Single Parents

Single Parents
cucu dan mantu



Karena tidak tega dengan El, akhirnya Dira menuruti saran Dean. Mereka kini berada didalam mobil Dean, menuju ke rumah Dean, karena memang rumah Dean lebih dekat dari pada rumah Dira.


"El bisa sakit kalau tidak segera mengganti pakaiannya, aku.. ekhm, maksudku saya sudah menyuruh orang untuk membawakan baju ganti untuk El." jelas Dean.


'juga baju ganti untukmu.' lanjutnya dalam hati.


"terimakasih tuan, tapi apakah benar tidak apa-apa saya dan El pergi ke rumah anda?." tanya Dira meyakinkan.


"tidak apa."


'malahan mama akan sangat bahagia jika kamu dan El datang ke rumah, aku yakin mama pasti akan senang nanti.' batin Dean, tanpa sadar senyum simpul tersungging di bibirnya.


Hanya menempuh waktu kurang dari setengah jam mereka sudah sampai dikediaman Wilson sekarang.


Dean dengan suka relanya menggendong tubuh mungil El.


"uncle aku bisa jalan sendiri, turunkan aku." El meronta dalam gendongan Dean.


"benarkah?."


"bajuku hanya basah, aku tidak apa-apa. Turunkan aku.' tegas El, ia menatap nyalang Dean.


Bukannya takut, Dean malah tertawa keras melihat ekspresi galak pada wajah El, sungguh sangat menggemaskan.


Dira yang berjalan dibelakang Dean tersenyum getir melihatnya. Hatinya terasa dicubit, sangat sakit. Ia meremas dadanya kuat.


'maafkan mommy nak, maafkan mommy.'


___


"mama, mah.." teriak Dean ketika mereka telah masuk kedalam rumah.


"oh astaga, inikah sifat seorang Dean Wilson yang berdarah dingin itu?!, aku benar-benar tidak yakin." gumam Dira pelan dan hanya dirinya yang dapat mendengarnya.


"kenapa kamu teriak-teriak?, memangnya ini hutan?!" kesal wanita paruh baya yang baru saja keluar dari salah satu ruangan.


"ya ampun... inikah cucu mama?, ternyata kamu adalah cucuku?!, Sini sini peluk oma." Wina dengan antusias menarik El kedalam pelukannya, ia masih belum menyadari jika ada Dira dibelakang Dean.


Cukup lama Wina memeluk El, setelah melepaskannya ia memberi kecupan bertubi-tubi pada wajah El. Membuat bocah itu kewalahan, mencoba menghindari sekuat tenaga.


"mah, sudahlah, El harus ganti baju dulu sekarang." Dean menarik El paksa agar terlepas dari pelukan sang mama.


" El sayang, kamu sekarang ke kamar uncle saja, mandilah disana."


"Baik tuan."


Dira hanya menatap bingung sekilas drama di depannya tadi, ia masih mencoba mencerna semua kejadian didepannya.


"oh ternyata calon mantu mama juga di sini, sini sayang, duduk sini. Bibi tolong buatkan minim dingin." Wina menarik lembut tangan Dira, mengajaknya duduk bersebelahan dengannya. Dean hanya menggeleng pelan melihat tingkah sang mama.


"sudahlah, ma Dean mau keatas dulu." pergi meninggalkan Wina dan Dira.


"nyonya, ini..."


"jangan panggil aku nyonya, panggil saja mama oke, mama tidak menerima penolakkan. tegas Wina.


"tapi ini... sepertinya ada kesalahpahaman nyo.."


"MA MA, oke?."


"i iya mama.."


"tidak ada kesalahpahaman, kamu itu.."


"mommy.." panggil El, entah sejak kapan anak itu sudah berdiri di samping Dira segarang.


Wina dengan segera bangkit dari duduknya, ia menghampiri El dan mengajaknya pergi ke taman, ia juga menyuruh Dira membersihkan diri di kamar Dean?.


'tidak mungkin kan aku pergi ke kamar pria, apalagi dia itu direktur utama D'Will Company.'


"haiss.." Dira mendesis pelan.


"kenapa?." tiba-tiba saja wajah Dean berada tepat didepan wajah Dira.


"astaga!." pekik Dira, ia mengusap dadanya pelan, menetralkan detak jantungnya.


Tersenyum simpul, "pergilah mandi, aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu. Emm itu,aku tidak tau berapa ukuran mu, jadi aku siapkan beberapa, semoga ada yang cocok. Aku akan menyusul El dulu. Bibi tolong antarkan nona Dira." Dean melangkah pergi meninggalkan Dira dengan wajah yang memerah menahan malu.


'astaga.'


"mari nona saya antar."


🖤🖤🖤