Single Parents

Single Parents
ADA SEDIKIT KEKECEWAAN.



Alia memperhatikan Asyyifa yang terlihat begitu nyaman bersama Hisyam, dan dari pengamatannya sepertinya bocah gembul itu tak ingin lepas lagi dari ayah sambungnya itu.


Setelah mengalami peristiwa canggung di dalam pesawat tadi, tak pernah sekalipun Alia membuka suara, apalagi setelah Hisyam menawarkan diri untuk menjaga Assyifa, kini dirinya tak punya alasan lagi untuk bersuara meski sekadar basa-basi.


Meski merasa di abaikan tapi Alia merasa bersyukur tak perlu banyak usaha, Assyifa sudah mulai terbiasa dangan kehadiran Hisyam dalam kehidupannya.


Itu bisa dilihat dari cara Assyifa mengekspresikan ketidak senangannya saat ayah sambungnya itu pokus pada hal lain, seperti ber-interaksi pada pramugari yang sedang melayani kebutuhan mereka.


Mungkin karna tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah membuat Assyifa over protektif pada setiap pria yang masuk dalam kehidupannya, termasuk Doni sahabat dari mamanya.


-


Baru beberapa jam yang lalu perjalanan Alia di suguhi pemandangan asri dan udara yang segar, kini suasana kota seakan menyadarkannya akan kehidupan baru yang akan ia hadapi setelah ini.


Sejak turun dari pesawat, Alia yang merasa di abaikan hanya mengikuti langkah panjang Hisyam, seperti anak ayam yang takut di tinggal oleh induknya.


Beberapa menit berjalan, tibalah mereka di foodcourt bandara.


Perut Alia yang memang sedang berdemo, kini semakin memberontak kala mencium aroma hidangan yang tersaji di meja para pelanggan foodcourt tersebut.


Setelah mengembalikan Assyifa pada mamanya, pria itu pun mulai memilih menu makanan yang akan mereka santap.


Seperti biasa Alia hanya akan mengikuti apapun menu yang di pesan oleh Hisyam, selain tak familiar dengan nama makanannya, wanita itu juga takut jika makanan yang di pesannya akan mendapat protes dari Hisyam, dengan alasan ia harus memikirkan kesehatan Ozan.


Sedang Alia menunggu Hisyam memesan makanan, pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang.


Alia menoleh dan mendapati si pramugari cantik tadi sedang tersenyum manis padanya.


"Hay! Masih ingat saya?"


Si pramugari yang membantunya di pesawat tadi tersenyum ramah padanya.


"Tentu saja, dan saya sangat berterima kasih atas bantuan anda di pesawat tadi" Jawab Alia tak kalah ramah.


"Hay, cantik..."


Si pramugari mencubit pipi chuby Assyifa, "Kamu berdua aja, aku boleh gabung, kan?" Sambil menarik kursi lalu meletakkan makanannya di atas meja.


"Um, sebenarnya...."


"Ehm....!"


Kata-kata Alia terpotong saat Hisyam datang dengan beberapa menu makanan di tangannya dan ikut duduk di samping Alia karna kursi lainnya di duduki oleh Assyifa dan pramugari itu..


"Um.... sorry anda siapa, ya?" Tanya si pramugari heran melihat pria asing itu langsung duduk di samping Alia.


Tanpa menjawab pertanyaan wanita di depannya, Hisyam lebih nemilih menatap Alia dengan menautkan kedua alisnya, seolah menuntut penjelasan pada istrinya.


"Sorry, aku pikir kalian hanya berdua di sini, um.... kalau begitu aku akan mencari tempat lain"


Melihat tatapan pria misterius itu pada Alia, membuat pramugari itu yakin bahwa sepasang pria dan wanita di hadapannya memang saling mengenal.


"Tunggu! Kamu tak perlu kemana-mana, kamu bisa bergabung bersama kami di sini"


Cegat Alia hingga pramugari itu kembali meletakkan nampan berisikan makanannya.


"Huft.....!"


Melihat suaminya mendengus kasar membuat Alia tersadar akan tatapan Hisyam padanya.


"Owh, maaf aku hampir lupa.... dia pramugari yang membantuku di pesawat tadi, namanya...."


"Angela! Nama saya Angela, and you are...."


Potong Angela penuh ketertarikan, sambil mengulurkan tangannya tak lupa pula wanita itu menunjukkan senyumannya yang menawan.


"*Hisyam.... and t*hanks for you help, (terima kasih atas bantuanmu)"


Sambut Hisyam dengan nada datar dan jelas terlihat ia tak begitu menyukai keberadaan wanita asing itu.


Suasana makan siang mereka yang agak terlambat tampak harmonis dan ceria, terutama Alia yang merasa gembira dapat mengenal seorang teman baru yang ramah seperti Angela.


Jika tadi Alia yang tak di anggap keberadaannya oleh suami dan anaknya , kali ini Hisyamlah yang merasa tersisihkan dengan kehadiran Angela di antara mereka.


"Syukurlah akhirnya dia bisa bersikap santai lagi setelah kejadian di pesawat tadi"


Batin Hisyam sambil mengukirkan senyuman samar di wajahnya.


Sementara Angela yang diam-diam mencuri pandang ke arah Hisyam, kini semakin terpeaona setelah melihat sosok pria misterius dan kharismatik itu tersenyum, sehingga Angela semakin terdorong ingin mengenal Hisyam lebih detail lagi.


Sambil menatap Hisyam yang tak memperdulikan keberadaannya Angela begitu berharap Alia dan Hisyam bukanlah sepasang kekasih, apalagi suami istri.


Sementara Alia yang mendengar pertanyaan Angela seketika menghentikan aktivitasnya menyuapi Assyifa dan beralih menatap Hisyam yang juga sedang menatapnya.


"Spesial, maksud kamu?"


Alia balik bertanya, namun matanya masih lekat memindai wajah Hisyam, berharap bisa membaca jawaban seperti apa yang di harapkan oleh suaminya.


"Um.... maksud saya, sepasang kekasih atau bahkan lebih?"


Akhirnya Angela dapat menanyakan hal yang sedari tadi bersarang di benaknya.


"Hm.... dengar nona Angela, saya tahu anda telah membantu Alia dan Asyifa, tapi, menanyakan hal pribadi seperti itu tidaklah sopan! jadi saya harap anda tidak...."


"Tuan Hisyam adalah orang yang mempekerjakan saya, dengan kata lain, saya adalah pengasuh dari putranya!" Potong Alia dengan nada tegas.


Menyadari Hisyam tak nyaman dengan pertanyaan Angela, membuat Alia kecewa dan kembali mengingat permintaan Hisyam yang tak ingin pernikahannya di ketahui khalayak ramai, sehingga ia berpikir untuk mengikuti apa yang di inginkan oleh pria itu.


"Benarkah? Astaga! padahal aku sempat berpikir kalau kalian pasangan yang sangat serasi, lho! " Seru Angela lega.


"Akh.... serasi? Apa yang kamu bicarakan"


Alia lagi-lagi berkilah, agar Angela tak curiga dengan hubungan mereka.


BRAAKK....!


Hisyam meletakkan sendoknya dengan kasar kemudian bangkit dari kursinya.


"Lanjutkan makanan kalian! Aku harus melakukan panggilan telpon dulu" Ucap Hisyam datar,


Merasa jengah dengan dua wanita yang telah membuat nafsu makannya seketika hilang, Hisyam pun merogoh koceknya dan berlalu meniggalkan dua wanita yang terlihat sangat akrab itu.


Melihat reaksi Hisyam yang seakan tak ingin di kaitkan dengan dirinya, membuat Alia merasa ada sedikit kekecewaan di hatinya, namun ia sendiri tak mengerti dari mana datangnya perasaan itu.


"Hey! Hubungan kalian hanya sebatas bos dan pekerja, kan?"


Suara Angela seketika membuyarkan lamunan Alia.


"Uh.... tentu saja, memangnya apa yang kamu harapkan, hm?"


Alia berusaha bersikap santai.


"Maksudku, dia memperlakukanmu sangat istimewa, jadi ku pikir kalian sedang menjalani hubungan terlarang atau..... lebih tepatnya, backstreet?"


Ucap Angela dengan suara pelan, tak lupa pula dua jari telunjuk dan jari tengahnya sedikit di acungkan keatas, mengisyaratkan sebuah perdamaian dari kata-katanya yang tak bermaksud buruk.


"Um.... itu hanya perasaanmu saja, tuan Hisyam memang selalu baik pada semua bawahannya...."


Jawab Alia gugup, namun ia berusaha terlihat santai.


"Jadi benar, kalian tak punya hubungan apa-apa? Kalau begitu boleh dong, aku minta nomor telponnya"


"Aa..., itu, sebenarnya aku tak memilikinya, aku sendiri hanya bisa menghubunginya lewat.... Asistennya! Ya, lewat Asisten Davis!"


Tiba-tiba saja Asisten Davis terlihat berjalan ke arah mereka, hingga idenya spontan muncul untuk melibatkan nama pria yang tak kalah kaku dari bosnya itu.


"Nyonya Alia! Tuan Hisyam sudah menunggu di mobil, apakah anda sudah selesai?"


"Nyonya? Apa dia baru saja memanggilmu dengan sebutan nyonya?"


Tanya Angela bingung, mendengar sebutan Asisten Davis pada Alia.


"Ha.... ha....!" Alia tergelak.


"Kamu pasti salah dengar, tuan Davis memanggilku nona bukan nyonya! Terlalu lama di pesawat membuat telingamu berdengung, bukankah begitu tuan Davis?"


Tanya Alia pada Davis yang sedang berdiri tegak di sampingnya, sambil menendang pria itu, Alia berusaha memberi kode pada Asisten Davis.


"Benar sekali, nona, bagaimana mungkin saya memanggilnya nyonya, padahal nona Alia masih di bawah umur"


"Kamu....!"


Tadinya Alia ingin memaki Asisten Davis namun seketika bungkam setelah menyadari Angela sedang memperhatikan mereka.


Tak ingin Angela mengorek semua hal tentang suaminya, membuatnya bangkit lalu berpamitan dengan pramugari cantik dan ramah itu.