
Mobil yang di kendarai Hisyam meninggalkan mansion, dengan raut yang tak bersahabat.
Pria itu tetap melaju dengan kecepatan sedang, mungkin karna adanya Ozan di sampingnya hingga ia harus meredam rasa tak puas hatinya, saat tahu mengajak Ozan untuk berbelanja bersama Alia adalah salah satu rencana mamanya untuk mendekatkan dirinya dengan pengasuh itu.
Meski si pengemudi tidak begitu senang dengan rencana mamanya tapi, ia juga tak bisa terus mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah apa lagi sebentar lagi bocah yang sedang asik bermain di pangkuan pengasuhnya itu sebentar lagi akan menyambut ulang tahun untuk pertama kalinya.
Sementara Alia yang merasakan aura mencekam saat itu, sesekali melirik pria yang selalu memancarkan aura ketidak nyamanan, namun tak berani mengatakan apa-apa.
"Argh... kenapa aku harus terjebak di situasi seperti ini lagi sih! Dan kenapa juga aku harus duduk di jok depan"
Batin Alia, sebelumnya Alia memang berniat duduk di jok belakang, tetapi mengingat hal seperti itu pernah di alami sebelumnya, di mana Hisyam kesal karna dirinya lebih memilih duduk di jok belakang, sedang Hisyam harus duduk seorang diri di jok depan layaknya seorang sopir yang mengantar majikannya ke suatu tempat.
"Keluarlah! kita sudah sampai"
Ucap Hisyam saat mobil yang di kendarainya sudah terparkir di area gedung pusat perbelanjaan.
Sedang Alia yang baru tersadar dari lamunannya hanya bisa menatap sekeliling dengan tatapan takjub, sementara Hisyam sudah siap dengan stroller milik Ozan.
"Apa kamu akan terus menggendong Ozan sepanjang waktu?"
"Uh? Ma...maaf"
Jawab Alia gelagapan dan langsung mendudukkan Ozan dalam strollernya, sedang Hisyam sudah melangkah lebih dulu meninggalkan sang putra bersama pengasuhnya.
Alia keteteran menyamai langkah Hisyam yang sangat cepat meninggalkannya, untung saja Hisyam segera menyadarinya hingga pria itu segera kembali menghampiri Alia yang masih celingak celinguk mencari keberadaan tuannya.
"Sini! Biar aku yang mendorong Ozan"
Ucap Hisyam lalu mengambil alih stroller yang di dorong oleh pengasuh itu.
"Eh! Tidak perlu tuan, saya bisa mendorongnya"
Tolak Alia, ia merasa tak enak jika Hisyam yang mendorong stroller, padahal dirinya tak melakukan apa-apa sama sekali.
"Kamu itu terlalu lamban, yang ada kita tak akan pulang sampai gedung ini tutup"
Cetus Hisyam, sambil menggelengkan kepalanya pria itu mulai mengatur langkah menyusuri toko yang berjejer di setiap lorong.
Setelah menilik satu persatu toko yang ia lewati, akhirnya Hisyam berhenti di sebuah toko yang menyiapkan segala macam keperluan anak seusia Ozan.
Alia pun mengikuti jejak tuannya untuk masuk ke dalam toko, tanpa kata Alia terus berjala di balik punggung kokoh itu, layaknya seorang anak yang ikut ke pasar, takut kehilangan jejak ibunya.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan, nyonya?"
Seorang wanita menghampiri mereka, dengan senyuman ramah di bibirnya pramuniaga itu menyangka Alia dan Hisyam adalah pasangan suami istri.
"Begini nona, kami bukan..." Alia menyela namun segera di potong oleh Hisyam.
"Um... bisakah anda menolong kami memilih beberapa pakaian untuk Ozan"
Potong Hisyam, pria itu malah tak berniat menjelaskan pada si pramuniaga apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka berdua.
"Oh... jadi namanya Ozan, dia begitu manis seperti mamanya"
Sanjung si pelayan toko lagi, sehingga membuat Alia kembali membulatkan matanya
"Look! Aku bisa saja melaporkanmu atas ketidak nyamanan ini! So, can you hurry, please! Aku tak punya banyak waktu untuk ocehanmu itu!"
Ancam Hisyam pada si pramuniaga yang tak henti-hentinya mengoceh, membuat dirinya geram, apalagi saat menyadari Alia terlihat tak nyaman dengan semua pertanyaan yang di berikan si pramuniaga.
"Maafkan saya tuan, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, jadi saya mohon jangan laporkan saya"
Rayu si pramuniaga panik, sehingga Alia yang mendengarnya pun merasa iba dan segera mencairkan suasana tegang saat itu.
"Argh! Situasi ini sangat menyebalkan, seandainya saja mall ini dalam naungan O.Z Group, karyawan seperti dia yang akan ku pecat terlebih dahulu!"
Hisyam bergumam sebal, alasannya tak mengunjungi pusat perbelanjaan milik O.Z Group karna tak ingin orang mengenalinya dan membuat spekulasi sendiri seperti yang di lakukan pramuniaga tadj.
"Um... sepertinya Ozan sudah tak sabar untuk memilih mainan di toko ini"
Ucap Alia yang tiba-tiba membuka suara, dan dengan cepat menarik tangan si pramuniaga pergi sememtara tangan lainnya masih mendorong stroller Ozan.
" Aish... kamu hampir saja kehilangan pekerjaanmu karna telah membuatnya marah!" Bisik Alia pada si pramuniaga setelah mereka sudah jauh dari Hisyam.
"Sudah, tidak apa-apa tapi, tolong jangan panggil saya nyonya ya, soalnya...saya sangat tak nyaman dengan panggilan seperti itu" Alia menghentikan niatnya lalu berpikir sejenak.
"Ngapain juga aku jujur, toh, dari awal tuan Hisyam juga nggak berniat untuk mejelaskan kesalah pahaman ini"
Pikir Alia, lalu kembali memilih perlengkapan yang di butuhkan Ozan di bantu oleh si pelayan toko yang terlihat antusias, sehingga Alia bisa menebak pelayan muda itu, kira kira hampir seusia dengannya.
"Apa masih ada lagi yang anda butuhkan, nyonya?" Tanya si pramuniaga setelah beberapa keranjang sudah terisi penuh dengan barang-barang Ozan.
"Aa... benar sebentar lagi ulang tahun pertama Ozan, saya harus mencari pakaian yang cocok untuknya di acara ulang tahunnya nanti" Jelas Alia antusias.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana dengan yang ini?"
Si pelayan menunjuk sebuah tuxedo berukuran mini yang terlihat mewah dan cute meski di peragakan oleh sebuah patung manekin.
"Bagaimana nyonya, apakah anda menyukainya?"
"I...iya, ini sempurna aku sangat menyukainya" Jawab Alia gugup.
Namun bukan karna ia begitu takjub melihat tuxedo itu melainkan ada sesuatu yang lain yang membuatnya teringat akan putri kecilnya.
Alia memerhatikan gaun mini berwarna pink yang juga tak kalah cute dari tuxedo yang di tunjukkan oleh pelayan tadi padanya.
"Bagaimana nyonya? Apakah anda juga menginginkan gaun cantik ini?" Tanya si pelayan lagi saat menyadari Alia begitu tertarik dengan gaun yang satu itu.
"Oh, ti...tidak perlu, hanya saja gaun ini terlihat begitu menggemaskan" Tolak Alia sedih.
Bukannya tak ingin, tapi jika di perhatikan toko itu hanya menjual pakaian terbaik dari brand terkenal dunia, tentu saja harga yang di tawarkan juga lebih tinggi dari kemampuannya yang hanya mengandalkan gajinya sebagai babysitter
"Baiklah saya mengerti, setelah memiliki seorang putra tentu saja nyonya menginginkan seorang putri, bukan begitu, nyonya?
Am... tapi nyonya tak perlu putus asa, suatu saat nanti tuhan akan memberikan seorang putri yang sangat cantik untuk tuan dan nyonya"
Pujuk si pelayan dengan ramah, sedang Alia hanya bisa tersenyum kecut tak bisa membeli gaun tersebut untuk putri kecilnya.
"Cantik? Siapa yang cantik dan apa yang sedang kalian bicarakan?"
Tanya Hisyam tiba-tiba, setelah lelah menunggu akhirnya pria itu menghampiri Alia dan Ozan.
"Boleh saya tau apa yang kalian bicarakan?" Tanya Hisyam penasaran, apalagi saat melihat Alia begitu gugup dengan kedatangannya
"Bu...bukan apa-apa kami hanya..." Alia mencoba mencari alasan.
"Nyonya kenapa nggak jujur saja kalau nyonya sebenarnya menginginkan seorang..."
"Eh... sebaiknya kita pulang sekarang yuk" Potong Alia, tak ingin pelayan itu melanjutkan kata katanya.
"Wait! Jujur? Tentang apa?" Hisyam mendesak, sementara Alia terus mengelengkan kepalanya, berharap pelayan itu mengerti isyarat yang di berikannya.
"Aish... nyonya, kenapa harus malu pada suami sendiri sih, sebenarnya tuan, nyonya sangat menginginkan seorang baby girl..."
"Tidak! ini cuma salah paham, dan bisakah kita pulang sekarang, please..." Alia memohon berharap bisa menjelaskan situasi yang sebenarnya.
"Benarkah, apa dia benar-benar mengatakan hal itu? Hm... sepertinya ini kode keras buat saya"
Goda Hisyam, untungnya mood pria itu sudah tak setegang tadi, jadi bukannya kesal seperti yang di harapkan oleh Alia, Hisyam malah menggoda pengasuh yang terlihat salah tingkah itu.
"Bu...bukan begitu maksudnya..."
"Dia memang pemalu orangnya... "Bisik Hisyam pada pelayan toko itu.
"Um, bisakah kamu menunggu di luar, honey, aku akan membayar tagihannya dulu"
Ucap Hisyam sambil mengedipkan matanya pada Alia yang terlihat sangat gugup, namun wanita itu tak bisa beebuat apa-apa selain mengikuti perintah tuannya.
"Ah... mau di taruh di mana mukaku! Semua ini gara-gara pelayan tadi, niatnya membantu aku malah terjebak sendiri...
Lagi pula tak mungkin kan, kalau aku bilang, aku sangat menginginkan gaun itu untuk putriku"
Alia tarus bergumam, hingga dengan kesal ia segera mendorong stroller Ozan menjauh dari tempat di mana Hisyam sedang menyelesaikan pembayarannya.