
Alia mengeliat saat kilauan cahaya matahari mengusik tidur lenanya.
Dengan perlahan Alia membuka mata, meregangkan ototnya yang terasa kebas seperti terhimpit suatu benda.
Setelah merasa roh dalam tubuhnya sudah terkumpul sempurna, Alia berniat bangkit, tapi tiba-tiba saja sesuatu yang asing kini melingkar di perutnya, terasa berat dan semakin erat mengunci tubuhnya.
"Apa yang.....?" Alia membekap mulutnya sendiri.
Menyadari si pemilik tangan kekar yang sekarang sedang mengungkungnya adalah milik Hisyam, membuat tubuhnya mematung, tak tahu harus merbuat apa agar bisa lepas dari rangkulan suaminya.
"Tunggu! Bagaimana kami bisa sedekat ini dan, kamana guling yang semalam ku...."
Alia menghentikan munolognya, ia mulai panik ketika Hisyam semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa....! Bagaimana aku bisa meloloskan diri jika pelukannya semakin erat begini" Batin Alia lagi.
Bahkan untuk bernapas pun ia harus berhati-hati, malu jika Hisyam sampai terbangun dan mendapati dirinya kini dalam situasi itu.
Selama beberapa detik mereka masih dalam posisi itu, Alia yang tadi terlihat tegang, perlahan bisa meresapi kehangatan pelukan suaminya.
Malah setelah menatap wajah tenang Hisyam saat tidur, membuatnya merasa telah menemukan kembali kenyamanan yang telah pergi meninggalkannya berapa tahun yang lalu.
Alia terus mengamati wajah yang di tumbuhi bulu bulu halus milik Hisyam, hidung yang tinggi, hingga bibir yang jarang menunjukkan senyum itu tak luput dari pengamatannya.
Sedang Alia hanyut dalam perasaannya, entah kenapa ada sesuatu yang membuncah dalam hatinya, seketika rasa takut menyerangnya.
"Kamu pernah merasakan kebahagiaan ini, namun hanya dengan sekelip mata semuanya pergi tak tersisa meninggalkan luka yang cukup perih dalam hidupmu"
Alia mematung seakan mendengar suatu bisikan dari dalam dirinya dan tiba-tiba saja cairan bening itu menetes dari sudut matanya.
Alia sedikit menggeser tubuhnya, berusaha menepis perasaannya, hingga Hisyam pun yang sejak tadi sebenarnya sudah terjaga pura-pura merasa terganggu dengan gerakannya.
"Mau kemana, apa sudah bosan memerhatikan wajahku?"
Alia yang tadinya ingin beranjak, terlihat kaget, tapi sebisa mungkin ia mencoba bersikap santai.
Alia menggeleng, "Maaf, lanjutkan saja tidurnya, aku tidak akan mengganggu tidur tu...."
Alia menghentikan kata katanya saat Hisyam kembali mengeratkan genggamannya, "Ada apa, apa kali ini aku melakukan hal yang salah lagi?"
Alia menggeleng, "A-aku harus ke bawah" Alia bangkit.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang, hanya kamu sendiri yang berusaha dalam hubungan ini? Sekarang aku juga akan berusaha, lalu apa masalahnya?"
Alia terdiam mencerna kata-kata suaminya, memang benar dirinya pernah mengatakan hal itu, tapi, memulai suatu hubungan dengan keterpaksaan hanya akan menambah luka yang sama untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa kamu diam, bukankah kamu....."
"Cup...."
Ciuman singkat mendarat di bibir Hisyam yang sama sekali belum siap akan perlakuan istrinya yang tiba-tiba itu.
"Apa tuan merasakan sesuatu? Tidak, kan?" Tanya Alia yang perlahan menjauh.
"Tak ada yang spesial, kan? Itu karna tuan tidak memiliki perasaan apapun kecuali rasa tanggung jawab dan prihatin dengan kehidupanku"
Hisyam masih terpaku, selain kaget dengan ciuman tiba-tiba itu, ia juga berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mungil istrinya.
"Terpaksa? Atau merasa bersalah" Potong Alia, wanita itu mencoba menunjukkan senyum tawarnya.
"Tolong jangan memulai sesuatu dengan keterpaksaan atau dengan rasa bersalah, aku tak ingin tuan menyesalinya nanti" Saran Alia dengan mata berkaca-kaca.
"Alia, mungkin saat ini aku ragu dengan perasaanku, tapi, apa kamu tahu apa yang...."
"Tok... tok....!"
Ketukan di balik pintu membuat Hisyam menunda untuk menjelaskan bagaimana perasaannya.
"Alia! Ini mama, sayang!"
"I-iya, sebentar, mah!"
Alia berlari kecil ke arah pintu, sengaja tak ingin mendengar penjelasan Hisyam yang hanya akan membuatnya kembali merasakan kekecewaan yang sama lagi.
Alia hilang di balik pintu, sementara Hisyam terlihat gelisah memaki diri sendiri.
"Argh! Kenapa aku begitu kaku dan tak membalas ciumannya tadi!"
Hisyam bergumam, memaki reaksinya yang tak sesuai dengan kata hatinya
"Tunggu dulu! Kenapa aku jadi sekesal ini? Benarkah aku mulai menyukainya? Tapi, kenapa aku tak membalas ciumannya tadi...."
Hisyam terus bergumam seorang diri, terlalu lama hidup tanpa seorang wanita di sisinya, membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri.
****
Suasana di meja makan terasa berbeda di pagi itu, hanya dentingan sendok yang saling beradu dan terkadang celoteh Assyifa dan Ozan yang sesekali mencairkan suasana hening saat itu.
"Bertengkarkah mereka? Atau.... mereka sudah melewati malam pertama mereka yang tertunda? itu sebabnya mereka terlihat kaku dan malu-malu?"
Farida bersorak girang dalam hatinya, membayangkan keinginannya yang ingin memiliki cucu dari Alia akan segera terwujud.
"Ehm....!"
Farida berdehem sengaja ingin mendapat perhatian dari putra sulung dan menantunya.
"Um.... kata pelayan, kalian tidur terlalu awal semalam..... um, apa kalian baik-baik saja?"
Farida akhirnya melontarkan apa yang sejak tadi bersarang di mindanya.
"Um, itu...."
Alia terlihat ingin menjawab tapi melihat reaksi Hisyam yang seketika meletakkan sendok di tangannya membuat Alia kembali diam.
"Ah, never mind, mama hanya bercanda, hah.... hah.... enjoy your breakfast...."
Farida tergelak kaku, berusaha mencairkan suasana.
Tak ingin membuat suasana semakin buruk, wanita paruh baya itu pun menghampiri Ozan dan Assyifa, mengajak kedua cucunya keluar dari ruangan itu.
Selang berapa menit saja Alia pun ikut berdiri dan mulai membersihkan meja makan di ikuti Hisyam yang tiba-tiba menyingsingkan lengan kemejanya hingga ke siku.
"Tuan pergi saja, bukankah tuan harus berangkat kerja?"
Tegur Alia saat Hisyam menyarungkan sarung tangan karet ke dalam tangannya dan mulai membersihkan piring kotor di hadapannya tanpa memperdulikan perkataan Alia.
"Hm....!" Alia mendengus kasar, "Tuan please, biar aku saja, tuan sebaiknya ke kantor saja!"
Mendengar nada Alia yang sedikit meninggi, membuat Hisyam menghentikan aktivitasnya.
"Apa kamu sedang mengejekku sekarang?"
"Ma-maksud tuan?" Alia terbata-bata mendapat tatapan mengintimidasi dari Hisyam.
Hisyam mendekat, mengunci tubuh mungil istrinya di balik wastafel, "Apa kamu lupa kalau semua asetku sedang di bekukan?" Hisyam mengingatkan.
"Uh.... ma-maaf, aku lupa" Jawab Alia sambil menundukkan kepalanya.
"It's okay, aku terima permintaan maafmu, tapi sebagai gantinya bisakah kita menuntaskan pembicaraan tadi?" Tawar Hisyam, lalu melepaskan kungkungannya.
Alia menegakkan tubuhnya kemudian menghirup udara sebanyak mungkin.
"Tuan tidak perlu memaksakan diri dan, soal yang tadi...."
Alia menghentikan kata katanya melihat ekspresi Hisyam yang pura-pura bingung, seolah tak mengerti kemana arah pembicaraan Alia.
"Ma-maksudku tentang ci-ciuman itu, sebaiknya tuan melupakannya saja, anggap saja itu tak pernah terjadi" Pinta Alia dengan suara bergetar, menahan malu.
"Ciuman? Cih....! Apa menurutmu itu adalah ciuman" Hisyam berdecih dengan raut mengejek.
"Ma-maksud tuan?" Alia yang tadinya tak berani menatap mata Hisyam karna terlalu malu, kini mendongak dengan tatapan kesal.
"Kamu menyebut itu ciuman? Hah.... menurutku itu cuma tabrakan bibir, bagaimana bisa menimbulkan rasa jika ciumanmu sekaku itu?"
Ejek Hisyam yang kini kembali mendekati Alia dengan tatapan menakutkan.
"A-apa yang tuan lakukan?" Alia mundur saat Hisyam kembali mendekat ke arahnya.
"Kamu bilang ciumanmu, uh, maksudku tabrakan bibirmu tadi tidak berarti apa-apa untukku....
Bagaimana jika ku tunjukkan cara membangkitkan rasa dalam sebuah ciuman" Goda Hisyam.
Dengan membungkuk, pria jangkung itu mencoba mensejajarkan wajahnya dengan wajah polos istrinya hingga Alia hanya bisa memejamkan matanya untuk menghindari tatapan elang suaminya, namun....
BRUUKKK!!!
Dengan reflek Alia mendorong tubuh Hisyam hingga membentur meja.
"Auuww....! Sssttt....!"
Hisyam meringis sambil memegangi perutnya, sementara Alia yang baru membuka matanya, terlihat kaget dan segera menghampiri suaminya yang sudah tergeletak di lantai.
"Cih! Seharusnya tuan merasakan sakit di bagian belakang, bukan bagian perut, atau tuan sengaja ingin mengerjaiku lagi!"
Dengan berlipat tangan di depan dada, Alia tampak tak acuh, tak ingin tertipu dengan akal akalan suaminya.
"Pa-nggil Do-dokter Daniel, please, auww...." Hisyam meringis kesakitan dan terus memohon bantuan dari Alia
Merasakan suara Hisyam sedikit bergetar membuat Alia yang tadinya membuang muka kini beralih menatap Hisyam yang mulai terkulai lemah.
"Tu-tuan! Apa yang terjadi?" Teriak Alia panik.
Apalagi saat melihat keringat dingin yang bercucuran di wajah pucat Hisyam membuat Alia semakin histeris hingga menggegerkan semua penghuni rumah.