
Tetesan air yang keluar dari pancuran shower serasa obat yang menyegarkan tubuh Alia.
Lengket akibat keringat yang menempel sepanjang aktifitasnya hari ini, membuat ia tak merasa kedinginan meski malam semakin larut.
Teringat ejekan Farah dan mama mertuanya yang membuatnya tiba-tiba mengulum senyum sambil menggigit bibir.
Malu mendapat ejekan seperti tadi, tapi apa boleh buat Ozan dan Assyifa begitu aktif aktifnya sehingga begitu sulit untuk membagi waktu untuk dirinya sendiri.
"Ah, selain menjijikkan, nyonya Farida juga pasti menganggapku wanita yang tak tahu malu, tanpa segan silu harus meminta pakaian bekas nyonya Renata"
Alia bergumam sembari melilitkan handuk ke tubuhnya, lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk lainnya.
"Ini semua gara-gara tuan Hisyam yang menyebalkan itu, kalau saja dia tidak meninggalkan semua pakaianku di mobil kak Doni, pasti aku tak akan mengalami hal memalukan seperti tadi...
Untung saja nyonya Farida menyiapkan sebuah hadiah untukku, kalau tidak terpaksa malam ini aku tidur dangan baju berbau keringat ini lagi"
Alia melempar pakaian yang di pakainya sepajang perjalanan tadi ke dalam keranjang.
Sementara mulutnya tak henti-henti berkomat-kamit menyalakan Hisyam sambil memeluk gemas paper bag penyelamatnya itu dalam dekapannya.
Memang semenjak menikah, Alia memang sudah mengantisipasi semuanya dengan baik, sampai baju gantinya pun tak lupa ia bawa ke dalam kamar mandi.
Bukannya ingkar dari tanggung jawabnya sebagai seorang istri, tapi ia masih sangat mengingat bahwa pernikahan mereka hanyalah bisnis yang sewaktu-waktu akan berakhir saat Ozan tak lagi membutuhkannya.
Apalagi saat ini adalah malam pertamanya menginap di rumah besar itu sebagai seorang istri dari Hisyam, tentu saja tak akan ada lagi Assyifa yang akan menjadi pembatas mereka di atas tempat tidur, karna mulai malam ini Assyifa akan tidur di kamar Ozan yang sudah lengkap dengan twin bed dan segala keperluan dua balita itu di dalamnya.
"Untung saja aku membawa ling....nge...rie ini ke dalam kamar mandi" Ucap Alia dengan cara mengeja nama baju yang begitu asing di pendengarannya.
"Sebaiknya aku segera mengenakannya, kalau tidak, bisa-bisa tuan Hisyam menuduhku ingin menggodanya jika melihatku hanya mengenakan handuk yang bahkan tak bisa menutupi lututku"
Ucapnya lagi dan dengan tak sabar ia segera mengeluarkan isi dari paper bag pemberian nyonya Farida.
"Baiklah, coba kita lihat, apa baju ling...nge...rie ini sebagus naa....maaa...nyaaa?"
Alia memperlambat kata-katanya saat melihat baju pemberian mertuanya itu sama sekali tak sesuai dengan harapannya.
Dengan mata membelalak Alia perlahan memerhatikan isi dari paper bag itu satu persatu.
Satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna hitam, dua buah lingerie berbahan sutra yang tak cukup bahan itu seketika membuat Alia panik, menyadari tak ada satupun di antara baju itu yang bisa ia kenakan.
"Argh... bagaimana ini! Bisa-bisa tuan Hisyam meledekku habis-habisan, atau bahkan menganggapku berusaha menggodanya jika mengenakan pakaian seperti ini di depanya...."
Alia begitu panik, apa lagi setelah mendapati baju yang baru saja ia masukkan ke dalam keranjang yang terletak di sudut ruangan, tak bisa di gunakan lagi dan hanya lingerie itulah satu-satunya pilihan yang ada.
Alia mengacak rambutnya sembari memperhatikan penampilannya dalam balutan lingerie bertali spaghetti itu, kemudian berlari memeriksa isi kabinet, berharap bisa menemukan sesuatu yang akan di gunakan untuk menutupi sebagian besar tubuhnya yang terekspos.
"Ah, seharusnya aku mencari tahu terlebih dahulu seperti apa lingerie itu"
Alia merutuki dirinya yang tak terlalu pintar dalam mengartikan nama lingerie yang sebenarnya berasal dari bahasa prancis itu.
Lama menempelkan telinganya ke pintu kamar mandi yang jauh lebih besar dari kamarnya di kampung, Alia pun kembali mengutak atik isi dari kabinet, mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk menutupi tubuhnya yang berbalut lingerie transparan itu.
Meski telah menutupi tubuhnya Alia masih bermondar-mandir sambil memutar otak, mencari cara agar tak bertemu muka dengan suaminya.
Meski hal itu begitu sulit mengingat mereka sudah ber-status suami istri, tapi setidaknya ia bisa menghindar untuk hari ini, apalagi dengan pakaian kurang bahan seperti yang saat ini ia kenakan.
Merasa mantap, Alia akhirnya keluar setelah memastikan tak ada orang lain selain dirinya di dalam kamar itu.
Belum menemukan solusi untuk masalah yang ia hadapi, tiba-tiba terdengar suara langkah dan benar saja seseorang semakin dekat menghampiri kamarnya.
Alia panik dan tanpa berpikir lagi ia segera melompat ke atas tempat tidur berukuran raksasa di sampingnya, menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga kepala.
Belum sempat Alia memperbaiki posisinya, pintupun di buka oleh seseorang, dan langkah itu semakin mendekat.
Jantung Alia seakan terhenti kala suara langkah tadi berhenti tepat di hadapannya.
"Apa! Bukankah tuan Hisyam sudah tertidur pulas bersama Ozan dan Assyifa, kenapa dia malah terbangun di situasi seperti ini?"
Sementara Hisyam yang tak mengerti dengan posisi tidur Alia hanya bisa menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlalu ke kamar mandi.
Mendengar suara air yang keluar dari pancuran shower, membuat Alia bergegas bangkit dan memperbaiki posisi tidurnya yang kurang nyaman.
"Apa sebaiknya aku ke kamar anak-anak saja, atau bersembunyi di dalam walk in closet? Tapi setelah ini tuan Hisyam akan masuk ke sana dan tentu saja ia akan curiga kalau aku hanya berpura-pura tidur untuk menghindarinya..."
Gumam Alia sambil mengacak rambutnya yang setengah basah.
Belum menemukan solusi dari masalahnya, terdengar Hisyam sudahpun selesai dangan ritual mandinya.
Hingga dengan panik Alia kembali menutupi tubuhnya dengan selimut saat Hisyam mulai memutar knop.
Hisyam keluar dengan bertelanjang dada, melilitkan handuk putih di bawah pusarnya hingga memperlihatkan perutnya yang berbentuk roti sobek.
Alia membelalakkan mata sambil menutup mulutnya menyaksikan pemandangan yang tak biasa itu.
"Cih! Tadi dia menggunakan semua handuk bersih di kamar mandi, dan sekarang dia berada di tempat tidurku tanpa menyisakan sedikitpun ruang untukku, apa dia sengaja ingin membalas dendam padaku!"
Cibir Hisyam sembari berlalu ke arah walk in closet.
Mendengar kata-kata Hisyam tadi membuat Alia bergegas memperbaiki posisi tidurnya dan meletakkan guling di tengah-tengah kasur sebagai pembatas mereka nantinya.
Hisyam keluar setelah mengenakan kostum santainya.
Celana pendek selutut yang di padankan dengan kaos dark grey yang tegas semakin memperkuat karakternya yang classy dan maskulin.
Sambil mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk di tangannya, ia menyadari posisi tidur Alia yang sudah berubah serta adanya sebuah guling di tengah-tengah tempat tidur mereka.
Hisyam mengulum senyum nakal, lalu melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur king size miliknya.
"Argh.... i hate bolster pillow!(Aku benci bantal guling!) Ia hanya akan mempersempit ruang gerakku!"
Cetus Hisyam, lalu melemparkan guling itu ke sembarang tempat, sengaja ingin melihat reaksi Alia saat bantal penyelamatnya itu tak lagi bisa di andalkannya.
Menyadari dirinya dan Hisyam sudah tak berjarak lagi, Alia dengan perlahan menggeser tubuhnya hingga ke tepi tempat tidur.
Dua puluh, tiga puluh menit Alia berusaha menahan kantuk tapi pria di belakangnya masih sibuk dengan ponselnya.
Alia yang berusaha untuk berjaga malah tertidur dengan pulasnya, hingga terdengar dengkuran halus dari wanita itu.
Hisyam terkekeh geli menyadari Alia sudah tertidur pulas ia pun bangkit untuk mengambil segelas air yang berada di atas nakas.
Setelah meneguk obat tidur yang selalu di konsumsinya, Hisyam kembali menyingkap selimut dan merebahkan tubuhnya di samping Alia.
Karna terlalu lelap Alia tak menyadari selimutnya kini tak lagi menyembunyikan wajah polosnya, hingga Hisyam pun mengambil kesempatan itu untuk mengamati wajah istri yang sama sekali belum pernah di sentuhnya.
Hisyam semakin menikmati pemandangan indah di hadapannya.
Secara tak sengaja pandangannya tertuju pada seutas tali merah yang menghiasi pundak putih Alia.
Ada yang beda dengan penampilan istrinya malam ini, dengan ragu Hisyam menarik selimut perlahan hingga sedikit memperlihatkan belahan pada dada wanita itu.
"Gleekk...."
Hisyam menelan saliva dengan susah payah, lingerie sutra berwarna merah darah itu sangat kontras dengan warna kulit Alia yang cerah, hingga Hisyam seakan terhipnotis oleh pemandangan indah di hadapannya.
Entah berapa lama Hisyam larut dalam kesempurnaan ciptaan tuhan, hingga baru tersadar saat wanita di hadapannya mulai mengubah posisi tidurnya.
Menyadari kesalahannya, Hisyam kembali menaikkan selimut itu hingga ke leher dan segera memunggungi istrinya yang tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Argh... apa yang ku pikirkan, bukankah kami sudah berjanji untuk tidak melewati batas, lalu apa yang dia lakukan dengan pakaian seperti itu?"
Hisyam membatin sambil mengacak rambutnya, ia merasa prustasi dengan situasi yang di alaminya.
Meski mencoba memejamkan matanya berkali-kali, tetap tak bisa menghilangkan perasaan gemuruh yang menyerangnya, hingga ia baru bisa terlelap saat jam menunjuk ke arah tiga dini hari.