Single Parents

Single Parents
KEPERGOK.



Mobil berhenti di depan rumah sakit tempat Ozan di rawat, keduanya tampak mengamati bangunan tinggi menjulang di hadapannya.


Dua wanita itu masih terdiam sambil memeriksa suasana sekitar yang tampak begitu sibuk.


"Hm....!" Alia lagi-lagi menarik napas dalam.


"Kamu yakin, ingin masuk sendiri? Ingin ku temani?" Melihat Alia yang tampak ragu, Nisha pun ikut khawatir dan menawarkan diri untuk menemani sahabatnya ke dalam.


Alia mengulum senyum, menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja, lagi pula aku tak ingin mereka melihatmu dan melibatkanmu, nyonya pasti akan mencarimu jika tau aku tinggal bersamamu, mereka akan mengusik ketenangamu nanti"


"Emang mereka itu siapa? Seberapa berpengaruhnya, sih dia di banding sepupuku yang kamu tolak itu!"


Nisha jengkel, kalau saja dulu ia berhasil menjodohkan Alia dengan sepupunya, sahabatnya itu tak akan mengalami hal buruk seperti itu, dan pastinya sepupunya itu tak akan menyembunyikan status pernikahan mereka seperti yang di lakukan suami Alia saat ini.


"Dasar pria sombong! Bisa-bisanya status pernikahan di anggap main-main!"


Nisha mengumpat geram, bukan saja pada masalah sahabatnya tapi ia juga meluapkan kekesalannya pada pria yang masih berstatus suaminya namun sampai saat ini pria itu masih menggantungnya dan malah rujuk kembali ke istri pertamanya.


"Sudah, sudah, jangan emosi begitu, dia tak seburuk yang kamu pikirkan, suamiku itu orang baik, hanya saja....." Alia terdiam sejenak, "Akulah yang tak bisa menempatkan diriku di tempat yang seharusnya"


Ungkap Alia, dengan sangat sadar ia tahu posisi dirinya, bak kata pepatah 'jauh panggang dari api' begitulah situasi dirinya saat ini.


Setelah memantapkan hatinya, Alia keluar, tentu saja setelah mengenakan masker dan juga topi untuk menutupi wajahnya agar tak ada yang mengenalinya, baik dari kenalan Hisyam maupun orang-orang yang mengenalinya dari video viral-nya waktu itu.


"Alia! Kamu yakin tidak apa-apa ?" Tanya Nisha setengah berbisik, saat ini Alia sudah berdiri di samping mobil.


"Tenang saja, mereka tidak akan berbuat buruk padaku, aku memakai ini agar nyonya tak mengenaliku, karna kalau sampai itu terjadi, beliau akan melakukan segala cara agar aku tetap tinggal, lagi pula suamiku orang sibuk, di jam seperti ini dia pasti sedang bekerja, jadi kamu tak perlu khawatir dan tunggu saja di sini, aku akan kembali sebentar lagi"


Ucap Alia, sebelum ia benar-benar melenggang masuk ke dalam gedung rumah sakit.


"Ck! Kamu banar-benar baik dan polos, Alia, bisa saja, kan, mereka memancingmu dengan alasan anak, setelah itu mereka akan memanfaatkanmu lagi seperti dulu, tapi seberapa berpengaruhnya, sih, mereka?


Lihat saja, tak akan ku biarkan mereka memanfaatkan kepolosanmu lagi....


Tunggu! Kenapa tidak ku kenalkan saja bibi pada Alia, dia pasti akan sangat setuju dengan pilihanku ini, setelah itu aku bisa meminta pengacara bibi mengurus surat cerai Alia dengan suami angkuhnya itu"


Nisha menemukan satu ide cemerlang, jika memberi tahu Alia terlebih dahulu tak akan berhasil, kenapa ia tak mencoba cara lain saja, urusan Alia mau atau tidaknya itu urusan belakangan, yang pasti tak ada seorang wanita pun yang bisa menolak pesona seorang pewaris utama perusahaan O.Z Group.


-


Setelah bertanya pada salah seorang perawat, Alia bergegas menuju kamar VIP tempat Ozan di rawat.


Alia lega, suasana tampak sepi, karna itu ia tak perlu khawatir dengan penyamarannya.


Karna begitu merindukan putra sambungnya itu tanpa berpikir panjang Alia langsung masuk dan tak menyangka melihat pemandangan yang sangat mengejutkannya.


"Um, ma-maaf, seharusnya aku mengetuk pintu terlebih dahulu" Ucap Alia terbata-bata.


Bukan hanya kaget melihat posisi sepasang pria dan wanita di hadapannya, tapi ia juga merasa kecewa dengan sikap Hisyam yang masih berstatus suaminya tapi malah memangku wanita lain di hadapannya.


Hisyam yang masih berada di bawah Renata awalnya juga terlihat kaget, tapi demi melancarkan rencanannya dan tak ingin Renata curiga dengan hubungannya dengan Alia, ia akhirnya memilih diam dan membiarkan Renata turun sendiri dari pangkuannya tanpa rasa malu.


Melihat Alia yang masih shock, ingin rasanya Hisyam menjelaskan situasi yang sebenarnya, tapi niat itu malah di urungkan tatkala Renata telah lebih dulu menghampiri Alia yang tampak kikuk dan salah tingkah.


"Alia, kamu di sini? Uh, maaf karna kamu harus melihat situasi seperti ini.... um, how are you? Aku mencarimu kemana-mana" Renata menyapa ramah tanpa rasa bersalah.


Ya, dia memang tidak tahu tentang pernikahan Alia dan mantan suaminya, yang dia tahu Alia berusaha menggoda Hisyam sehingga pria itu semakin jauh darinya.


"Alia, kanapa diam saja? Apa kamu masih membenciku atas semua sikap burukku dulu?" Renata seakan teraniaya.


"Alia, aku benar-benar minta maaf, aku menyesal, kamu mau, kan, memaafkanku?"


Sedang Alia yang masih merasa sangat kecewa, hanya bisa terdiam, pura-pura mengabaikan tatapan mata Hisyam padanya.


"A-aku sudah memaafkanmu, aku,dengar, Ozan sedang sakit, jadi aku kesini untuk menjenguknya.... a-aku boleh menemuinya sebentar, kan?"


Alia berusaha menepis perasaan cemburunya dan kembali fokus pada niat awalnya yang memang datang untuk menjenguk Ozan tanpa harus melibatkan perasaan rindunya pada pria yang masih berstatus suaminya itu.


Hisyam menggeser tubuhnya, ia memberi ruang untuk Alia agar lebih dekat dengan Ozan yang masih terlelap di tempat tidur.


Alia mengusap rambut pirang milik Ozan, lalu meraih tangan mungil itu dan menciumnya.


Alia menitikkan air mata, tak tega melihat bayi mungilnya terbaring lemas tak berdaya.


Ozan memang bukan anak kandungnya, tapi sejak bayi itu berumur satu bulan dirinyalah yang mengasuhnya, bahkan menyusuinya meski harus meninggalkan putrinya yang saat itu juga berumur sama dengan Ozan.


Alia lekas menghapus air matanya, ia tak tega melihat Ozan terbaring seperti itu, tapi ia juga tidak egois, Renata adalah ibu kandungnya, ia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan ibu kandung Ozan, takut wanita itu merasa semakin bersalah telah meninggalkan putranya waktu itu.


Alia sudah selesai, ia mendongak menatap sekilas pada Hisyam, kemudian membungkuk, seolah memberi hormat pada majikannya.


"Terimakasih telah mengijinkanku menemui Ozan, permisi"


Hisyam mengepalkan tangannya, "Kamu! ****!" Hisyam mengumpat.


Hisyam merasa kesal dengan perbuatan Alia, namun sebisa mungkin ia tahan, karna biar bagaimana pun ia sendiri yang telah memutuskan untuk menyembunyikan pernikahan mereka, lantas, siapa yang harus ia salahkan jika Alia bersikap dingin seperti itu?


Merasa Hisyam sedang menatapnya, Alia bergegas keluar, akan lebih sulit untuk pergi jika ia terus menatap mata elang milik Hisyam, mata yang dulu membuat dirinya menciut, kini malah menjadi pengobat rindu setelah hampir sebulan mereka tidak bertemu.


Untuk sepersekian detik mereka saling bertatapan, Alia lekas mengalihkan pandangannya, tak ingin terjerumus terlalu jauh dalam tatapan Hisyam yang bagai magnet menarik dirinya kedalam permainan yang tak berujung.


"Ehm!" Renata berdehem, "Alia, terimakasih atas kunjunganmu, biar ku antarkan...." Ucap Renata lembut.


Dengan jengah wanita itu mencekal lengan Alia dan membawanya keluar dari ruang perawatan Ozan.


"Alia!"


Renata melepas cengkramannya dan menyudutkan tubuh mungil Alia ke tembok, ekspresinya pun seketika berubah mengerikan, rupanya kelembutan yang di tunjukkan tadi hanyalah pura-pura.


"Kamu lihat, kan, tadi, apa yang terjadi?"


Alia hanya terdiam sambil menganggukkan kepalanya.


"Oya, aku punya berita bagus untukmu , aku, dan Hisyam akan kembali bersama, so, aku harap kamu tidak akan merusak hubungan kami kali ini dan menjauhlah dari keluargaku, faham!"


Alia lagi-lagi hanya bisa menunduk dan menganggukkan kepalanya.


Kata-kata Renata terlalu menyakitkan baginya, di tambah lagi bayangan adegan intim Renata bersama suaminya tadi masih membuatnya shock hingga tak dapat menahan air matannya kali ini.


Tak berselang lama Hisyam ikut keluar, "Renata...." Panggil Hisyam tanpa ekspresi.


"Hey! Um.... you need something?" Renata gugup, takut Hisyam mendengar kata-kata buruknya pada mantan pengasuhnya itu.


"We need to talk?"


"O-okay..." Jawab Renata takut.


"Aku tunggu di mobil!" Ucap Hisyam datar, seolah tak menyadari kehadiran Alia di sana.


"Aku akan menyusul!" Renata kegirangan mendapat ajakan Hisyam di depan Alia.


Dan dengan kasar wanita bertubuh semampai itu mendorong Alia hingga tersungkur ke lantai.