Single Parents

Single Parents
KEPITING REBUS DI JET PRIBADI.



Alia termenung memerhatikan Ozan yang sedang berdiri pada sandaran satu satunya tempat tidur di kabin itu.


Tatapannya yang kosong menjelaskan, bahwa pengasuh itu masih memikirkan tentang pesan singkat yang di kirimkan Adam untuknya.


Walau dalam pesan itu tak menjelaskan tentang hal buruk yang akan di lakukan Adam pada keluarganya.


Tapi dia yakin, kalau Adam sedang merencanakan sesuatu, dan hal itu semakin membuatnya tak tenang.


Setelah beberapa menit berbincang, Davis dan pilot yang tadi bersama mereka akhirnya meninggalkan kabin.


Hisyam yang sibuk memeriksa fasilitas yang tersedia di pesawat itu terlihat mangguk-mangguk, puas dengan kwalitas yang di dapatnya dari perusahaan jet tersebut.


Dengan skil bisnis yang dia punya, tak menutup kemungkinan jika suatu saat ia juga akan ikut menekuni bisnis di bidang transportasi yang sangat di gandrungi oleh kalangan atas tersebut.


Setelah memerhatikan sekeliling, Hisyam akhirnya mendekat ke arah Queen-zize bed di mana Alia sedang duduk termenung tanpa menyadari Ozan sudah berada di sisi lain tempat tidur dan berusaha turun dengan kaki mungilnya yang hampir tak menyentuh lantai.


"OZAAN....!" Teriak Hisyam.


Melihat aksi berbahaya putranya, Hisyam yang tadi terlihat santai kini bergegas menghampiri Ozan dan menangkap tubuh gembul itu.


Mendengar teriakan bos nya membuat Alia tersadar dan segera mendapati Ozan yang sudah menangis dalam dekapan daddy nya.


"Ma-maaf tuan, saya tidak menjaga Ozan dengan baik..."


Ucap Alia menyesal, dengan gugup pengasuh itu hanya bisa meremas gaun yang di kenakannya.


"What's wrong with you! Apa kamu tidak lihat Ozan hampir celaka karna kelalaianmu!"


Bentak Hisyam geram, sambil menenangkan Ozan pria itu menatap Alia tajam, sehingga membuat Alia ciut tak dapat membalas tatapan skakmat bosnya.


"Saya benar-benar minta maaf karna tidak fokus menjaga Ozan, maka dari itu bisakah aku pulang, dan tidak ikut ke pulau..." Alia mengambil kesempatan itu


"Are you crazy? Apa kamu tahu kita berada di ketinggian berapa sekarang?"


Jelas Hisyam lagi, sambil mendekat ke arah jendela pria itu membuka tirai menunjukkan pada Alia di mana posisi mereka sekarang.


Alia yang baru saja menyadari pesawat sudah lepas landas beberapa menit yang lalu, kembali terduduk lemah sambil menatap ponselnya.


"Bagaimana kalau adam benar-benar kembali mengusik ketenangan keluargaku... apa sebaiknya aku menelpon mereka? Tapi mama dan papa akan khawatir, jika tau Adam datang menemuiku..."


"Jadi karna ini, kamu ingin membatalkan liburanmu?"


Tanya Hisyam seraya mendekati Alia dan meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Saat take off kamu harus menonaktifkan ponselmu atau paling tidak, beralihlah ke airplane mode, kamu tahu kan, bahayanya menggunakan ponsel saat berada di dalam pesawat?"


"Tapi tuan aku sedang... "


"Sedang apa? Menunggu kabar dari pria itu? Hmm... maaf, sebelumnya aku meragukan emosimu, tapi apa kamu pernah mendengar kata-kata ini? Benci dan cinta itu sebenarnya hanya beda tipis"


Celetuk Hisyam berusaha mencairkan suasana, dengan sedikit lelucon ia sebenarnya ingin mengetahui isi dari ponsel pengasuh itu.


Sedang Alia terdiam Hisyam mengambil kesempatan itu untuk mengutak atik ponsel milik Alia tersebut dan menemukan pesan singkat yang di kirim Adam untuknya.


"Hmm.... Apa karna pesan ini kamu tampak gelisah dan tidak fokus?"


Hisyam baru tahu kegusaran Alia sedari tadi di sebabkan oleh pesan dari Adam yang di terimanya.


"Tenang saja, aku sudah memastikan pria itu tak akan kembali dan mengusik ketenanganmu lagi...."


"Apa yang tuan lakukan padanya?"


"Bukan apa-apa, aku hanya mengembalikannnya ke tempat di mana ia berasal!"


"Tuan mengembalikannya ke indonesia? Apa tuan tahu apa yang sudah anda lakukan!"


Bentak Alia, geram dengan perbuatan Hisyam yang tak memikirkan konsekuensi dari tindakannya itu.


Sedang Alia yang panik, tanpa sadar telah meninggikan suaranya pada bos nya sendiri, sehingga membuat Ozan yang baru saja terlelap, kini terbangun dan kembali menangis.


"HUAAA.... HUAAA....!"


Tangis Ozan seketika menyurutkan amarah Alia, hingga keduanya kompak untuk menenangkan Ozan.


"Apa kamu punya ide?" Tanya Hisyam.


"Hmm....!" Alia menghela nafas kasar, dan meraih tubuh Ozan.


Dengan ekspresi datarnya Alia membawa Ozan ke tempat tidur dan ikut berbaring di samping bocah gembul itu.


"Bisakah tuan memberiku ruang....." Ucap Alia saat melihat Hisyam masih berdiri memerhatikan mereka sambil melipat tangan di depan dada.


"Excuse me? Owh, sorry...."


Hisyam hanya bisa ber oh-ria saja saat menyadari kesalahannya, dengan ekspresi canggun pria itu beredar, menghampiri sofa dan menyandarkan punggungnya di sana.


Setelah merasa lebih aman tanpa adanya Hisyam di sana Alia mulai melakukan tugasnya.


Untung saja Ozan sudah terbiasa dengan makanan pendamping ASI lainnya, jadi Alia hanya perlu munyusuinya saat menidurkan dan menenangkan jika sewaktu-waktu bocah gembul itu sedang rewel saja.


Di tempat lain, Hisyam tak henti-hentinya mengutuk keteledorannya tadi.


Pikir Hisyam sambil mengacak rambutnya, sesekali pria itu menatap punggung mungil Alia yang sedang melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu susu untuk Ozan.


Seketika Hisyam mengingat alasan konyol Renata yang tak siap dengan kehadiran Ozan, bahkan menyusui Ozan pun di jadikan penghalang kesuksesan kariernya sebagai seorang model.


"Alia yang masih sangat muda saja, bisa dengan sabar menjalani perannya, meski harus terpisah jauh dari putri kandungnya....


Kenapa Renata yang sudah cukup dewasa tidak bisa menerima kehadiran dan kekurangan Ozan? Padahal dia adalah ibu3 yang melahirkannya"


Hisayam tak habis pikir dengan jalan pikiran mantan istrinya itu, karna tak ingin pusing dengan alasan konyol Renata ia pun mulai menyibukkan dirinya dengan berbagai saluran televisi tanpa mempedulikan dua penghuni kabin lainnya yang sudah tertidur pulas.


-


Alia mengerjapkan matanya saat perutnya mulai memperdengarkan nyanyian keroncong tanda lapar.


Setelah merapikan pakaiannya ia kembali teringat dengan tindakan Hisyam yang mengembalikan Adam tanpa sepengetahuannya.


"Ini tidak bisa di biarkan! Ini urusan pribadiku, dia tidak bisa ikut campur semua masalahku! Apa dia tahu bagaimana usahaku menjauhkan keluargaku dari pria itu!"


Dengan kesal Alia bangkit dan menghampiri Hisyam yang sedang pura-pura tak peduli dangan tingkah aneh pengasuh itu.


"Tuan aku ingin bicara!" Ucap Alia tegas meski matanya tak berani menatap mata emerland pria yang sedang berdiri di hadapannya.


"Katakan!" Satu langkah Hisyam mengurangi jarak di antara mereka.


"A-aku...." Alia gugup sambil melangkah mundur.


"Apa kamu sedang berusaha menggodaku?"


"Apa...!" Alia tercengang heran dengan pertanyaan bos nya, tapi ekspresi Hisyam semakin membuatnya gugup, hingga ia mengikuti kemana pandangan Hisyam mendarat.


Alia membulatkan mata saat menyadari ia lupa memasangkan bross pada kerah dress yang di kenakannya, hingga memperlihatkan sedikit belahan di dadanya.


Alia spontan menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya dan segera berlari ke arah kamar mandi dengan pipi merona bagai kepiting tebus.


Melihat Alia hilang di balik pintu, Hisyam pun tak dapat menahan tawanya lagi, hingga ia kembali duduk menyembunyikan wajahnya di balik bantal sambil terkekeh geli mengingat kembali tingkah lucu ibu muda itu.


-


Menyadari Alia sudah cukup lama berada di kamar mandi Hisyam pun bangkit dan menghampiri walk in-shower .


TOK.... TOK....!


Alia tersontak tapi masih belum berani bersuara apalagi keluar dari tempat itu.


"Alia! You okay?"


Teriak Hisyam namun Alia masih tak ingin keluar dari kamar itu, ia merasa begitu malu jika harus bertemu dengan boss nya itu.


Selama beberapa menit bermondar mandir Alia kembali menatap pantulan dirinya di dalam kaca sambil memegangi pipinya yang masih terasa panas.


DOR... DORR....!" Hisyam kembali memukul pintu.


"Alia keluarlah! Kita akan landing sebentar lagi, atau kamu ingin menginap di sini sampai liburan kami berakhir!"


CLEKK....!


"Aku akan berkemas dan menyiapkan Ozan sekarang..."


Ucap Alia menunduk tak berani menatap bosnya.


Masih menutupi dadanya pengasuh itu segera berlalu menghampiri tempat di mana ia kehilangan bross yang tadi di gunakan untuk menutupi kerah dress nya.


Di kasur, di selimut hingga ke lantai, Alia terus mencari bross yang harus di kembalikannya sesuai janjinya pada Hisyam.


"Tak perlu mencarinya.... berdirilah!"


Suara Hisyam membuat Alia perlahan bangkit dari lantai.


"Turunkan tanganmu....."


"Apa!" Alia membulatkan mata, mendengar perintah Hisyam.


Hisyam geram pengasuh itu tak menuruti apa yang di inginkannya membuatnya harus melakukannya sendiri.


Di genggamnya kedua tangan Alia yang sekarang menutupi dadanya dan menurunkannya.


"A-apa yang tuan lakukan..." Alia gugup.


Pengasuh itu terdiam lagi, saat Hisyam mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jas nya yang berisi bross, lalu memasangkannya pada kerah dress yang di kenakan Alia.


"Ini terlihat lebih cocok untukmu..."


Ucap Hisyam hangat setelah memasangkan bross berbentuk kupu-kupu.


Melihat pria itu kembali ke tempat duduknya dengan senyum yang sangat jarang di tunjukannya, membuat Alia turut merasakan kehangatan yang di pancarkan oleh senyum langkah milik pria beranak satu itu.


Hingga Alia pun merasa teduh sambil memegangi bross cantik yang bertengger di bawah lehernya..