Single Parents

Single Parents
BERLIBUR.



Alia kewalahan menyamai langkah panjang Hisyam yang tak henti hentinya berbicara lewat telepon.


Sejak mereka turun dari pesawat, bukannya bersantai Hisyam malah semakin sibuk menerima beberapa panggilan telepon dari para koleganya.


Setelah beberapa menit berjalan meninggalkan Apron, tibalah mereka di area crab di mana mereka bisa mendapatkan sebuah mobil yang akan membawanya meninggalkan bandara.


Seorang pria berpenampilan santai menghampiri, dan menuntun mereka pada sebuah mobil yang telah di siapkan.


Alia yang tak ingin mengganggu pembicaraan bosnya, hanya memperhatikan perbincangan dua pria yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Berapa menit pria itu berlalu pergi setelah ia memberikan sebuah kunci dan memasukkan semua koper ke dalam bagasi.


Alia mendekat dan sudah bersiap mengajukan beberapa pertanyaan setelah Hisyam tak lagi bergelut dengan ponselnya.


Terlalu banyak yang ingin ia ketahui, mulai dari ketidak hadiran nyonya Farida di bandara hari ini dan apa yang akan mereka lakukan.


Karna hanya nyonya Farida lah yang akan mengurus segala persiapan pesta ulang tahun Ozan.


"Masuklah, mereka akan menyusul kemudian..."


Titah Hisyam pada Alia, menyadari pengasuh itu sedang mencari keberadaan dua wanita paruh baya yang menjanjikan sebuah liburan menyenangkan kepadanya.


Dan dengan berat Alia pun menurut setelah Hisyam membukakan pintu untuk dirinya dan Ozan.


"Kenapa kamu tak menanyakan alasan mama mengajakmu berlibur ke negaramu sendiri?"


Tanya Hisyam saat mobil yang di kemudikannya melaju membelah kota.


"Mungkin pulau ini cocok untuk pesta ulang tahun Ozan.... dan jika aku bertanya, apakah tuan akan menjawabnya"


Jawab Alia asal, sambil memainkan jari mungil Ozan yang sedang duduk dipangkuannya.


"Jawabanmu salah, sebenarnya alasan mamaku mengajak kita kesini karna... ingin mendekatkan kita berdua"


Jawaban Hisyam spontan membuat Alia melongo sejenak ke arah pria berkaca mata hitam itu, namun Hisyam hanya mengangkat bahu sambil menautkan alisnya lalu kembali menatap lurus ke depan.


Merasa Hisyam sedang mempermainkan dirinya, iapun ikut menatap lurus ke hadapan saat Hisyam tak menanggapi ekspresinya yang sangat terkejut.


"Kenapa kamu tidak mengatakan sesuatu?Kamu juga pasti tidak menyangkanya kan, begitupun denganku so, bersikaplah seolah kamu tak menyadari akan rencana mamaku kali ini"


Hisyam terus berbicara, sedang Alia hanya terdiam, dia tak tahu harus menyikapi kata-kata bosnya seperti apa, karna menurutnya semua itu tiba-tiba dan sangat tidak masuk akal.


Setelah pembahasan tadi keduanya pun terdiam dalam pemikiran masing-masing.


Hening....


Hinggalah mobil berhenti di sebuah villa mewah berpemandangan asri tanpa melupakan unsur tradisionalnya.


Alia menghirup udara saat keluar dari mobil, udara itu tak asing baginya, udara yang sangat ia rindukan, meski tak se-asri pemandangan di kampung halamannya.


Sambil mengikuti langkah panjang Hisyam, Alia tak henti-hentinya memerhatikan seluruh kemewahan yang menyatu dengan alam sekitar.


Alia berhenti di sebuah private pool yang berukuran sekitar lima puluh dua persegu dan di kelilingi beberapa tanaman hijau, cocok untuk karakter Hisyam yang tertutup dan tak ingin kehidupan pribadinya menjadi santapan publik.


Baru saja Alia membayangkan bagaimana keseruannya andai saat ini ia menghabiskan liburan bersama putri dan keluarga tercintanya, iapun di kejutkan oleh suara riuh yang terdengar dari arah depan membuatnya tersadar kembali dari lamunan.


Terlihat bik Ina beserta beberapa pelayan kesulitan membawa banyaknya barang belajaan nyonya Farida ke dalam villa.


Hisyam pun terkejut setelah melihat kebiasaan shopaholic mamanya, namun pria itu hanya bisa berkacak pinggan sambil geleng geleng kepala.


"Don't look at me like that... kamu tahu, kan, shopping membuatku bahagia" Tegur nyonya Farida.


Mengerti maksud dari tatapan putranya, ibu dari dua orang putra itupun segera merangkul pinggang Alia dan memberikan sebagian papper bag untuk Alia hingga pengasuh itu hampir terjatuh karna banyaknya pemberian yang harus ia terima.


"Apa ini nyonya?" Alia tetkejut dengan semua pemberian nyonya Farida.


Alia menyambut pemberian Farida dengan tangan bergetar, seketika ia teringat kata-kata Hisyam mengenai niat wanita itu untuk menjadikannya menantu ataukah hanya sekadar selir untuk putra pertamanya.


"Tadi kami berbelanja tiba-tiba terpikirkan untuk membelikanmu sesuatu.... ada apa? Apa kamu tidak ingin mencobanya?"


Nyonya Farida menghampiri putranya, meletakkan Ozan di pangkuan daddynya yang sedang bersandar di sofa, lalu menarik tangan si pengasuh dan menggandengnya masuk ke dalam salah satu kamar di villa itu.


Di kamar.


"How? Do you like it? Cobalah, semuanya pasti terlihat sangat cantik dan cocok di tubuhmu"


Ucap nyonya Farida penuh semangat, sambil menempelkan gaun dan perhiasan itu ke tubuh Alia lalu memutar mutarkan tubuh pengasuh itu di depan kaca layaknya barbie doll.


"Bukankah ini terlalu mewah untuk seorang pengasuh sepertiku..."


Alia menatap nyonya Farida dengan tatapan sayu, namun wanita paruh baya itu tetap antusias mengeluarkan satu persatu barang belanjaannya.


Alia menaruh kembali barang pemberian nyonya Farida tadi dan kembali mendekati nyonya Farida.


"Maaf nyonya, tapi saya tidak bisa menerima semua ini... nyonya tahu kan, saya hanyalah seorang pengasuh, bagaimana saya bisa membalas semua kebaikan nyonya selama ini"


Sekali lagi Alia menolak saat nyonya Farida masih belum memberikan jawaban dari pertanyaannya.


Tapi sebenarnya ia hanya takut suatu hari nanti ia tak bisa membalas kebaikan nyonya Farida saat keluarga Osmand menagih kembali apa yang telah ia berikan padanya.


"Kamu bicara apa Alia, kamu itu sudah saya anggap seperti anak sendiri dan tak perlu berpikir untuk membayar....


Hm.... baiklah aku akan jujur padamu, aku ingin kamu menjadi menantuku, kamu mau kan menikah dengan Hisyam?"


Farida akhirnya mengatakan apa yang telah lama ingin ia katakan, tapi karna tak ingin Alia salah menanggapi kebaikannya, akhirnya ia menunggu waktu yang tepat di mana perlakuan baiknya tak di anggap hutang budi oleh pengasuh itu.


"Kenapa aku? Bukankah ada banyak wanita yang lebih sempurna dan berkelas di luar sana yang bisa mendampingi tuan Hisyam" Pikir Alia heran.


"Memang benar Alia, tapi hanya kamu yang bisa menjadi ibu yang sempurna untuk Ozan, aku harap kamu mengerti bagaimana kekhawatiranku pada Ozan"


"Tapi nyonya, menjadi ibu yang baik bukan berarti aku bisa menjadi ibu dan istri yang sempurna untuk tuan Hisyam"


"Alia, kamu tak perlu menjadi sempurna untuk menjadi menantuku, cukuplah kamu menyayangi Ozan dengan tulus itulah alasan kenapa aku memilihmu, Alia" Ucap Farida penuh harap.


"Nyonya tau kan, bagaimana masa laluku, aku pernah memulai hubungan tanpa cinta, dan itu adalah keputusan yang salah, dan sekarang Assyifa lah yang menjadi korban dari kesalahan kami"


Akhirnya Alia mengungkapkan isi hatinya, ada banyak kekurangan dan keraguan dalam hatinya saat ini, sehingga ia merasa tak berani untuk memulai suatu hubungan lagi setelah pernikahannya dengan Adam berakhir dan menyisahkan sebuah trauma yang mendalam di hatinya.


"Alia, Hisyam pria yang baik, nak, dia cuma mencoba melupakan penghianatan Renata padanya, begitupun denganmu, kamu hanya takut memulai suatu hubungan....


Itu sebabnya kalian ragu untuk mengambil keputusan, tapi percayalah, suatu saat nanti kalian akan merasakan cinta yang akan tumbuh seiring berjalannya waktu"


Nyonya Farida meyakinkan Alia, berharap kesan buruk yang di tunjukan oleh Hisyam pada pengasuh itu bukanlah salah satu alasan Alia menolak putranya.


"Baiklah Alia, kamu tak perlu menjawabnya sekarang, kamu bisa memikirkan selama yang kamu inginkan, dan perlu kamu tahu apapun keputusanmu aku akan menerimanya dengan lapang dada"


Ucap Farida lalu bangkit mengelus ubun Alia dan berlalu meninggalkan Alia seorang diri.


-


Sepeninggalan nyonya Farida, Alia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur empuk yang sekarang ia duduki, membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja menyentuh lantai.


Sambil berpikir tentang permintaan nyonya besarnya, ia memejamkan matanya berharap dirinya akan menemukan jalan keluar dari masalah baru yang sedang menghampirinya.


"Mungkin sebagian orang menikahi pria kaya adalah kesempatan emas yang tak akan datang dua kali dalam hidup, tentu saja selain financial yang akan terjamin, mempunyai suami yang kaya raya otomatis bisa merubah pandangan orang tentang dirimu....


Tapi bagi seorang ibu sepertiku, aku hanya menginginkan kehidupan damai bersama putri kecilku, apa gunanya bergelimang harta jika aku tak bisa hidup bersama Assyifa, mereka adalah keluarga terpandang, tentu saja keluarga Osmand tak akan menerima seorang anak yang bukan keturunan dari keluarga mereka"