
"Ddrrttt.... drrttt...."
Getaran ponsel membuat Hisyam terpaksa menepikan kendaraannya.
Tertera nama Davis, membuatnya membuatnya berdecak kesal karna harus berhenti padahal kerinduannya sudah tak bisa di tawar lagi.
"Hm, what!"
Jawab Hisyam cuek juga kesal karna harus mendengar ocehan Davis yang tak lepas dari pembahasan bisnis, padahal otaknya sedang kalut karna harus menanggung rindu pada wanita yang saat ini sedang ia perjuangkan kebahagiaannya.
"(Kamu lihat beritanya?)"
Hisyam memutar otak, mencoba mencari tahu apa yang di maksud oleh asisten Davis.
"(Mereka menahannya, maksudku.... Mr.Lee dan senjatanya)"
"What!" Hisyam menegakkan punggung dengan mata yang membola sempurna, "Bagaimana dengan wanita-wanita itu?" Hisyam penasaran.
"(We lost them, Mr.Lee dengan mudahnya mengakui dan kita kehilangan kesempatan itu, lagi!)"
"Sesimple itu! Bukankah itu aneh?" Hisyam merasa ada yang janggal.
"(Aku pikir juga begitu... sepertinya, ada nama lain yang lebih besar dan berkuasa di sebaliknya....)"
"Jadi feeling ku tak salah, Mr.Lee hanyalah boneka yang berperan sebagai dalang"
Potong Hisyam sembari menghela nafas cukup dalam sementara tangannya meremas stir dengan sangat kuat.
"(Lalu, apa rencana kita selanjutnya?)"
"Kita bicarakan ini nanti, aku harus pulang sekarang, orang-orang di rumah pasti sedang mencemaskan diriku"
"(Tapi masalah ini belum....)"
"Oh, come on, easy okay.... mau ku beri sedikit saran? Carilah seseorang untuk di ajak berkencan sehingga otakmu itu bisa memikirkan hal lain selain bisnis"
Hisyam mulai melucu, meski sebenarnya ia juga penasaran siapakah orang yang berusaha di lindungi Mr.Lee.
"(Tapi kita telah kehilangan jejak mereka....)"
"Tidak juga.... setidaknya aku bisa mendapatkan rekaman asli video Alia saat di hotel malam itu"
"(What! Jadi semua ini hanya untuk rekaman itu!)"
Davis menjerit shock, ia tak menyangka jika Hisyam telah mengorbankan semua bukti yang di dapatnya dengan susah payah hanya karena sebuah video.
"Look, aku tahu aku telah mengecewakanmu tapi, aku tak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut dan, aku harus menebus kesalahanku pada Alia" Hisyam berusaha memberi pengertian.
"(Tapi kamu telah melakukan banyak hal untuknya, bukankah itu sudah lebih dari cukup dan.... sampai kapan, sampai kapan kamu akan mengabdikan hidupmu untuk wanita itu?)"
"Sampai, aku benar-benar pantas untuk mendampinginya"
"(A-apa! Jadi maksudmu...)" Davis semakin tak percaya dengan pengakuan sahabatnya, bahkan membuat Davis tak bisa lagi berkata-kata.
"Ya, aku sepertinya sudah.... ah, sudahlah, jomblo sejati sepertimu tak akan mengerti tentang masalah ini"
Ejek Hisyam sebelum mengakhiri panggilan.
Sementara Davis, pria itu hanya bisa melongo, tak percaya dengan apa yang di dengarnya, ia pikir selama ini kebaikan yang di berikan Hisyam semata-mata untuk membalas jasa Alia yang rela mengabdikan diri untuk keluarga Osmand selama ini.
Tak ingin mendengar Davis terus mengoceh, Hisyam pun memutuskan paggilan telepon secara sepihak dan kembali melajukan mobilnya membelah keheningan malam.
-
Sudah berapa hari setelah Hisyam pergi meninggalkan rumah, tanpa kabar ataupun berita, malah waktu itu Hisyam pergi tanpa mencicipi sarapan yang telah di siapkan oleh isrtrinya, padahal saat itu Aliia telah menyusun kata-kata yang susah payah ia rangkai, namun tak kunjung mendapat keberanian untuk mengungkapkannya.
Alia kembali ke kamarnya setelah menidurkan Ozan dan Assyifa.
Di balkon, lagi-lagi Alia termenung dengan perasaan resah, berharap mobil Hisyam muncul, melewati gerbang yang tak pernah luput dari pandangannya.
"Tuan ada di mana sekarang.... setidaknya beritahu aku kalau tuan baik-baik saja"
Lirih Alia dengan perasaan campur aduk, selain memikirkan dampak dari perpisahannya kelak bagi Ozan dan Assyifa, ia juga khawatir tentang Hisyam yang sampai saat ini belum ia ketahui keberadaannya.
"Kemarin, asisten Davis sudah memperingatkanku tentang masalah yang akan muncul jika sampai hubungan kami di ketahui publik.... apa, kepergian tuan Hisyam ada kaitannya dengan hubungan kami?
Lantas, apa yang bisa aku harapkan pada pernikahan ini jika pada akhirnya akan menimbulkan masalah nantinya"
Alia lagi-lagi memikirkan dampak dari hubungannya dengan Hisyam.
Dengan lunglai ia kembali ke kamar menatap kembali tas yang telah berisi separuh dari pakaiannya, selebihnya ia akan memasukkannya setelah mendapat persetujuan dari Hisyam, karna biar bagaimana pun, seorang suami akan lebih berhak menentukan keputusan dalam memilih jalan perceraian.
"Alia, apa Hisyam sudah menghubungi...."
Alia terperanjat, dengan cepat ia menutupi tasnya dengan kalang kabut.
"Mm-mah!" Jawab Alia gugup sembari mendekati mertuanya.
"Kenapa, apa mama mengagetkanmu? Ada apa di sana?"
Farida melirik ke belakang Alia seraya mendekati almari yang terlihat acak-acakan.
"Mah, itu cuma...."
"Apa ini, Alia? Apa kamu berniat untuk menyerah sekarang, hah!" Farida mulai berang.
Dengan kasar ia menarik tas tadi dan mengeluarkan segala isinya, "Tidak! Mama tidak akan membiarkanmu pergi!"
Ucap Farida, namun Alia hanya menunduk, tak berani menatap mertuanya yang tampak sangat marah dan kecewa.
"Ma-maafkan Alia, mah" Hanya itu yang bisa Alia ucapkan selebihnya ia hanya bisa menunduk seraya menggigit bibir bawahnya.
"Tidak! Mama tidak akan membiarkanmu pergi, kamu tahu kan, selama ini mama menyayangimu seperti anak mama sendiri, mama janji, mama akan berusaha agar...."
"Mah, please, hargai keputusan, Alia, tolong ngertiin Alia, Alia juga punya harga diri, mah"
Alia memohon dengan sangat,.
Mengulur waktu dan mengikuti kehendak mertuanya terasa semakin melelahkan dan hanya akan menyakiti hatinya sendiri.
"Tidak!, mama tidak akan membiarkan hal ini terjadi, bagaimana dengan Ozan bagaimana dengan mama!"
"Mah please...."
Alia memelas, namun Farida hanya berlalu pergi tanpa memperdulikan Alia yang tengah memohon, mengharap kerelaan hatinya.
Alia merosot ke lantai setelah kepergian Farida, raut kekecewaan yang terlihat di wajah wanita paruh baya itu membuat Alia semakin merasa bersalah.
Namun, ia juga tak mungkin terus menerus mengikuti kemauan mertuanya, karna nyatanya menunggu cinta yang tak tahu entah kapan bisa terbalaskan, sama saja dengan merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Alia bangkit dari duduknya kemudian menghempaskan tubuhnya yang terasa sangat lelah, lelah dengan cintanya yang tak terbalaskan.
-
Mobil sport hitam metalik kini terparkir sempurna di halaman mansion milik nyonya Farida.
Hisyam yang terlihat mengendap-endap akhirnya bisa menegakkan tubuhnya setelah melewati ruang tamu yang sepi dan hanya di terangi cahaya tamaram.
Sesaat setelah menutup pintu kamarnya dan tak menemukan siapa pun yang mendiami tempat tidurnya, Hisyam akhirnya bisa bernapas lega.
"Apa dia tidur di kamar anak-anak? Hm, padahal aku sangat rindu dengan wajah polosnya.... Tapi, setidaknya aku bisa beristirahat dan memikirkan alasan apa yang akan ku berikan pada mama besok pagi"
Ucap Hisyam sembari berjalan ke arah walk in closet yang tiba-tiba terbuka menampilkan Alia yang terperanjat dengan kehadirannya di sana.
"Ah, hanya kecelakaan kecil, sebentar juga sembuh" Jawab Hisyam kemudian berlalu ke walk in closet, meraih baju ganti.
"Biar ku panggilkan Dokter Daniel"
Gegas Alia meraih ponsel namun segera di cegah oleh Hisyam.
"Tak perlu menelponnya, aku baik-baik saja...."
"Yakin? Kalau begitu biar ku siapkan air hangat sebentar...." Jawab Alia, kemudian meletakkannya kembali gawainya..
"Tidak perlu, aku akan langsung tidur saja!" Ucap Hisyam dengan wajah kusut.
"Tunggu! Bukankah terlalu larut untuk sholat di jam seperti ini?"
Hisyam melirik mukena yang masih tergantung di lengan istrinya, ya Alia baru saja melakukan sholat istikhara, berharap dirinya bisa di beri petunjuk, pilihan atas masalah yang saat ini di hadapinya.
"Uh, ini, um.... aku akan menyimpannya.... biar ku ambilkan kotak obat dulu...."
Tak mungkin jujur menjawab pertanyaan Hisyam, Alia buru-buru berlalu mengambil kotak obat dan menyiapkan secangkir kopi hitam favorit suaminya.
Alia kembali setelah beberapa menit kemudian, dan di saat yang sama tak sengaja Alia memergoki Hisyam yang tengah berganti pakaian.
Tak ingin Alia melihat tubuhnya yang di penuhi luka lebam Hisyam segera menutupinya dengan terburu-buru.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu!"
"Ma-maaf...." Alia meminta maaf atas kelancangannya namun matanya terus memerhatikan tubuh suaminya.
"Um, tuan!" Panggil Alia, "Biar ku obati lukanya" Tahu suaminya kesakitan Alia menawarkan diri untuk membantu dan anehnya kali ini Hisyam juga tak menolak niat baik istrinya.
Hisyam membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan hati-hati, sementara Alia mulai mengoleskan salep ke sudut bibir Hisyam, beralih ke lengan suaminya yang terdapat goresan dan noda darah.
Bukan hanya wajah dan lengan saja, tubuh Hisyam pun di penuhi dengan luka lebam dan lain lain.
Tapi setakat itu saja, karna Alia masih belum terbiasa untuk menyentuh bagian tubuh sensitif suaminya, walau sebenarnya usia pernikahan mereka sudah berjalan hampir setahun lamanya.
"Ehm!" Hisyam mencoba mengisi keheningan, namun Alia tak menanggapi karna pikirannya sedang menjelajah hingga tak fokus pada pasien yang saat ini sedang menikmati perhatian lembut darinya.
"Um, apa kabar anak-anak?" tanya Hisyam.
"Mereka baik-baik saja" Jawab Alia tanpa ekspresi juga tanpa memandang ke arahnya.
"Auuww!" Hisyam meringis kesakitan, meski sebenarnya itu cuma akal-akalannya agar ia bisa menatap wajah lembut istinya yang beberapa hari ini ia rindukan.
"Ma-maaf, akan ku lakukan dengan pelan" Alia menoleh sesaat kemudian kembali fokus pada luka di tangan suaminya.
"Hm!" Hisyam mendengus kesal karna merasa di abaikan lagi, "Apa kamu marah?"
Alia sejenak terdiam,"tentang apa?" Masih fokus mengobati.
"Karna meninggalkanmu begitu saja saat itu" Jawab Hisyam dengan sedikit menunduk, ingin melihat ekspresi istrinya.
"Biasa saja, lagi pula.... aku tak punya hak untuk marah ataupun merasa khawatir"
Jawab Alia, tak tau jika ada lengkungan tipis yang terukir di wajah suaminya setelah mendengar jawaban darinya yang begitu bermakna.
"Baiklah aku percaya kalau kamu tidak marah, tapi... apa kamu merasa khawatir?" Goda Hisyam.
"Aku juga tak merasakan hal seperti itu"
"Tapi, kamu baru saja mengatakannya"
Alia akhirnya mengangkat wajahnya,"Aku tidak mengatakannya! Aku hanya bilang...."
"Menghawatirkanku?" Hisyam menatap istrinya dengan menautkan kedua alisnya.
"Tidak seperti itu maksudku!" Alia berdiri saat merasa terjebak dengan kata-katanya sendiri.
"Kenapa berhenti!" Hisyam heran melihat Alia tiba-tiba berhenti mengobati lukanya, padahal ia sangat menikmati moment itu.
"Kalau sudah tidak sakit lagi, sebaiknya aku keluar saja.... tuan juga seharusnya istirahat, kan?"
Tahu dirinya tak akan menang berdebat melawan pria jenius seperti Hisyam, Alia pun bergegas membereskan obat-obatan yang berserakan dan memasukkannya kembali ke tempat semula.
"Aku akan berada di kamar anak-anak, tuan bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu" Ucap Alia lalu membalikkan tubuh, ingin segera meninggalkan ruangan itu.
"Maaf...." Ucap Hisyam seraya meraih tangan Alia dan menariknya kembali menghadapnya.
"Aku sudah bilang tuan tidak bersalah, kenapa harus meminta maaf"
"Maaf, telah mengecewakanmu dan membuatmu khawatir"
Hisyam semakin mengeratkan genggamannya pada jemari Alia, yang jelas bergetar.
Dia tau kedatangannya membuat Alia shock dan khawatir dengan kondisinya yang babak belur, bahkan ia bisa merasakan bagaimana tangan istrinya bergetar saat mengobati lukannya yang tak sedikit mengeluarkan darah
"Aku hanya kaget!" Alia menarik tangannya, "Itu karna tuan datang secara tiba-tiba dan larut malam pula, tentu saja aku kaget"
Jawab Alia berbohong, padahal jelas-jelas beberapa hari ini ia tak pernah merasa tenang sejak kepergian Hisyam, takut jika sesuatu hal buruk terjadi pada suaminya.
"Kalau hanya kaget, kenapa tidak jujur sekarang"
Alia menautkan alis, "Tentang apa? Aku tidak mengerti"
"Tentang tas itu, itu karna kamu khawatir, kan? Makanya kamu menunda untuk memberi tahuku tentang rencanamu itu"
"I-itu...."
Alia menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan seraya memantapkan niat yang telah ia pikirkan matang-matang.
"Baiklah, aku akan jujur sekarang.... biarkan kami pergi"
Alia akhirnya mengungkapkan apa yang selama ini menjadi keraguan terbesar dalam hidupnya.
"Bagaimna kalau aku tidak mau" Jawab Hisyam.
"Apa, tapi kenapa?"
"Kamu tahu alasannya, bukan seperti ini perjanjiannya, aku akan melepasmu jika, Ozan tak membutuhkanmu lagi, itu, kan, syaratnya"
Hisyam mengingatkan, sekaligus mengulur waktu agar Alia bisa menunggu sebentar lagi.
"Aku tahu aku ingkar! Tapi, aku janji tak akan mengambil sepeser pun! Silahkan tuan ambil kembali uang yang telah tuan janjikan"
Alia mencoba bernegosiasi tapi masih tetap menunduk agar Hisyam tak melihat ada banyak gurat keraguan di wajahnya.
"Alia, look at me!"
Ucap Hisyam, namun Alia hanya menggelengkan kepalanya, tak ingin mengikuti arahan suaminya, takut jika dirinya semakin tak bisa meninggalkan kenangannya bersama Hisyam dan Ozan.
"Alia, please, tatap aku"
Masih tak ada jawaban, tapi jelas terlihat Alia sudah menitikkan air mata.
Hisyam memegang lengan Alia, "Kamu percaya padaku, kan?"
Alia tetap bergeming, hanya guncangan yang tak dapat di sembunyikannya menandakan bahwa wanita itu sedang memendam kesedihan yang teramat dalam.
Hisyam ikut terenyuh melihat wanita yang di cintainya begitu tersiksa dengan kehidupan yang di berikannya, hingga tanpa berpikir panjang ia pun langsung memeluk istrinya, membenamkan wajah sembab Alia dalam dekapannya.