
cuaca pagi hari yang begitu cerah membuat taman kota itu padat akan pengunjung, apalagi di hari Minggu ini pengunjungnya dua kali lipat lebih banyak dari hari biasanya.
Kebanyakan dari mereka melakukan olahraga pagi yaitu joging, walaupun ada beberapa dari mereka yang hanya jalan-jalan menikmati udara pagi hari dan ada juga yang bersepeda santai.
huh huh huh
Seorang bocah kecil menghentikan langkah kakinya, ia membungkuk, kedua tangannya bertumpu di kedua lututnya, nafasnya terdengar memburu.
"huh huh... capek sayang?." tanya Dira, ia juga menghentikan langkah kakinya ketika sang anak berhenti. Keadaanya tak jauh berbeda dari El, nafas yang memburu serta peluh yang membasahi tubuhnya.
"kita istirahat dulu saja bagaimana?." tawar Dean yang tidak merasa lelah sedikitpun.
"uncle tidak capek?." tanya El, ia sudah berdiri tegak dan kini berdiri didepan Dean, menatapnya dengan dahi berkerut.
Dean menggeleng pelan, "uncle sudah biasa, ayo kita istirahat disana." tunjuk Dean pada salah satu bangku kosong di bawah pohon, tak jauh dari mereka berada sekarang.
Dira dan El mengangguk pelan, "iya uncle, kita istirahat disana aja."
mereka kini duduk berjajar disebuah bangku. Dean yang melihat wajah El dan Dira memerah menawarkan diri untuk membelikan minuman pada mereka, tapi dengan halus Dira menolaknya, ia cukup tahu diri akan hubungan mereka, apalagi beberapa hari lalu ada seseorang yang memperingatinya.
"tidak usah tuan, saya saja yang membelikan minum untuk El."
"El sebentar ya sayang." Dira beranjak dari duduknya, tapi ditahan oleh El, bocah itu menggeleng pelan.
"biar El saja mom, El akan beli disana, yang paling dekat saja." tanpa menunggu persetujuan Dira, El sudah berlalu pergi meninggalkan ke canggungan untuk Dira dan Dean.
"huh, dasar anak itu." gerutu Dira pelan.
Dean yang mendengar gerutuan Dira terkekeh pelan dan mendapatkan lirikan tajam dari Dira, sesaat ia lupa jika yang ia lirik saat ini adalah seorang Dean Wilson, sang direktur utama D'Will Company.
"puuftt.. kalian lucu sekali." bukannya takut melihat lirikan tajam dari Dira, Dean malah tertawa tertahan dibuatnya. Merasa gemas akan sikap Dira.
"apa yang kau tertawaan?!." kesal Dira.
"hahaha.. tidak tidak, maafkan aku." Dean melambaikan tangannya didepan wajah Dira, sambil menahan tawanya.
"hah?." sesaat Dira terpukau akan makhluk ciptaan Tuhan didepannya, Ia sampai tak berkedip melihatnya.
"halloo.. nona.." lagi, Dean mengibaskan tangannya di depan wajah Dira setelah tawanya reda.
"oh, maaf, maaf tuan, saya sedikit melamun." secepat kilat Dira mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"memikirkan diriku?."
"hah??."
___
"kalau jalan tuh pake mata!, lihat!, baju anakku jadi kotor!, kau haus bertanggung jawab, ini itu baju mahal!."
"tapi dia yang menabrakku nyonya, bajuku juga kotor. bukankah seharusnya anda yang harus ganti rugi untukku?."
Sayup-sayup Dira mendengar suara keributan, ia mengedarkan pandangannya.
"disana kenapa rame banget." gumamnya pelan. Dean yang duduk disebelah Dira mengikuti arah pandangan Dira.
"ayo kita lihat." Dean beranjak dari duduknya diikuti oleh Dira.
Masih di suasana yang menegang, wanita sosialita itu masih dengan arogan memarahi seorang bocah kecil yang tak sengaja bertabrakan dengan putrinya dan mengakibatkan minuman yang dipegang putrinya jatuh membasahi baju kedua bocah itu. Ia tak peduli jika saat ini mereka menjadi tontonan masa.
"permisi, permisi.." Dira dan Dean menerobos masuk dalam kerumunan yang ada.
"dimana ibumu?!, aku akan memberinya pelajaran!." wanita sosialita itu masih saja berteriak marah.
"ini tidak ada hubungannya dengan mommy." tatapan dingin El seakan menghunus wanita tua didepannya, membuat nyali wanita itu sedikit menciut.
"ya ampun, El.." pekik Dira, ia sesegera mungkin merengkuh tubuh mungil El kedalam pelukannya.
"ini ada apa sayang?, apa yang terjadi?, kenapa bajumu basah?, kamu gak papakan?, gak terlukakan?, mana yang sakit?, beritahu mommy." Dira membolak-balik kan tubuh El dengan paniknya.
"mommy, tenanglah, El tidak apa-apa. El pusing mom.." keluh El, bocah itu memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja menjadi pusing karena ulah sang mommy.
"oh syukurlah, maafkan mom.."
"oh, jadi kau ibunya!." wanita sosialita itu masih dengan arogannya, berkacak pinggang dan menatap nyalang pada Dira.
"maaf, anda siapa ya?." Dira mengalihkan pandangan pada wanita itu.
"heh, lihatlah penampilanmu, pantas saja tidak punya etika." mengejek remeh pada Dira.
"kau..."
"El, kamu tidak apa-apa kan?." Dean meraih tubuh mungil El, menggendongnya dengan tangan kirinya.
"tuan Dean?!." wanita sosialita itu terkejut ketika melihat Dean menggendong bocah yang ia marahi sejak tadi.
"kau mengenalku?." Dean mengangkat sebelah alisnya.
"mana mungkin saya tidak mengenali atasan saya sendiri tuan. Senang bisa bertemu Anda disini tuan." ramahnya.
"oh, jadi kau salah satu karyawan di D'Will?."
"iya tuan."
"kalau begitu mulai besok saya tidak ingin melihat anda di perusahaan lagi nanti. Nadira ayo kita pergi." dengan sengaja Dean menggandeng tangan Dira dan menariknya pergi dari sana.
"a apa?, tu tuan?, tuan jangan pecat saya, tuan saya mohon, jangan pecat saya." pekik wanita itu histeris, ia hanya terduduk lemas ditempatnya.
"tuan.."
🖤🖤🖤