Single Parents

Single Parents
NALURI SEORANG PRIA DEWASA.



Degupan jantung Hisyam semakin bergejolak saat Alia mulai merintih dalam dekapannya.


Sebagai lelaki normal tentu saja hasratnya tertantang setiap kali wanita muda itu berada di dekatnya.


Tapi baginya itu hal yang wajar ia rasakan, mengingat dirinya telah lama tak memiliki hubungan dengan wanita manapun, hingga gejolak yang tengah ia rasakan sekarang, hanya setakat hasrat tanpa ada perasaan yang spesial.


Alia kembali merintih, tapi kali ini terdengar seperti isakan pilu, hingga Hisyam kembali menghela nafas panjangnya.


Ia berharap gejolak aneh itu segera hilang, setidaknya bukan dengan wanita muda itu.


"Biarkan aku pergi, ku mohon...." Raut lembut itu terlihat memelas.


Baru semalam ia mengetahui bahwa wanita itu sering mengalami mimpi buruk di malam hari.


Tapi kali ini ia benar-benar melihat bagaimana Alia mengalaminya selama ini, bahkan mimpi itu juga menghantuinya di siang hari.


Hisyam mengelus rambut Alia dengan lembut, ia berusaha menenangkan wanita yang sedang mencengkram kuat kemeja yang di kenakannya.


Karna tak tega melihat Alia ketakutan seperti itu, ia pun mencoba membangunkan Alia dengan sedikit mengguncang di tubuh wanita itu.


Namun bukannya terbangun, Alia malah semakin terisak, hingga Hisyam yang semakin bersalah kini mendekatkan wajahnya ke wajah Alia dan....


"Cup......"


Hisyam mengecup lembut bekas basah di pipi Alia, lalu mengusap lembut bekas bibirnya di sana.


Entah apa yang mendorongnya melakukan hak itu, tapi cara itu sukses membuat Alia perlahan menghentikan isakannya.


"Apa yang sedang aku lakukan? Bukankah aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyentuhnya dan akan melepasnya jika ia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri....."


Hisyam menatap lembut wanita dalam dekapannya.


"Dia bahkan masih sangat muda untuk menjalani perannya sebagai istri sekaligus ibu dari dua orang balita....


Tidak! Kendalikan dirimu, Hisyam..... Huft... aku tak akan membiarkan nafsuku menghancurkan masa depannya yang masih panjang"


Hisyam lagi-lagi bermunolog dalam hati, kali ini pria itu benar-benar sedang berperang dengan perasaannya meski sudah di tekankan bahwa gejolak itu lumrah dari nalurinya sebagai seorang pria dewasa.


Alia mulai mengeliat dan perlahan mengerjapkan mata.


Dengan penglihatan yang samar, ia mencoba mengumpulkan roh yang sempat mengembara meninggalkan raga yang diam-diam mendapat kecupan misteri dari seorang pria yang haus akan kehadiran wanita di sisinya.


Melihat reaksi Alia, Hisyam dengan sigap menjauhkan tubuhnya dan berpura-pura berpaling ke arah lain seakan tak terjadi apa-apa.


"Ehm.... apa tidurmu nyenyak?" Tanya Hisyam pada Alia yang sedang menerawang jauh entah kemana.


"A-ada apa denganmu, kamu baik-baik saja, kan?"


"Ya! Uh, aku baik-baik saja" Jawab Alia singkat.


Mendengar jawaban singkat Alia, membuat Hisyam gugup, ia berharap Alia tak menyadari apa yang telah di lakukan pada pengasuh dari putranya itu.


"Apa yang terjadi, di mana semua orang? Apa kita sudah sampai?"


Alia seketika tersadar lalu menoleh ke kiri dan kanan, namun hanya menampilkan pemandangan sawah yang membentang luas.


"Drivernya tidak tahu harus mengantar kita ke mana, jadi mau tidak mau kami harus menunggu sampai kamu bangun"


Jelas Hisyam santai sambil merapikan kemejanya yang kusut.


"Ceweknya sudah bangun, ya, mister?"


Teriak si sopir yang sedang berteduh di bawah pohon sambil menghisap sisa rokoknya.


"Iya pak, maaf, saya ketiduran, bisa kita jalan sekarang?" Tutur Alia dengan sopan.


"Dek, pertama kali bawa cowonya ke sini, ya?" Tanya si sopir basa-basi.


Sedang Alia yang mendengarnya hanya tersenyum canggung, tak tau harus menjawab apa, apalagi saat melihat Hisyam tak menunjukkan reaksi apapun.


Setelah beberapa saat mendengar ocehan si sopir, angkot yang mereka tumpangi kini berbelok memasuki sebuah perkampungan yang cukup padat dan di kelilingi bukit dan persawahan.


Alia yang tak sabar ingin bertemu keluarga dan putri kesayangannya, kini terlihat grogi hingga meremas ujung blous yang di kenakannya.


Suasana desa semakin terasa kala melihat segerombolan anak berlarian kesana kemari, kejar mengejar satu sama lain.


Angkot berhenti tepat di depan rumah panggung milik pak Rahman.


Semuanya tampak seperti setahun yang lalu, hanya saja taman kecil yang dulu di penuhi berbagai jenis bunga yang bermekaran kini tampak layu dan dan tak terawat.


"Assyifa pasti sangat aktif, sehingga mama dan Amel tidak punya waktu untuk mengurus taman ini"


Ucap Alia sambil menaiki anak tangga.


Di belakang Hisyam mengekori Alia sambil menelisik setiap jengkal anak tangga yang tebuat dari kayu jati, hingga sesekali pria itu tersandung karna tak memperhatikan langkahnya.


Butuh beberapa menit Alia mempersiapkan dirinya di depan pintu, dan dengan mantap Alia pun mulai mengetuk, namun tak seorang pun yang datang menyambut kehadirannya.


Karna terlalu bersemangat, ia pun melangkah masuk dan mencari satu persatu keluarga yang begitu ia rindukan.


Alia yang tadi begitu bersemangat kini terlihat kecewa saat tak menemukan siapa pun di ruang tamu.


Dengan penasaran ia menghampiri kamar orang tuanya yang terletak paling ujung.


Karna begitu penasaran, Alia menerobos tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dan benar saja, apa yang di khawatirkan beberapa hari ini, kini benar-benar terjadi.


Pak Rahman yang di apit oleh mama dan Amel adiknya, kini terbaring tak berdaya di tempat tidur.


Melihat kondisi papanya yang begitu memprihatinkan, membuat Alia shock dan segera berhambur memeluk pria yang sedang berbaring tak berdaya.


"Pa.... ini Alia pah.... apa yang terjadi..." Ucap Alia sambil menciumi tangan papanya yang mengeriput.


"Papa kena stroke! Dan sudah hampir sebulan papa hanya bisa berbaring di tempat tidur"


Jawab Amel datar namun terdengar sedikit kasar, sedang mamanya tak berucap sepatah kata pun.


"Jadi benar, papa sakit waktu kakak menelpon beberapa hari yang lalu? Tapi kenapa kaloan tak memberi tahuku, dan kenapa aku sampai tidak tau.... hiks...."


"Itu karna kakak sibuk, dengan pekerjaan baru kakak yang memalukan itu!" Timpal Amel dengan sinis, hingga Alia merasa ada yang aneh dengan sikap adiknya.


"Apa maksud kamu, Mel?" Alia tercengang mendengar tuduhan adiknya.


"Setelah mengetahui pekerjaan kakak yang sebenarnya, papa jadi seperti ini!"


"Apa yang kalian bicarakan.... ma, apa yang terjadi? Kenapa mama diam saja" Alia beralih meminta penjelasan pada mamanya.


"Kami sudah melihat video itu! Dan kami tidak menyangka, kalau kamu bisa melakukan hal serendah itu, Alia!"


"Tidak itu tidak benar....


Pa, apa yang papa lihat, itu semua tidak benar, itu hanya rekayasa, papa harus percaya pada Alia, Alia tidak mungkin melakukan hal serendah itu"


Alia berusaha menjelaskan pada papanya apa yang sebenarnya terjadi, namun pak Rahman masih tetap tak merespon.


Stroke yang di derita pak Rahman sudah mempengaruhi syarafnya, hingga hanya cucuran air mata yang bisa mengungkapkan perasaannya saat itu.


"Aku tidak melakukan hal serendah itu.... aku hanya di jebak... hiks.... hiks...."


Alia menangis tersedu-sedu, entah bagaimana caranya ia menjelaskan pada papanya situasi yang sebenarnya terjadi.


Sedang Hisyam yang masih berdiri menyaksikan apa yang sedang terjadi, kini berjalan menghampiri Alia yang sedang menangis di dada kurus pak Rakman.


"Maaf, perkenalkan, saya majikannya Alia.... sebelumnya izinkan saya meluruskan kesalah pahaman ini, sebenarnya saya ...."


Hisyam menghentikan kata-katanya saat buk Retno dan Amel tiba-tiba berdiri menatap sinis ke arahnya.


"Jadi kamu! Pria yang telah menjerumuskan Alia dalam kemaksiatan!"


"No! Please.... jangan salahkan Alia, akulah yang salah, kalau saja aku tak memintanya ikut ke pesta, Alia tak akan mengalami hal buruk itu"


Ucap Hisyam sambil menatap mata pak Rahman yang sepertinya bisa mengerti apa yang sedang di sampaikannya.


"Baiklah! Kalau pun ini bukan kesalahan Alia, lalu bagaimana kamu akan membersihkan nama baik keluarga kami yang telah tercoreng!"


"Aku akan menikahi Alia!" Ucap Hisyam tegas, sehingga membuat suara tangis Alia bererhenti seketika, namun air matanya masih terus bercucuran.


Sementara pak Rahman yang terbaring kaku, kini mengalihkan pandangannya ke arah Hisyam, seakan ingin memastikan kesungguhan kata-kata pria itu.


Melihat respon dari pak Rahman, membuat Hisyam ikut membungkukkan tubuh panjangnya ke arah pak Rahman dan memegang jemari kurus pria paruh baya itu.


"Benar, aku datang kesini untuk melamar Alia dan aku akan membuktikan bahwa vidio itu tidaklah benar, itu semua rekayasa"


Pak Rahman mengedipkan matanya, di ikuti air mata yang menunjukkan betapa ia sangat mengharapkan kebahagiaan bagi putrinya.


-


Adzan maghrib mulai berkumandang, tapi Alia masih terus menangis tak ingin meninggalkan papanya walau hanya sejenak, ia menyalahlan diri sendiri atas apa yang menimpa papanya.


"Assyifa sudah bangun, pergilah dan temui dia"


Ucap buk Retno datar, entah mengapa Alia merasa, masih ada sesuatu yang mengganjal di hati mamanya. namun ia tak mau berpikir yang macam-macam karna ingin pokus pada kesembuhan papanya.


Alia menoleh dengan mata membengkak saat mendengar nama putrinya di sebut.


Karna begitu sedih melihat kondisi papanya, sampai ia lupa pada putrinya yang sedari dulu ia rindukan, bahkan di setiap sujudnya nama Assyifa lah yang tak pernah luput dalam do'anya.


Alia melangkah gontai saat keluar dari kamar papanya, terdengar suara anak kecil sedang tergelak ria, entah apa yang membuatnya begitu bahagia.


Perlahan ia mendekati ruang tamu di mana suara Assyifa menggema memenuhi ruangan usang itu.


Terlihat Hisyam sedang bermain dengan Assyifa dengan begitu akrabnya.


Melihat perkembangan Assyifa yang tak jauh dengan tingkah aktif Ozan membuat Alia tak dapat membendung rasa harunya.


Tanpa membuang waktu lagi, Alia meraih tubuh gembul Assyifa dan menciuminya tanpa henti.


"Ini mama sayang, ini mama...."


Ucap Alia dengan tangis bahagia, dan kembali lagi menciumi tangan Assyifa yang seperti roti sobek.


"Mam... ma... ma..."


Tak butuh waktu lama, Assyifa pun ikut mengulang kata-kata Alia, seolah bocah itu mengerti apa yang pertama kali ingin di dengar oleh mamanya.