
Malam hari, seperti biasa, Dira akan pergi ke kamar El untuk melihat sang buah hati.
Dira mendorong pelan pintu kamar El, ia masuk dengan perlahan, takut membangunkan El yang mungkin sudah terlelap.
"mommy.." seru El dibalik selimut tebalnya.
"belum tidur sayang?." Dira merangkak naik ke atas tempat tidur El, membaringkan tubuhnya di sebelah sang buah hati dan memeluknya dengan kasih sayang.
El menggeleng pelan menjawab pertanyaan Dira, ia merapatkan tubuhnya pada Dira mencari posisi ternyaman di pelukan sang mommy.
"tidurlah, ini sudah malam." membelai lembut Surai rambut El, sesekali Dira juga menciuminya.
"mom.." lirih El.
"iya sayang."
"El mau nanya sesuatu sama mommy, boleh?.' El mendongak, menatap wajah Dira.
"tentu saja boleh, mau tanya apa sayang?." jawab lembut Dira.
"emm.." gumam ragu El.
Dira yang melihat keraguan El pun meyakinkannya. "tanyakan saja sayang, mommy tidak akan marah."
"soal Daddy.. mom, selama ini El tidak pernah melihat Daddy, Daddy masih hidup kan?."
"itu.." Dira termenung, ia tak dapat menjawab pertanyaan El.
"mom, apa dulu Daddy meninggalkan mommy karena wanita lain?, apakah Daddy selingkuh dari mommy?, Daddy mengkhianati mommy?." pertanyaan beruntun dari El sama sekali tak mampu Dira jawab.
Kilasan-kilasan memori terdahulu berputar kembali di benak Dira, tanpa terasa matanya pun kini berembun, dan El dapat melihat itu.
"mommy, jika itu benar, El janji, mulai sekarang El tidak akan pernah menanyakan soal Daddy lagi. Tunggu El dewasa, El akan menjaga dan melindungi mommy. El tidak butuh Daddy jika hanya bisa menyakiti mommy saja, yang terpenting mommy selalu ada buat El, El sudah sangat bahagia." jelas El panjang lebar, ia mengeratkan pelukannya pada Dira.
"terimakasih sayang, terimakasih. Maafkan mommy." Dira mengecup pucuk kepal El bertubi-tubi.
🍃
Dira melajukan mobilnya menuju El butik setelah tadi ia mengantar El ke sekolah.
"pagi mbak Dira." sapa para karyawan.
"pagi juga." Dira melangkahkan kakinya menuju lantai dua.
tring.. suara ponsel Dira. Ia segera mengambilnya dan membaca pesan dari Clara.
📨 benarkah?, aku pasti akan datang, lagian ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu.
📩 apa?.
📨 nanti saja saat di rumahmu.
📩 baiklah, aku tunggu kedatangan keponakanku yang menggemaskan.
Dira tak membalas lagi pesan dari Clara, ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Tanpa terasa saat ini sudah waktunya pergi ke perusahaan D'WILL company. Dira mengambil tas juga berkas yang akan di bahas nanti. ia berpesan pada Maya untuk menjemput El nanti.
Butuh waktu 35 menit untuk sampai di perusahaan D'WILL company, setelah memarkirkan mobilnya Dira berjalan memasuki lobby, bertanya pada resepsionis dimana letak ruangan tuan Dean Wilson.
Sebuah tangan menarik lengan Dira dengan kasar ketika ia akan meningkatkan tempat itu. Dira menoleh, melihat siapa gerangan yang berlaku tidak sopan padanya.
"dasar wanita mur*han, saya sudah memperingati mu agar menjauh dari Dean, dia itu kekasih saya!!." pekik wanita di depan Dira saat ini, bahkan urat-urat di lehernya sampai terlihat, mungkin karena saking geramnya dengan Dira.
Tentu saja itu menjadi atention bagi semua karyawan yang ada disana saat ini.
Dira mengernyit bingung. "nona Angel?, maaf, saya disini untuk membahas kerja sama, bukan untuk hal lainnya." sebisa mungkin Dira berlaku sopan pada Angel, ini tempat umum, pikirnya.
"cih, alasan!, kamu pasi mau menggoda Dean kan?!, wanita yang memiliki anak tapi tidak punya suami sepertimu, apalagi kalo bukan wanita mu-ra-han?!." Angel menekan kata-kata murahan diakhir kalimatnya. Ia tersenyum meremehkan pada Dira.
Merasa dihina, Dira pun tak terima, ia maju selangkah mendekati Angel, Dira mencondongkan tubuhnya kearah Angel dan berbisik pelan.
"saya memang wanita murahan, hanya satu malam saya bisa mendapatkan uang 200 juta plus bonus malaikat kecil yang super tampan. Tidak seperti seseorang yang memberikan tubuhnya secara cuma-cuma."
Dira tersenyum puas melihat wajah pias Angel. Yah, beberapa hari lalu Dira melihat Angel turun dari sebuah mobil mewah menuju salah satu hotel ternama bersama seorang pria, bahkan mereka mencuri-curi cumbu sebelum check in. menjijikkan.
'200 juta?, oh astaga, orang gila mana yang mau memberikan uang 200 juta hanya dengan satu malam.' jerit Angel dalam hati.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di ruangan Dean. Pria itu selalu melirik jam yang melingkar di tangannya.
"kenapa dia belum datang juga!, ini sudah lewat dari jam yang ditentukan, apakah dia mendapatkan masalah, atau masih ada urusan?!." sedari tadi Dean mondar mandir seperti gangsing, membuat Semmy dan Deva pusing sendiri melihatnya.
"duduklah, aku pusing melihatmu." keluh Deva.
"tuan, nona Dira sudah ada di lobby sejak tadi, lihatlah." Semmy menggeser laptop miliknya dan memperlihatkan rekaman cctv pada Dean dan Deva.
"Angel?, kenapa wanita itu ada disini?!, jangan sampai dia berbicara yang tidak-tidak pada Dira. Sem, kau turunlah, bawa Dira kemari segera." titah Dean.
"baik tuan."