
Alia bangkit dari duduknya, setelah meluahkan kekesalan lewat tangisannya.
Setelah kepergian Hisyam, tak pernah sedetikpun ia berhenti mengumpat sikap suaminya yang selalu mementingkan diri sendiri.
Bahkan ia menyesal pernah mengatakan bahwa Hisyam adalah pria yang baik, hanya saja kekecawaannya di masa lalu lah, yang merubahnya menjadi pria dingin dan kasar.
Alia mengguyur kepalanya yang terasa panas di bawah pancuran shower yang sejuk.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya yang sedikit menjernihkan suasana hatinya ia pun keluar dan mencari tas bawaannya dari kampung.
Alia menyusuri setiap sudut ruangan mencari tas pakaiannya, namun masih tak bisa dapatkannya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang sedang berjalan ke arah pintu, hingga membuat ibu muda itu bergegas
berlari ke dalam walk in closet, hanya karna tak ingin seseorang melihatnya hanya mengenakan bathrobe yang saat ini melekat di tubuhnya.
Lama menempelkan telinganya ke pintu kaca, namun tak ada tanda orang lain selain dirinya di kamar itu.
Alia menggeser pintu yang membatasi ruang tidur dengan walk in closet dengan pelan, hingga hanya memperlihatkan kepalanya yang menjulur memeriksa keadaan sekitar.
"Nona!"
"Astaghfirullah...!" Alia mengusap dada kaget.
"Ma-maaf, maksud saya nyonya! Sedang apa nyonya di sana?"
Tanya si pelayan yang sengaja datang atas permintaan nyonya Farida.
"Um, saya di sini sedang mencari tas yang berisi pakaian saya.... oya, apa kamu bisa membawakannya padaku?" Alia memelas dengan wajah imut.
"Tapi.... nyonya Farida memintaku kesini untuk memijat anda...."
"Tidak perlu! Kamu cukup mencarikan tas pakaianku dan membawanya kesini, oke!"
Potong Alia lagi sehingga pelayan itu terlihat acuh sambil menghela napas kesal.
Tapi setelah di pikirnya lagi, dirinya akan lebih rela membawa tas Alia, dari pada harus memijat wanita yang dulu hanya salah satu pekerja di mansion itu sama seperti dirinya.
"Cih! Baru berapa hari dia menikah dengan tuan Hisyam dia sudah mulai menyuruhku ini dan itu! Memang dia pikir dia itu siapa!"
Cibir si pelayan sembari menutup pintu kamar.
"Ehm...!" Hisyam berdehem mendengar umpatan pekerjanya.
"Tu-tuan, sa-saya hanya..."
"Lupakan saja, kamu bisa kembali bekerja!"
Potong Hisyam datar, hingga dengan ekspresi lega pelayan itu kembali mambalikkan tubuhnya.
"Wait....!"
Baru saja wanita itu ingin beranjak, Hisyam kembali memanggilnya.
"Jika masih ingin bekerja disini, biasakan memanggilnya nyonya mulai sekarang!"
Tambah Hisyam dengan suara tegas, sementara pelayan itu hanya bisa menunduk takut.
"Ma-maafkan saya tuan, sa-saya tidak akan mengulanginya lagi, saya janji"
"*Get out of my sight!
(pergi saja dari hadapanku*!)"
Titah Hisyam kesal, hingga tak sadar ia memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
-
Di dalam kamar.
Alia terus bermondar-mandir menunggu si pelayan yang tak kunjung datang membawakan pakaian untuknya.
"Ceklek...."
Pintu terbuka, dengan girang Alia segera berlari mendapati seseorang di balik pintu.
Alia membelalak, pasalnya bukannya si pelayan yang datang, melainkan Hisyam yang juga terlihat kaget karna ia baru ingat jika kamar itu bukan hanya miliknya saja.
"Tu-tuan Hisyam, kenapa tuan tidak mengetuk pintu dulu..."
Tanya Alia gugup, melihat Hisyam memindai penampilannya yang hanya mengenakan bathrobe.
"Apa aku harus meminta ijin saat aku ingin masuk ke kamarku sendiri?" Sindir Hisyam.
"Bukan begitu, hanya saja...."
"Kenakan pakaianmu, kamu tidak akan menuntut apapun padaku, kan?"
"Siapa bilang aku akan menuntut! Aku hanya tidak bisa menemukan pakaianku....
Um.... apa tuan tahu di mana tas yang berisi semua pakaianku?"
Tanya Alia, kini gilirannya yang memindai wajah Hisyam yang terlihat mencurigakan.
"Ya sudahlah, tuan juga tidak akan mengerti, sebaiknya aku tanyakan saja pada Asisten Davis"
Gumam Alia sambil mengeluarkan ponselnya, hendak menghubungi Asisten Davis menanyakan keberadaan semua barang bawaannya dari kampung.
"Percuma! Kamu tak akan menemukannya"
Alia mendongak menatap pria jangkung di hadapannya, "Maksud tuan?"
"Karna aku meninggalkannya di mobil pria itu....
U**m.... what is the name?"
Hisyam Pura-pura lupa
"Uh.... Doni, namanya Doni, kan? Kamu bilang aku tidak bosa mengurusnya, kan? Dia pasti akan menyimpannya dengan baik, don't worry" Ledek Hisyam.
"Apa! Semuanya?"
"Yes, semuanya, um.... kecuali barang yang penting, you know like..."
Jawab Hisyam santai tanpa rasa bersalah, hingga Alia yang merasa kesal dengan jawaban enteng suaminya hanya bisa mengusap dada.
"Tok.... tok....!"
"Masuk!" Teriak Hisyam tanpa menanyakan kesiapan Alia.
Alia bergegas berlari menuju kamar mandi, takut jika yang datang adalah Asisten Davis.
"Tuan, ini koper anda, maaf saya tidak bisa menemukan tas milik nyonya Alia"
Seorang pelayan meletakkan sebuah koper di hadapan Hisyam.
Sementara Alia yang menguping dari balik pintu kamar mandi bergegas keluar, penasaran dengan koper yang di maksud oleh si pelayan.
"Apa! Hanya ini?" Tanya Alia setelah pelayan tadi meninggalkan mereka berdua.
"Tapi ini cuma milik anda.... jadi barang penting yang tuan maksud adalah koper tuan sendiri?
Bagaimana dengan tasku! Semua keperluanku dan Assyifa juga sangat penting, tuan!"
Lanjut Alia lagi, serta matanya yang senantiasa teduh kini terlihat tajam menatap suaminya.
Merasa tertantang dengan tatapan tajam wanita di hadapannya, membuat Hisyam di hinggapi perasaan kesal.
"So, apa yang kamu inginkan? Kamu pikir aku mau jadi pelayanmu, hah! Sementara kalian berdua sedang asyik tertawa, bersuka ria dan melepas rindu satu sama lain!"
Sosor Hisyam kesal, dan tak peduli jika langkah Alia sudah terkunci antara tembok dan tubuh kekarnya.
"Ta-tapi, kami hanya berbicara, tu-tuan juga tidak menolak untuk membawakan semua tas itu" Alia gugup namun masih membela diri.
"Hah! Tidak tau diri!"
Gerutu Hisyam sembari mendekatkan wajahnya ke telinga Alia, hingga Alia sedikit menggeser kepalanya karna merasa geli.
Untuk beberapa saat, kekesalan Hisyam teralihkan saat mencium aroma mint dari rambut panjang Alia yang setengah basah.
Hingga terasa sangat menyeruak ke indera penciumannya.
Namun posisi mereka tak berlangsung lama setelah menyadari Alia terlihat ketakutan dengan tindakannya.
Hingga dengan perlahan pria itu mundur memberi ruang untuk Alia yang sebenarnya sakit hati dengan kata-kata Hisyam yang tak bermaksud merendahkan Alia.
Alia terdiam, bukan meresapi tindakan suaminya yang begitu intim, tapi ia seakan masih mendengar cemoohan yang baru saja di lontarkan Hisyam pada dirinya, membuat wanita itu seketika meremas kuat bathrobe yang sedari tadi menutupi dadanya.
Sakit dan sesak, itulah yang di rasakan Alia, tapi ia sangat sadar apa yang di katakan Hisyam tidaklah salah dan seharusnya ia bisa mengerti bahwa meski sudah menikah, tapi ia tak punya hak untuk menuntut apapun, termasuk mengharap bantuan dari suaminya sendiri.
Alia berusaha untuk tak menunjukkan kekecewaannya tapi matanya mulai memanas, hingga ia bergegas berlari ke arah kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
"Apa yang ku kesalkan? Apa yang tuan Hisyam katakan memang benar, seharusnya aku sadar bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan dan aku juga mendapat keuntungan dari pernikahan ini,
Lantas, apa lagi yang aku harapkan, seharusnya aku bersyukur tuan Hisyam dan keluarganya memperlakukan Assyifa dengan sangat baik"
Alia bermunolog sendiri, meski ia sangat mengerti situasinya, tapi tak bisa di pungkiri hatinya begitu sakit mendengar cemoohan Hisyam tadi.
-
Karna tak ada lagi pakaian yang tersisa, akhirnya Alia memutuskan untuk mengenakan kembali pakaian yang di gunakannya seharian ini.
Dengan tekad yang bulat, Alia memutuskan untuk tak melampaui batasannya lagi, dan hanya akan berperan sebagai ibu yang baik untuk Ozan dan Assyifa mulai dari sekarang.