
"fuuuhh.."
Tiupan ditelinga Dira membuatnya meremang, tubuh Dira menegang.
Perlahan Dean membuka jubah mandi yang melekat pada tubuh Dira. Membuangnya ke sembarang arah.
Dean tersenyum miring melihat lekuk ***** Dira.
"so ****.."
Tanda aba-aba Dean menyerang bibir merah muda milik Dira. Ciu*** yang lembut tapi menuntut.
Dean menggigit bibir Dira, membuat akses benda tak bertulang itu melesak masuk kedalam, dan membelit benda tak bertulang milik lawan.
Cukup lama mereka bertukar salvia, tangan Dean pun tak tinggal diam, menjelajah setiap inch tubuh Dira dengan menggoda.
Dira memukul dada bidang Dean pelan, mengisyaratkan agar melepas pautannya karena kehabisan oksigen.
Nafas keduanya memburu, seolah berebut oksigen yang ada disekitar.
"kita bermain disana." Dean mengangkat tubuh Dira, membawanya kemedan perang yang akan membawa keduanya melayang keudara.
Dean melempar tubuh Dira keatas ranjang. Tatapannya bak serigala yang baru saja mendapatkan mangsanya.
Ia melepas jubah mandi yang melekat pada tubuhnya, melemparnya asal kesembarang arah.
Ia mulai merangkak nak keatas ranjang.
Sraakk..
Dengan sekali tarik, baju seksi yang Dira kenakan hancur sudah, Dean membuangnya asal.
Ia kembali menatap tubuh Dira dengan tatapan lapar.
Dean mulai mengekspor hidangan didepannya.
Memberikan kecupan dan lum**** pada bibir merah muda Dira. Tangannya pun kini bermain squisi milik Dira yang masih terbungkus kaca mata hitam.
Ciuman Dean turun menjelajahi leher jenjang milik Dira, memberi tanda-tanda merah disana.
"emmh.."
Lenguhan Dira bak bahan bakar yang tertumpah pada api kecil, membuatnya berkobar berkali-kali lipat.
Dean menarik tali kacamata Dira. Membuat sang empunya reflek menyilangkan tangannya didepan dada. Malu.
Dean tersenyum miring melihat Dira yang kini telah dikuasai kabut gair**. Ia menarik segitiga permuda yang menutupi surganya.
"saya akan melakukannya sekarang sayang." kembali Dean meraup bibir merah muda Dira dengan rakus.
Pelan namun pasti Dean menghujam pedangnya pada bagian inti Dira. Membuat sang empunya menjerit tertahan karena mulutnya dibekap oleh mulut Dean.
Dira hanya bisa meremas sprei dengan kuat, menyalurkan rasa sakit yang teramat sangat pada bagian intinya. Tak terasa buliran air kristal pun lolos pada kedua mata Dira.
Permainan yang awalnya penuh kelembutan tiba-tiba saja berubah kasar dan brutal, membuat Dira menjerit berkali-kali, memohon ampun.
"dasar wanita murahan!!, kau mau uang kan?!, akan saya berikan!, berapapun yang kamu mau!." umpat Dean, entah mengapa, bayangan Angel yang digagahi pria yang tak ia kenal tiba-tiba saja berputar pada otaknya.
Tanpa sadar ia meghujam secara kasar tubuh Dira. Ia tak menghiraukan jeritan Dira. Berkali-kali pula ia menyemburkan pelepasnnya pada tubuh Dira.
Dean terkulai lemas diatas tubuh Dira yang sudah tak berdaya, jika saja ia tidak mendengar nafas yang memburu, mungkin Dean akan beranggapan bahwa Dira sudah mati karena ulahnya. Karena kini Dira hanya memejamkan mata saja.
Dean melepas tautannya, melirik jam yang ada disana.
Hampir jam 3, ternyata lama juga. batin Dean tersenyum miring.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi Semmy untuk menyelesaikan urusannya dengan Dira.
Cekrek..
Satu buah foto wajah ayu Dira memenuhi layar ponsel Dean. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas.
"menggemaskan."
Ia mengambil selimut dan menutupi tubuh polos Dira sebelum akhirnya ia masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Pukul 5 pagi Dean keluar dari kamar hotel. Masih cukup pagi untuk berangkat kekantor, tapi ia tak peduli, dari pada khilaf memangsa tubuh molek Dira lagi, lebih baik ia pergi.
🌚
Aku gak pandai buat adengan 🌚
hohoho maafken jika terlalu fulgar 🙏
like 👍
kasih hadiah 🖤
hatur nuhun😊