Single Parents

Single Parents
Bertemu



Saat ini Clara tengah membersihkan luka El didalam mobil, untung saja ia selalu membawa kotak obat darurat didalam mobilnya.


flashback on


"dokter Clara?."


Panggilan itu terasa mencekik leher seseorang yang menyandang gelar dokter kandungan itu, siapa lagi kalau bukan dokter Clara.


"tu tuan Dean." bak melihat malaikat pencabut nyawa, wajah dokter muda itu menjadi pucat pasi.


Hening..


"onty.." suara El mampu mencairkan ketegangan yang ada.


Pandangan Dean beralih pada bocah kecil yang kini tengah berdiri menahan sakit disamping dokter Clara.


Dean menatapnya dengan intens. Entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar dihatinya, tanpa ia sadari tangannya terulur ingin menyentuh wajah El.


"don't touch me." belum sempat tangan Dean menyentuh wajahnya, El sudah mundur dua langkah kebelakang serta melayangkan tatapan tajam pada Dean.


Dean hanya diam mematung dengan tangan yang masih mengudara. Sedangkan Semmy, ia tergangang tak percaya dengan apa yang terjadi didepan, begitu pula dengan Clara.


'benar-benar foto copyan tuan Dean.' batin Semmy dan Clara secara tidak langsung.


"El.." Clara mencoba menegur bocah antik yang tidak mau disentuh oleh sembarang orang, yang kini tengah berdiri dibelakangnya.


"onty!." peringatan keras El layangkan pada Clara.


"mommy pasti sudah menunggu dirumah, ayo kita pulang." tanpa menunggu persetujuan dari Clara, El sudah melangkah tertatih menuju mobilnya.


Semmy menahan tangan Clara yang hendak menyusul El, ia mengikis jarak diantara keduannya, tepat disamping telinganya.


"saya menunggu penjelasan anda dokter Clara."


Setelah berbisik demikian, Semmy melepas tangan dokter Clara dengan tersenyum miring.


flashback off


huhh..


Clara membuang nafasnya pelan, mencoba meredamkan asumsi-asumsi yang kini tengah berkeliaran di fikirannya.


'baik?, murah senyum?, penilaian dari mana itu. Jelas-jelas asisten Semmy itu lebih mengerikan dibanding tuan Dean.'


'mana ada dia baik, senyumannya saja seperti iblis yang siap mencabut nyawa aku dimanapun dan kapanpun jika bertemu denganku.'


'agrh.. kenapa aku harus bertemu pria macam dia sih.. apes bener hidup aku..' batin Clara menangis darah.


"ayo kita pulang onty, ini sudah selesai." El membersihkan peralatan yang tadi digunakan untuk membalut lukanya.


"iya sayang, kita harus segera pulang dan segera berangkat ke ibu kota hari ini juga."


🚗


🚗


🚗


"apakah kita akan menginap disini tuan?."


Hari sudah beranjak petang, gara-gara insiden kecelakaan tadi siang, membuat pekerjaan Dean tertunda, yang seharusnya sore sudah selesai dan bisa langsung kembali ke ibu kota, kini mereka harus mencari penginapan terlebih dahulu.


Selain tubuhnya yang terlalu lelah, Dean juga tidak begitu suka dengan perjalanan malam.


"kita kembali besok saja, sekarang cari penginapan dulu."


"baik tuan."


Hening..


Keduanya sama-sama terdiam, tengelam dengan fikirannya masing-masing.


'saya yakin pasti anak yang bersamaan dokter Clara siang tadi adalah anaknya tuan dean.' batin Semmy.


'jika benar anak itu anaknya tuan Dean, pasti nona Dira saat ini berada di sini.'


'itu artinya.. ah si*l!, kenapa aku tidak berfikir sampai sini dari dulu!!.'


Semmy mencekal kemudinya erat, ia merasa telah dibodohi oleh dokter Clara, walaupun ini semua juga bukan salah dokter Clara seratus persen, tapi ia yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh dokter Clara darinya.


'aku harus mencari tau!, jika tebakanku benar.. awas saja kau dokter nakal.!' tanpa terasa sudut bibir Semmy terangkat keatas.


"Sem.." suara Dean membuyarkan lamunan Semmy.


"iya tuan."


"apa kau juga memikirkan apa yang aku fikirkan?." Dean membuang pandangannya ke luar jendela.


"maksud tuan?." Semmy mengerutkan keningnya.


"anak yang tadi siang bersama dokter Clara. Bukankah wajahnya sangat familiar?, apakah kau tidak menyadarinya?." Dean mengalihkan pandangannya pada kaca spion yang berada diatas Semmy.


'ah.. kemungkinan besar dia memang anakmu tuan.' ingin rasanya Semmy berkata demikian, tapi itu tidak mungkin ia utarakan, bisa hancur semua acaranya nanti.


"iya tuan.."