
Kediaman Deva.
Matahari kini telah menampakkan dirinya, tetesan embun pun sudah tak terlihat disela-sela dedaunan. Tapi seorang pria dengan tubuh atletisnya masih enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia senantiasa masih menggulung diri dibawah selimut tebalnya.
tok tok tok
"Deva!!."
Ketukan pintu dan sebuah panggilan halus menyapa telinganya pagi ini. Derap langkah semakin terdengar jelas melangkah mendekatinya.
"bangun sayang, kamu gak kekantor? hemm?." tanyanya lembut.
"gak mi, hari ini aku libur dulu." jawab Deva dengan suara khas bangun tidurnya.
"oh, baguslah, lanjutkan istirahatmu sayang, nanti jam sembilan bersiap-siaplah, temani mami keacara arisan di rumah teman mami, oke. Mami keluar dulu."
"hemm."
satu detik..
dua detik..
tiga detik..
"APA?!." Deva bangkit dari tidurnya.
"No mami!!." pekik Deva histeris.
Deva Jovanka, seorang pengusaha muda dibidang fashion. Ia meneruskan bisnis keluarganya. Papinya meninggal saat ia berusia 20 tahun, sehingga yang memegang usahanya saat itu ialah sang mami, Emily.
Deva sendiri, ia tetap meneruskan kuliahnya hingga selesai, kemudian membantu sang mami mengelola perusahaan.
YL Fashion, siapa sih yang tak mengenal perusahaan itu?, perusahaan ternama yang selalu melahirkan desainer-desainer muda dan berbakat. Setiap tahunnya, ia akan mengadakan even fashion show khusus pegusaha muda dibidang fashion, untuk menunjukkan bakat dan karyanya.
Dua orang yang terpilih akan langsung mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan YL Fashion, siapa yang tidak tergiur coba?, bekerja sama dengan perusahaan yang sudah mendunia, pastilah impian semua orang.
"mi.. masa iya Deva harus menemani mami ke acara arisan sih.." rengek Deva. Saat ini mereka tengah berada diruang keluarga.
"mami males nyetir sayang, supir mami lagi cuti, berhubungan kamu gak ngantor ya kamu aja yang anter mami, temani sekalian biar nanti mami kenalin kamu sama teman-teman mami." crocos Emily.
"aduh mi.. tap.."
"udah gak usah bantah, sekarang kamu mending siap-siap, kita berangkat sekarang, buruan." Emily mendorong pelan Deva.
🌱
🌱
🌱
Emily dan Deva kini telah sampai ditempat tujuan. Awalnya Deva menolak untuk diajak masuk, tapi dengan sedikit paksaan dari sang mami, akhirnya Deva dengan terpaksa mengikuti kemauan sang mami.
"mi.. Deva tunggu dimobil saja ya." Deva masih mencoba bernegosiasi dengan sang mami yang tengah berjalan elegan menuju rumah temannya.
"ust.. udah nanggung, siapa tau nanti kamu didalam dapet jodoh, salah satu anak temen mami misalnya."
"hah.." pasrah.
Acara arisan Mak emak sosialita kini berlangsung dengan lancar tanpa hambatan.
Biasalah namanya juga Mak emak, gak mungkinkan jika acara selesai langsung pulang.
"wah.. baju jeng baru ya, ini bangus banget, bahannya juga lembut, modelnya juga sederhana, tapi elegan." cletuk sang tuan rumah pada salah satu teman arisannya yang bertubuh sedikit gemuk.
"iya jeng, aku beli ini dibutik jalan XX, butik baru, nama butiknya El butik, waktu itu masih diskon 50%, Gren opening. Modelnya bagus-bagus loh jeng, desainnya juga bagus, cocoklah sama selera saya."
"kayaknya dipake juga adem jeng." Emily ikut menimpali.
"iya jeng Emily, nyaman banget dipake, lumayan lagi harganya, ramah dikantong. hehe."
"ya iyalah ramah dikantong, hlawong diskonan." ibu ibu yang lain ikut nimbrung.
"ya.. Kitakan sebagai bendahara rumah tangga harus pintar-pintar mengatur keuangan jeng, kalo ada yang murah dan berkualitas kenapa juga musti cari yang mahal, mending uangnya digunakan untuk keperluan yang lebih penting, atau untuk membantu sesama, disumbangkan kepanti asuhan misalnya."
"iya betul itu, saya setuju dengan pendapat jeng." Emily ikut bersuara.
"jeng, boleh minta alamat butiknya gak?, setelah ini saya mau kesana, melihat baju jeng, kayaknya saya tertarik. Siapa tau yang punya nanti mau mengikuti acara fashion show yang kami adakan dua Minggu lagi." lanjut Emily.
Wanita bertubuh sedikit gemuk itu mengeluarkan secarik kertas kecil dari dalam tasnya dan diberikan pada Emil.
"saya jamin, jeng sebagai pemilik YL Fashion gak akan nyesel, jeng pasti suka."
🖤