Single Parents

Single Parents
Sidang



Matahari pagi nampak bersinar begitu terangnya, mengusir awan hitam yang semalaman menguasai bumi pertiwi.


Suara kicau burung pun terdengar merdu ditelinga, semua orang pasti semangat untuk memulai aktivitasnya pagi ini.


Terlihat masih ada sisa tetes air hujan disela-sela dedaunan.


Seorang pria paruh baya baru saja sampai ditempat kerjanya. Ia meletakkan tas kerjanya diatas meja. Beralih membuka lemari khusus disana dan mengambil jas putih kebanggaannya.


Ia baru saja akan memulai memeriksa berkas-berkas pasien yang akan melakukan jadwal operasi hari ini, ketika dua orang pria yang sangat berpengaruh itu masuk kedalam ruangannya.


"tuan.." pria paruh baya itu terlonjak kaget, ia dengan sigap langsung berdiri dan sedikit membungkukkan badannya, memberi hormat.


"selamat datang tuan, suatu kehormatan anda pagi-pagi datang berkunjung kemari." pria paruh baya itu melangkah mendekat, mempersilahkannya duduk di sofa yang ada diruangan itu.


"dokter Arya.." seru Dean sang pemilik rumah sakit ternama dan terbesar dikota itu.


"iya tuan.."


"duduklah, saya hanya ingin mengobrol sebentar dengan anda." Dean mempersilahkan dokter Arya sekaligus dokter pribadi keluarga Wilson itu duduk dihadapannya. Sedangkan sang asisten Semmy?, ia dengan setia berdiri tegap di belakang sang tuan muda.


Semenjak vonis yang dijatuhkan oleh dokter Arya, couvade syndrom, Dean langsung memeriksakan dirinya kerumah sakit, dan jawaban dari pihak medis tak jauh beda dengan yang dokter Arya paparkan. Itu semua sukses membuat kedua orang tua Dean menekan dirinya untuk mengaku dengan wanita mana ia melakukannya.


Sampai detik ini, Dean masih enggan untuk memberitahukannya pada orang tuanya, pasalnya ia ingin menemukan wanita itu dulu.


Mual muntah yang Dean alami saat ini bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Makan yang ia konsumsi akhir-akhir ini juga aneh-aneh. Seperti siomay, batagor, bahkan bakso bakar, parahnya lagi, ia mengingatkan makanan itu dari pedagang kaki lima yang ada dipinggir jalan.


iuwhh.. kan gak higenis. begitulah kira-kira pemikiran holang kaya..


"tuan muda, anda berkunjung kemari kenapa tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu?, kan kami bisa mempersiapkan semuanya terlebih dahulu, untuk menyambut kedatangan anda." ujar dokter Arya sopan.


"sudah berapa lama anda bekerja di keluarga Wilson tuan?." Dean sedikit mencecap minuman yang telah disiapkan untuknya.


"cukup lama tuan, bahkan mendiang ayah saya dulu sudah mengabdi pada keluarga anda tuan."


kenapa tuan Dean bertanya seperti ini?, duh.. perasaanku jadi tidak enak sekarang. batin dokter Arya.


"saya hanya ingin bertanya pada anda tuan Arya, jadi... tolong jawab dengan jujur." tatapan Dean saat ini, sungguh sangatlah menyeramkan bagi siapapun juga yang melihatnya


"iya tuan.."


"apa anda mengenal wanita yang bernama Nadira Giovani?."


deg..


Nadira Giovani?, Dira kah?. batin dokter Arya.


"maaf tuan."


"ibunya beberapa bulan lalu meninggalkan dirumah sakit ini, dan sebelum itu beliau mendapatkan perawatan medis yang cukup lama disini, anda sendiri bahkan ikut terjun untuk memeriksanya." jelas Dean.


"apa anda yakin tidak mengenalnya?." lagi-lagi tatapan mata Dean seolah ingin memakan bulat-bulat tubuh dokter Arya.


"maaf tuan saya tidak begitu mengenalnya, tapi anak saya sepertinya lebih mengenalnya." jujur dokter Arya.


maafkan papa nak, papa tidak bisa menjawab pertanyaan dari tuan Dean. Tapi, apa mungkin kehamilan Dira itu.. ah tidak tidak, saya tidak boleh berfikiran yang bukan-bukan, tuan Dean itu bukan laki-laki yang kurang ajar terhadap wanita, jadi tidak mungkin. Batin dokter Arya.


🖤😘🤗