Single Parents

Single Parents
KEWAJIBAN YANG TERTUNDA.



Alia terburu-buru ke lantai bawah, berniat untuk membantu bik Ina di dapur.


Tadinya itu hanya alasan agar bisa terlepas dari situasi canggung seperti tadi, tapi setelah fi pikir-pikir, tak ada salahnya ia ikut membantu bik Ina yang pastinya sedang sibuk menyiapkan makan malam.


Waktu begitu cepat berlalu, namun sampai sekarang ia sendiri tak yakin apakah Hisyam sudah bisa menerima masakannya yang dari awal memang tak sesuai dengan selera mantan majikannya itu.


Meski begitu hal itu tak akan membuat Alia putus asa dalam beribadah kepada suami dan mengabaikan tangggung jawabnya sebagai seorang istri.


***


Dengan wajah merona bak kepiting rebus, bukannya langsung mengeksekusi sayuran yang telah di siapkan oleh bik Ina, wanita berparas lembut itu malah menarik kursi dengan senyum manis yang sedari tadi menghiasi wajahnya.


Alia terus mengulum senyum mengingat kejadian tadi, meski Hisyam hanya meminjam bahunya untuk di jadikan sandaran, tapi ternyata perlakuan suaminya tadi mampu menghangatkan hatinya.


"Astaga, Alia, padahal ini hanya sebatas bahu, bukannya membalas perasaanmu, kenapa harus sesenang itu, sih!"


Bisik Alia yang berkali-kali terlihat mengelengkan kepalanya agar tersadar dari angan-angannya yang terlalu tinggi untuk ia gapai.


"Alia! Kamu kenapa, nak, kamu sakit?"


Bik Ina yang baru menyadari kehadiran Alia di ruangan itu bergegas menghampirinya dan tanpa permisi meletakkan tangannya ke kening istri dari majikannya itu.


"Eh eh, ada apa ini?"


Nyonya Farida yang juga baru tiba di tempat itu serta merta menghampiri ketika mendapati bik Ina sedang memeriksa suhu tubuh menantunya.


"Tidak tau nyonya, suhu tubuhnya baik-baik saja, tapi wajahnya panas dan memerah, apa sebaiknya kita memanggil dokter Daniel saja"


Saran bik Ina yang saat ini menatap Farida, seakan menunggu arahan dari nyonya besarnya itu.


"Aaa... tidak, tidak! Aku tidak perlu dokter, mungkin hanya kecapean dan perlu beristirahat saja!"


Sosor Alia yang tampak panik, malu jika sampai dua wanita paruh baya itu sampai tahu penyakit yang di deritanya.


Sebenarnya bukan penyakit, tapi perlakuan si suami yang membuatnya merasa di butuhkan hingga membuat perasaannya hangat sampai menjalar keseluruh tubuhnya.


"Ya sudah, biar mama antar ke kamar, ya" Ucap Farida yang kemudian menggandeng menantunya.


"Ada apa, ini!"


Langkah Farida terhenti tatkala mendapati Hisyam baru saja menapaki ruangan itu.


"Sepertinya istrimu sedang sakit, baguslah kamu di sini, tolong antarkan Alia ke kamar, ya"


"Hm....!" Hisayam mendengus berat.


"Hisyam! Tunggu apa lagi, mama harus membantu bik Ina menyiapkan makan malam"


Titah Farida, lalu melepas rangkulannya dari pinggang menantunya kemudian mengarahkan tangan putranya ke pinggang Alia.


"Mah.... Alia benar-benar tidak apa-apa...."


Ucap Alia yang sedang mendongak, melirik suaminya dengan tatapan menyesal, lebih tepatnya meminta maaf karna telah merepotkan pria itu.


"Ck.... ck....! Anak ini, ingat! Alia harus istirahat sampai benar-benar merasa sehat"


Tak peduli penjelasan Alia tadi, Farida malah berdecak sebal, mewanti-wanti Hisyam, dengan mata yang sedikit di picingkan ke arah putra sulungnya itu.


"Sudah, kalian kembali ke atas saja, pelayan akan membawakan makan malam kalian nanti" Titah Farida, sedikit mendorong anak dan menantunya agar kembali ke lantai atas.


***


"Kita sudah di kamar, tuan bisa melepasku sekarang" Ucap Alia sesaat setelah mereka tiba di dalam kamar.


Segera Hisyam melerai rangkulannya "Oh, maaf...." Ucap Hisyam mencoba sesantai mungkin.


Alia mengangguk paham "Aku tau" Jawab Alia sembari melabuhkan bokongnya, juga mencoba bersikap santai.


Belum nyaman dengan posisinya, Alia bergegas bangkit.


"Mau kemana?" Tanya Hisyam menyadari Alia ingin beranjak.


"Itu.... aku mau mandi" Lagi-lagi Alia beralasan.


"Bukankah kamu sedang demam, kenapa harus mandi?"


Mendapat pertanyaan dari Hisyam membuat Alia menghentikan langkahnya, "Oh, sepertinya aku sudah tidak apa-apa"


"Itu cuma alasan, kan?" Telisik Hisyam.


"Mm.... sudah ku jelaskan, tapi nyonya tak mau mendengarku" Jelas Alia.


"Ada apa? Kenapa mama sampai berpikir kamu sedang sakit?"


"Uh, itu.... ah, sudahlah, tuan bisa membuatku melewatkan waktu maghrib"


Ucap Alia terbata-bata, alasannya hanya untuk menghindar malah jadi jebakan baginya.


"Berhenti di sana! Huh.... kamu memang sengaja, ya, ingin melihatku di maki oleh mama?"


Alia mengurut dada mendengar tuduhan suaminya, "Oya, bukankah syarat untuk menunaikan shalat harus bersih dari hadas kecil dan besar..."


Selama ini Hisyam begitu handal dalam bersilat lidah melawan Alia, tapi sekarang kenapa malah dirinya yang terpojok.


"Cih! Sekarang dia mulai berani menyindirku, apa akhir-akhir ini aku terlalu melunak padanya?"


Gumam Hisyam.


Ia merasa tersinggung dengan jawaban istrinya tadi, apalagi jika mengingat bagaimana polosnya


wanita itu dulu.


"Dia sudah berani memojokkanku dalam masalah agama, hah! Tidak bisa ku percaya!" Geram Hisyam.


Tak ingin Alia terus menceramahinya Hisyam pun keluar, menghirup udara yang kian sejuk menyapanya.


-


Setelah menunaikan shalat, Alia perlahan menghampiri suaminya yang sedang berdiri di balkon.


"Apa tuan tidak sholat?" Pertanyaan Alia seketika mengusik ketenangan Hisyam yang sedang menikmati langit malam yang bertabur bintang.


"Nanti saja!" Jawab Hisyam singkat, masih merasa kesal dengan kata-kata istrinya yang telah menyinggung perasaannya.


"Tuan yakin, ingin menunda sholat?"


"Apa maksudmu? Berhenti menceramahiku!" Jawab Hisyam sewot lalu kembali ke dalam kamar.


Merasa apa yang di lakukannya semata-mata untuk kebaikan, Alia dengan berani mengikuti suaminya ke dalam kamar.


Bukannya sok tau, tapi, entah kenapa setelah melihat betapa rapuhnya pria itu saat mengulit masa lalu kelamnya membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan suaminya untuk berserah diri pada sang pencipta di saat menghadapi sebuah masalah.


"Jika tuan punya masalah, jangan menunda untuk mengadukan semua padanya, tuan pasti akan menemukan jalan keluarnya"


Jelas Alia yang terus memepet suaminya, tak perduli jika pria itu sudah bertelanjang dada di depannya.


"Hm....!" Merasa gengsi di ceramahi oleh wanita muda seperti Alia membuat Hisyam berpikir untuk menghentikan omelan istri kecilnya itu.


"Apa kamu sudah selesai bicaranya?"


"Tapi ini bukan hanya bicara, tuan, ini kewajiban, dan kita sebagai seorang muslim, wajib untuk melaksanakannya!" Alia menekankan.


Mendengar kata-kata istrinya membuat Hisyam tertantang.


Dengan tersenyum licik, Hisyam yang tadi terus di sosor oleh Alia, serta-merta membalikkan tubuhnya dan.....


Bruukkk.....!


Alia menabrak dada bidang suaminya yang kokoh dan baru tersadar raut kesedihan yang di tunjukkan Hisyam ketika bersandar di bahunya tadi, kini berubah menakutkan, bak seekor singa yang sedang mengintai mangsanya.


"Ke-kenapa berhenti?" Alia mundur menjaga jarak dari Hisyam yang tampak menakutkan.


"Bukankah ada kewajiban yang belum kita laksanakan" Tanya Hisyam dengan tatapan nakal.


"Kewajiban? A-apa yang tuan maksud! Kenapa tuan menatapku seperti itu?" Tanya Alia gugup.


Melihat cara Hisyam metapnya membuat Alia sadar bahwa ia telah terjebak dengan kata-katanya sendiri.


"Sebelum melaksanakan kewajiban yang kamu maksud, bagaimana kalau kita melaksanakan kewajiban kita sebagai suami istri dulu"


"DEEGGG....!" Jantung Alia seakan terhenti.


Mendengar kalimat terakhir sang suami, membuat Alia kaget hingga hilang keseimbangan.


"BRUUKKK.....!"


Tubuh mungil Alia terpental ke tempat tidur, sementara Hisyam yang tadinya ingin menahan Alia kini ikut terjatuh tepat di atas tubuh istrinya.


Sejenak mereka bersitatap di ikuti napas yang memburu.


"Tu-tuan...."


Suara Alia tersekat di tenggorokan, menyadari tak ada gunanya untuk menghindar, membuat Alia pasrah dan


mencoba untuk memejamkan mata meski trauma masih terus membayangi hidupnya.


"Tidurlah!"


Seketika Alia membuka matanya heran dengan apa yang baru saja di dengarnya, "Tapi aku belum mengantuk"


"Baiklah kalau begitu ayo kita lakukan se...."


"Oke! Aku akan tidur" Potong Alia, dan segera menyambar selimut dan menutupi tubuhnya hingga kapala, takut jika Hisyam berubah pikiran dan benar-benar meminta haknya yang telah lama tertangguhkan.


"Huft...."


Melihat Alia sudah terbungkus selimut tebal, membuat Hisyam perlahan menghela napas sesak.


Dengan napas yang memburu Hisyam bergegas masuk ke kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya di bawah aliran shower, berharap hasrat yang hampir tak bisa ia kendalikan segera mereda dan tak menuntut untuk di tuntaskan.