Single Parents

Single Parents
KEPUTUSAN YANG EGOIS.



Hisyam berlari meninggalkan keramaian pesta setelah menyadari ketiadaan Alia di atara para tamu yang hadir.


Setelah mendengar kekhawatiran mamanya terhadap Alia, pria itu tak bisa lagi tinggal diam dan hanya menunggu pengasuh itu kembali bergabung di acara itu.


Hisyam terus melangkah tanpa memperdulikan para tamu yang sedang menyapanya, bahkan dia tak peduli kehadiran kedua sahabatnya yang baru saja tiba di pesta itu.


"Ke mana gadis indo itu pergi, apa jangan-jangan wanita itu kembali menemuinya dan menceritakan semuanya...."


Hisyam kembali berlari menyusuri taman, dia benar-benar panik, setelah mengingat sindiran Jennifer tadi.


Berapa menit berkeliling, akhirnya ia berhenti di depan villa, Hisyam bernapas lega setelah mendapati Alia sedang menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya.


Hisyam perlahan mendekati Alia yang masih terisak, dengan hati-hati Hisyam ikut menekuk lututnya di hadapan Alia.


"You okay...?" Tanya Hisyam pelan.


Tak ingin membuat Alia tak nyaman dengan perlakukannya, ia pun menarik kembali tangannya yang hampir menyentuh rambut hitam Alia.


Menyadari kehadiran Hisyam di tempat itu, membuat Alia segera bangkit dan menghapus cairan yang membasahi pipinya.


"A-aku tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak enak badan..." Alia beralasan.


"Um.... bisakah aku kembali ke kamar dan beristirahat sebentar? A-aku akan kembali setelah merasa baikan"


Alia sedikit gugup dan segera memunggungi Hisyam, ia merasa sangat malu untuk menatap bosnya, apalagi saat dia tau Hisyam sudah menonton videonya.


Sebenarnya jika di ikut hati, ia tak ingin kembali lagi ke keramaian itu, takut jika para tamu di pesta itu mengenalinya sebagai pemeran dalam video dirinya yang beredar di internet.


"Alia tunggu! Kita perlu bicara, Aku tahu kamu tidak sakit, itu cuma alasanmu agar menjauh dari mereka kan!"


Cegat Hisyam, sehingga membuat Alia kembali menahan langkahnya.


"Apa wanita tadi menemuimu? Apa yang dia katakan!" Hisyam mendekat.


Alia menatap sekilas pria di hadapannya, kemudian ia kembali menunduk, ia tidak berani mengangkat wajahnya apa lagi setelah mendengar pertanyaan Hisyam tadi membuatnya yakin bahwa Hisyam sudah melihat videonya.


Dengan raut wajahnya yang seketika berubah, Alia pun tak dapat menyembunyikan keresahannya.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang, pasti orang-orang akan berpikir buruk tentangku..."


Kata-kata itu tiba-tiba saja terlontar, ketakutan yang berusaha di sembunyikannya, kini tak dapat di tahan lagi, hingga air matanya pun kembali mengalir dari netranya.


Mendengar ucapan Alia, Hisyam seakan bisa merasakan ketakutan yang di alami wanita itu, hingga tanpa sadar ia menarik Alia ke dalam dekapannya.


"Aku tidak pernah melakukan hal serendah itu, apa lagi untuk mendapatkan uang, itu tidak seperti yang di katakannya, hiks... hiks..."


Alia semakin tersedu hingga Hisyam semakin mengeratkan pelukannya, suara Alia yang terdengar lirih menyadarkan Hisyam betapa rapuhnya pengasuh itu menghadapi masalahnya kali ini.


"Menangislah Alia, luahkan segalanya, jangan menanggungnya seorang diri, itu tak akan baik buatmu" Hisyam berusaha menenangkan Alia sambil mengelus rabut panjang Alia.


"Bagaimana jika keluargaku melihat video itu? Mereka pasti akan sangat kecewa padaku"


"Tenanglah, Alia, jangan terlalu di pikirkan, kamu bisa sakit kalau seperti ini, aku berjanji, aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini"


Bujuk Hisyam dengan nada lembut, Karna, biar bagaimanapun semuanya berawal dari kecurigaannya yang tak mendasar kepada gadis indo itu.


Hisyam berusaha menyemangati Alia, ia takut wanita itu tak bisa menghadapi masalahnya kali ini, hingga memilih untuk menyerah dan meninggalkan Ozan yang sangat bergantung padanya.


"Ya memang terdengar egois, tapi hanya dengan jalan ini aku bisa membuatnya tetap tinggal bersama Ozan..." Batin Hisyam.


"Apa kamu sudah merasa baikan?" Tanya Hisyam saat Alia mulai menjauhkan tubuhnya dari dekapannya.


Alia yang tak terbiasa dengan perlakuan Hisyam, hanya bisa mengangguk dan berusaha untuk tersenyum agar bisa mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.


"Ayo kita masuk, orang-orang pasti sedang mengkhawatirkan kita, apalagi kamu meninggalkan pesta tanpa memberi tahu siapapun"


Usul Hisyam dan berlalu, namun sebenarnya dia pun begitu, juga merasakan hal yang aneh saat menenangkan wanita itu dalam dekapannya.


Tapi menurutnya itu hal yang wajar bagi pria dewasa yang pernah terbiasa dengan kehadiran wanita di hidupnya.


Dan sekarang, tiba-tiba ia harus melalui semuanya sendiri tentu itu hal yang sangat sulit untuk di kendalikannya, apalagi sebagai seorang pria normal sepertinya.


Alia mengejar pria yang tadi terasa begitu akrab dengannya, namun hanya dengan berapa menit Hisyam kembali dingin dan meninggalkannya begitu saja.


Di depan pintu Hisyam berhenti sejenak menatap Alia yang kini berdiri di sampingnya, ia sengaja memberikan wanita itu ruang untuk merilekskan diri, sebelum kembali ke dalam villa dan menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dari nyonya Farida.


Jam menunjuk ke arah delapan malam, terlihat nyonya Farida beserta bik Ina sedang duduk di sofa sambil memangku Ozan.


Setelah membubarkan pesta yang baru saja di mulai, nyonya Farida kembali ke dalam villa dan memutuskan untuk menunggu putranya di sana.


Sedang dua sahabat Hisyam, Daniel dan Davis juga ikut bergabung dan ikut menunggu sahabatnya sambil menikmati champagne di sebuah mini bar yang tersedia di dalam villa.


"Alia, Hisyam! Kalian dari mana saja? I'm really worried about you(aku sangat khawatir tentangmu)"


Nyonya Farida menghampiri pengasuh dan putranya dengan heboh.


"Maaf karna meniggalkan Ozan tanpa ijin terlebih dahulu " Ucap Alia menyesal.


"Mom, please, biarkan dia beristirahat... Alia, masuklah ke kamarmu" Potong Hisyam dan membiarkan pengasuh itu berlalu.


"Hisyam, ada apa dengannya, apa dia baik-baik saja?" Tanya Farida sesaat setelah Alia naik ke lantai dua.


"Don't worry mom, she's just tired, let him rest (jangan khawatir, ma, dia hanya lelah, biarkan dia istirahat)"


Hisyam beralasan, bukannya ingin membohongi mamanya, tapi dia tak ingin membuat mamanya khawatir.


Apalagi ia sangat tahu begaimana sayang mamanya pada pengasuh itu, hingga ia begitu bersemangat mengatur rencana untuk mendekatkan mereka tanpa peduli status serta dari mana asal wanita itu.


"Oya! Tadi Nisa menelpon, katanya dia juga ada di sini dan meminta untuk bertemu" Jelas Farida, membuat wajah Hisyam seketika berubah kesal.


"Nisa? Apa dia kesini dengan suaminya yang penghianat itu?" Cibir Hisyam tak suka jika mamanya menyebut nama Nisa sepupunya.


"Mama juga tidak tau, yang jelas dia sangat merindukan kita, hm... Hisyam bisakah kalian berbaikan? Ingat nak, hanya kita keluarga yang dia miliki"


Farida berusaha membujuk putranya, perjuangan Hisyam untuk mendukung prestasi dan cita-cita sepupunya itu harus berbuah kekecewaan setelah Nisa memutuskan untuk menikah dengan pria beristri yang sekarang menjadi suaminya.


"Kalau dia masih menganggap kita sebagai keluarganya, seharusnya dia tak menghancurkan cita-citanya hanya untuk menikahi pria yang sudah beristri itu!"


Hisyam geram hingga suaranya sedikit meninggi.


"Baiklah, kalau kamu masih belum bisa memaafkannya, mama paham, biar mama yang pergi dengan Ozan, Nisa sangat ingin bertemu dengan Ozan"


"Apa tidak melelahkan jika harus membawa Ozan..." Kekesalan Hisyam kembali mereda saat mengkhawatirkan kesehatan mamanya.


"Bik Ina akan ikut bersama mama, iya kan bik?" Farida beralih menghadap asisten kepercayaannya itu.


"Hm.... kalian tidak merencanakan sesuatu lagi, kan, sampai harus meninggalkanku berdua dengan pengasuh itu?" Hisyam memicingkan matanya menatap dua wanita paruh baya itu secara bergantian.


"Kamu sudah dewasa Hisyam, kamu tahu bagaimana menanggapinya, and i hope, this is last time you make her cry (mama harap ini terakhir kalinya kamu membuatnya sedih)"


Pesan nyonya Farida sambil menepuk pipi putranya dengan lembut.


"Hay boss! Come and join us!(Hei bos! Kemarilah dan bergabunglah dengan kami!"


Teriak Daniel yang mulai bosan menunggu Hisyam untuk bergabung dengan mereka.


"Ya sudah sebaiknya kami berangkat sekarang, tapi ingat! Kamu harus menjaganya, jangan sampai dia bersedih lagi..."


Pesan nyonya Farida sambil menepuk lengan putranya yang berotot.


"Daniel! Davis! Bukankah kalian harus mengantar aunty ke suatu tempat"


Potong nyonya Farida sebelum kedua sahabat putranya itu menggagalkan rencananya, terutama Dokter Daniel yang secara terang-terangan mengakui ketertarikannya pada Alia.


"Apa harus sekarang, aunty? Aku bahkan belum menyapa my lovely Alia" Protes Daniel, pada nyonya Farida sambil menunjukkan wajah memelasnya pada wanita paruh baya yang terus berjalan ke arah pintu.


Seakan dunianya akan runtuh jika tak melihat wajah Alia sebelum pergi, Daniel pun berjalan dengan lunglai saat Davis mendorongnya agar Dokter itu segera keluar dari Villa.


Sedang Hisyam yang memang tak terlalu terbuka dengan Daniel mengenai rencana pendekatannya dengan Alia, kini beralih menatap Asisten Davis yang sudah kembali ke dalam villa dan menunggu intruksi darinya.


"Siapkan Hotel yang nyaman untuk mereka, kalau perlu carikan babysitter yang baik untuk mengurus Ozan malam ini" Titah Hisyam dengan tegas.


Dengan wajah serius Davis berkali-kali memindai wajah tegang Hisyam, seakan sahabatnya itu sedang merencanakan sesuatu yang cukup besar yang tak terlampaui oleh akal dan pikirannya.


Bahkan Davis yang cukup genius tak bisa menebak apa sebenarnya yang di rencanakan oleh sahabatnya itu.