
Di ruangan yang lain, dua pria dewasa dengan wajah penuh ambisi sedang bersitatap mencari kelemahan lawannya satu sama lain.
Hisyam yang sedari tadi muak dengan wajah sok lugu pria di hadapannya kini memulai pembicaraan tanpa basa basi.
"So, tell me, what do you want?"
"Hah....! aku selalu menunggu hari baik ini, hari di mana aku bisa membicarakan bisnis dengan seorang pebisnis handal sepertimu"
Sanjungan Mr. Lee terdengar sindiran yang mengandung niat yang tersembunyi di pendengaran Hisyam.
"Tak perlu berbasa basi, katakan! Apa yang kamu inginkan, aku tak punya waktu untuk mendengar ocehanmu!"
"Hisyam... Hisyam.... you know what? Di antara skills yang kamu punya, aku selalu mengagumimu di bisnis perdagangan and i think bisnis ini akan menguntungkan jika kita bekerja sama"
"Apa maksudmu?"
"You know what i mean, dan aku pikir Asisten Davis cukup handal untuk mencari tahu, bisnis seperti apa yang ku jalankan"
Mr. Lee melirik tajam Asisten Davis yang sedang berdiri di samping bossnya, ia tahu tak ada gunanya mengelak, karna Hisyam dan Davis cukup pintar, mereka akan mencari tahu sekecil apapun kelemahan yang dia miliki sebelum menjalin kesepakatan bisnis dengannya.
"Jadi maksudmu, aku akan membantumu dalam bisnis Arms smuggling ilegalmu itu!"
"Um... lebih tepatnya bisnis yang saling menguntungkan, dan kata-kata "membantu" itu kurang cocok, aku tahu namamu terkenal bersih di bidang ekspor jadi aku berpikir..."
"BRUUKK!! Persetan dengan bisnis kotormu itu!"
Hisyam menggebrak meja di hadapannya hingga Davis tercengang dengan aksi spontan tuannya, sedang Mr. Lee hanya tersenyum puas bisa memancing emosi Hisyam tepat sasaran.
Hisyam menyondongkan wajahnya ke arah Mr. Lee sedang tangannya mencengkram kuat meja di hadapannya.
"Lakukan apapun yang kamu inginkan, tapi aku sama sekali tak tertarik dengan tawaranmu itu!"
Erang Hisyam sebelum bangkit menghampiri pintu.
"How about this! Apa kamu sama sekali tidak tertarik dengan berita scandal seorang pebisnis handal yang menyukai gadis adiknya sendiri...
Ah... sayang sekali, padahal aku berencana untuk menjadikannya tranding topic di majalah bisnis"
Ucapan Mr. Lee sukses membuat langkah Hisyam terhenti, dan perlahan menghampiri pria licik yang baru saja mengeluarkan beberapa lembar foto dari saku jasnya.
Hisyam kembali mengepalkan tangannya, setelah melihat beberapa foto yang berserakan diatas meja, menampilkan dirinya yang sedang menggendong Alia ala bridal style, sedang foto lainnya memperlihatkan kedekatan Hamish dengan wanita yang sama.
Seketika rahangnya mulai mengeras sehingga menampilkan garis urat menghiasi wajah sangarnya,
Kini Hisyam terlihat sangat murka hingga menarik kasar kerah jas yang di kenakan
Mr. Lee dan menyudutkannya ke sudut tembok tanpa ampun, bahkan Davis pun tak bisa menghentikan pukulan pertama Hisyam yang tiba-tiba mendarat di sudut bibir Mr. Lee.
"Kamu pikir mengancamku dengan trick kuno seperti ini akan mengubah keputusanku? Kamu salah besar!"
Pekikan Hisyam memekakkan telinga, namun Mr. Lee tetap santai dan semakin tertarik dengan permainan yang sudah ia rencanakan.
Davis merasa aneh dengan ekspresi yang di tunjukkan pria itu, hingga sekali lagi ia maju untuk melerai dan menenangkan bos besarnya.
Mr. Lee menyeka sudut bibirnya yang terdapat cairan merah di sana, sambil berjalan menghampiri Hisyam pria itu terus tersenyum licik, merasa dirinya telah berhasil mengecoh dua pria yang sedang tersulut emosi di hadapannya.
"Sebenarnya aku hanya ingin memastikan apa keputusanmu sudah tak bisa di ganggu gugat lagi..."
Ujar Mr.Lee santai sambil merapikan jasnya yang kusut akibat ulah Hisyam tadi.
"Uh... aku ingin menasehatimu satu hal, sekarang ini wanita itu sedang bersama Michael, mereka terlihat sangat akrab dan sepertinya Micheal sangat tertarik dengan pengasuhmu itu, jadi ku harap kamu berhati hati dengannya, karna wanita itu tak sepolos yang kamu tahu"
Ucap Mr. Lee dengan senyum menyeringai, walau pria itu memunggunginya, tapi Hisyam dan Davis bisa merasakan ada sesuatu hal yang aneh sedang terjadi.
Hisyam dan Davis saling menatap sesaat setelah pintu tertutup, seakan mereka memikirkan hal yang sama, keduanya pun bergegas mengejar Mr. Lee yang telah hilang dari pandangannya namun usahanya sia-sia karna Mr. Lee telah masuk ke dalam lift.
"Kerahkan semua staf untuk mencari keberadaan gadis indo itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya!"
Perintah Hisyam tegas, seraya berlari menuju ruang kamera pengawas.
-
Sebelumnya.
Melihat keadaan Sarah yang memprihatinkan,
Alia pun menawarkan diri mengantarkan wanita setengah sadar itu ke kamarnya.
Dengan susah payah Alia memapah tubuh sexy semampai Sarah hingga ke tempat tidurnya tapi wanita itu malah kembali bangkit dan menawarkan minuman pada Alia.
"Duduklah selagi aku ke kamar mandi, dan kalau ingin cemilan kamu bisa mencarinya sendiri"
Ucap Sarah dan berlalu meninggalkan Alia sendiri.
Alia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang kosong itu, melihat tak ada siapapun selain Sarah dan dirinya di kamar itu, ia pun merasa lega berpikir malam ini tuan Lee akan menginap di kamar istri pertamanya dan tentunya Micheal pun memiliki kesibukannya sendiri.
KRUCK.... KRUCKK...
Awalnya ia berpikir jus yang di minumnya bersifat asam, mengakibatkan asam lambungnya naik apalagi dari tadi siang dirinya tak pernah menyantap makanan sama sekali.
"Ah... maag ku pasti kambuh, sebaiknya aku tak meminum jus ini, dan mencari cemilan seperti yang di katakan Sarah"
Pikir Alia, lalu meletakkan jus pemberian Sarah dan....
PRAKK....!
Gelas berisi jus seketika pecah karna tak tahan dengan rasa pusingnya dan penglihatannya pun semakin memburam.
"Apa kamu baik-baik saja? Kamu tidak terlihat sehat"
Sarah baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Alia sedang bersandar di sudut ruangan.
Melihat Alia mulai menunjukkan reaksi hingga berulang kali menguap dan mengerjapkan matanya, membuat Sarah seketika merasa bersalah.
"Jangan khawatir, aku hanya sedikit pusing dan mengantuk, mungkin maag ku kambuh, sebaiknya aku kembali ke pesta saja, tuan Hisyam akan sangat marah jika tak menemukanku di sana"
Tutur Alia sambil berjalan lunglai menghampiri pintu tanpa menyadari seorang pria yang tadi masuk saat dirinya lengah sedang menatap penuh gairah ke arahnya.
Belum sempat memutar handle sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang dengan lembut.
"Don't be in a hurry baby... kita bahkan belum memulai pestanya"
Bisik Mike di telinga Alia dan seketika membuat pengasuh itu berbalik menjauh dari pria yang selalu membuatnya bergidik ngeri.
"Alia, i am so sorry, aku tak bermaksud untuk menjebakmu, aku takut dan tak punya pilihan lain"
Ungkap Sarah panik, menyesal telah menjebak Alia dengan membubuhi obat yang di berikan suaminya ke dalam jus yang di berikan pada Alia.
"Apa semua keluh kesah yang kamu tunjukkan di pesta hari ini hanyalah tipuan ? Atau jangan-jangan minuman tadi juga..."
Alia menjeda kata-katanya saat merasa tubuhnya semakin lemah hingga dirinya terjatuh ke lantai.
"Jadi ini dunia yang di maksud tuan Hisyam? Dunia dimana uang bisa merubah siapapun menjadi manusia yang tak berperikemanusiaan"
Batin Alia, meski kesadarannya belum sepenuhnya hilang tetapi tubuhnya benar-benar tak bisa di ajak kompromi, hingga ia hanya bisa mendengar dan melihat dengan samar Mike sedang menggendong tubuhnya dan meletakkannya di tempat tidur.
"Tu..tuan... aku mohon biarkan aku pergi"
Alia berusaha memohon seraya menggeser tubuhnya yang semakin lemah, namun bukan belas kasihan yang di dapatnya, pria itu malah menariknya kasar dan menurunkan gaun yang di kenakannya hingga memperlihatkan pundaknya yang putih.
Alia tarus meronta dan berusaha agar tak kehilalangan kesedarannya, namun kekuatannya tak mampu mengimbangi tubuh berotot Mike yang telah di kuasai nafsu dan ambisi.
"What are you doing! This is not the deal, bukankah kita hanya akan mengambil beberapa foto dan kamu berjanji tak akan menyentuhnya!"
Jerit Sarah sambil menarik Mike yang mulai mencumbui Alia hingga meninggalkan banyak bekas merah di leher putih pengasuh itu.
"Sial....! Don't be stupid Sarah! Kamu pikir aku dan tuan Lee akan melewatkan kesempatan ini"
Erang Mike, sambil menghentak tangan Sarah dengan kasar dan kembali menghampiri Alia sambil melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Kalian memang monster!" Pekik Sarah seraya mencakar bahu Mike yang sudah bertelanjang dada.
"What the hell are you doing...! Bruukk!"
Mike melayangkan tinjunya ke wajah Sarah hingga membuat wanita itu tersungkur tak sadarkan diri.
Mike kembali menghampiri Alia yang masih terbaring lunglai, dengan tatapan mengintimidasi pria itu kembali mencumbui Alia dengan rakus.
"Menjauh dariku, dasar iblis bejat ...!"
Ucap Alia dengan nada lemah, seraya mendorong Mike menjauh, tapi tenaganya hanya terasa angin lalu yang tak begitu penting baginya.
Alia terisak sambil menitikkan air mata berharap Mike bisa tersentuh dan menyadari kesalahannya, namun apa yang terjadi, hal itu semakin memicu hasrat lelakinya.
Mike yang sudah semakin bergairah kini menarik dagu lancip Alia, sehingga semakin mengurangi jarak di antara mereka dan tanpa meminta pria itu kembali ******* bibir mungil itu dengan kasar.
"kamu ternyata cukup menarik... kenapa aku tak menyadarinya selama ini"
Erang Mike, kini tangannya beralih mengelus kaki Alia hingga gaun yang di kenakannya sedikit terangkat dan memperlihatkan paha mulus pengasuh itu.
Namun pada saat pria itu mulai meresapi aksinya, tiba-tiba pintu kamar itu di dobrak, tangan kekar Hisyam kini mencengkram bahunya dan melemparnya pada asisten Davis yang sudah siap dengan pukulannya.
Davis memegangi Mike membiarkan bossnya terus menghatam pria itu tanpa ampun, hingga akhirnya ia tersadar saat mendengar isak tangis Alia yang terdengar pilu.
Pria itu serta merta menghentikan pukulannya dan segera menghampiri Alia yang terlihat mengenaskan.
Hisyam menatap pilu wanita yang sedang terbaring lemas di hadapannya, dadanya yang sedikit terdedah serta gaun bagian bawahnya pun terkoyak membuatnya segera menutupi tubuh alia dengan selimut dan mendekapnya layaknya seorang ayah yang menenangkan putrinya.
Alia terus terisak dalam dekapan Hisyam, seharusnya ia merasa lega bisa terlepas dari cengkraman Mike, tapi ketakutannya semakin merasuki pikirannya.
Wanita itu merinding, bulir-bulir air matanya tak bisa di bendung lagi saat Hisyam semakin mengeratkan rangkulannya hingga ia terlelap dalam bayang-bayang ketakutan.