
Setelah Hisyan berhasil membujuk Alia dengan kata-kata yang di tiru dari mamanya, akhirnya Alia menyerah dan meninggalkan area pemakaman dengan langkah berat dan gontai.
Hisyam membiarkan Alia melangkah lebih dulu di hadapannya, sedang dirinya dan Davis hanya mengekori dari belakang.
Tak ada suara atau pun isakan yang terdengar dari bibir wanita itu, meski begitu terlihat jelas Alia tak henti-hentinya menyeka sudut pipinya yang basah akibat rintik hujan yang menyatu dengan air matanya.
Setelah bebarapa menit berjalan tibalah mereka di halaman rumah, seketika itu juga sesak kembali menyerang perasaan Alia, bayangan papanya seakan datang menyambutnya dan menuntunnya hingga ke dalam rumah.
Alia tau itu hanyalah ilusi yang di ciptakan oleh perasaannya sendiri, meski begitu ia tetap mengedarkan pandangannya berharap sosok itu benar-benar nyata.
"Alia! Kamu dari mana saja, nak? Kami sangat mengkhawatirkan dirimu"
Alia terkesiap saat buk Retno serta merta memeluk tubuhnya, wanita paruh baya itu menangis memeluknya, tak ketinggalan nyonya Farida pun ikut mengusap pucuk kepala menantunya dengan lembut.
"Kamu harus ikhlas sayang, kamu akan sakit jika terus seperti ini" Pesan nyonya Farida pada menantunya.
"Nyonya Farida benar, masuklah ke kamarmu dan keringkan tubuhmu, kamu akan sakit jika terus seperti ini, nyonya Farida juga tidak akan tenang untuk pulang, karna mengkhawatirkan dirimu"
Buk Retno mencari alasan, ia tau jika Alia tidak akan tega dengan alasan yang di berinya, apalagi jika harus menyusahkan orang lain.
"Nyonya mau pulang besok? Tapi Alia...." Alia menggantung kata katanya, ia merasa berat jika harus meninggalkan mama dan adiknya secepat itu.
"Mama paham apa yang ada di pikiranmu, kalian bisa menyusul jika sudah siap, mama memutuskan pulang besok dengan Davis karna kasihan pada Ozan, dia sudah terlalu lama ditinggal, apa lagi bik Ina, dia pasti sangat kerepotan mengurus Ozan yang begitu aktif"
Jelas nyonya Farida sembari menuntun menantu kesayangannya ke dalam kamar.
Lama berbincang-bincang, satu persatu panghuni rumah meminta izin untuk masuk untuk tidur, Amel masuk ke kamar bersama mamanya karna kamarnya di gunakan oleh nyonya Farida.
Tinggallah Hisyam beserta Asisten Davis yang bertahan di ruang tamu karna Alia juga sudah tak keluar dari kamarnya sejak tadi.
"Ehm.... kenapa tidak masuk ke kamarmu?"
"Ck.... nanti saja" Jawab Hisyam singkat.
"Apa itu artinya kamu lebih memilih di sini bersamaku daripada harus tidur di kamar bersama istrimu?"
Tanya Davis sengaja ingin memancing sahabatnya.
"Hhmm.... andaikan bisa, tapi apa yang akan mereka pikirkan jika melihatku tidur di sini bersamamu" Ungkap Hisyam prustasi.
"Tentu saja mereka akan berpikir menantunya seorang homsex...."
"Sial kamu! Aku itu normal, yang harus di pertanyakan itu seharusnya kamu!"
Sindir Hisyam sembari bangkit dan meninggalkan Davis seorang diri.
Hisyam membuka pintu kamar sangat perlahan agar tak mengeluarkan suara, mungkin dengan berjinjit penghuni kamar tak akan terganggu dengan kehadirannya.
"Huft.... untunglah Assyifa ikut tidur di kamar ini, jadi posisi kami akan di batasi olehnya"
Gumam Hisyam seraya, mengambil posisi di samping Assyifa yang tertidur pulas dalam dekapan mamanya.
Lama mengamati wajah dua wanita yang nampak seiras itu membuatnya mengangguk setuju akan sesuatu.
"Jadi Assyifa mewarisi wajah mamanya, semoga saja dia tak sepolos gadis indo itu"
Umpat Hisyam sambil merebahkan tubuhnya di samping Assyifa.
Baru saja ia memejamkan matanya, tiba-tiba tangan hangat Alia menjulur melampaui tubuh Assyifa dan melingkarkan tangannya di lengan suaminya.
"What the.... apa dia berusaha menggodaku"
Pikir Hisyam dan dengan perlahan ia melerai rangkulan istrinya.
"Apa yang terjadi padanya, apa dia sakit?"
Hisyam terlonjak mengitari ranjang setelah merasakan tangan Alia sedang menggigil kedinginan.
Hisyam mengulurkan tangannya menyentuh kening Alia yang terasa hangat.
Bergegas ia menghampiri lemari dua pintu di kamar itu, mencari sesuatu untuk menghangatkan tubuh istrinya.
"Di mana ia menyimpannya..."
Gumam Hisyam saat tak menemukan kain tebal maupun selimut cadangan di lemari itu.
Sebentar ke pintu, lalu kembali lagi menghampiri istrinya yang masih menggigil.
Andai selama ini ia bersikap manis pada mertua dan iparnya, pasti ia akan meminta bantuan pada gadis itu tapi gengsinya terlalu tinggi hingga ia harus mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan pada keluarga istrinya.
Hisyam melabuhkan bokongnya tepat di samping Alia, dengan cepat menyeka keringat yang bercucuran di wajah pucat itu.
Masih tak ada respon, ia terlihat begitu prustasi saat Alia semakin menggigil, hingga dengan ragu Hisyam ikut membaringkan tubuhnya di samping Alia lalu memeluk tubuh wanita yang telah sah menjadi istrinya itu dengan erat.
Tunggu, dia kan istriku sekarang, meski pernikahan ini terjadi tanpa ada perasaan cinta, tapi dia juga tak mengajukan syarat apapun termasuk untuk tak menyentuhnya, lalu, apa masalahnya?"
Batin Hisyam, kemudian mengeratkan pelukannya, ia mencoba merilekskan tubuhnya yang terasa kaku saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Alia yang lembut.
Selama beberapa jam mereka masih dalam posisi yang sama hingga Hisyam merasa suhu tubuh Alia sudah tak sehangat tadi.
Namun entah kenapa kali ini suhu tubuhnya lah yang semakin meningkat di sertai degupan jantungnya yang tak beraturan.
Ada sesuatu yang bergejolak di dalam sana, hingga ia seketika melepaskan rangkulannya dari tubuh hangat Alia,
Dengan perlahan Hisyam beranjak kembali mengambil posisi di samping Assyifa.
"Argh...! Apa yang ku pikirkan, masa iya gadis belia sepertinya di embat juga! Hah... terlalu lama menganggur membuat otakku semakin nggak connect...."
Umpatnya pada diri sendiri, meski Alia berstatus ibu tapi menurutnya wanita yang telah di nikahinya itu masih sangat muda dan tentu saja tak sesuai dengan seleranya.
Bukan hanya fisik, Alia juga kadang bertingkah kekanak kanakan sehingga ia merasa panggilan gadis indo itu lebih tepat dengan karakter Alia yang energik.
-
Adzan subuh mulai berkumandang, dengan berat Alia menyeret langkahnya menuju kamar mandi.
Lama memperhatikan air yang mengalir ke dalam bak, namun masih tak berniat untuk menggunakannya.
Mungkin efek dari demam semalam, membuat tubuh Alia terasa lemas, hingga meremang saat melihat air.
Setelah bebarapa menit akhirnya Alia memutuskan untuk hanya mengambil wudhu dan kembali ke dalam kamarnya.
Alia menghampiri tempat tidur, berniat meminta Hisyam menjadi imam dalam sholat subuh pertama mereka sebagai suami istri.
Namun langkahnya mulai ragu saat terdengar dengkuran halus dari Hisyam, membuatnya tak tega untuk mengusik tidur lelap suaminya yang hanya bisa di dapatnya dari obat yang di konsumsinya.
Alia mengurungkan niatnya, dan mulai melaksanakan sholat dua rakaatnya dengan khusyu seorang diri seperti hari-hari sebelumnya.
Sedangkan Hisyam, sebenarnya pria itu sudah terbangun sejak tadi, namun tetap memilih berbaring di samping Assyifa yang masih terlelap sambil memeluk dirinya dengan erat.
Selain malu melihat kepatuhan istrinya menjalankan syariat islam, ia juga merasa nyaman memandangi wajah tenang Alia dalam balutan mukena renda berwarna coklat susu melekat di tubuh mungil sang istri.
Bukannya tak pernah melihat wanita dalam balutan sopan seperti itu, tapi hidup dengan wanita yang menurutnya patuh pada ajaran islam seperti Alia adalah hal yang baru baginya.
Jangankan sholat, mengarahkan Renata untuk lebih sopan dalam berpakaian saja tak pernah di lakukannya, bukakannya dia tipe suami yang takut istri, tapi ia sendiri telah tersesat dan lalai dengan kewajibanya.
Sebagai seorang suami ia seharusnya menuntun istrinya ke jalan yang lebih baik bukannya ikut hanyut dan tersesat kedalam dunia bebas Renata.
Hisyam menghela napas panjang, ia kembali teringat bagaimana hidupannya berubah seratus delapan puluh derajat setelah mengenal Renata, dan bahkan ia lupa kapan terakhir kali ia melaksanakan salat.
"Tuan sudah bangun?"
Ucapan Alia serta merta membuyarkan lamunan Hisyam yang kembali berselancar ke masa lalu.
"Uh.... iya, ada apa?" Hisyam terkesiap mendengar sapaan Alia.
"Um.... nyonya Farida dan tuan Davis akan pulang hari ini, bukankah seharusnya kita menemui mereka sebelum mereka pulang?"
Tanya Alia sembari merapikan alat salatnya di sandaran kursi.
"Tentu saja kita akan menemui mereka...." Jawab Hisyam singkat seraya mencoba lepas dari pelukan Assyifa.
"Maaf, telah membawa Assyifa kesini tanpa memberi tahu tuan terlebih dahulu, tuan pasti tidak nyaman dengan tempat tidur yang sempit ini"
Ucap Alia menyesal, apalagi setelah melihat Hisyam berusaha melepaskan diri dari pelukan putrinya.
"Oh, itu... lupakan saja, aku tahu kamu masih rindu pada putrimu, jadi aku bisa memahaminya...
don't worry, i'm fine"
Jawab Hisyam berusaha bersikap santai, meski sebenarnya ia merasa malu jika Alia tau tentang perbuatannya semalam.
Mendengar tanggapan Hisyam membuatnya mengangguk ragu, karna sepertinya nyonya Farida belum membicarakan soal Assyifa yang akan ikut bersama mereka nantinya.
"Ada apa, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?"
"Um, bukan apa-apa.... aku akan menyiapkan sarapan" Jawab Alia kemudian.
Dengan gaya cerianya ia berlalu meninggalkan kamar mereka
"Huft.... syukurlah, sepertinya gadis indo itu tak sadar dengan perlakuanku semalam"
Hisyam merasa sedikit lega, melihat reaksi Alia yang biasa-biasa saja, itu artinya Alia banar-benar tak sadar apa yang terjadi padanya semalam.