
Tegang. Itulah yang terjadi diruang kepala dokter Arya saat ini.
Dean menatap lekat dokter Arya dengan tatapan tajamnya, matanya menelisik setiap inch tubuh dokter Arya, seorang ingin memakannya bulat-bulat.
Puk
Tepukan dibahu Dean menyadari ia pada kondisinya saat ini. Semmy duduk disamping Dean, mencoba mencairkan suasana yang menegang.
"maaf dokter Arya, bisakah kami bertemu dengan putri bapak sekarang?, nona Clara, ia dokter kandungan disini bukan?." tak jauh berbeda, tatapan Semmy juga sama halnya dengan Dean, mengintimidasi.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi, kenapa dua orang penguasa ini mencari Dira?, apa yang sudah Dira lakukan dengan mereka?!, apakah Dira membuat kesalahan pada tuan Dean?. batin Arya.
Rasa penasaran yang ada di hati dokter Arya ia tepis jauh-jauh, sekarang bukan waktunya untuk penasaran. Ia akan bertanya pada putrinya Clara nanti.
"maaf tuan, saat ini putri saya sedang libur, ia saat ini tengah mengunjungi mamahnya di Bandung, kemungkinan besok ia akan kembali." jelas dokter Arya.
"hah.. baiklah, jika putri anda kembali segera hubungi kami." Dean dan juga Semmy beranjak dari duduknya.
"kalau begitu kami permisi tuan, maaf telah mengganggu waktu anda." pamit Semmy sebelum menghilang dari balik pintu.
🚗
🚗
🚗
"ck, kenapa susah sekali mencari wanita itu, ia seperti ditelan bumi saja, tiba-tiba menghilang tanpa ada tanda-tanda kehidupan."gerutu Dean.
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil menuju perusahaan DWill Company.
"berhenti Sem.." seru Dean tiba-tiba.
Semmy mendadak menginjak rem pada mobilnya, sehingga membuat Dean terlempar kedepan, untung saja ia mengenakan sabuk pengaman, jadi hanya dahinya saja yang terkatuk kursi kemudi, coba kalo tidak.
"kau bisa lebih hati-hati tidak?!." Dean menendang kursi kemudi yang diduduki Semmy.
"maaf tuan."
"dasar kau ini." gerutu Dean.
"maaf tuan, kita kenapa berhenti disini?, perusahaan masih lumayan jauh tuan." Semmy membuang pandangannya keluar mobil, melihat kondisi sekitar.
"a iya, aku ingin sosis bakar itu, kau turunlah, tolong belikan untukku." Dean memandang lapar pada pedagang kaki lima yang berjejer dipinggir jalan, bahkan air liurnya hampir menetes melihat sebuah sosis bakar yang baru saja tersajikan.
"tapi tuan.."
"Sem..." suara rendah Dean penuh dengan penekanan, yang artinya ia tidak ingin dibantah atau pun ditolak apapun alasannya.
❄️
❄️
❄️
Bandung
Dira dan Clara baru saja sampai dirumah, setelah seharian ini mereka berbelanja beberapa peralatan untuk Dira memulai usahanya.
"capek.." keluh Clara.
"gitu aja capek." cibir Dira. Ia berjalan menuju dapur, mengambil minuman untuknya dan juga Clara.
"nih minum." disodorkannya minuman itu pada Clara.
"thanks." dengan rakus Clara meneguk habis minuman itu. "akh.. seger.."
"Dir, kamu gak takut apa kalau bapak dari bayi dalam perut kamu itu nemuin kamu?. secara nih ya, kamu udah cairin cek itu, otomatis dia akan tau keberadaan kamu." Clara meletakkan gelasnya yang sudah kosong keatas meja.
"kenapa harus takut?, aku kan minta tolong sama kamu buat cairin cek itu di Jakarta, jadi gak mungkinlah dia bisa nemuin aku. Lagian nih ya, dia juga gak mungkin nyariin aku, aku kan udah dibayar, buat apa dia nyariin aku, kita itu gak ada hubungan apa-apa kali. Kenal juga kagak." papar Dira panjang lebar.
"tapi beneran deh, aku tuh penasaran sama bapak dari bayimu itu. Orangnya ganteng gak sih?, atau jangan-jangan dia udah tua?, iuwwh.. hiii.." Clara bergidik ngeri dengan asumsinya sendiri.
Dira mengangkat kedua bahunya acuh. "yang aku lihat waktu itu, dia masih muda, aku gak terlalu memperhatikannya, yang aku tau nama orang suruhannya..."
"siapa?." jiwa kepo Clara meronta-ronta.
"orang itu memanggilnya Sem.. Semmy kayanya.." Dira mencoba mengingat-ingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu.
"APA?!!. Se Semmy?." pekik Clara.
"iya, Semmy.." yakin Dira.
"jika benar orang itu tuan Semmy, berati... gawat.. masalah masalah..." gumam Clara.
"tapi tunggu dulu, tuan Dean bukanlah orang yang suka bermain wanita, bahkan setahuku ia sangat menjunjung tinggi harga diri seorang wanita. Apakah ini Semmy yang berbeda?." Clara masih asyik dengan pikirannya sendiri.
"Cla, kamu kenapa sih kok malah ngedumel gak jelas begitu.. udahlah gak usah dipikirin, lagian juga orang itu gak mungkin nyariin aku."
"mending sekarang kita ke balai desa aja, sebentar lagi pesanan kita datang kayaknya." Dira menarik tangan Clara pelan. Menyeretnya keluar dari rumah menuju balai desa."
🖤
like Kaka 😘