Single Parents

Single Parents
UDANGAN PARTY



Pagi yang cerah di sertai udara dingin menyapa kulit di pagi itu, Alia melangkah perlahan menuruni anak tangga sambil menggendong Ozan yang sudah tak sabar ingin keluar memulai suasana paginya di sekitar taman.


Sedikit menoleh ke arah meja makan wanita itu bergegas mengatur langkah agar tak ada siapapun yang menawarinya ikut sarapan semeja dengan Hisyam.


Beberapa hari ini Alia memang sengaja tak melewati ruangan di mana Hisyam sedang menikmati sarapannya, apalagi setelah asisten Davis memergoki mereka, tiap pagi pria itu tak pernah absen untuk ikut sarapan bersama bosnya.


Alia menghirup udara pagi sambil merentangkan kedua tangannya, diikuti Ozan yang juga senang menunjukkan gerakan persis dengan pengasuhnya, sehingga membuat Alia tersenyum dengan aksi lucu bocah itu.


"Whoaa, semakin hari Ozan semakin mirip denganmu, apa karna status ibu susu itu?"


Sapa Hisyam dari belakang, membuat Alia bergegas bangkit dari duduknya dan sedikit menunduk hormat.


"Beberapa hari ini, kamu tak ikut sarapan bersama Ozan, kenapa, apa kamu sengaja ingin menghindar dariku?"


Tanya Hisyam masih menatap lurus ke arah kolam serta tangannya di silangkang di dada, ia menyadari Alia berusaha menghindarinya.


"Bu...bukan seperti itu, hanya saja, saya tak ingin mengganggu perbincangan tuan dengan tuan Davis"


Tampik Alia, namun itu hanyalah alasan, sebenarnya ia begitu malu untuk bertemu si bos apalagi asisten Davis setelah kejadian memalukan waktu itu.


"Masuklah ke dalam, bik Ina sudah menyiapkan sarapan untuk kalian berdua, aku juga merasa bosan sarapan seorang diri...


Jangan salah paham, aku sudah terbiasa sarapan dengan Davis beberapa hari ini dan sepertinya Davis tak datang pagi ini"


Hisyam berusaha meluruskan maksud dari kata-katanya agar tak menimbulkan situasi kikuk lagi di antara mereka, mungkin dengan menjaga perasaan wanita itu, adalah satu-satunya cara agar wanita itu lebih betah merawat Ozan tanpa merasa tertekan.


"Mm... bisakah tuan masuk dulu, aku akan nenyusul bersama Ozan kemudian"


Alia menghentikan langkahnya saat menyadari ada beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.


Mengerti maksud dari kata-kata si pengasuh, pria itu malah meraih tangan Alia sambil melirik tajam beberapa maid yang berpura-pura mengerjakan tugasnya.


Alia sedikit terseret kala Hisyam tiba-tiba menarik tangannya tanpa peduli dengan pandangan para pekerjanya.


Sebelum kesalah pahaman semakin tak terkendali, wanita itu segera melepas tangan kekar Hisyam saat mendapati Davis sedang menikmati secangkir kopi buatan bik Ina.


"Jangan khawatir, aku sudah menjelaskan padanya apa yang di lihatnya waktu itu tak seperti yang ada dalam pikirannya"


Bisik Hisam sedikit membungkuk mensejajarkan dirinya dengan Alia yang memiliki postur tubuh yang mungil, hingga pengasuh itu sedikit bergidik saat napas Hisyam terasa menggelikan telinganya.


"Davis! You here..." Sapa Hisyam seraya menghampiri Davis.


"Ow, bos, where have you been? Aku sudah menunggumu sejak tadi"


Ucap Davis setelah menyadari kehadiran bosnya di ruangan itu.


"I thought you didn't come, apa terjadi sesuatu di kantor saat ini?"


Tanya Hisyam setelah menyesap sebagian coffee Turkish favoritnya.


"Bukan apa-apa... Ah, nona Alia, bergabunglah dengan kami, ada yang ingin aku sampaikan padamu"


Jelas Davis sopan, pria itu bangkit lalu menarik kursi untuk Alia yang terlihat bingung menanggapi layanan Davis padanya.


"Duduklah, sepertinya tuan Davis ingin menyampaikan sesuatu padamu"


"Lebih tepatnya pada kalian berdua"


Sambung Davis seraya menatap Alia dan Hisyam secara bergantian, sedang Alia yang merasa heran, hanya bisa mengerutkan dahi menatap Hisyam penuh tanda tanya.


"Litsen, Mr. Lee and his wife mengundang kalian berdua ke ulang tahun Anniversary mereka sekaligus merayakan kerja sama dengan perusahaannya, dan nyonya Sarah sangat berharap nona Alia bisa ikut serta..."


Tutur Davis sambil mengalihkan pandangannya pada wanita yang duduk di hadapannya.


"Aku! Tapi, kenapa aku harus ikut?"


Tanya Alia dengan resah, sambil meremas tangannya ia mulai membayangkan suasana pesta yang akan di hadirinya akan sangat bertolak belakang dengan kehidupannya.


"Itu permintaan nyonya Sarah sendiri, sepertinya pertemuan pertama kalian waktu itu terjalin dengan baik"


"Tapi, aku tidak melakukan apa-apa... Mm, bisakah tuan menolak permintaan nyonya Sarah, ku mohon..."


Rayu Alia sambil mengatupkan kedua tangannya berharap kedua pria itu mengerti situasinya.


Akhirnya Hisyam membuka suara, setelah terdiam beberapa saat, hingga ia bisa melihat ada raut keresahan terukir di wajah pengasuh itu.


"What! Jangan bilang kamu juga tak akan hadir di sana!"


Ucap Davis tak percaya dengan keputusan Hisyam.


"Hm... come on, kamu bisa memberi alasan yang objektif pada Mr, Lee, simple kan"


Jawab Hisyam, pria itu menyeruput kopinya dengan santai dan bangkit meraih Ozan yang sedang bermain di pangkuan pengasunya.


Sedang Alia hanya terdiam tak sadar Ozan kini berpindah tangan.


Wanita itu tak henti-hentinya memikirkan hal memalukan apa yang akan menimpanya saat dirinya memutuskan untuk hadir di pesta yang serba mewah dan di hadiri para konglomerat serta wanita modis kalangan atas.


"Aaiisshh... tetap saja O.Z. Company adalah ikon sekaligus tuan rumah di hotel itu, bagaimana bisa CEO dari induk perusahaan itu sendiri tak hadir saat koleganya merancang pesta untuknya, itu sangat tidak sopan"


Davis prustasi tak tahu harus membujuk Hisyam dengan cara apa lagi, hingga satu ide tiba-tiba muncul dalam pikirannya saat tatapannya mengarah pada wanita yang sedang terdiam resah di hadapannya.


"Selesaikan sarapan kalian, aku akan menunggu di taman bersama Ozan"


Jawab Hisyam tegas dan berlalu meninggalkan Alia yang melamun, serta Davis yang juga termenung memikirkan sebuah rencana.


"Baiklah..."


Jawab Alia lemah, sambil mengaduk susu yang masih tersisa dalam gelasnya, barulah ia tersadar kemudian.


"Ada apa, kenapa tuan menatapku seperti itu?"


Perang batin Alia berakhir saat menyadari Davis sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikannya.


"Umm... bisakah kamu menolongku? Ah, aku tahu kita tak begitu akrab tapi, hanya kamu yang bisa membujuknya untuk menghadiri pesta itu"


"Membujuknya? Bagaimana caranya, aku bahkan tak yakin dia akan mendengarkanku"


Tutur Alia bingung hingga wanita itu berkali-kali menghela napas beratnya.


"Ikutlah dengannya! Dia pasti akan berubah pikiran jika mengetahui kamu menerima undangan dari nyonya Sarah"


Ucap Davis tiba-tiba, sehingga membuat Alia spontan membelalakkan matanya, tak menyangka apa yang di hindarinya selama ini, malah datang menghampirinya satu persatu.


"Bagaimna tuan bisa seyakin itu?"


"Apa kamu tahu? Tuan Hisyam melakukan hal ini karna tak ingin memaksamu...


Padahal acara itu bisa menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kesanggupannya dalam segala hal termasuk mengambil hak asuh Ozan yang tentu lebih baik dari Renata"


Ucap Davis datar dan berlalu meninggalkan Alia yang terdiam keresahan memikirkan permintaan pria itu.


Alia terus berperang batin, hingga tak sadar bik Ina kini ikut duduk di hadapannya dengan secawan kopi hitam kesukaannya.


"Hm... sebagai seorang anak muda, kamu terlalu banyak berpikir"


Sindir bik Ina saat kehadirannya tak di endahkan oleh wanita muda itu.


"Bik, apa berada dalam sona nyaman adalah hal yang wajar? Bagaimana dengan resiko, apa seseorang bisa mengatasinya tanpa melalui sebuah resiko?"


"Kamu ngomong apa tiba-tiba gitu?"


"Ah, tidak apa-apa bik, lupain aja"


"Bibik nggak ngerti masalah apa lagi yang sedang kamu hadapi, yang bibik tau, jika kamu punya masalah harus di selesaikan, jangan di hindari"


Ucap bik Ina memberi nasehat, Aliapun berusaha mencerna maksud dari pesan wanita paruh baya itu.


Alia kembali membatin, banyak masalah yang akan muncul jika ia harus memilih untuk menghadiri pesta bersama majikannya.


Dan haruskah dia mengambil resiko walau dirinya harus di anggap wanita penggoda yang tak tau diri oleh teman sekerjanya.


Lalu, bagaimana dengan pesan dari Farhan yang menyuruhnya untuk tak terlibat dalam masalah keluarga itu, hal itu membuatnya prustasi dan semakin sulit untuknya mengambil sebuah keputusan.