
Di parkiran rumah sakit, Alia dan Assyifa berdiri agak jauh dari kerumunan.
Sambil menunggu mobil yang akan membawanya pulang, Alia tak kehabisan ide, membujuk Assyifa yang sudah tak sabar ingin pulang.
Tiba-tiba para wartawan berhamburan kala melihat Hisyam keluar menuju mobil yang telah di siapkan oleh Davis sebelumnya.
Terlihat Hisyam sudah memasuki perut mobil sedangkan nyonya Farida masih berdiri melihat kiri dan kanan, mungkin sedang mencari menantu kesayangannya.
"Silahkan, nyonya" Ucap asisten Davis sambil membukakan pintu untuk nyonya besarnya itu.
Dengan berat hati wanita paruh baya itu menuruti kata-kata Davis.
"Jalan!"
Suara tegas Hisyam, membuat nyonya Farida mengerling tajam ke arah putranya.
"Tunggu! Bagaimana dengan Alia?"
Farida menyelah saat asisten Davis mulai menyalakan mesin mobil.
Melihat tatapan tak senang Farida dari balik kaca, membuat Davis tak segera pergi, di tambah lagi di luar orang-orang masih berkerumun membuatnya sulit untuk bergerak.
"Ayo kita pergi!"
"Tapi, nak...."
"Percuma menunggu mereka, mah, dia tak akan datang jika melihat situasi saat ini"
Potong Hisyam di ikuti deruman mesin mobil yang sukses membuat para wartawan sedikit menjauh.
"Ini semua gara-gara kamu!" Gumam Farida sembari melempar pandangannya leluar.
Sementara di kejauhan Alia sedikit lega melihat mobil yang di kemudikan Davis kini beranjak.
Dengan bersemangat Alia merapikan pakaian Assyifa yang mulai kusut dan pada saat mobil hampir mendekat, Assyifa dengan girangnya mulai melambaikan tangan ke arah mobil yang di kemudikan asisten Davis.
Tapi bukannya berhenti, Davis malah semakin melajukan kendaraannya tanpa memberi isyarat dari tindakannya itu.
Alia segera berlari ke hadapan, namun langkahnya terhenti tatkala ada sesuatu yang tiba-tiba datang mengusik pikirannya.
Alia kembali melangkah mundur, kata-kata Davis semalam terngiang di telinganya dan semua itu begitu nyata adanya dan sampai kapanpun waktu tak akan pernah merubah kenyataan itu.
"Hah!"
Alia tersenyum miris menyadari kekonyolannya, "Sadar, Alia, ini bukanlah negeri dongeng yang selalu berjalan sesuai keinginanmu, dan bukan pula cerita Cinderella yang selalu berakhir Happy ending"
Sindirnya pada diri sendiri.
-
Alia terlihat lemah, sambil menggendong Assyifa yang juga tampak tak bersemangat ia keluar dari area rumah sakit dan berhenti di sebuah halte.
Ia termenung menatap benda pipih di tangannya, dalam hati ia masih berharap seseorang akan menjemputnya, atau paling tidak menghubunginya dan menjelaskan alasannya memberi harapan palsu pada gadis kecilnya itu.
"Drttt.... Drttt....!"
Getaran ponsel membuat Alia bersemangat dan tanpa mengecek terlebih dahulu ia langsung menekan tombol hijau.
"Halo, Alia, kamu baik-baik saja, kan?" Suara nyonya Farida terdengar panik, hingga Alia kembali memastikan nama yang tertera di layar ponselnya memang bukanlah yang di harapkan.
"Alia, ini mama, nak, kamu ada di mana sayang, mama minta tuan Farhan menjemputmu ke sana sekarang, ya!" Suara khawatir nyonya Farida kembali terdengar.
"Tidak perlu, mah..."
"Tapi, sayang, mama benar-benar tidak enak sama kamu dan, bagaimana mama bisa tenang sedangkan kalian sekarang ada di luar, dengan Assyifa pula"
Faridah mengungkapkan kekhawatirannya, mungkin karna selama ini Alia tak pernah keluar seorang diri atau karna takut Alia akhirnya menyerah dengan pernikahannya dan merencanakan untuk pergi meninggalkan putra dan cucu kesayangannya.
"Ah... bagaimana nasib putra dan cucuku nantinya, tak ada seorang wanita pun yang tulus selain Alia, bahkan Renata—ibu kandung Ozan sekali pun"
Farida lagi-lagi membandingkan-bandingkan Alia dan Renata yang begitu jauh berbeda, bak langit dan bumi.
"Um, sebenarnya.... Alia berencana ingin mengajak Assyifa pergi...."
"What! No, no, Alia please, apa yang kamu bicarakan! Apa mama melakukan kesalahan? Atau karna Hisyam? Apa yang dia lakukan padamu? Mama akan menasehatinya oke, i promise!"
Farida panik, begitu pula dengan pria di sebelahnya, padahal tadinya putranya itu terlihat acuh, tapi sebenarnya ia diam-diam menguping pembicaraan mamanya.
"Mah, bukan itu maksud Alia"
"Bu-bukan, jadi maksud kamu apa?" Tanya Farida terbata-bata.
"Iya, mah, maksud Alia itu, Alia ingin mengajak Assyifa berkeliling hari ini, boleh, kan mah?"
"Huft! Syukurlah, kamu membuat mama takut, Alia" Farida menghela lega.
"Ya sudah, tapi kamu hati-hati, ya, segera hubungi mama jika terjadi sesuatu" Pesan Farida yang tampak lega sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Begitupun dengan Alia, ia lega nyonya Farida memberinya ijin dan ia akan menggunakan waktunya sebaik mungkin bersama Assyifa—putri kecilnya.
Menghabiskan waktu berdua saja dengan Assyifa, mungkin bisa sedikit mengembalikan keceriaan gadis kecilnya itu, meski sebenarnya.... ia sendiri, juga butuh waktu untuk menyembuhkan kekecewaannya atas sikap Hisyam hari ini.
Alia kembali bangkit, dengan wajah yang datar ia melambaikan tangan pada taksi yang sedang berjalan ke arahnya.
-
Matahari sudah tepat di atas kepala, ibu dan anak itu masih berkeliling, menikmati keindahan kota besar dari balik kaca mobil.
Meski sebenarnya bukan hanya Assyifa yang sedih atas sikap ingkar Hisyam, bahkan mengetahui kebenaran tentang kata-kata Davis semalam membuatnya lebih kecewa dan tak tahu bagaimana ia bisa menghapus perasaannya setelah ini.
"Kenapa tuan harus membuatku nyaman kalau pada akhirnya semua itu hanyalah salah satu dari kesepakatan pernikahan kita"
Alia terisak dalam hati, meski tak terlihat, namun ada rasa sakit di dalam sana yang sulit untuk ia ungkapkan, dan itu semua karna cinta yang tanpa di sadarinya kini perlahan tumbuh dalam hatinya.
Alia lagi-lagi menghela napas berat setiap kali ia harus kembali pada kenyataan hidup yang seharusnya ia jalani dengan suka rela, seperti perjanjian pernikahan mereka.
"Mama! Mama!"
Suara nyaring Assyifa sukses membuat Alia seketika tersadar dari lamunannya.
"Ya! Ada apa, sayang?" Tanya Alia dengan lemah lembut.
"Tuuu...." Assyifa menunjuk ke sebuah taman permainan yang berada di seberang jalan dan agak ramai di kunjungi anak-anak.
Alia melihat ke kiri dan kanan, menyadari taman yang di maksud putrinya sudah tak jauh dari kediaman nyonya Farida ia pun meminta sopir menurunkan mereka di sana.
Alia merogoh kocek, lalu membayar tagihan taksi sebelum mereka turun.
Meski sedikit mahal, tapi itu tarip yang sesuai dengan waktu yang mereka habiskan sampai mereka puas berkeliling dan kembali saat hari menjelang sore.
Belum sempat Alia berterima kasih pada si sopir taksi, Assyifa sudah lebih dulu menarik tangan mamanya dan menuntunnya ke arah keramaian.
Melihat Assyifa yang begitu antusias, Alia hanya bisa mengelengkan kepalanya sembari tersenyum lega, akhirnya gadis kecilnya itu bisa melupakan kekecewaannya dan berbaur dengan anak-anak seusianya dengan ceria.
Setelah bermain cukup lama, Assyifa mulai kelelahan, Alia beberapa kali membujuk putrinya untuk pulang, mengingat hari pun sudah semakin sore, tapi gadis kecil itu masih belum puas, ia ingin terus bermain dan bermain.
Alia tak kehabisan cara, akhirnya gadis kecilnya itu luluh kala Alia menggunakan Ozan sebagai alasannya.
"Ocan...?" Assyifa akhirnya tertarik dengan topik pembicaraan mamanya.
"Iya, Syifa tidak kasihan dengan abang Ocan di rumah, abang Ocan nangis, lho, nungguin Syifa, kita pulang, yok...." Bujuk Alia, juga dengan cara bicara khas anak-anak.
Akhirnya Assyifa luluh, sambil bertanya ini itu, mereka akhirnya pulang dengan berjalan kaki, walau pada akhirnya Assyifa meminta untuk di gendong dengan alasan capek.
Tepat jam lima sore, Alia dan Assyifa, sampai di kediaman nyonya Farida yang megah ber-arstitektur klasik.
Karna sudah terbiasa, Alia memilih pintu belakang sebagai akses yang paling nyaman dan aman dari pantauan Hisyam.
Bukan karna takut Hisyam akan marah dengan keterlambatannya, melainkan ia sudah memutuskan untuk melupakan perasaannya dan kembali menjalani rutinitasnya seperti saat ia masih bekerja sebagai seorang pengasuh untuk Ozan.
Alia celingak celinguk memasuki ruang dapur, ia merasa tak enak karna seharian hanya bersantai di luar sedangkan bik Ina sibuk mengeksekusi bahan makanan untuk makan malam nanti.
Jadi kaum tak enakan memang agak susah. Karna merasa kasihan Alia akhirnya menyapa wanita paruh baya itu tanpa di sadarinya Hisyam juga ada di situ menikmati kopi sembari menghadap laptop tanpa memperdulikan sekitar.
"Um, Alia bantu bik Ina setelah mandiin Assyifa dan Ozan, ya, bik" Ujar Alia saat menyadari Hisyam juga ada di situ tanpa memperdulikan keberadaannya.
Alia meminta izin pada bik Ina, dengan segan ia membawa Assyifa ke kamar di mana Ozan juga sedang di mandikan oleh salah satu pelayan.
Setelah menyuruh si pelayan mengerjakan pekerjaan lain, Alia mengambil alih perannya.
Mengurus dua balita sekaligus bukanlah hal yang sulit bagi Alia, memang sulit, tapi Alia sama sekali tidak terbebani karna ia melakukannya dengan setulus hati, tidak seperti Hiayam yang menjaga dan melindunginya karna kesepakatan pernikahan.
-
Setelah mempersiapkan Ozan dan Assyifa, Alia akhirnya punya waktu membantu bik Ina di dapur.
Setengah jam berlalu, semua makanan telah pun tersedia di atas meja, mulai dari makanan kampung buatan Alia hinggalah makanan mewah yang sengaja di buat bik Ina atas permintaan Hisyam.
Tumis kangkung dan beberapa hidangan kampung sudah menjadi hidangan favorit nyonya Farida sejak Alia masuk ke keluarganya, namun beda dengan Hisyam, jangankan meminta untuk di buatkan, sekadar ingin mencobanya saja saat menu kampung itu sudah ada di depan matanya pun belum pernah sama sekali ia lakukan.
"Hmm!" Alia mendengus kasar sembari menunggu sebuah permohonan maaf dari seseorang yang telah mengingkari janjinya.
Mengingat kembali janji Hisyam pada Assyifa, membuat Alia diam-diam memerhatikan Hisyam yang sejak tadi hanya terdiam, padahal Alia begitu berharap pria di sampingnya itu meminta maaf atas kesalahannya.
Makan malam sudah selesai, satu persatu dari mereka sudah berpindah ke ruang keluarga di mana Ozan dan Assyifa bermain di atas matras sambil menonton serial kartun kesukaannya.
"Alia, kemari, sayang!" Teriak Farida, saat Alia tak segera menyusul mereka ke ruangan itu.
"Iya, mah, sebentar lagi selesai!" Jawab Alia.
Tak puas dengan jawaban menantunya, Farida pun menghampiri Alia dan membawanya ke ruang keluarga, ikut duduk di atas matras bersama Ozan dan Assyifa.
"Sayang, piring kotornya di biarkan saja, kamu pasti capek, jagain Hisyam di rumah sakit, di tambah dua bocah yang super aktif ini, kamu juga perlu istirahat, kan" Farida mengomel, namun Alia tahu itu hanyalah bentuk kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
Alia tersenyum haru menyadari masih ada seseorang yang tulus menyayanginya, bukan karna sebuah kesepakatan saja.
"Alia, ada apa, sayang?" Farida dapat membaca gurat kesedihan di wajah menantunya.
"Bukan apa-apa, mah, Alia beruntung bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari mama"
Jawaban Alia sebenarnya di tujukan pada seseorang yang sedang bermain ponsel di belakannya, tapi entah pria itu merasa atau tidak.
"Tentu saja, kamu, kan, menantu kesayangan mama dan sampai kapan pun akan terus seperti itu" Ucap Farida sambil melirik putranya yang masih bergeming menatap ponselnya.
"O, iya! kalian pasti sudah mengantuk, kan, sebaiknya istirahat saja, biar mama yang menidurkan Ozan dan Assyifa nanti"
Ucap Farida beralasan, mengingat keakraban anak-anaknya di rumah sakit, membuat nyonya Farida bersemangat ingin menimang cucu baru.
"Mama saja yang istirahat, sudah dua hari ini Alia meninggalkan Ozan dan Assyifa, Alia ingin meluangkan waktu untuk mereka"
Ucapan Alia membuat Farida tak bisa berbuat apa-apa hingga wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan rencananya dengan berat hati.