
"Papa nggak apa-apa, sayang, namanya juga udah tua ya, pasti fisik nggak sama lagi kayak dulu, Alia"
Kata-kata pak Rahman semalam masih terngiang di telinga wanita berumur dua puluh satu tahun itu.
Setelah meluahkan segala kesedihannya dalam pelukan bik Ina semalam, Alia memutuskan untuk melakukan video call, berharap kerinduannya pada keluargannya sedikit terobati.
Tapi, bukannya lega, setelah melihat satu persatu wajah keluarga yang sangat ia rindukan, malah perasaannya semakin berkecamuk dan ia tak bisa berhenti memikirkan tentang ayahnya yang terlihat kurus dan lemah.
Entah kenapa akhir-akhir ini perasaannya begitu sensitif akan segala hal terutama hal yang menyangkut keluarga tercintanya.
"Apa benar papa baik-baik saja? Tapi kenapa papa terlihat begitu lemah, atau papa sengaja tak ingin memberitahuku karna tak ingin membuatku khawatir?"
Dengan segala kegusaran yang di rasakannya, Alia termenung jauh mengenang kembali masa-masa indah bersama papanya, pria pertama yang menjadi kekasih hatinya itu, selalu membuatnya sadar bahwa tak semua pria di dunia ini tak bertanggung jawab seperti Adam".
"DERTT.... DERTT...."
Dering ponsel membuat Alia kembali ke alam sadarnya, entah itu satu kebetulan, tapi nama Adam kini tertera di layar ponselnya.
Setelah pertemuannya dengan Adam di mall beberapa hari yang lalu, pria itu tak henti-henti menghubunginya.
Meski Alia sama sekali tak menanggapi panggilan tersebut tapi Adam begitu berambisi hingga setiap hari pria itu tak akan pernah lupa untuk menghubunginya.
"Huf... kalau saja waktu itu aku tidak percaya apa yang akan di katakan Adam tentang tuan Hisyam, tentu Adam tak akan memiliki nomor ponselku, dan dia tak akan pernah bisa menggangguku seperti ini lagi...."
Alia kesal dengan tindakannya yang gegabah dan mudah percaya akan hasutan Adam waktu itu.
"Tok... tok...!"
Suara ketukan membuat Alia bergegas bangkit ke arah pintu.
"Apa kamu sudah siap, Alia?" Tanya bik Ina sesaat setelah Alia membukakan pintu untuknya.
"Sudah bik, tapi Ozan masih..." Alia beralih menatap Ozan yang masih tertidur dengan lelapnya.
"Aduh, bagaimana ya, sepertinya nyonya Farida buru-buru ingin berangkat, soalnya beliau masih harus singgah ke suatu tempat sebelum ke bandara"
Ucap bik Ina bingung, terlihat sangat cocok dangan perannya.
"Gimana ya... apa di bangunin sekarang aja kali ya?"
"Kalau di bangunkan sekarang, nanti Ozannya rewel, dan kamu tahu, bagaimana rewelnya Ozan jika tak mendapat cukup tidur, Alia!"
Nyonya Farida menyela, sedang Alia segera mengangguk, merasa solusinya memang kurang tepat.
"Begini saja kita bertiga duluan saja, Ozan biar sama daddynya, bagaimana?"
Pancing nyonya Farida, ia tahu Alia tak akan tega meninggalkan Ozan bersama Hisyam yang sama sekali tak punya pengalaman mengurus balita itu.
"Apa nyonya yakin tuan Hisyam akan sabar menghadapi tingkah Ozan yang semakin aktif? Apalagi akhir-akhir ini, jika di perhatikan tuan begitu serius dan terlihat agak kurang bersahabat"
Tambah bik Ina lagi sambil melirik nyonya Farida yang sedang melototinya geram karna menjelek-jelekkan putranya di depan Alia.
Sementara Alia yang mendengarnya pun terdiam memikirkan kata-kata bik Ina yang memang benar adanya, pasalnya dia sendiri merasakan akhir-akhir ini sikap Hisyam memang kurang bersahabat.
"Huft... bagaimana ini, kasihan Ozan, bisa-bisa sikap arogan tuan Hisyam semakin tertantang jika pria itu mulai lelah mendiamkan Ozan yang rewel"
"Bagaimna Alia, apa kamu punya solusi?"
Nyonya Farida mengagetkan Alia yang sedang berpikir keras mencari solusi yang aman untuk semua orang.
"Sebaiknya, nyonya dan bik Ina duluan saja, biar saya yang menunggu Ozan, lagipula masih banyak keperluan Ozan yang harus di siapkan"
Usul Alia, meski ia yakin perjalanannya tak akan berjalan dengan mulus dengan adanya tuan berparas dingin di sampingnya.
"Huf... tidak apa-apa lah, lagian perjalanan ke bandara hanya memakan waktu beberapa menit saja, aku hanya perlu diam dan tak membantah"
Alia memantapkan keputusannya,
dengan sedikit keyakinan yang di milikinya, pengasuh itu mengantarkan keberangkatan nyonya Farida dan bik Ina menuju mobil yang sudah di siapkan oleh pak Farhan.
Selesai memasukkan semua tas milik nyonya Farida dan bik Ina ke dalam bagasi, Farhan bergegas menghampiri Alia setelah melihat pengasuh itu hanya mematung tanpa ikut masuk ke dalam mobil.
"Kenapa tidak masuk, nak?" Tanya Farhan pada keponakan dari istrinya itu.
"Alia berangkatnya dengan Hisyam saja, pak! Lagian Ozan juga masih tidur! Kalau di tinggal, saya tak yakin Hisyam bisa menjaganya seorang diri, bukan begitu Alia?"
Teriak nyonya Farida sambil melirik putranya yang sedang memerhatikan mereka dari atas balkon, ia merasa putranya lagi-lagi akan merusak rencanannya kali ini.
Sementara Farhan yang mendengar alasan dari nyonya besarnya itu, kini beralih menatap Alia seolah memastikan kebenaran dari ucapan nyonya besarnya.
Mengerti maksud dari tatapan Farhan, Alia hanya bisa menarik napas dalam, tak berniat memberi penjelasan.
"Paman mau bicara sebentar denganmu!" Bisik Farhan namun terdengar tegas di pendengaran Alia.
Farhan mulai bertanya setelah merasa nyonya Farida tak mendengar pembicaraan mereka lagi, tapi mereka sama sekali tak menyadari kalau Hisyam sedang mendengar mereka dengan sangat jelas.
"Bukan seperti itu! Ini semua salah paham, kami memang keluar bersama, tapi, itu juga perintah dari nyonya Farida dan... Ozan juga ikut, kok"
Alia berusaha menjelaskan pada Farhan, agar suami dari tantenya itu tak salah menilai dirinya.
"Lalu, apa yang terjadi pada malam itu, Alia! Paman sempat mendengar cerita para maid pagi itu, mereka bilang kalau.... kalian menginap di hotel yang sama tanpa adanya Ozan? Apa itu benar, Alia!"
Tanya Farhan lagi, dengan nada yang sedikit meninggi, suami dari tantenya itu mengguncang tubuh Alia yang mematung kaku.
"Alia, apa kamu sadar kalau kamu sedang bermain api, kamu akan terluka, Alia..."
"Ka...kami memang menginap di hotel yang sama, ta...tapi kami tidak melakukan apapun... tolong percaya padaku, aku nggak mungkin melakukan hal serendah itu..."
Jelas Alia bersungguh sungguh, dengan mata berkaca-kaca ibu muda itu berusaha meyakinkan pamannya bahwa dirinya tak serendah apa yang di ceritakan para maid yang memang tak menyukai keberadaannya selama ini.
"Apa kalian sudah selesai bicara? Bisa kita berangkat sekarang?"
Nyonya Farida tiba-tiba menyela, sehingga mau tak mau Alia harus menyembunyikan wajah sedihnya dan berpura-pura seakan tak terjadi apa-apa.
"Alia! Titip Ozan, ya..." Teriak nyonya Farida saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Oya, Alia! Bibik minta tolong, boleh ya?" Bik Ina menyela dengan muka memelasnya.
"Bibik lupa menyiapkan sarapan untuk tuan Hisyam, kamu bisa tolong siapkan sarapan untuknya, kan?" Lanjut wanita paruh baya itu.
"Tapi, bik, aku..."
"Kamu hanya perlu menyiapkan roti dengan selei kacang dan coffee turkey favorite beliau, bibik sudah mengajarimu cara bikinnya, kan?"
"Iya, dan terakhir, tuan bilang kopi buatanku rasanya aneh" Potong Alia dengan ekspresi was-wasnya.
"So cute, bukankah mereka sangat cocok, bik?" Bisik Farida di telinga bik Ina.
Sementara Hisyam yang juga mendengar ungkapan Alia, spontan tergelak lucu dengan jawaban polos pengasuh dari putranya itu.
Seketika Hisyam teringat bagaimana dirinya memberi tanggapan tentng kopi buatan Alia yang sebenarnya masih bisa di minum.
Dan bagaimana ia memperlakukan pengasuh itu di awal pertemuan mereka, yang ada hanya kebencian dan apapun yang di lakukan pengasuh itu tak pernah baik di matanya.
Bahkan secara sengaja dirinya merusak, barang pribadi milik Alia, termasuk satu-satunya foto kenangannya bersama putri kecilnya.
"Tok.... tok....!"
Hisyam mengetuk pintu kamar Ozan, memastikan kedua penghuni kamar tersebut sudah mempersiapkan segala keperluan yang di butuhkan selama liburan.
Lama menunggu di depan pintu, hanya suara riuh yang di dengarnya dari dalam, namun tak ada tanda-tanda jika seseorang akan membukakan pintu untuknya.
Hingga Hisyam terpaksa masuk, dan benar saja, kedua partner itu sedang sibuk di kamar mandi.
"Argh...! bajuku basah lagi, padahal aku sudah mengemasi pakaian yang masih layak ke dalam tas itu, dan semuanya sudah di bawa oleh bik Ina"
Alia bergumam saat keluar dari kamar mandi, dan tak sadar akan kehadiran Hisyam di sana.
"Apa kalian sudah siap?" Ucap Hisyam basa-basi, sengaja ingin memberitahukan keberadaannya di kamar itu.
"Oh...! Tuan ada di sini?"
Ucap pengasuh itu datar, lalu kembali menangkap Ozan yang mulai merangkak ke sisi lain tempat tidur.
Mengerti Alia sedang kerepotan karna tingkah putranya yang semakin aktif, Hisyampun menawarkan diri untuk membantu.
"Need help....?"
Ucap Hisyam, lalu mengambil popok yang tersedia dan apa yang terjadi, Ozan mengeluarkan pee dan mengenai lengan kemeja Hisyam.
Melihat hal itu, Alia spontan membelalakkan matanya lalu tertawa terpingkal pingkal.
Hisyam yang tadi sempat berdecak jengkel, sejenak terdiam menyaksikan pemandangan langkah dari tawa manis Alia yang sangat jarang ia lihat.
"It's not fair, seharusnya aku juga menertawaimu saat mendengarmu beegumam soal bajumu yang basah"
Mendengar hal itu membuat tawa Alia seketika mereda lalu memerhatikan blous yang di kenakannya memang lebih basah di banding lengan kemeja tuannya.
"Gantilah pakaianmu, ada banyak pakaian Renata di kamarku, kamu bisa pilih salah satu yang cocok untukmu"
"Tapi aku masih bisa mengeringkannya"
"Kali ini jangan membantah! Pergilah, ini perintah, lagipula kita sudah terlambat"
Titah Hisyam tegas, hingga Alia pun tak dapat menolak perintah tuannya kali ini.