Single Parents

Single Parents
PELAJARAN HIDUP UNTUK ALIA.



Hisyam melangkah keluar meniggalkan pesta dengan perasaan tegang , entah karena amarahnya pada Mr. Lee, atau karena kesal tak bisa menemukan Alia yang sedari tadi tak terlihat batang hidungnya.


Pria itu semakin mempercepat langkahnya menuju lobi, saat dua bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga di depan pintu memberitahunya bahwa Alia telah pergi beberapa jam yang lalu saat wanita itu tak bisa menunjukkan kartu undangannya.


"Di mana gadis indo itu! Apa jangan-jangan Micheal menemuinya dan melakukan sesuatu yang buruk padanya? Aarrgghh...! Seharusnya aku tak meninggalkannya seorang diri di sini"


Hisyam bergumam sambil mengusap kasar wajahnya, ia mengedarkan pandangannya ke setiap pejuru dan menghampiri Receptionis yang bertugas.


"Good evening sir, can I halp you?" Tanya resepsionis pria dan wanita itu secara kompak.


"I'm looking for an asian girl, she's wearing a black dress, did you see it?"


"Maksud tuan gadis cantik itu!"


Sosor resepsionis pria dengan antusias, saat merasa orang yang di bicarakan bosnya adalah wanita yang sedari tadi telah menyita perhatiannya.


"Ehm...!"


Hisyam berdehem, membuat pria receptionis itu segera bungkam setelah melihat bosnya sedang menatap skakmat ke arahnya.


"Ma...maaf tuan" Ucap resepsionis pria itu dengan ekspresi menyesal.


"Apa wanita yang tuan maksud, wanita muda mengenakan flat shoes yang sedari tadi duduk di sana seorang diri?"


Resepsionis wanita itu mencoba mengalihkan tatapan kesal bos nya pada pria di sampingnya.


"Wanita itu pasti gadis indo itu, where is she going?"


Tanya Hisyam sambil memutar pandanganya mencari keberadaan Alia.


"Wanita itu pergi bersama seorang pria yang baru saja memesan satu kamar..."


Belum sempat resepsionis itu menghabiskan kata katanya, Hisyam pun berlari ke arah lift dan benar saja Alia sedang berdiri di sana menggandeng gadis kecil dan seorang pria dewasa sedang bersamanya, sambil menunggu pintu lift yang belum terbuka.


"Apa yang kamu lakukan di sini, hah! Siapa dia? Apa kamu mengenalnya? Answer me...!"


Tanya Hisyam bertubi-tubi sambil mencengkram kuat lengan Alia, sehingga membuat wanita itu meringis dan tak bisa menjawab pertanyaan pria yang sudah di kuasai oleh amarah itu.


"Maaf tuan, nona ini tidak bersalah, dia hanya..."


"BRUUKK...!!!"


Sebuah tinju mendarat di pipi pria itu, membuatnya terdorong ke tembok.


"Dia menyebutmu dengan sebutan nona? Dia bahkan belum mengenal namamu!"


Pekik Hisyam masih memegang kerah baju pria itu, hingga tak sadar seorang gadis kecil sedang bersembunyi ketakutan di balik tubuh Alia.


"Tuan, aku mohon hentikan! Aku hanya membantunya" Alia berusaha menjelaskan.


"Membantunya, lalu dia akan membayarmu! Apa kamu begitu membutuhkan uang itu?"


Cecar Hisyam, tangan kekarnya kini beralih mencengkram bahu Alia, sehingga membuat mata wanita itu berkaca-kaca, bukan karna sakit atas cengkraman di bahunya, melainkan ucapan Hisyam yang terdengar cacian sangat menyinggung perasaannya.


"Anda terlalu sombong tuan! Tidak semua hal bisa di bayar dengan uang dan pengaruh yang tuan milik..."


Mendengar kata-kata wanita yang sedari tadi membuatnya cemas, Hisyam pun menarik lengan Alia, dan membawanya pergi, Alia yang tertatih mengikuti langkah panjang Hisyam hanya bisa meringis tak bisa lepas dari cengkraman tangan kekar tuannya.


"Kamu lihat! Lihat di sekelilingmu! Lihat wanita itu, bukankah dulu dia juga wanita baik-baik, wanita yang ingin mengangkat derajat orang tuanya!"


Hisyam menunjuk ke arah Sarah.


"Huh... kamu terlalu polos Alia, di sini uang lebih berkuasa di banding apapun, bahkan harga diri pun tak bernilai jika di bandingkan dengan uang!"


Bentak Hisyam, saat mereka tiba di tengah pesta, lalu menghempas tangan pengasuh itu dengan kasar dan tanpa permisi pria itu meninggalkan Alia di tengah keramaian.


"Kapan kamu akan mengerti Alia, bahwa kehidupanmu saat ini tidak baik-baik saja"


Hisyam bergumam, berharap Alia bisa belajar bahwa kehidupan yang sekarang ini ia jalani begitu rumit dan mengerikan.


"Dasar pria arogan, bahkan ia tak meminta maaf atas sikap kasarnya pada pria tadi"


Alia menggerutu dan perlahan mendekati Sarah yang sedang duduk seorang diri di bar stool sambil menyesap champagne, tak lupa pula sebatang cigaratte tak lepas dari jemarinya yang lentik.


"Nyonya Sarah, apa yang terjadi?"


Tegur Alia yang kini berdiri di samping Sarah, menatap nanar wanita yang terlihat kacau itu.


"Akhirnya kamu datang juga, kemarilah kita akan bersenang-senang malam ini"


Sambut Sarah hingga menuangkan segelas champagne untuk Alia yang mulai mual dengan aroma alkohol dan cerutu di hadapannya.


"Maaf, aku tak teebiasa dengan minuman seperti ini " Tolak Alia sopan dan mengembalikan gelas berisi minuman berwarna keemasan itu ke hadapan Sarah.


"Oh, come on Alia, hanya ini yang bisa mengerti keadaan kita, bahkan pasangan kita tak pernah peduli perasaan kita"


"Apa yang nyonya bicarakan, bukankah seharusnya anda bahagia, karna Tn.Lee sudah menyiapkan ulang tahun pernikahan semewah ini"


Tanya Alia penasaran melihat keadaan Sarah yang tampak prustasi bahkan setelah mendapat kejutan dari suaminya.


"Bahagia? Cih! Kamu pasti bercanda, apa dengan menghadirkan istri pertama dari suamiku akan membuatku bahagia dan menikmati pesta ini"


Sarah berdecit kesal dan melanjutkan minumannya hingga champagne di gelasnya tandas tak tersisa.


Tak puas hanya dengan beberapa botol, Sarah pun meminta borol berikutnya dan begitulah seterusnya, hingga Alia pun merasa geram dan segera menepis gelas Sarah yang entah sudah ke berapa kalinya minuman terkutuk itu maskuk ke dalam tubuh wanita sexy itu.


"Hentikan! Anda sudah terlalu banyak minum, nyonya"


Protes Alia, kini nada suaranya naik satu oktaf, meski begitu Sarah masih tak menggubrisnya, wanita itu malah semakin menjadi hingga menyesap champagne langsung dari botolnya.


"Stop nyonya! Minuman ini tak akan menyelesaikan masalah anda!"


Bentaknya, lalu bangkit dari duduknya lagi-lagi Alia menarik kasar botol di tangan Sarah dan mengembalikannya pada bartender yang sedari tadi melayaninya.


Seketika para tamu yang sedari tadi sibuk memamerkan kemewahan dan kemesraan mereka pada pasangan yang lain, kini spotan menatap ke arah mereka seraya berbisik satu sama lain.


"Jadi mereka saling kenal? Padahal sebelumnya aku sempat iri pada wanita cantik yang bersama tuan Hisyam tadi..."


"Iri apanya, mereka kan cuma wanita ja***g yang di bayar untuk memuaskan ***** pria pria kaya,


Umpatan dan cacian pun tak lepas dari mulut para tamu yang sedang menatap sinis ke arah mereka, sehingga kekesalannya yang tadi sempat di tujukan pada Sarah kini berbalik menjadi rasa prihatin.


Alia menatap nanar wajah Sarah yang terlihat prustasi dan mengenaskan, sekarang ia bisa merasakan apa yang di rasakan Sarah saat ini, dan seketika mengingatkannya pada kata-kata Hisyam tadi.


"Huh...! Memang benar apa yang di katakan tuan Hisyam tadi, aku terlalu polos untuk berada di tempat yang keras seperti ini"


Alia tersenyum, mencemooh kepolosannya sendiri, hingga tak sadar dari jauh Mr. Lee beserta orang kepercayaannya, Micheal, sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan penuh ambisi.


"You know what to do and i don't care apapun itu, buat Hisyam bertekuk lutut dan menyesali perbuatannya"


Bisik Mr. Lee sebelum berlalu meninggalkan Micheal bersama rencana yang telah ia susun sedemikian rupa, agar Hisyam bisa dengan mudah untuk di taklukannya.


-


"kamu lihat mereka? Mereka hanya akan bersikap manis jika kita di apit pria kaya"


Alia tersontak dari lamunannya saat Sarah tiba-tiba berbisik di telinganya.


"Nyonya mau ke mana?" Tanya Alia saat wanita itu mulai beranjak dari duduknya, dan dengan terhuyung hayang wanita itu hampir tersungkur ke lantai.


"Aku ingin kembali ke kamarku dan berhentilah memanggilku nyonya, aku merasa lebih terhina dengan sebutan itu!"


Teriak Sarah dan berusaha bangkit kembali dengan susah payah, sehingga Alia yang melihatnya merasa tak tega dan segera menghampiri Sarah yang terlihat sangat memprihatinkan.


"Bangunlah, aku akan mengantarkanmu ke kamar"


Ucap Alia sembari memapah tubuh Sarah keluar dari keramaian pesta, sedang Micheal yang sudah memperhatikan gerak gerik kedua wanita itu kini beranjak mengekori mereka dengan senyum menyeringai.