Single Parents

Single Parents
TERNYATA.....



Pagi itu Nisha tampak sibuk menyelesaikan design yang akan ia tampilkan di sebuah fashion show akhir pekan ini.


Di balkon tak jauh dari tempat Nisha duduk, Alia tampak melamun menemani Nathan dengan segala jenis robot-robotannya dan Assyifa yang sedang bermain dengan boneka barbienya.


"Bagaimana kabar Ozan saat ini?" Alia bertanya dalam hati, "Apa demamnya sudah turun dan sudah bisa pulang ke rumah, ya?" Lirihnya lagi.


Sudah hampir sebulan sejak dirinya mengunjungi Ozan di rumah sakit dan sejak saat itu ia tak lagi mendengar kabar apapun, bahkan media tak lagi meliput perkembangan perusahaan milik Hisyam yang terjerat kasus perdagangan manusia.


Semua itu di awali dari keteledorannya saat itu dan karna video itu juga citra hotel milik Hisyam kini mengalami penurunan bahkan hampir mengalami kebangkrutan.


Drettt...!


Suara ponsel membuat Alia kembali ke alam sadarnya. Nisha mengangkatnya, wanita itu membekap mulutnya dengan ekspresi bahagia.


"Sepertinya Nisha mendapat kabar baik pagi ini" Pikir Alia lalu melanjutkan permainannya bersama putri kecilnya itu.


Setelah mengakhiri panggilan, Nisha bergegas ke kamarnya dan keluar setelah berganti pakaian.


"Alia, kamu ikut denganku, ya" Ucap Nisha dangan wajah berseri-seri.


"Kemana?" Tanya Alia ingin tahu.


Nisha tersenyum bahagia, "Ke rumah bibi-ku, hari ini dia ingin mengajakku makan malam, sekaligus mengatur pertemuanku dengan kak His....


Ah, aku tak sabar ingin melihat tampangnya yang dingin namun penuh kasih sayang"


His, singkatan dari Hisyam dan itu panggilan sayang Nisha pada sepupunya itu.


"His?" Alia menautkan kedua alisnya.


"Itu panggilan sayangku pada sepupuku, saat kecil orang tuaku mengalami kecelakaan dan mereka meninggal seketika, sejak saat itu aku di rawat oleh bibi, beliau menganggapku seperti anak kandungnya, begitupun dengan kedua putranya yang sudah menganggapku seperti adik kandungnya sendiri, tapi...." Nisha menggantung kata katanya.


"Setelah merasa cukup dewasa, aku malah membangkang dan mengecewakan mereka dengan menikah sirih dengan suami orang dan itu membuat kak His kecewa padaku"


Nisha kembali mengulit masa lalu yang membuatnya semakin jauh dari keluarganya, tapi saat ini ia sudah bertekad untuk memperbaiki kesalahannya dengan menerima suratan takdir yang telah di tetapkan untuknya dan itu semua tak lepas dari campur tangan Alia yang selalu mendesaknya untuk berdamai dengan keluarga dan masa lalunya.


"Ayolah Alia, please....." Nisha memohon dengan ekspresi Puppy Ayes.


Melihat hal itu Alia hanya bisa mendengus sambil menggelengkan kepalanya.


Bukan tanpa pertimbangan Nisha mengajak Alia untuk ikut serta, karna saat di rumah sakit nyonya Farida memberi tahunya bahwa Hisyam kini telah bercerai dangan Renata, Nisha pun mulai mengatur pertemuan Alia dengan sepupunya yang tak lain adalah suami Alia sendiri.


"Bagaimana, Alia, kamu mau, kan?


Alia berpikir sejenak, "Tapi ini, kan makan malam keluarga, sangat tidak sopan jika aku turut hadir di antara kalian, lagi pula, aku tidak tau harus mengenakan apa untuk pertemuan panting seperti itu, aku takut malah membuatmu malu" Alia berusaha mencari alasan karna ia tau, dari dulu Nisha ingin menjodohkannya dengan putra sulung dari bibi-nya itu.


"Untuk masalah itu, aku telah memikirkan semuanya"


"Semuanya?"


"Iya, sebelum kesana aku akan mengajakmu ke butik setelah itu kita akan ke salon"


Alia menggelengkan kepalanya, melihat betapa antusiasnya Nisha membuat Alia tak bisa mengecewakan sahabatnya kali ini.


"Tunggu apa lagi, ayo sana...." Nisha mendorong tubuh Alia untuk masuk ke dalam kamar dan Alia akhirnya hanya mengikuti tanpa penolakan lagi.


Berapa menit kemudian Alia keluar setelah mendapatkan ponsel dan dompetnya tanpa mengganti setelan kaos putih yang di padankan dengan celana jeans.


"Sudah siap?" Tanya Nisha saat melihan Alia keluar.


"Bagaimana dengan anak...."


Alia menggantung pertanyaannya kala terdengar seseorang sedang mengetuk pintu apartemen.


Mendengar hal itu, Nisha bergegas membukakan pintu pada tamu yang sudah di tunggunya.


"Alia, dia yang akan akan menjaga Assyifa dan Nathan selama kita keluar"


Jelas Nisha saat terlihat jelas wanita bertubuh mungil itu berusaha keras untuk menolak ajakannya.


Karna tak punya pilihan lain, Alia terpaksa mengikuti keinginan Nisha kali ini, meski, ia sangat tak setuju dengan rencana sahabatnya itu, karna biar bagaimanapun dirinya masih berstatus istri orang dan sekarang Nisha kini berusaha menjodohkannya dengan pria lain.


-


Hari telah pun menjelang siang, setelah puas menjelajahi beberapa butik milik kenalan Nisha, akhirnya mereka keluar dengan dress pilihannya masing-masing.


Menurut Nisha dress itu terlalu simple dan tertutup, tapi dress itu justru terlihat cocok di kenakan oleh Alia yang memiliki paras manis, dan warna pink memancarkan sisi lembut bagi sosok Alia yang berparas cantik natural.


"Alia, kenapa diam saja? Apa kamu tidak suka dengan rencanaku ini?"


Nisha memulai obrolan saat melihat Alia hanya terdiam tanpa sepatah kata pun.


"Bu-bukan begitu, aku tau niatmu baik tapi, bukankah ini terlalu cepat, kamu tau, kan statusku masih istri orang"


Alia berusaha memberi pengertian pada sahabatnya itu.


"Hm...." Nisha tersenyum sambil menggenggam tangan sahabatnya.


"Alia, kamu jangan khawatir, ini hanya makan malam biasa, aku hanya ingin memperkenalkanmu pada keluargaku, sekaligus membantumu lepas dari cengkraman suamimu itu....


Tentang, keinginanku untuk menjodohkanmu, aku tidak akan memaksamu, ku harap kamu tidak merasa terbebani akan hal itu"


Nisha juga berusaha memberi pengertian pada sahabatnya itu, walau ia begitu berharap Alia bisa menjadi bagian dari keluarganya suatu hari nanti.


-


Setelah pembahasan tadi keduanya memutuskan untuk diam, Nisha fokus menyetir, sedangkan Alia masih memikirkan tentang kata-kata sahabatnya.


Meski Nisha tak memaksakan keinginannya, tapi tetap saja dirinya merasa tak tau diri telah mengecewakan Nisha yang telah membantunya saat ia tak punya arah tujuan.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, ini hanya makan malam biasa, kok, i promise"


Melihat Alia hanya terdiam Nisha menebak jika Alia pasti merasa tak enak telah menolak permintaannya, dia tau Alia termasuk kaum tak enakan, jadi ia berusaha membuat sahabatnya tak terbebani akan permintaannya saat itu.


"Aku tau, setelah dua kali gagal dalam membina rumah tangga, kamu pasti akan lebih berhati-hati memilih pendamping hidup" Tambah Nisha sembari memarkirkan mobilnya di sebuah pekarangan mansion.


"Maaf, karna telah mengecewakanmu..."


Ucap Alia penuh rasa bersalah, tapi apa yang ia lakukan bukanlah tanpa alasan, benar kata Nisha, kali ini ia harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, apalagi soal jodoh yang membuatnya hampir trauma dan menyerah untuk memulai hubungan lagi.


"Tokk! Tokk!"


Alia tersentak dari lamunannya, menyadari Nisha sudah menunggunya di luar mobil membuatnya bergegas keluar tanpa memperhatikan keadaan sekitar.


"Ayo kita masuk...." Ucap Nisha.


Melihat Alia masih sibuk merapikan pakaiannya yang kusut, Nisha pun dengan bersemangat menggandeng tangan sahabatnya menuju pintu utama.


"Tunggu! Rumah ini...."


Alia terperanjat melihat keadaan mansion yang tak asing baginya dan bahkan tersimpan banyak kenangan yang berusaha ia lupakan.


"Tunggu! Apa tuan Hisyam benar-benar tidak dapat menyelamatkan aset-nya sampai harus menjual mansion ini pada keluarga Nisha juga?


Huh! Ini semua gara-gara aku, akulah yang mengacaukan semuanya"


Alia menyalahkan diri sendiri, ia kembali merasa bersalah atas apa yang menimpa Hisyam.


"Tunggu apa lagi, ayo kita masuk, bibi pasti sudah menunggu di dalam..." Nisha terlihat begitu senang dan dengan bersemangat ia menarik tangan Alia ke dalam.


Alia mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruang tamu yang tak berubah sedikitpun dari keadaan sebelumnya.


Alia lagi-lagi menghelah napas cukup dalam, "*T*uan bahkan tak sempat membereskan semuanya"


Bisik Alia lagi, tapi kali ini rasa bersalahnya semakin besar setelah menyaksikan keadaan mansion yang tak berubah dari sebelumnya, bahkan tata letak koleksi favorit Hisyam, seperti senapan jenis H&H Double masih terpampang rapi dan tak terusik sama sekali.


Sedang Alia bernostalgia dengan suasana sekeliling, tiba-tiba terdengar suara langkah dari arah tangga.


"Nisha...."


"Kak His!"


Suara bariton Hisyam membuat Nisha histeris hingga berlari menjemput pria itu ke arah tangga, .


Sementara Alia yang baru saja menyaksikan keakraban Nisha dan Hisyam hanya bisa terdiam kaku, apalagi saat mendengar Nisha memanggil nama Hisyam dengan sebutan kak His, membuatnya terperangah dan tak bisa lagi berkata apa apa.


"Nisha! Your here, how are you sweety, i miss you so much!"


Belum sempat Nisha mengutarakan langsung permintaan maafnya pada Hisyam dan memperkenalkan Alia pada keluarganya, nyonya Farida pun datang memberikan pelukan hangat pada kepunakannya itu.