Single Parents

Single Parents
IKHLASKAN KEPERGIANNYA



"Kamu bukan anak kandung mama dan papa, Alia...."


Ucapan buk Retno terdengar pelan dan bergetar, namun Alia dalam diam berusaha untuk tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.


"Tidak! Mama pasti berbohong, mama mengatakan ini karna marah padaku, kan? Aku tahu aku salah dan kumohon hentikan permainan ini"


Alia memohon pada mamanya agar mengakhiri leluconya.


"Mama mengatakan yang sebenarnya, Alia, kamu adalah anak dari tante Ratna, adik kandung mama...."


"Kenapa sekarang, ma? Di saat Alia tak bisa lagi menanyakan yang sebenarnya pada papa! Hiks...." Alia semakin histeris.


"Selama ini mama ingin memberitahumu, tapi, papa melarang, karna takut kamu tak akan sanggup melalui semua penderitaan yang selama ini merundung hidupmu....


Tapi, kali ini mama mengatakan semuanya, karna mama yakin, papa juga menginginkan hal yang sama, hanya saja, ia tak sanggup membuatmu bersedih tapi, ketahuilah kalau kami begitu menyayangimu.


Ungkap Buk Retno dengan linangan air mata.


"Tidak! Ini semua bohong kan, pa, papa tidak bisa meninggalkanku.... papa harus bangun dan mengatakan kalau semua ini bohong...."


Alia kembali mengguncang tubuh papanya, hingga kekuatannya semakin melemah dan seketika terperosok ke lantai.


-


Alia membuka matanya perlahan, ia terbangun dari pingsannya setelah hampir masuk waktu maghrib.


Tak terdengar sedikit pun isakan keluar dari mulut wanita itu, namun wajahnya tampak pucat, dan dari matanya cairan bening tak pernah berhenti membasahi pipinya.


"Hm... syukurlah kamu sudah sadar, mama begitu mengkhawatirkan dirimumu"


Ucap Hisyam yang begitu lega melihat keadaan istrinya, meski tak terlihat di wajah kakunya.


Dalam keadaan seperti itu, tak pernah sekalipun Hisyam meninggalkan Alia, meski hanya memantaunya dari sudut kamar, hal itu di lakukannya agar Alia tak terganggu oleh ocehan Assyifa yang kini dalam pengawasannya.


Di luar, suara tamu yang datang menyampaikan bela sungkawa berangsur hening.


Pintu di ketuk perlahan, nyonya Farida dan buk Retno masuk sekembalinya dari pemakaman.


"Kamu pasti lelah, beristirahatlah, biar ibu yang menjaga Assyifa"


Ucap buk Retno dengan suara serak sembari meraih Assyifa ke dalam dekapannya.


"Maafkan Alia karna belum bisa menjalani kewajibannya sebagai seorang istri, serta menantu yang baik untuk Hisyam dan juga nyonya" Tambah buk Retno lagi.


"Jangan di pikirkan soal itu, kami sangat keterlaluan jika menuntut hal seperti itu sekarang, "


Jawab nyonya Farida sambil mengelus lembut lengan besannya lalu menghampiri menantunya.


"Kamu harus kuat, Alia, kami akan selalu mendukungmu, ingat Assyifa dan Ozan membutuhkan mamanya"


Pesan nyonya Farida seraya mengusap lembut ubun menantunya.


"Take care your wife, she is your responsibility now (jaga istrimu, dia tanggung jawabmu sekarang)"


Pesan nyonya Farida sebelum berlalu meninggalkan kamar pengantin putranya, di susul buk Retno juga Assyifa yang tertidur dalam gendongan neneknya setelah lelah bermain.


Setelah tinggal mereka berdua di dalam kamar, Hisyam bangkit mendekati Alia yang sedang memunggunginya.


Hisyam melabuhkan bokongnya di sisi lain tempat tidur sembari menatap lekat wanita yang sedang menerawang di ranjang pengantin mereka.


Ya, ranjang pengantin bertaburkan bunga mawar itu seharusnya menjadi saksi lembaran baru kehidupan mereka, tapi malah bertukar menjadi musibah yang menyedihkan bagi Alia.


"Istirahatlah.... aku akan keluar mencari angin"


Ucap Hisyam lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Alia seorang diri di kamar pengantin mereka.


"You okay....!"


Tegur Davis yang lebih dulu duduk di teras menikmati suasana malam pedesaan, sementara Hisyam masih mematung di ambang pintu.


"Huft.... ini hari yang melelahkan"


"How is she, she is fine?(bagaimana dia, apa dia baik-baik saja)"


Tanya Davis lagi.


"Dia begitu terpukul, apalagi setelah mengetahui kalau dia bukanlah anak kandung dari buk Retno dan pak Rahman...


Bagaimana bisa gadis indo itu tidak menyadarinya selama ini, aku bahkan bisa merasakannya saat mengetahui ia di paksa menikah di usia semuda itu! Dasar wanita polos!" Hisyam mengumpat


"Wow! Calm down, bro (tenanglah sobat)"


And you know what? mereka memojokkan gadis indo itu saat mengehui tentang video scandal yang melibatkan Alia! Bukankah itu sudah jelas menunjukkan bahwa Alia mendapat perlakuan yang berbeda dari keluarganya!"


Akhirnya Hisyam bisa mengutarakan kekesalan yang di rasakannya sejak pertama kali menginjakkan kaki di keluarga Alia.


Kalau saja ia tak sungkan, dirinya sudah menyerang mertuanya itu dengan kata-kata yang menyakitkan karna mengaitkan sikap buruk ayah kandung Alia dengan wanita yang akan di nikahinya itu.


Begitu pun dengan Amel, adik iparnya itu akan di hukumnya, karna bersikap tak sopan pada Alia yang telah mengorbankan masa remajanya untuk membiayai sekolahnya.


"Wait....!"


Davis memindai wajah sahabatnya yang terlihat begitu kesal.


"What....?"


Kini Hisyam yang menatap heran asisten kepercayaannya itu.


"Kamu kesal dengan sikap mertua dan iparmu atau karna.... tak bisa melewati malam pertamamu layaknya pengantin baru pada umumnya"


Ledek Davis, sambil terkekeh puas, karna berhasil mengerjai sahabatnya itu.


"Berhenti menggodaku kalau tak ingin menyesalinya! Oya, bagaimana dengan masalah hotel, apa sudah selesai?" Wajah Hisyam kembali serius.


"Hm.... citra hotel kita semakin memburuk, tim penyelidik dan paparazi setiap saat memantau, hingga pengunjung menurun dan public mulai berasumsi adanya pelobian ilegal di hotel kita"


Jelas Davis tak kalah serius sembari mengeluarkan sebotol minuman berukuran kecil dari saku jasnya.


"Hey....!"


Protes Davis saat Hisyam merampas botol di tangannya dan meneguknya hingga tandas.


"Whoa.... huft....! Hari ini begitu berat, aku menginginkan lebih banyak lagi"


Hisyam merasa lega setelah meneguk minuman beralkohol milik Davis.


"Are you crazy! (apa kamu sudah gila) Alia akan menganggapmu br*ngs*k jika tak bisa mengendalikan hasratmu di saat seperti ini!"


"Aku ingin mendengar laporan kerjamu dan bagaimana perkembangan tentang pencarian wanita simpanan Mr. Lee itu, bukan menasehatiku seperti ini!


Lagi pula hasrat apa yang kamu maksud! Aku tidak akan tertarik secepat itu, kecuali jika dia menggodaku" Ucap Hisyam dengan sombongnya.


"Seriously! Bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang mengesankanmu....


Are you sure, you won't change your mind? (apa kamu yakin tidak akan berubah pikiran?)"


"Never....!"


Ucap Hisyam acuh sembari bangkit menuju kamar mandi, ia mulai panas dengan godaan sahabatnya.


Entah gerah karna ledekan Davis atau karna efek dari alkohol yang di minumnya tadi, hingga ia tak tahan lagi dan segera berlalu meninggalkan Davis.


Hisyam mengguyur tubuhnya berkali-kali namun rasa gerah yang di rasakannya tak kunjung hilang.


Hisyam menghentikan ritual mandinya dan di situlah ia sadar dirinya tak membawa handuk ataupun baju ganti.


Hisyam akhirnya menyerah dan keluar dari kamar mandi yang menyatu dengan closet juga berdidingkan seng itu.


Seandainya ia sekarang sedang berada di wilayah kekuasaannya, mungkin ia akan berteriak meminta pelayan untuk menyiapkan semua yang di inginkanya


Tapi kali ini situasinya berbeda, sehingga mau tidak mau dirinya harus mengenakan kembali kaos yang tadi di kenakannya, meski hal itu membuatnya tak nyaman tapi tak ada yang bisa ia lakukan.


"Hisyam, kamu dari mana saja, nak? Tadi buk Retno mengetuk kamar kalian berkali-kali, tapi tak ada jawaban...."


"Memangnya ada apa buk Retno mencariku, mom?"


Raut wajah Hisyam menunjukkan ketidak sukaannya pada wanita yang di panggil Alia sebagai mamanya itu.


"Mama tau kamu tak begitu menyukainya, tapi, buk Retno sudah menyiapkan makan malam untuk kita, jadi, jangan mengecewakannya, ingat! Dia mertuamu sekarang"


Nasehat nyonya Farida padanya, membuat Hisyam harus menurut dan menepikan keegoannya demi menjaga perasaan mamanya.


-


Di meja makan, hanya suara piring dan sendok yang saling beradu, tak ada siapa pun yang ingin memulai pembicaraan, semuanya seakan larut dalam pemikiran masing-masing.


"Besok pagi-pagi sekali kami akan bertolak ke bandara" Hisyam membuka pembicaraan.


"Bagaimana dengan Alia dan Assyifa, apa mereka juga akan ikut bersama kalian besok?"


Buk Retno terlihat sedih, baru saja ia kehilangan suaminya, kini ia harus berpisah dengan Alia dan Assyifa, itu artinya hanya mereka berdua yang akan tinggal di gubuk itu.


"Um.... bukan seperti itu, maksud Hisyam, saya dan Asisten Davis saja yang akan ke bandara besok, mereka bertiga akan menyusul setelah keadaan Alia membaik, betul kan, Hisyam?"


Nyonya Farida mengedipkan mata pada putranya, berharap Hisyam bisa mengerti dan mengurungkan niatnya untuk membawa Alia.


"Oh.... saya lega mendengarnya, terima kasih atas pengertian nyonya..."


Baru saja buk Retno selesai dengan kata-katanya, Hisyam pun bangkit dari duduknya.


"Maaf, saya sudah selesai, lanjutkan makanan kalian!"


Lanjut Hisyam datar lalu meninggalkan makanannya begitu saja.


"Apa dia benar-benar tidak mengenalku? Berani beraninya dia mengatur hidupku, apa dia pikir aku sebodoh Alia yang bisa ia kendalikan!"


Umpat Hisyam kesal dan tak sadar bahwa Alia tidak ada di kamar mereka.


Hisyam menghempaskan tubuhnya di atas ranjang lalu memerhatikan kelopak bunga yang berserakan di atas ranjang pengantinya, di saat itulah ia mulai sadar Alia tidak ada di kamar itu.


Hisyam bergegas bangkit menuju ruang dapur di mana anggota keluarganya lainnya berada.


"Alia....!"


Hisyam menggantung kata-katanya saat tak menemukan istrinya di antara keluarga yang lain.


"Ada apa dengan Alia, nak?"


"Alia... dia.... tidak ada di kamar"


Napas hisyam tersekat di tenggorokan, ia mulai berpikir hal buruk telah terjadi pada wanita yang baru di nikahinya siang tadi.


Mendengar kata-kata Hisyam seluruh keluarga pun panik dan mulai mencari Alia di setiap sudut rumah hingga pekarangan.


"Buk Retno!"


Panggil seorang tetangga yang sepertinya baru kembali dari suatu tempat.


"Apa ibu mencari Alia? Saat jalan pulang, saya melihat Alia berjalan ke arah perkuburan, tadinya saya ingin mencegahnya, tapi malam semakin larut dan sepertinya akan turun hujan, jadi saya...."


Belum sempat wanita itu menyudahi kata-katanya, hisyam pun menarik Davis untuk ikut bersamanya.


Setelah beberapa menit perjalanan tibalah mereka di area pemakaman.


Untung Davis sempat ikut untuk mengantarkan jenazah pak Rahman, sehingga tak sulit untuk menemukan makam yang di carinya.


Hisyam menghela napas lega setelah menemukan istrinya sedang meratap di atas gundukan tanah yang sedikit basah akibat hujan yang mulai rintik.


"Ayo kita pulang, malam semakin larut dan hujanpun sebentar lagi akan turun"


Bujuk Hisyam setelah mensejajarkan tubuhnya di samping istrinya.


Terlihat Alia termenung menatap kosong jam tangan yang di belinya dengan uang terakhirnya saat berlibur ke pulau beberapa hari yang lalu.


Belum sempat ia memakaikan hadiah kecil itu ke tangan papanya, pria yang di anggap cinta pertamanya itu sudah lebih dulu menghadap ilahi.


"Kenapa papa terlalu cepat meninggalkan Alia, bukankah papa sudah berjanji untuk selalu menjaga Alia, hiks... hiks...." Lirih Alia.


"Biarkan papamu beristirahat dengan tenang, Alia, ikhlaskan kepergiannya"


"Selama hidupnya papa selalu bekerja keras untuk kami, aku membelikan jam ini karna papa sering lupa waktu saat sedang bekerja untuk menghidupi kami, dan aku bahkan belum sempat memakaikannya, hiks... hiks...."


Alia kembali terisak, merasa dirinya belum bisa membalas kebaikan pria yang di anggap sebagai ayahnya selama ini.


"Kematian datang tanpa batasan usia, entah itu muda, anak balita, maupun yang tua, bila tuhan menghendakinya, maka tidak ada satupun mahluk di dunia ini yang bisa menghindarinya, termasuk aku, kamu, atau siapapun"


Nasehat Hisyam membuat Alia beralih menatap suaminya lamat-lamat, entah itu bisa membantu, tapi kata-kata itulah yang terlintas di pikiran Hisyam saat itu, kata yang keluar dari mulut mamanya di hari pemakaman papanya.


"Ayo kita pulang, Assyifa sedang menunggumu dirumah"


Bujuknya lagi setelah isakan Alia semakin mereda, hingga rasa kesal dan cemas yang di rasakan Hisyam tadi kini hilang sekelip mata.