Single Parents

Single Parents
WELCOME TO INDONESIA.



"Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya, kalau kita akan berbagi mobil dengan penumpang lain!"


Bisik Hisyam dengan nada jengkel, sambil mengibas-ibaskan kerah kemejanya yang sudah basa oleh keringat.


"Ya.... harusnya memang seperti ini tuan, ini bukan mobil pribadi, berarti kita harus berbagi dengan penumpang lain"


Alia menjelaskan dengan sabar, meski merasa malu karna penumpang lain memerhatikan gelagat Hisyam yang mungkin di anggap sombong oleh pandangan orang awam.


"Argh.... yang benar saja... excuse me, bisakah anda menyalakan aircondnya?"


Teriak Hisyam pada sopir yang sedang menyetir sambil menikmati dangdut koplo.


"Maaf, mister bule, tapi ibu di belakang anda akan mabuk jika ase nya di nyalakan....


Dasar cerewet! Hanya bermodal tampang bule, bertingkah layaknya bos!"


Cibir si sopir yang sedang menatapnya lewat spion.


"Hey, sepertinya dia mengatakan hal buruk tentangku"


Bisik Hisyam pada Alia yang sedang bersandar ke jendela dan mencoba untuk memejamkan matanya.


"Apa kamu sedang bercanda! Bagaimana bisa kamu tidur di saat seperti ini!" Protes Hisyam kesal.


"Bisakah tuan berhenti mengeluh, kepalaku sangat sakit dan aku hanya mencoba untuk memejamkan mata, apa itu juga salah!" Rintih Alia sambil memijat keningnya.


"Hm...! Apa kamu sakit?" Hisyam melempar pandangan keluar lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Alia.


"Huft....! Tidak panas...." Hisyam lega lalu menarik kembali tangannya.


"Hish....! Bagaimana tidak sakit jika berada di tempat sempit tanpa pendingin udara seperti ini!


Kalau saja ada asisten Davis di sini, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini, dan kita tak akan terjebak dengan situasi menyebalkan ini!"


Protes Hisyam geram dan tak sadar penumpang lainnya sedang memperhatikannya termasuk si sopir.


"Hey, mister! Kalau anda terlalu kaya, kenapa tidak membayar mobil dan sopir pribadi sendiri, dasar bule sombong!"


Geram si sopir, tak terima mendengar semua keluhan Hisyam.


"Whoa....! Dia benar-benar meremehkanku!"


Hisyam tak kalah emosi hingga ia berusaha mengeluarkan dompet dari saku celananya, namun segera di halang oleh Alia.


Ia tahu apa yang akan terjadi jika Hisyam sampai mengeluarkan segepok uang dan melemparkannya pada sopir itu.


Bahkan hanya dengan kata-kata Hisyam, sopir itu sudah berang menanggapinya.


Bagaimana kalau sampai Hisyam melempar segepok uang itu ke hadapannya, pasti sopir itu akan mengamuk, merasa terhina dengan kelakuan Hisyam yang memang keterlaluan.


-


Berapa menit kemudian....


"Pak, tolong dong pak, jangan turunin kami di sini...."


Alia memohon pada si sopir, agar mengijinkan mereka kembali ke dalam mobil.


"Maaf, ya dek, tapi mister bule kamu itu sudah keterlaluan, dan sebagai sopir saya tidak terima di giniin!"


Terang si sopir seraya menghidupkan kembali mesin mobilnya setelah melempar koper satu-satunya yang mereka bawa.


"Pak! Pak! Tolong dong pak, kami mintaa maaf!"


Alia memohon, dengan berteriak ia berharap pak sopir menghentikan mobilnya yang semakin jauh meninggalkan mereka.


"Untuk apa memohon pada sopir sombong sepertinya!"


Teriak Hisyam sehingga membuat Alia geram dan beralih menatap pria itu dengan kesal.


"Sombong? Sebenarnya siapa yang sombong! Cih.... maling teriak maling" Alia berdecak kesal, namun masih dengan nada rendah.


"What? Don't look at me like that! (Jangan memandangku seperti itu!) memang tak ada kendaraan lain yang lebih layak, kita bisa memesan taxi, just easy, okay(tenang saja oke)"


"Tidak ada taxi di sini, bambang!tunggu saja sampai ada angkot yang lewat!" Alia semakin kesal di buatnya.


"Hey! What did you call me? (kamu memanggilku apa?) Ingat aku masih bos di sini so berbicaralah yang sopan dan.... turunkan pandanganmu!"


Hisyam geram hingga mengancam Alia dengan kekuasaannya.


Sedang Alia yang seketika sadar akan posisinya kini harus meredam amarahnya dengan membelakangi bosnya sambil berguman.


"Halau salah ya salah aja, apa susahnya, sih, minta maaf"


Alia sekali lagi bergumam, namun dengan nada yang sangat rendah, bahkan kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya pun tak bisa mendengarnya.


Berapa menit berlalu, namun tak satu pun kendaraan yang lewat yang bisa mereka tumpangi.


Alia bangkit dari duduknya, dan mulai mengayun langkahnya menyusuri jalanan aspal yang hampir rusak akibat banyaknya truk yang keluar masuk melewati jalur itu.


"Hey! Apa kita akan berjalan kaki?"


Teriak Hisyam saat menyadari Alia sudah berjalan lebih dulu.


"Argh.... apa gadis indo itu sedang mengerjaiku?" Gumam Hisyam sembari melajukan langkahnya.


"Maaf, tapi aku benar-benar lelah dan tak ingin berdebat dengan tuan sekarang"


Jawab Alia lemas, dengan wajah memerah akibat teriknya matahari.


Melihat wajah Alia yang memerah membuat Hisyam sadar akan perlakuan kasarnya, hingga dengan perlahan ia melepas cengkramannya dari lengan Alia.


"Wajahmu memerah, apa kamu yakin kamu baik-baik saja....?


Oya, berapa lama lagi kita akan berjalan, naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu hingga ke kota"


Tanya Hisyam sambil melihat ke kiri dan kanan, berharap ada kendaraan yang bisa mereka tumpangi.


"Tidak, tidak ada kota lagi...." Jawab Alia datar sambil mengelap peluh yang mengguyur lehernya.


"Owh, benarkah..." Jawab Hisyam hampa.


"Baiklah kalau begitu naiklah ke punggungku" Usul Hisyam dan mulai membungkuk di hadapan Alia.


"Aku tidak akan naik! Aku kan bukan anak kecil lagi, jadi berhenti memanggilku anak kecil atau semacamnya!"


Protes Alia, ia kembali mengingat bagai mana Hisyam menamainya dengan sebutan kerdil dan anak kecil saat ia berada di punggung pria itu.


"Kenapa tidak, bukankah kamu pernah naik ke punggungku sebelumnya dan...


Memang benar kamu memiliki seorang anak, tapi kelakuanmu sangat kekanak-kanakan!"


"Asal tuan tau, umurku dua puluh dua tahun sekarang!" Tantang Alia tak mau kalah.


Cih.... kalau aku masih di bawah umur, lalu kenapa dia memintaku untuk menjadi ibu sambung untuk Ozan?" Cibir Alia dalam hati.


"Apa kamu sudah puas mengataiku? Kalau sudah naiklah!" Sindir Hisyam .


"Owh....! Bukannlkah itu.... lihatlah ada kendaraan yang datang!"


Seru Hisyam sambil menunjuk girang kendaraan yang semakin mendekat ke arahnya.


"Apa tuan yakin ingin menaikinya?" Sindir Alia setelah angkot biru itu semakin lama semakin jelas wujudnya.


"Why not, tadi aku hanya tidak suka peraturan si driver yang seenak jidatnya membawa penumpang melebihi kapasitas yang seharusnya"


Jawab Hisyam tak mau kalah, sehingga Alia hanya bisa mengangguk dengan semua peraturan bosnya, yang sebenarnya masih di anggap sepele oleh masyarakat indonesia.


"Hup....! What the hell...."


Hisyam sontak mematung memerhatikan ramainya penumpang di angkot itu, bahkan lebih ramai dari penumpang sebelumnya.


"Welcome to indonesia, Mr. Hisyam Al Jaziri Osmand!"


Bisik Alia pada Hisyam yang mematung di depan pintu angkot, dengan sedikit condong ke samping, bisikan Alia terdengar mengejek.


"Kenapa? Apa tuan tidak akan naik?" Tantang Alia.


"Why not!..."


Hisyam merasa tertantang, bahkan tanpa berpikir lagi pria itu duduk di kursi satu-satunya yang masih kosong di angkot itu.


"Dek, udah nggak muat ya?"


Tanya sang supir yang melihat Alia kebingungan mencari tempat kosong.


"Bisa pak, di pangkuan saya saja, mau ya dek?"


Seorang pria muda menawarkan diri, membuat Hisyam mengalikan tatapan tajamnya ke arah pria itu.


"Dia calon istri saya, jadi dia akan duduk di sini" Suara bariton Hisyam membuat pria muda tadi ciut.


"Benar itu lebih baik, dari pada sama yang belum pasti, mending yang pasti-pasti aja, betul nggak dek?" Si sopir ikut membenarkan usul dari Hisyam.


Sementara Alia yang mendengar pengakuan Hisyam hanya bisa menurut, dan dengan terbata-bata Alia hanya bisa menunduk menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.


Alia bernapas lega, karna postur tubuhnya yang mungil, membuatnya tak harus duduk di pangkuan Hisyam.


Meski tak duduk di pangkuan Hisyam, tapi Alia masih merasa canggung saat Hisyam melingkarkan tangannya di lengan Alia dan menariknya semakin mendekat ke dalam pelukan pria itu.


Bukan tanpa alasan Hisyam melakukan hal itu, bahkan Alia sendiri tau, Hisyam melakukannya untuk melindungi dirinya dari pria muda yang sedari tadi mentapnya penuh ketertarikan.


Berapa menit dalam posisi itu, Alia yang sedari tadi berusaha menahan kantuknya, kini terlelap dalam dekapan Hisyam.


"Maaf, mister, sebenarnya anda ingin di antar kemana?"


Tanya si sopir saat samua penumpang telah sampai di tujuan masing-masing, hingga hanya tinggal Alia dan Hisyam yang berada dalam angkotnya.


"Shhtt...."


Hisyam meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan sang sopir untuk tidak mengganggu tidur Alia yang cukup lena.


"Aduh, mister, berapa lama lagi ini, saya harus cepat mister, kalau tidak penumpang saya di sikat sama angkot lain..."


Protes si sopir lagi, sehingga mau tidak mau Hisyam harus menggunakan bahasa isyarat lagi untuk menunjukkan kalau dia akan membayar tarip berapa pun harga yang sesuai dengan waktunya yang terbuang.


"Oke, mister...." Ucap si sopir sambil menaikkan jempolnya.


"Cinta.... Cinta.... hanya untuk menuggu sampai wanitanya terbangun, si babang bule sampai rela membayar mahal, ck... ck...." Sang sopir bersenandung ria sambil menggelengkan kepalanya.