas.
Menghidu, menghayati setiap yang di telannya membuat Alia sudah tak mampu mengungkapkan kepuasannya lagi.
"Apa kamu senang?" Tanya Hisyam masih melipat tangan di dada.
Sementara Alia yang tak bisa menjawab pertanyaan suaminya, hanya bisa mengangguk karna mulutnya sudah di penuhi makanan.
"Gleeekk...." menyadari Hisyam sedang memperhatikan dirinya, membuat Alia segera menelan makanan dalam mulutnya dengan susah payah.
"Um.... Kenapa tuan menatapku seperti itu, apa aku terlihat memalukan?" Alia kembali meletakkan sosis-nya.
Kebahagiaan yang terpancar di wajah Alia seketika sirna kala menyadari tingkahnya yang bisa saja mempermalukan pria di hadapannya itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud mempermalukan tu...."
Alia menghentikan kata-katanya, ia membelalak tak percaya, bukannya menunjukkan kekesalan, pria itu malah menghapus bekas saos di bibir istrinya dengan jemarinya.
"Kamu bisa tersedak jika terus mengoceh seperti itu" Protes Hisyam.
Namun nadanya terdengar lembut dan menyejukkan hati, membuat Alia seketika merasa kenyang dengan perlakuan lembut suaminya.
"Kenapa tidak di habiskan?"
"Apa! Ah, aku sudah selesai, um.... bisakah kita pulang sekarang?"
Pinta Alia yang sebenarnya merasa tak nyaman dengan perlakuan lembut suaminya.
"Kamu yakin tak ingin ke mana-mana lagi setelah ini?" Hisyam meyakinkan.
Namun Alia tetap menggelengkan kepalanya, selain kakinya yang terasa sakit ia juga merasa tak enak jika terus-terusan menitipkan Assyifa pada nyonya Farida.
"Baiklah kalau itu maumu tapi, kamu bisa memberi tahuku kapan pun kamu ingin berkunjung ke suatu tempat"
"Baiklah..." Jawab Alia singkat.
Namun sebenarnya ia masih berusaha meredam degupan jantungnya yang terus bertalu akibat perlakuan lembut Hisyam padanya.