
Alia terbangun lebih awal dari biasanya, rencana makan malam yang di siapkan oleh suaminya ternyata membuat mood nya semakin meningkat.
Meski ia hanya terlelap sekitar dua jam saja, tapi wanita muda itu tetap besemangat untuk menunaikan shalat subuh.
Fajar mulai menyingsing dari ufuk timur, Alia yang baru saja menyelesaikan dialog dengan sang penciptanya, kini bersiap untuk melanjutkan aktivitasnya pagi itu.
Baru saja Alia membuka pintu, wajah nyonya Farida pun seketika terpampang di balik pintu, menunjukkan senyuman hangat yang selalu membuat Alia merasa bersyukur bisa memiliki mertua yang begitu menyayangi dirinya.
"Oo.... mah, kenapa hanya berdiri disini?" Tanya Alia spontan melihat mertuanya seperti takut akan sesuatu.
"Sssttt.... ada yang ingin mama bicarakan" Sambil berbisik Farida segera menarik tangan Alia dan mengajaknya untuk bicara.
"Ya, tapi, kenapa harus berbisik, mah?"
"Pelan-pelan, Hisyam bisa terbangun...."
"Mom, why you here?"
Suara Hisyam membuat dua wanita itu menoleh padanya.
"W-what? Hisyam! Jangan bilang kalau kamu sedang bekerja semalaman ini"
Tanya Farida menyelidik serta mata yang sengaja di picingkan.
"Alia, what's going on?" Nyonya Farida beralih menatap menantunya.
"Mom, ini masih pagi, lagi pula bukan salah Alia jika sampai sekarang kami belum memenuhi keinginan mama"
"Apa maksudmu...." Farida mulai melemah.
"Mama kan tau, kalau aku dan Alia pernah melalui masa-masa yang cukup rumit sebelumnya dan untuk memulainya kembali, kami sepakat untuk saling mengenal dan mencari kecocokan satu sama lain terlebih dahulu"
Jelas Hisyam, ia lagi-lagi membujuk mamanya agar tak terus mendesaknya untuk segera memberikan cucu dari rahim Alia yang merupaka menantu kesayangannya itu.
"Cih! Saling mengenal katanya? Memang dia pernah membicarakn hal itu itu padaku?"
Cibir Alia dalam hati, sementara matanya terus mendelik ke arah Hisyam yang tak kehabisan ide untuk memberi alasan setiap kali nyonya Farida meminta seorang cucu darinya.
"Hm... jadi, sampai kapan mama harus menunggu, atau jangan-jangan kalian hanya mengulur waktu dan ujung-ujungnya kalian akan mengatakan kalau kalian tak akan pernah bisa bersatu?"
"Um.... untuk soal itu mama tak perlu khawatir, karna...." Hisyam melirik istrinya sejenak.
"Alia tak akan kemana-mana, dia akan tetap menjadi menantu kesayangan mama"
Jawab Hisyam sebelum bergegas meninggalkan dua wanita yang berbeda generasi itu.
"Alia....! Kamu dengar itu!"
Jeritan nyonya Farida memekakkan telinga dan dengan bersemangat wanita paruh baya itu segera memeluk menantunya.
Sementara Alia dalam pelukan mertuanya hanya bisa tertegun mencerna kata-kata Hisyam barusan.
"Benarkah apa yang baru saja aku dengar? Apa itu artinya tuan Hisyam banar-benar sedang belajar untuk menerimaku?"
"Ehm....!"
Suara nyonya Farida menyadarkan Alia dari lamunannya, hingga ia baru menyadari, jika nyonya Farida sedang menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Kamu dengar apa yang di katakan suamimu tadi, kan, Alia....
Sepertinya dia telah sadar bahwa tak ada wanita yang lebih baik dan lebih cantik darimu"
Godaan dan sanjungan nyonya Farida membuat pipi Alia semakin bersemu merah menahan malu.
"Oya, Alia, bagaimana dengan rencana kita untuk mendekatkan Hamish dan Hisyam?"
"Soal itu aku belum...."
"Kami akan menjemputnya nanti..." Ucap Hisyam dengan ekspresi datar.
Ayah dari seorang putra itu tiba-tiba muncul di belakang Alia dan telah pun siap dengan kemeja putih yang di gulung ke siku, hingga menampakkan jam rolex sebagai aksesoris tambahan yang menambah kesan kharismatik pada pria yang hampir menginjak kepala empat itu.
"Really.....!" Nyonya Farida menjerit kegirangan, hingga tak menyadari garis wajah Alia seketika menunjukkan kekecewaan saat Hisyam merubah rencana makan malam mereka.
"Oh, Alia. terima kasih banyak, ya....."
Nyonya Farida pun mengungkapkan kebahagiaannya dengan memeluk anak dan menantunya itu dengan gemasnya.
Dalam hatinya wanita paruh baya itu sangat bersyukur bisa memiliki Alia dalam keluarganya, kalau bukan karna wanita itu hidupnya akan terus berada dalam kekhawatiran, apa lagi jika mengingat perihal Renata yang akan terus berusaha masuk ke kembali ke dalam kehidupan salah satu putranya dan mengacaukan keluarganya lagi.
-
Setelah memastikan Hisyam memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya, nyonya Farida pun kembali ke meja makan di ikuti Hisyam yang seolah-olah tak peduli dengan perasaan Alia.
Meski kesal Alia tetap mengikuti Hisyam dan nyonya Farida ke lantai bawah, menyiapkan kopi favorit suaminya dengan gontai dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Alia...."
Panggil Farida setelah Alia meletakkan kopi di depan Hisyam.
"Kamu baik-baik saja, kan, sayang? Wajahmu terlihat kusut dan pucat hari ini"
Tanya Farida saat memerhatikan menantunya yang tampak tak bergairah seperti biasanya .
"Alia baik-baik saja, mah...."
Jawab Alia singkat kemudian kembali mengaduk makanan yang sama sekali tak berniat di cicipinya.
"Itulah kenapa mama menyarankan kalian untuk berlibur, mendatangi spa, melakukan perawatan dan merelakskan diri..." Usul Farida.
"Cih....! Dia bilang tak apa-apa.... Hamish akan pulang hari ini, tentu saja dia tak bisa tidur menanti kedatangan anak nakal itu...."
Cibir Hisyam dalam hati sembari bangkit dari duduknya.
"Temui aku jika kamu sudah siap, aku akan nerada di luar bersama Ozan dan Assyifa"
Ucap Hisyam, masih berwajah datar tanpa ekspresi, sehingga Alia pun semakin kesal di buatnya.
Setelah mebereskan meja makan, Alia kembali ke kamar, meraih tas selempangnya, dan mengoleskan sedikit lip gloss ke bibir polosnya kemudian kembali menghampiri suami dan mertuanya yang ikut bermain bersama Ozan dan Assyifa.
"Kamu sudah siap, Alia?" Tanya Farida setelah melihat menantunya ikut duduk di atas matras.
"All right, so, what we waiting for...."
Ucap Hisyam sembari merangkul dua balitanya dan menciuminya bergantian.
"Mungkin lebih baik jika aku tidak ikut"
Ucap Alia tiba-tiba, hingga membuat suami dan mertuanya beralih menatapnya.
"Um, maksudku.... mama akan kelelahan jika harus mengurus Ozan dan Assyifa seorang diri" Alia menambahkan alasannya.
Hisyam bangkit lalu memasukkan tangan ke dalam saku celana, "Baiklah, kalau begitu kita tinggal memberi tahu tuan Farhan agar menjemput Hamish sore ini"
"Tidak.... tidak! Kalian harus pergi, mama akan meminta pengasuh untuk membantu mengurus anak-anakmu nanti, please...." Farida kembali memohon.
"Alia, mama mohon, kamu tahu mereka tak akan berbaikan dengan mudah...."
Bisik Farida sambil mengerling tajam ke arah putranya.
"Hm...." Alia menghelah napas berat.
"Baiklah, Alia akan pergi, tapi mama jangan terlalu kecapean, ya, dan segera mengabari kami jika terjadi sesuatu...." Pesan Alia sebelum beralih menciumi anak-anaknya.
Sementara Hisyam yang sedari tadi menyaksikan keakraban istri dan mamanya seketika tersadar betapa bodohnya dia dulu.
Bagaimana bisa ia mempercayakan keluarganya pada Renata yang jelas-jelas tak menghargai keberadaan orang tua dan putra mereka satu-satunya.
-
POV ALIA.
Mobil sport yang di kendarai tuan Hisyam melaju membelah kota metropolitan .
Di jam kerja seperti ini aktivitas penduduk kota telahpun di sibukkan dengan kegiatannya masing-masing, hingga kendaraan pun tampak senggang melaju tanpa hambatan.
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya aku membuka pembicaraan.
"Bukankah kita terlalu terburu-buru untuk menjemput Hamish ke bandara?"
Tanyaku penasaran mengingat rencana makan malam kami pun telah di batalkanya secara sepihak, lantas, untuk apa ia membawaku kaluar lebih awal.
"Sebelum ke bandara aku akan membawamu ke bank dulu, aku akan mendaftarkan account I-banking atas namamu"
Aku menatap penuh tanya ke arah tuan Hisyam, "Untuk apa? Aku kan sudah punya...."
"Aku tahu kamu sudah memiliki account bank, ini namanya i-banking, kamu bisa menggunakannya untuk berbelanja online nantinya, jadi jangan menolaknya"
"Tapi itu mubazir, aku tidak suka berbelanja online"
Tuan Hisyam mengerling sekilas padaku, kemudian kembali pokus menyetir, "Bukankah berbelanja secara online sangat di minati saat ini, so, apa masalahnya?"
Pria di sampingku kembali menatap heran dengan ucapanku.
"Um.... aku punya pengalaman buruk tentang hal itu"
"Lebih detil...."
"Argh.... kenapa aku harus mengungkit hal memalukan itu lagi"
"Hello.... im still here" Tuan Hisyam menjentikkan jarinya tepat di depan mataku.
"Owh.... ke-kenapa tuan ingin tau tentang itu?" Tanyaku gugup.
Malu jika tuan Hisyam tahu kalau waktu itu aku memesan sebuah pakaian dalam wanita berupa b*a yang sama sekali tiga kali lebih besar dari ukuran dadaku.
Karna tuan Hisyam terus mendesakku, Aku pun menceritakan pengalaman memalukanku kala itu, tapi tentu saja aku mengarang bahwa aku memesan sebuah gamis bukannya pakaian dalam wanita seperti yang ku terima.
"Bhuaa.... haaa.... haaa....!"
Seketika tawa pria di sampingku pecah dan aku sama sekali belum pernah melihat tuan Hisyam tertawa lepas seperti itu sebelumnya.
"Apanya yang lucu?"
Tanyaku tak mengerti karna bahkan sampai sekarang aku masih kesal, memikirkan uang yang ku belanjakan terbuang sia-sia.
"Hahaha....!" Dia masih tergelak.
"Jangan salahkan online shoop nya, mereka tak salah sama sekali, seharusnya kamu memberi tahu mereka fisik mu yang sebenarnya"
"Maksud tuan apa, memangnya ada apa dengan fisikku!"
Tadinya dia terlihat begitu memikat saat tertawa, tapi semakin lama aku pun semakin sedih di buatnya.
Bukannya kesal dengan ucapannya, tapi entah mengapa rasa ingin tahuku tentang ayah kandungku seketika mencuak di benakku saat ini.
Ya, aku sampai membayangkan bagaimana sosok orang tua kandungku, terutama ayah, yang hanya menitipkan ruh-ku ke dalam rahim ibuku dengan cara yang tak manusiawi.