
Sudah hampir satu jam Dean dan Semmy diperiksa, tapi dokter tak kunjung keluar juga. Membuat perasaan Dira ikut khawatir.
Ditengah kekhawatiran Dira salah satu ruang perawatan itu terbuka, dokter yang menangani Dean keluar dari sana.
"dokter bagaimana keadaannya?." tanya Dira.
dokter itu melirik Dira dan El bergantian, ia berfikir jika mungkin salah satu dari pria itu adalah suaminya.
"pasien sudah melewati masa kritisnya, tidak ada luka yang serius, saat ini ia sedang dalam pengaruh obat bius, biarkan ia istirahat dulu, anda boleh masuk menengoknya." jelas dokter tersebut.
"syukurlah."
"kalau begitu saya permisi dulu nyonya." dokter itu tersenyum ramah sebelum beranjak dari hadapan Dira.
Dira hendak masuk kedalam, tapi urung ia lakukan takkala melihat dokter yang menangani Semmy keluar dari ruang rawat Semmy.
"dokter, bagaimana keadaanya?." tanya Dira.
"pasien Sudan melewati masa kritisnya, tapi kondisi pasien saat ini sangat lemah, Pasian mengalami benturan yang cukup keras dikepalanya yang mengakibatkan pasien kehilangan banyak darah, untung saja stok darah A disini masih tersedia."
"syukurlah kalau begitu."
"kita akan melakukan pemeriksaan lanjut setelah pasien sadar nanti."
"baik dok, saya mengerti."
"kalau begitu saya permisi nyonya." Dokter itu mengangguk ramah, kemudian beliau pergi.
'Dean Wilson, direktur utama D'Will Company, apa aku menghubungi kantornya saja ya, biar mereka menghubungi keluarganya.'
'tapi..'
"mom, ayo kita masuk." El membuyarkan lamunan Dira, bocah kecil itu menarik Dira masuk kedalam ruang rawat Semmy.
Dira baru saja memegang kenop pintu ketika salah satu ponsel yang ada dalam ditasnya berdering.
"El, kamu masuk dulu saja, mommy mau mengangkat telfon dulu, siapa tau penting."
"oke."
Dira kembali duduk diruang tunggu, ternyata ponsel Dean yang berdering.
Kanjeng mami calling..
'oh syukurlah.. akhirnya keluarganya menghubungi.' batin Dira bersorak, pasalnya ketiga ponsel yang Dira pegang saat ini memiliki sandi semua, jadi Dira tidak bisa mengoprasikan ponsel itu.
Dira menggulir tombol hijau yang ada dilayar ponsel tersebut.
"ha..."
belum sempat Dira berucap, suara lengkingan maha dahsyat diseberang sana sudah menghantam gendang telinganya.
"dasar bocah tengik!, kemana saja kamu?!, hah?!, mama sudah menunggu sampai lumutan, tau!!. jangan bilang kalau kamu lupa ya, awas saja kalo sampai lupa!, mama potong burung kamu nanti!."
Hoossh.. hoossh..
Dira masih menetralkan pendengarnya yang tiba-tiba saja berdengung nyeri.
sepertinya beliau meluapkan seluruh amarahnya dengan tenaga dalam. pikir Dira.
"heh!, kenapa diam saja?!." sentak seseorang diseberang sana.
"maaf nyonya." lirih Dira.
"eh.. ini siapa?, kenapa ponsel anak saya ada sama kamu?." suaranya berubah tegas, tapi tetap terdengar arogan.
"nyonya tuan Dean dan tuan Semmy mengalami kecelakaan."
"apa?!." teriak shock.
"saat ini mereka tengah dirawat dirumah sakit Z, bisakah nyonya datang kemari?." Dira berbicara dengan lembut nan sopan, ia tahu, pasti beliau merasa khawatir mendengar berita ini.
Hening..
"hallo.. nyonya.." panggil Dira.
"ba.. baik, saya akan segera kesana. Tolong jaga mereka dulu samapai saya datang." suaranya lirih, menahan tangis.
"baik nyonya, kalau begitu saya tutup telfonnya."
Tut.
"mom, sudah selesai kah telfonnya?." El keluar dari ruang rawat Semmy.
"sudah sayang, bagaimana keadaan tuan Semmy?." Dira beranjak dari duduknya.
"mahsih tidur mom, pengaruh obat bius sepertinya. Ayo kita lihat paman yang satu lagi." ajak El.
"namanya Dean sayang, paman Dean." Dira membuka pintu kamar rawat Dean, terlihat Dean masih terlelap diranjangnya.
Sepasang ibu dan anak itu mendekati kearah ranjang. Mengamati sang pasien yang terbaring lelap disana.
"kasihan ya mom, salah sendiri ngeyel, tadikan El sudah memperingati." gerutu El.
Dira hanya menggeleng pelan, anak ini, merasa kasihan tapi juga menyalahkan, dasar.
Cukup lama ibu dan anak itu disana, menunggu orang tua pasien datang. Bahkan Dira sudah melihat kondisi Semmy juga. Keadaannya lebih memprihatinkan dari pada Dean.
"sayang, kita tunggu diluar yuk, siapa tau nanti orang tuanya datang." aja Dira, sebenarnya ia merasa lelah dan mengantuk jika terus berada didalam dan hanya diam saja.
"ok mom."
Bersamaan pintu itu dibuka, seorang wanita paruh baya juga berada diambang pintu, diikuti sosok pria paruh baya yang wajahnya terlihat mirip dengan Dean.
"kamu?."
"Tante?."
🖤