
Siang ini, seorang wanita berparas cantik tengah duduk disamping brangker salah satu rumah sakit swasta.
Ia menggenggam tangan seseorang yang tengah berbaring lemah disana.
Tangan yang mulai menggeriput itu dikecupnya berlahan.
"mamah yang sabar ya, Dira akan berusaha mengumpulkan uang sebanyak mungkin supaya mamah segera melakukan operasi pengangkatan rahimnya."
"Dira sayang sama mamah. Dira pergi kerja dulu ya mah." dikecupnya kembali tangan yang mulai menggeriput itu, lalu ia beranjak pergi dari sana.
Saat membuka pintu, bersamaan seorang dokter cantik masuk kedalamnya.
"Clara." seru Dira.
"hai, gimana kabar kamu?." sapanya pada Dira. "kita masuk dulu, gue mau periksa mama kamu sebentar, terus kita ke kantin bentar, ada yang perlu kita omongin." Dira hanya mengangguk pelan, mengikuti langkah Clara yang masuk kedalam ruangan mamahnya.
"keadaan mamah kamu semakin menurun Dir." lirih Clara.
"iya, aku tau Cla, aku sedang berusaha ngumpulin uang buat operasi mamah." lirih Dira.
"kamu yang sabar ya Dir." Clara menepuk bahu Dira pelan. "yuk kekantin." ajak Clara dan mendapat anggukan dari Dira.
Kini keduanya telah berada di kantin rumah sakit tersebut. Memesan dua buah jus alpukat yang cocok dengan suasana siang ini.
"jadi, apa yang mau kamu omongin sama aku?." tanya Dira.
"Dira.. hiks..." air mata yang ditahan Clara sedari tadi kini luluh juga.
"hey.. kenapa menangis?, ada masalah apa Cla?, jangan nagis dong." Dira mengusap punggung tangan Clara, menyalurkan ketengan buat sahabatnya yang tengah bersedih, entah apa yang terjadi padanya.
"Vino Dir.. Vino.." seru Clara disela Isak tangisnya.
"Vino?, Vino kekasihmu itu?." tanya Dira memastikan.
"iya.. Vino selingkuh Dir, dia ngehianatin aku. Dia jahat." tangis Clara makin deras.
"oh.. kirain apa.."
"Nadira.." Seru Clara penuh penekanan.
Dira terkekeh pelan melihat kekesalan sahabatnya.
"buat apa sih bagian orang kaya dia. Kalo dia selingkuh ya udah putusin aja, itu tandanya Tuhan masih sayang sama kamu, nunjukin ke kamu kalo Vino itu bukan pria yang baik buat kamu dari sekarang, coba kalo udah nikah?, hayo..."
Clara terdiam, mencerna setiap kata yang diutarakan sahabatnya.
"iya juga sih.."
"nah kan, udah deh, cowok gak cuman dia aja. Kamu kan cantik, dokter pula, pasti banyak cowok yang suka sama kamu. Buktiin pada Vino, kalo kamu itu bisa tanpa dia, bisa dapat yang lebih baik dari dia." ujar Dira.
"hahaha. udah deh, gue mau ke cafe dulu, gak enak nanti kalo telat." Dira beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh Clara.
"kamu hati-hati ya Dir."
"iya, aku titip mamah ya.."
"iya kamu tenang aja, aku bakal jagain mamah kamu."
"makasih."
Nadira Giovani, kerap dipanggil Dira, umur 22 tahun, bekerja sebagai pelayan di salah satu cafe ternama. Lulus sekolah samai SMA, karena terkendala biaya. Sifatnya yang ramah membuat ia cepat akrab dengan orang-orang disekitarnya.
Ayahnya telah meninggal dunia terkena serangan jantung ketika mendengar kabar bahwa perusahaannya bangkrut.
Ibunya yang tengah hamil muda saat itu mengalami keguguran, dan tanpa disangka ternyata ia menderita kanker rahim setelah kuret.
Kini ia yang menjadi tulang punggung keluarga, bekerja untuk membiayai hidupnya dan ibunya yang kini tengah berbaring lemah dirumah sakit.
Ia memiliki sahabat, ya.. mungkin bisa disebut saudara saking akrabnya, ia bernama Clara. Mereka berteman sejak duduk di bangku SMP. Keakrabannya membuat iri banyak orang.
Clara Natasha, kerap dipanggil Clara. Diusia yang masih muda 23 tahun, ia sudah menjadi dokter kandungan.
Bersahabat dengan Dira sejak duduk di bangku SMP.
Berasal dari keluarga yang berkecukupan.
Ayahnya seorang kepala rumah sakit tempat ia bekerja. Walaupun satu rumah sakit tetapi mereka jarang bertemu.
Ibunya seorang bidan, beliau lebih suka tinggal di pedalaman atau tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Membantu orang-orang yang kesulitan itu lebih menyenangkan, katanya.
Karena itu, ia tidak tinggal bersama suami dan anaknya. Hanya setiap akhir pekan saja keluarganya berkumpul.
🍁
🍁
🍁
terima kasih
sampai disini dulu perkenalannya.
🙏