Single Parents

Single Parents
TETAPLAH DI SINI.



Hisyam masih betah menunggu Alia yang tak kunjung sadar, ia tersontak saat ponselnya tiba-tiba berbunyi, dan terpaksa ia harus beredar untuk menjawab panggilan vidio call dari mamanya.


"Hai mom..."


"[Hisyam! Where are you? Kemana kamu membawa anak orang sampai selarut ini, hah! Ingat, Alia wanita baik-baik dan....]"


"Calm down! Mom, take a breath, ada sedikit masalah, jadi kami harus menginap di hotel malam ini! Lagian dari mana mama tau kami sedang keluar" Hisyam menyela ocehan mamanya.


"[Bik Ina yang memberi tahu, wait! kalian menginap di hotel? kamu tidak macam-macam, kan? Mana dia mama mau bicara langsung dengannya!]"


"Mom, please! Aku sangat lelah, aku akan menelpon besok dan menjelaskannya pada mama, oke!"


Hisyam mencoba mencari alasan, bukannya ingin menyembunyikan kesalahannya dari mamanya tapi setidaknya bukan hari ini, di saat Alia masih terkulai dan terlihat mengenaskan.


[Hisyam, di mana Alia! Cepat berikan ponsel itu padanya, atau jangan-jangan kamu memaksanya untuk...]"


Farida mendesak dan menunjukkan ekspresi khawatirnya, tak percaya dengan penjelasan putranya.


"Mom! Oke, aku akan membawakannya pada Alia, tapi sebelum itu mama harus mendengarkan penjelasan Hisyam terlebih..."


Belum sempat Hisyam melanjutkan kata-katanya nyonya Farida pun langsung memutuskan panggilan videonya.


"Mom! Are you all right? Hm.... pasti semuanya akan semakin rumit jika mama benar-benar datang kemari, dan kenapa mama harus datang di saat yang tak tepat begini, sih"


Hisyam bergumam sambil bermondar mandir ia mulai memutar otak bagaimana caranya mencegah mamanya agar tak menemui Alia sekarang.


"Assyifa..."


Hisyam seketika berlari menghampiri Alia yang memanggil nama putrinya dalam keadaan tak sadar.


Dengan ragu Hisyam mendekati Alia yang masih memejamkan matanya, ia perlahan meraih tissue yang terletak di atas nakas dan menghapus keringat dingin yang mulai membasahi wajah pucat wanita yang tak henti-hentinya menyerukan nama putrinya.


Hisyam mendongak mengeluarkan napas beratnya, hatinya terasa teriris saat mendengar ungkapan rindu Alia yang sangat dalam pada putrinya hingga terbawa hingga ke alam mimpi.


"Assyifa mama merindukanmu sayang..."


Alia terus memanggil nama putrinya sambil menggelengkan kepala seakan tak ingin jauh dari putri kecilnya.


Perlahan isakan itu terdengar tangisan pilu yang cukup membuat Hisyam ikut terenyuh mendengar ungkapan hati pengasuh itu.


Hisyam perlahan menepuk pipi Alia, berharap wanita itu cepat sadar dari mimpi buruknya.


"Ku mohon lepaskan aku, ja...jangaaaan...!"


Kali ini Alia berseru semakin keras, ia beringsut bangun dari pembaringannya, matanya memutar mencari sesuatu dan berhenti setelah sepasang mata yang memancarkan ketakutan itu kini tertuju ke arah pria yang juga sedang menatapnya.


"Alia ini aku! Kamu aman sekarang" Hisyam mendekat dan sejenak mereka saling menatap.


Menyadari dirinya sudah berada di tempat yang aman, Aliapun menunduk menekuk lutut dan menyembunyikan wajahnya, lalu wanita itu kembali menangis meski tanpa menimbulkan suara.


Hisyam terenyuh menyaksikan ketegaran Alia menghadapi setiap masalahnya, bahkan dalam situasi sulit seperti itupun wanita itu masih berusaha untuk tak menunjukkan kesedihannya, hanya getaran di pundaknya yang menunjukkan bahwa wanita itu sedang menangis meratapi nasibnya.


"Menangislah, dan lepaskan semua beban di pundakmu"


bisik Hisyam lalu menarik tubuh Alia masuk ke dalam pelukannya, hingga perlahan guncangan di tubuh wanita itupun berangsur reda.


Hening sesaat, Alia menyadari posisi mereka sudah tak berjarak lagi hingga pengasuh itu mundur melepas diri dari pelukan tuannya.


"Maaf telah membuatmu terseret dalam masalah ini, seharusnya aku tak meninggalkanmu sendiri di sana"


Ungkap Hisyam seraya melepas lengan Alia yang sedang meremas ujung kemeja yang di kenakannya.


"Aku ingin pulang"


Ucap Alia tiba-tiba, namun tetap menunduk, ia masih marasa trauma berada di hotel itu, tempat di mana para penguasa bisa melakukan apapun yang mereka inginkan.


"Malam ini kita menginap di sini dulu, kita akan pulang setelah keadaan mereda"


Usul Hisyam sambil memerhatikan tingkah Alia yang terlihat gugup.


"Hmm... apa kamu tahu? ada banyak reporter di bawah sana yang menunggu berita tentang insidenmu dengan Mike...


Atau kamu mau besok berita itu akan menjadi topik utama yang akan hangat di beritakan di seluruh negeri ini?"


Jelas Hisyam, kali ini pria itu sudah berdiri sambil berkacak pinggang, memerhatikan Alia yang masih meremas ujung bajunya.


"Tapi bagaimana dengan Ozan? Bik Ina akan kelelahan jika harus mengurus Ozan seorang diri..."


Sindir Hisyam, hingga dengan cepat Alia memerhatikan baju yang di kenakannya memang sudah berbeda dari baju sebelumnya.


"Siapa yang...?"


Alia menatap Hisyam dengan ekspresi pias, antara bingung dan kaget wanita itu terlihat terbata-bata, ada rasa penasaran ingin tahu apa yang terjadi saat ia tak sadarkan diri, namun ia sandiri masih ragu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali menunduk dan tak bertanya lagi.


"Jangan salah paham, ada Natasha yang membantumu tadi sekaligus merawat lukamu"


"Natasha itu siapa?" Tanya Alia penasaran, sambil mengangkat wajahnya ia berharap Hisyam mengatakan hal yang benar, bukan untuk melegakan hatinya saja.


"Dia hanya seorang Dokter, tak mungkin kan aku memanggil Dokter Daniel dengan keadaanmu yang...


Ah, sudahlah, sebaiknya kamu istirahat, besok aku akan menyuruh Davis membawakanmu pakaian ganti"


"Kenapa kita tak pulang saja?"


Alia kembali mengutarakan keinginannya, entah mengapa ia masih merasa ngeri jika harus menginap di tempat itu meski cuma semalam.


"Kenapa kamu tidak mengerti juga, sih! Hh... aku melakukan ini untuk menghindarkanmu dari pandangan buruk orang-orang yang selalu merendahkanmu,


Terutama para maid, yang akan tiba di mansion sebentar lagi, kamu pikir apa yang akan mereka katakan jika melihatmu dalam keadaan seperti ini...!"


Hisyam mendengus kesal lalu menghampiri remote yang terletak di atas meja kecil tepat di samping tempat tidur, tanpa bertanya terlebih dahulu, pria itu mematikan lampu yang menerangi ruangan itu dan menggantinya dengan cahaya samar lampu tidur.


"Hmm... aku akan keluar, cobalah untuk tak memikirkan hal yang buruk, dan jika membutuhkan sesuatu kamu bisa memanggil room service...."Tambah Hisyam lagi.


"Tapi tuan..."


Belum sempat melanjutkan kata-katanya Hisyam pun telah hilang di balik pintu, meninggalkan Alia yang masih mematung, entah kenapa ia merasa tak nyaman tidur di hotel itu meski dia tahu pagi akan menjelang sebentar lagi.


-


Alia berulang kali mengerjapkan matanya, berharap rasa kantuk segera menyerangnya, hingga ia bisa menghapus semua peristiwa menakutkan yang terjadi padanya selama ini.


Semenjak Hisyam meninggalkan dirinya seorang diri di kamar itu, bayangan peristiwa semalam terus mengganggu pikirannya, bahkan ia masih bisa melihat dengan jelas wajah menyeringai Mike terlihat begitu menyeramkan apalagi bayangan Mike terlihat sangat nyata saat menatapnya dengan jarak yang begitu dekat.


Alia bangkit menggapai remote yang terletak di sampingnya, lalu menekan tombol on hingga seluruh ruangan itu menjadi terang benderang.


Alia terus bermondar mandir sambil menggigit bibirnya sedang tangannya masih menggenggam erat remote, meski pandangannya sudah di silaukan oleh warna dari lampu yang di tempatkan di setiap sudut kamar itu, namun rasa takut itu masih tetap muncul dan menghantui pikirannya hingga tak sadar Hisyam kini berdiri tepat di belakangnya.


"Kenapa kamu belum tidur juga!"


Suara bariton milik Hisyam kini menggema di ruangan itu, sehingga membuat Alia terperanjat dan tangannya reflek melempar remote itu ke arah Hisyam hingga mengenai dahi pria itu.


"What the hell....!!"


Hisyam yang kaget dengan serangan Alia tak sempat melanjutkan kata-katanya saat menyadari kesalahannya telah masuk ke kamar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Hisyam dengan perlahan mendekati Alia yang kini tak kalah kaget, hingga perlahan terperosok menekuk lutut, tepat di kaki tempat tidur.


"Maaf telah mengagetkanmu, aku melihat lampu di kamar ini kembali menyala jadi aku berpikir untuk melihat keadaanmu..."


Setelah mengenali suara Hisyam, Alia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap pria di hadapannya.


"Tuan luka, maaf, aku pikir tuan adalah orang lain biar aku obati"


Ucap Alia kalang kabut, setelah menyadari perbuatannya tadi telah melukai tuannya, dia bangkit dari duduknya dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, berharap bisa menemukan kotak obat di suatu tempat.


Menyadari tingkah bingung pengasuh itu, membuatnya terpaksa menarik tubuh mungil Alia dan membaringkannya di tempat tidurnya.


"Aku tidak apa-apa, sebaiknya kamu istirahat saja aku akan kembali ke kamarku"


Ucap Hisyam sambil menarik selimut hingga menutupi tubuh Alia.


"Bisakah tuan tetap di sini ..."


Ucap Alia tiba-tiba, membuat Hisyam terperanjat dengan permintaan pengasuh itu.


"Ma...maksudku, aku bisa tidur di sofa..." Tambah Alia.


"Tidurlah dengan nyenyak, aku akan tidur di sofa"


Ucap Hisyam lalu meraih bantal di samping Alia dan membawanya menuju sofa.