Single Parents

Single Parents
KESALAHAN ALIA



Setelah mendapat telpon dari bik Ina yang mengatakan bahwa nyonya Farida tiba-tiba jatuh pingsan.


Dengan berat hati ia pun meminta Om Farhan untuk mengantarnya pulang, padahal ia baru saja sampai di rumah tante Rima yang begitu di rindukannya-rumah yang pernah di tinggalinya saat remaja dulu.


Dalam perjalanan pulang Alia hanya terdiam, memikirkan berbagai hal yang sedang ia hadapi.


Mulai dari masalah pernikahannya yang harus di rahasiakan dari publik, scandalnya dengan Micheal yang mempengaruhi bisnis Hisyam, dan sekarang ia harus menghadapi mertuanya yang menginginkan seorang cucu darinya.


"Hmm....!" Alia mendengus panjang.


"Ada apa, nak?" Tanya Farhan sekilas mendapati Alia tengah termenung di sampingnya.


"Ah.... bukan apa-apa, Alia hanya kepikiran tentang.... Farah! Ya, Farah"


"Farah? Ada apa dengannya?" Tanya Farhan masih fokus menyetir.


"Farah.... dia.... dia pasti sangat kecewa karna aku tak menuruti keinginannya hari ini"


Alia mendesah, padahal selain kecewa karna tak bisa menuruti keinginan Farah-sepupunya, ia juga lega karna Om Farhan tak curiga dengan semua permasalahan yang sekarang di hadapinya.


"Maafkan Alia karna harus berbohong, tapi.... Alia tak ingin membebani siapapun dengan semua permasalahan ini...."


Bisik Alia dalam hati.


"Jangan di pikirkan, Sebentar lagi Farah akan melupakannya" Jawab Om Farhan yang sedang fokus mengemudi.


"Oya! Alia titip ini untuk Farah, ya" Alia meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas dashboard mobil.


"Beritahu Farah, Alia minta maaf karna tak bisa menemaninya berbelanja hari ini"


Ucap Alia saat mobil yang di kemudikan Farhan kini memasuki kawasan mansion.


"Tidak perlu seperti ini, Alia, jangan merasa terbebani, jalani saja hidupmu dengan bahagia, maka kami akan merasa tenang, Om juga tak ingin tuan Hisyam berpikiran buruk tentang kaluarga kita"


Farhan memberhentikan mobil, lalu meraih lembaran uang tadi, berniat mengembalikannya pada Alia.


"Om Farhan tak usah khawatir, ini uang Alia sendiri, kok"


Ucap Alia sembari membuka pintu mobil.


Meski merasa segan tapi Farhan tak bisa menolak lagi karna Alia sudah pun berlalu dengan terburu-buru.


"Kamu anak baik, Alia, semoga tuan Hisyam bisa memberimu kebahagiaan yang tak pernah kamu dapatkan selama ini..."


Bisik Farhan sambil menatap punggung wanita yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


-


Alia berlari mendapati nyonya Farida yang sedang terbaring lemah di tempat tidurnya.


Dengan tatapan sendu Alia mendekati wanita paruh baya yang masih memejamkan matanya.


"Apa yang terjadi, bik?"


Tanya Alia khawatir tanpa menyadari Hisyam sedang bersandar di sofa, menatap kesal ke arahnya.


"Bagaimana nyonya bisa seperti ini, bik, bukankah tadi dia baik-baik saja?"


Alia kembali bertanya, namun bik Ina tetap bergeming, wanita paruh baya itu seakan bisa merasakan aura mencekam dari raut wajah sang majikan, hingga membuatnya tak tahu harus berkata apa.


Sementara Alia yang masih menggenggam erat jemari mertuanya kembali berdiri saat pertanyaannya terus diabaikan, oleh bik Ina, "Bik! Apa yang....!"


Suara Alia tersekat di tenggorokan kala mendapati Hisyam sudah berdiri tepat di hadapannya sambil menatapnya dengan tatapan elang.


"Jadi beginilah tanggung jawab seorang ibu yang kamu maksud?" Sindir Hisyam dengan rahang yang mengeras.


"Ma-maksud tuan...?" Tanya Alia tak mengerti.


"Hah! Baru berapa hari di sini kamu sudah mulai melampaui batasanmu, seharusnya aku tahu kalau kamu hanya memanfaatkan keluargaku!" Cibir Hisyam sinis.


"Maaf tapi... tadi nyonya baik-baik saja, aku juga tak menyangka jika hal ini akan terjadi...." Tutur Alia gugup.


Dengan menunduk ia tak berniat untuk membela diri, apa lagi saat pria yang sudah sah menjadi suaminya itu di kuasai oleh amarah, maka alasan apapun tak akan bisa meredahkan suasana hatinya yang buruk.


"Follow me!"


Titah Hisyam sambil menarik kasar lengan istrinya yang tak sempat menanyakan kemana arah tujuan mereka.


Alia tergopoh-gopoh mengimbangi langkah panjang Hisyam menuju ruang kerjanya di lantai dua.


Sesampainya di sana Hisyam menghempaskan tangan istrinya dan melemparkan sebuah majalah tepat di kaki Alia.


"Inikah yang kamu inginkan? Dengan mengakui semua desas-desus media, apa kamu pikir bisa menyelamatkan hotelku!" Bentak Hisyam kasar.


Sementara Alia hanya bisa terpaku memandangi majalah bisnis yang memberitakan penutupan hotel milik keluarga Osmand.


"Tak cukup dengan masalah hotel, kamu juga pasti sangat lega setelah mengetahui Mike telah bebas tanpa tuntutan apapun, iya, kan!"


Teriak Hisyam lagi, membuat Alia hanya bisa menitikkan air matanya dalam diam.


"Hah! Aku menikahimu karna merasa bersalah padamu, tapi, apa yang ku dapat, kamu telah mengacaukan segalanya! Seharusnya aku tak menuruti keinginan mama untuk menikahimu waktu itu"


Cibir Hisyam, kemudian berlalu meninggalkan Alia yang sedari tadi menahan isakan tangisnya.


"Braakkk....."


Hisyam membanting pintu dengan keras, membuat Alia hanya bisa menelan rasa sakit hatinya.


Seharusnya ia tak mempermasalahkan ucapan Hisyam tadi mengingat pernikahan mereka memang tak di dasari cinta, tapi entah kenapa mendengar ungkapan penyesalan Hisyam telah menikahinya begitu menyakiti perasaannya membuatnya semakin sakit dan menangis sampai tersedu-sedu.


-


Alia masih larut dalam kesedihannya, menekuk lutut, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya.


Kata-kata penyesalan Hisyam kembali terbesit di benaknya.


Berulang kali ia mencoba untuk berbesar hati menerima cacian dari Hisyam mengingat pria itu mengatakannya dalam keadaan marah.


"Aku tahu hal ini akan terjadi dan seharusnya aku tak sakit hati mendengar kata-kata tuan Hisyam tadi, tapi....


Argh.... Alia bukankah kamu sudah bertekat untuk melalui semua ini tanpa mengeluh, pikirkan saja tentang masa depan Assyifa yang akan berubah jauh dari kehidupanmu di masa lalu..."


Bujuk Alia pada dirisendiri, karna biar bagaimana pun ia tahu, cepat atau lambat hal seperti ini akan terjadi dan dia hanya perlu melaluinya dengan hati sekuat baja.


"Tokk.... tokk.....! Nona Alia, nyonya Farida sudah bangun dan mencari anda...." Teriak seorang pelayan di balik pintu.


"Ba-baiklah, aku akan kebawa sekarang!"


Teriak Alia sembari meraih tissue di atas meja untuk membersihkan wajahnya dari bekas air mata yang membasahi pipinya.


Setelah semangat juangnya untuk kehidupan Assyifa kembali berkobar, Aliapun memantapkan langkahnya dan kembali ke tanggung jawab yang akan merubah nasib putrinya kelak.


"Alia, kemari, nak!"


Panggil nyonya Farida yang masih terlihat lemah di pembaringannya.


Alia yang sempat termenung di depan pintu memerhatikan nyonya Farida kini tersadar, dan mendekati mertuanya dengan ragu.


Sekilas Alia melirik Hisayam di seberang tempat tidur nyonya Farida.


Meski jarak mereka hanya di batasi tempat tidur nyonya Farida namun terlihat Hisyam tampak acuh seakan tak menyadari kedatangannya di tempat itu.


"Mama, tidak apa-apa, kan?"


Tanya Alia yang sudah tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


"Maafkan Alia, ma, Alia janji tak akan menyusahkan mama, dan tak akan meninggalkan anak-anak lagi bersama mama"


Alia mengungkapkan penyesalannya dengan suaranya yang parau karna habis menangis. l


Mendapat kasih sayang dari mertuanya, membuat Alia tak dapat menahan tangisnya lagi ,


hingga Farida sedikit curiga ada sesuatu yang di sembunyikan oleh menantunya itu.


"Jangan sedih, nak, mama baik-baik saja, lihatlah matamu sampai bengkak seperti itu....


Oya! Tadi, bik Ina bilang kalian sedang berbicara, tentang apa? Apa Hisyam mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih seperti ini?"


Tanya Farida meng-interogasi.


"Mom! Memangnya aku bicara apa padanya?" Hisyam menyela, tak terima di tuduh seperti itu.


"Tuan Hisyam tak mengatakan apa-apa, A-Alia hanya takut mama kenapa-napa" Jawab Alia sambil melerai pelukannya.


"Ya sudah, mama percaya padamu, sebaiknya kalian istirahat saja.... terutama kamu Alia, kamu pasti lelah, kan....


Oya! Kamu belanja apa hari ini?"


Tanya Farida antusias, berharap Farah bisa meyakinkan Alia untuk mengikuti saran yang ia berikan.


"Oya, treatment seperti apa yang kalian lakukan hari ini? Relaksasi, detoks, scrub, atau apa?" Tanya Farida lagi.


"Um.... sebenarnya Alia tidak ke salon ataupun berbelanja seperti yang mama usulkan.... maaf"


"Hm.... benarkah?" Farida kecewa, "Ya, sudah, kita perginya lain kali saja setelah mama sembuh, kalian keluarlah sekarang mama ingin istirahat"


Usir Farida dengan nada yang terdengar kecewa.


Hisyam yang sempat khawatir tentang kesehatan mamanya kini bangkit sambil mendengus kasar, tahu acting apa lagi yang di perankan oleh mamanya.


Setelah menyelimuti mertuanya Alia pun ikut keluar dan perlahan mengekori Hisyam ke lantai dua.


"Aku lapar, siapkan makanan untukku!"


Perintah Hisyam seketika menghentikan langkah Alia yang tanpa protes mengikuti perintah suaminya.


Setelah memanaskan makanan dan menatanya di atas meja, Alia bergegas kembali ke kamar berniat memanggil suaminya untuk makan malam.


Tapi saat ingin mengetuk pintu terdengar Hisyam sedang berbicara serius dengan seseorang di telepon.


"Keadaan menjadi semakin rumit sekarang, hari ini mereka menutup hotel dengan alasan penyelidikan, besok tak menutup kemungkinan mereka akan mencari cara untuk menutup perusahaan yang lainnya!"


Jelas Hisyam yang terdengar prustasi mengatasi semua masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.


"Hm.... baiklah, besok kita adakan meeting untuk mencari solusi agar para staf tak merasakan imbas yang lebih buruk dari krisis ini" Tambahnya lagi dengan penuh ketegangan.


Sementara Alia yang tadinya berniat memanggil suaminya, kini mengurungkan niatnya itu tatkala mendengar pembicaraan Hisyam yang membuatnya semakin merasa bersalah.


"Sepertinya tuan Hisyam banar-benar mendapat masalah karna kecerobohanku"


Bisik Alia yang kini terduduk lesu memikirkan kesalahannya yang berdampak buruk, bukan hanya pada keluarga Ozmand, tapi juga bagi karyawan yang meletakkan nasibnya pada O.z hotel.