Single Parents

Single Parents
Awal



Tiga bulan telah berlalu, musim panas kini telah berganti musim penghujan nan dingin.


Dibawah selimut tebalnya, seorang wanita yang semakin hari semakin terlihat cantik berseri itu menggeliat pelan.


Dengan malas ia membuka matanya dan menyibak selimut tebalnya. Melawan hawa dingin yang menusuk kulit putihnya.


Hari ini ia ada janji dengan kepala desa untuk membahas soal tempat yang akan ia jadikan lahan pekerjaannya.


Selama ia di Bandung ia banyak menuai pujian-pujian kecil dari para warga setempat.


Awalnya ia iseng membuat baju untuk sahabat, Clara. Pada saat itu kebetulan ada salah seorang warga yang bertamu kerumah mamah Seli, tamu itu melihat dress karya Dira yang saat itu tengah dipasangkan pada manekin. Terlihat cantik nan anggun.


Dress berwarna dusty pink dengan lengan diatas siku, bagian bahunya yang terbuka terdapat tali kecil yang menghiasinya, panjang sebatas lutut dengan ekor yang lebih panjang membuatnya terlihat lebih cantik nan anggun bagi siapapun yang mengenakannya.


Tamu itu ingin membeli dress tersebut untuk anaknya yang akan menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya, dengan tak enak hati Dira memberikan dress itu secara cuma-cuma, hitung-hitung sebagai tanda terima kasih karena ia telah diterima di desa itu dengan baik, toh, tamu itu juga dulunya pernah membela Dira saat dirinya dihina oleh salah seorang warga disana dulu.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. The power of lambe emak-emak. Karya Dira kini terkenal didesa tersebut, banyak warga yang menginginkan baju rancangan Dira.


Ya.. walaupun kualitas bahannya tidak terlalu bagus, tapi hasil akhirnya sangatlah memuaskan.


Dan disinilah ia sekarang.


Kantor kepala desa.


"jadi bagaimana mbak Dira?, kalau mbak Dira mau, saya akan menyediakan tempatnya." tanya kepala desa tersebut. Disana juga ada para warga yang turut serta pada rapat pagi hari ini, tak lupa mamah Seli pun juga turut serta mendampingi Dira.


"terima saja mbak, hasil karya mbak Dira ini kalau dipasarkan pasti laku keras loh.." ujar salah seorang warga.


"iya mbak, terima saja.." ujar yang lainnya.


"maaf bapak-bapak, ibu-ibu, bukannya saya mau menolak, saya mau, mau banget malah, tapi saya hanya punya sedikit modalnya, dan juga untuk tenaganya saya juga tidak sanggup jika melakukannya sendiri.." ujar Dira.


"untuk tenaganya bagaimana jika kita-kita saja mbak, atau anak-anak kita yang masih menganggur, mbak Dira bisa mengajarinya kan.."


"kita siap kok jadi karyawannya mbak Dira. Soal bayaran difikirkan belakangan saja mbak, jika nanti hasil produksinya sudah laku terjual." usul salah seorang ibu-ibu yang terlihat lebih kurus.


"iya bener itu mbak.." timpal yang lainnya.


duh.. para warga ini bersemangat banget sih, jadi gak tega aku kalo mau nolak. Tapi tabungan aku gak cukup buat modal usahanya, gimana dong...


Apa aku cairin cek itu aja kali ya buat modal usaha.. duh.. gimana nih..


Batin Dira.


"gimana mbak Dira?." suara kepala desa itu membuyarkan lamunan Dira.


"em.. gimana Tante enaknya?." tanya Dira pada Seli yang duduk disampingnya.


"Tante sih terserah kamu saja, tapi saran Tante lebih baik kamu terima saja nak, ini awal yang baik juga untuk masa depan kamu dan juga calon anakmu, toh warga disini juga sangat antusias menyambutnya." saran Seli.


"em.. baiklah kalau begitu Tante.."


Oke berati aku akan mencair kan cek itu sebagai modal usahaku disini. Semoga saja bakal lancar nantinya. Batin Dira.


"baiklah bapak-bapak, ibu-ibu, saya menerima tawaran ini, saya akan menyiapkan semuanya nanti. Mohon bimbingannya semuanya." Dira mengatupkan kedua tangannya didepan dada dan mengangguk pelan.


🖤


**like


komennya


buat semangat akhu. 🖤😘**