
Alia menatap sedih punggung suaminya yang sedang di gandeng oleh wanita lain.
Semakin lama kelibat itu mulai menghilang dari pandangannya, buru-buru ia menghapus sudut matanya yang mulai di banjiri oleh air mata.
Dengan berat hati ia bangkit dan berlalu pergi, ia hanya bisa terdiam sambil menyusuri lorong rumah sakit. Setelah menyaksikan kemesraan suaminya dengan wanita lain, ia semakin yakin dengan keputusannya.
Dalam diamnya ia terus berjalan sambil mengingatkan diri agar tetap teguh pada pendiriannya, "Jangan menangisi seseorang yang tak di takdirkan untuk dirimu, Alia!" Bisik Alia penuh tekad.
Dalam lirihnya lagi-lagi ia menyeka air mata yang semakin deras membanjiri pipinya.
Pada saat menghampiri lift darurat tiba-tiba sebuah tangan menariknya cukup kasar dan membawanya masuk ke dalam lift khusus untuk staf saja.
"Tu-tuan...."
Alia cukup kaget dengan perlakuan Hisyam yang tiba-tiba muncul dan memojokkan dirinya di dalam sebuah ruangan kecil itu.
"Apa yang tuan lakukan di sini? Bukankah tuan sedang bersama...."
Cup!
Alia terdiam kala Hisyam mendadak membungkamnya dengan satu kecupan lembut di bibirnya.
Alia pun ikut merasakan sejenak kehangatan itu, tapi segera mungkin ia menyadarkan diri dan mendorong tubuh atletis milik Hisyam.
"Ini tidak benar!" Ucap Alia lalu menekan tombol di sampingnya dengan buru-buru.
Hisyam kembali membalikkan tubuh Alia dan memaksanya untuk menghadapnya.
"Dengar dulu penjelasanku!"
Alia memberontak, "Lepas! Aku ingin pulang...." Lagi-lagi Hisyam membungkam Alia dengan ciuman yang bertubi-tubi.
Alia mendorong lagi dan, "PLAAKK!"
Tamparan mendarat di wajah tampan yang sangat ia rindukan selama ini.
Hisyam membulatkan mata, bukannya marah, hanya saja Alia kini berani menamparnya, itulah yang membuatnya tak percaya.
"Kenapa? Apa tuan tidak puas dengan satu wanita saja!" Bukan hanya tamparan, Alia juga berani melontarkan kata-kata kasar padanya.
"Oke, aku mengaku salah, tapi please, beritahu aku kamu tinggal di mana sekarang?"
Bukannya menjawab ataupun marah, Hisyam malah balik beratnya.
"Untuk apa? Hanya karna aku telah mengakui perasaanku, tuan bisa seenaknya memanfaatkanku!"
Alia terlihat begitu marah hingga kali ini tak ada lagi sikap hormat seperti yang selama ini ia tunjukkan.
"Ikut denganku!" Titah Hisyam sembari menggenggam erat tangan Alia.
Alia menghentakkan tangan Hisyam, "Kemana tuan akan membawaku!" Tanya Alia.
"Kembali ke rumah"
"Untuk apa? Agar bisa kamu manfaatkan lagi!"
Alia sudah kehilangan rasa hormatnya, apalagi setelah melihat kemesraan Hisyam bersama Renata tadi membuatnya semakin illfeel, seakan hilang sudah kepercayaan.
"Jangan keras kepala, pikirkan tentang Assyifa, dia masih sangat kecil untuk menanggung semua ini"
"Aku bisa melindunginya sendiri dan tuan, tuan bisa lepas dari tanggung jawab itu" Ucap Alia penuh keyakinan.
Sedangkan Hisyam hanya bisa melongo, setelah berapa hari berpisah, istri kecilnya itu sudah berani membantah bahkan menamparnya tanpa rasa takut.
"Oke, aku mengaku salah, tapi tolong, beritahu aku kamu tinggal di mana sekarang?"
"Itu bukan urusanmu!" Alia memalingkan wajahnya, tak ingin tertipu dengan permainan Hisyam kali ini.
"Alia, please, ini tidaklah seperti yang aku rencanakan, bukankah sudah ku katakan aku tak akan melepasmu"
"Dasar tuan egois!" Umpat Alia, sambil menghempas tangan Hisyam yang berada di atas pundaknya.
"Hm....!"
Hisyam mendengus kasar, Alia benar-benar telah berubah seratus delapan puluh derajat, dan itu semua karna dirinya yang telah menjerumuskan wanita itu ke dalam permasalahan yang tak berkesudahan.
"Alia, please..." Hisyam kembali meraih tangan Alia.
"Ku mohon bertahanlah sebentar lagi, aku akan menyelesaikan urusanku setelah itu kita akan memulai awal yang baru"
"Huh....!" Alia tersenyum kecut, merasa jengah dengan omong kosong seorang Hisyam.
Memang benar ia mencintai Alia, tapi tak mungkin ia memperkenalkan Alia sekarang di saat ia sendiri belum menemukan musuh yang sebenarnya, musuh yang telah menjebak Alia di kamar hotel bersama Micheal sekaligus menyeret perusahaannya dalam kebangkrutan.
"Benarkan? Bahkan tuan belum siap jika popularitas dan kesuksesan tuan jadi tercemar hanya karna mengakui seorang pengasuh seperti...."
Alia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi, ia meremas dadanya, kebenaran itu benar-benar menyakiti perasaannya.
Apa lagi melihat reaksi Hisyam yang tak menepis tuduhan yang di berikannya, tentu saja Alia merasa sangat kecewa.
Di waktu yang sama lift pun terbuka. Alia mendorong Hisyam keluar, "Pergilah! Aku rasa tidak ada gunanya memperdebatkan hal ini lagi" Ucap Alia.
Ia tak ingin jika hatinya kembali luluh dan mulai larut dalam permainan Hisyam.
Jujur saja ia sudah terlanjur mencintai pria itu dan pria itu juga masih berstatus suaminya, tapi, meski ia begitu mengharapkan perasaannya terbalaskan, dirinya juga tak ingin Hisyam menganggapnya murahan seperti tadi, hanya karna cinta ia rela di jadikan pelampiasan emosi maupun nafsu, sama seperti yang baru saja di lakukan Hisyam.
"Hm!" Hisyam menutup mata seraya menghela nafas dalam.
Tak sanggup melihat wanita yang di cintainya bersedih dan salah paham padanya, mau tidak mau ia harus menjelaskan situasi yang sebenarnya.
Ia menatap ke arah CCTV di atasnya, sebagai putra pemilik rumah sakit, tentunya tak akan ada masalah dengan CCTV yang sejak tadi menyorot mereka, ia bisa meminta pihak monitoring untuk menghapus aktivitas mereka di lift tadi.
"Alia, aku....."
"Hisyam!" Panggil Renata.
"There you are, aku mencarimu kemana-mana!"
Hisyam membulatkan mata, tak percaya Renata sampai menemukannya dan di dalam sana masih ada Alia yang sedang menatapnya dengan tatapan benci.
"Renata...."
Hisyam berlalu meninggalkan Alia, mau tidak mau ia harus melanjutkan drama yang telah ia mulai, kalau tidak semuanya akan sia-sia dan dia tak akan mendapatkan apa-apa.
Alia keluar setelah memastikan situasinya aman, dengan langkah lunglai ia menghampiri mobil Nisha namun tak ada siapapun di dalam.
Setelah menunggu beberapa menit barulah Nisha kembali, tentu saja dengan wajah yang tak terlihat baik.
"Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?"
Alia penasaran, tadi wajah sahabatnya itu tampak bersemangat tapi sekarang malah sebaliknya.
"Hm.... aku baru saja menjenguk bibi-ku, dia sedang sakit"
"Benarkah.... kalau kamu ingin menemaninya, aku bisa pulang sendiri"
Nisha mengelengkan kepala, "Tidak, hubunganku dengan putranya belum terlalu baik, aku akan mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf padanya, lagipula, mereka juga sudah bisa pulang hari ini, kok" Jelas Nisha seraya mengarahkan mobilnya keluar dari area rumah sakit.
-
Hari menjelang sore, suasana kota pun semakin padat, sudah hampir sepuluh menit mereka terjebak dalam kemacetan namun sepertinya Alia tak peduli dengan semua itu, pikirannya kembali menerawang jauh, memikirkan masa depannya kelak sebagai seorang single parent lagi.
"Hm...." Alia menghelah cukup dalam.
Nisha memperhatikan Alia di sampingnya, tak ada sepatah kata pun yang keluar, namun Nisha yakin ada sesuatu yang terjadi, "You okay?" Tanya Nisha penasaran.
Alia mengangguk berusaha menunjukkan senyuman manisnya.
"Um.... bagaimana dengan putra sambungmu, dia baik-baik saja, kan?" Nisha menelisik ekspresi sahabatnya.
"Mm, tuan bilang itu cuma demam biasa, sepertinya dia sudah bisa pulang hari ini" Jelas Alia sembari meremas jemarinya satu sama lain.
"Kalian bertemu lagi, kamu yakin baik-baik saja?" Nisha kembali memastikan.
"Mm...." Alia mengangguk lagi.
"Mm, berarti, kalian sudah membahas soal perceraian kalian? Kapan kalian akan bercerai?" Nisha tampak begitu antusias.
Alia menggeleng lagi, "Dia tetap bersikukuh mempertahankan pernikahan ini, padahal aku telah menemukan bukti perselingkuhan mereka" Ucapan Alia tiba-tiba terhenti tatkala Nisha mulai bereaksi
"Hoornnnn!!"
Nisha memukul stir, sampai terdengar bunyi klakson yang memekakkan telinga dan kini mereka menjadi pusat perhatian.
"Um, sorry, aku terbawa emosi.... tapi, benar kamu punya buktinya? Itu bisa kita gunakan untuk mempercepat proses perceraianmu!"
"Aku hanya melihat dengan mataku sendiri, mereka bermesraan.... tepat di kamar putranya"
"Sial!" Nisa mengumpat geram, "Jadi kamu melihatnya bermesraan! Tepat di depan matamu? Argh! Benar-benar gila ya mereka, pria seperti apa, sih, yang kamu nikahi itu!"
Nisha terus mengumpat, hanya dengan mendengar cerita dari Alia membuanya naik pitam, apa lagi jika sampai dirinya yang ada di posisi itu, menyaksikan kemesraan suaminya dengan istri pertamanya, pasti ia akan meledak seperti bom waktu.