
Alia melirik Hisyam yang sedari tadi terdiam di sampingnya.
Sejak pembicaraannya dengan Angela berakhir tak pernah sekali pun Hisyam meliriknya, bahkan keberadaan dirinya dan Assyifa seakan tak berpengaruh sedikit pun bagi pria itu, padahal mereka masih duduk di dalam mobil yang sama.
"Apa sebegitu memalukannya memiliki istri seperti aku, sampai-sampai dia begitu kesal jika orang menanyakan status hubungan kami"
Alia tersenyum miris menertawakan dirinya yang terlalu banyak berharap dari seorang Hisyam Al Jaziri Osmand.
Padahal ia begitu sadar, pernikahan seperti apa yang ia jalani sekarang.
Mungkin karena selama ini hati kecilnya mengatakan bahwa Hisyam adalah orang baik meski kadang sikap angkuh dan arogannya selalu mendominasi.
Tapi setelah pertemunnya dengan Angela hari ini entah kenapa ada rasa kecewa dengan sikap Hisyam yang seolah menganggap pernikahan mereka yang sah di mata hukum dan agama hanyalah sebuah bisnis yang bisa menguntungkan kedua belah pihak.
Lama membatin dengan perasaannya sendiri hingga tak menyadari mobil yang di kemudikan oleh Davis kini menyusuri taman perumahan elit, yang telah di tinggalinya selama setahun terakhir ini.
"What the....!"
Alia tersontak dari lamunannya mendengar umpatan Hisyam tatkala mendapati beberapa wartawan sedang berwara-wiri di depan gerbang mansion.
"Davis! What is going on? (Apa yang sedang terjadi) bukankah aku menyuruhmu untuk tak menimbulkan kecurigaan pada media tentang pernikahanku?
Argh....! bagaimana mereka tahu kalau aku akan kembali hari ini!"
Erang Hisyam prustasi.
"Maaf tuan tapi, sepertinya ada hal lain yang ingin mereka ketahui dan aku rasa ini ada kaitannya dengan, insiden di kamar hotel waktu itu"
Jelas Davis sambil melirik Alia dalam pantulan kaca.
"Argh... tak bisa ku percaya, dari sekian banyak orang yang ku pekerjakan, apa aku masih harus mengurus semuanya ini sendiri!" Cibir Hisyam kesal.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan, apa perlu ku panggilkan....!"
"Forget it! Aku akan mengurusnya sendiri!"
Tolak Hisyam kasar dan dengan angkuhnya pria itu keluar dari mobil dan menghampiri segerombolan wartawan yang saling berdesakan agar mendapat posisi paling depan.
Selang beberapa menit sejak kepergian Hisyam, terdengar dering ponsel memekik telinga, Davis yang tadi berniat menyusul bosnya, kini kembali duduk dengan helaan kasar.
"Tell me! Did you guys find that women! (katakan padaku apa kalian menemukan wanita itu!"
Pekik Davis pada orang suruhan yang di tugaskan untuk mencari keberadaan Sarah, satu-satunya orang yang menjadi saksi rencana licik Mr.Lee.
Alia semakin mempertajam pendengarannya.
Meski hanya kekesalan Davis yang bisa di dengarnya dalam pembicaraan itu, tapi ia sangat yakin wanita yang di maksud pria itu adalah Sarah yang entah di mana keberadaannya saat ini.
Mendengar hal itu membuat Alia tersadar betapa besar kekacauan yang melibatkan dirinya dan seberapa buruk dampak yang akan menimpa keluarga Osmand jika scandal itu terus-terusan berlarut.
"Sial! Kalian benar-benar tak bisa di andalkan!" Bentak Davis lalu melempar kasar ponselnya ke kursi kosong di sampingnya.
"Um, tuan Davis...."
Davis tersadar dan segera menoleh ke belakang saat Alia tiba-tiba menyebut namanya.
"Ada apa?" Jawab Davis singkat.
"Tolong jaga Assyifa, aku akan kembali sebentar lagi"
Pesan Alia sambil meletakkan Assyifa di pangkuan Davis lalu meninggalkan mobil tanpa menunggu izin dari pria itu.
"Apa? Hey, kamu mau kemana? Kembali ke sini....!"
Teriak Davis namun tak sempat mengejar Alia karna Assyifa sekarang berada di pangkuannya, apalagi dengan kekacauan sekarang, menunjukkan Assyifa di depan para wartawan adalah keputusan yang buruk dan tak akan baik untuk situasi yang sedang di alami bosnya saat ini.
Alia mendekati kerumunan yang menenggelamkan sosok Hisyam yang berusaha menjawab pertanyaan para wartawan itu satu persatu.
"Tuan Hisyam, setelah insiden di kamar hotel waktu itu, anda memutuskan untuk bungkam, bahkan menghilang entah kemana, apa itu artinya anda mengakui adanya pelobian di hotel anda?"
Seorang wartawan kembali mengintrogasi Hiayam tanpa basa-basi.
Sedang Hisyam yang sedari tadi berusaha tak menunjukkan emosinya kini benar-benar tertantang, tapi lagi-lagi ia mengingatkan dirinya untuk tetap tenang menghadapi para wartawan yang sok tau itu.
"Huft.... look, saya tak pernah lari dari masalah, dan semua yang di tuduhkan oleh pemberitaan itu semuanya bulshit!" Jawab Hisyam geram.
"Menurut anda apa yang kami beritakan di media hanyalah omong kosong, tapi anda sama sekali tak pernah bersedia untuk memberikan bukti yang menunjukan bahwa tak ada tindakan ilegal yang terjadi di hotel anda....
dan bahkan anda tak ingin identitas korban di ketahui publik, bukankah hal itu cukup membuat kami berasumsi bahwa wanita itu adalah salah satu pelanggan di hotel anda?"
"Shut up! Dengan asumsi konyolmu itu, aku bisa saja menuntut dan membuatmu kehilangan pekerjaan ini selamanya!
Hisyam berbisik pelan namun penuh penekanan, kepalan tangannya yang menimbulkan urat di tangannya, kini semakin erat menggengnggam kerah si pria yang sok tahu itu.
Sementara Alia yang tadi terlihat ragu dengan keputusan yang di ambilnya. kini kembali mempercepat langkahnya mendekati kerumunan setelah melihat Hisyam semakin tersulut emosi.
"Stop! "Cegat Alia tanpa berpikir lagi, "Tuan kumohon hentikan....!"
Mendengar suara Alia, membuat Hisyam tercengang hingga perlahan menoleh ke arah Alia.
Suara riuh yang tadi tak terkendali kini perlahan surut dan seketika semua mata berfokus pada Alia.
Untung saja sebelumnya Hisyam memberi syarat kalau ia akan memberi penjelasan pada teman media asalkan mereka berjanji untuk tak mengambil gambar ataupun video saat wawancara berlangsung.
"Lihat, bukankah dia adalah wanita di video itu?"
Bisik bisik mulai terdengar dari mulut setiap manusia yang ada di sana, sementara Hisyam yang masih tak percaya akan apa yang di pikirkan oleh Alia, kini bergegas menghampiri istrinya.
"Are you crazy, follow me! (Apa kamu gila, ikut aku!)"
Gertak Hisyam dengan nada rendah, sementara tangannya mencengkram kasar pergelangan Alia yang berusaha tak menunjukkan rasa sakit dari raut wajahnya.
"Excuse me, bukankah anda adalah wanita di video itu?"
Hisyam terpaksa melerai cengkramannya saat seorang wartawan mendekati mereka.
Menyadari semua mata kini tertuju padanya, membuat Alia seketika gugup dan perlahan mengangguk.
"Jadi memang benar, anda mengenal tuan Hisyam selama ini? Tapi, apa hubungan kalian, benarkah anda bekerja untuk tuan Hisyam?"
Alia mengangguk lagi, namun kali ini ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan wartawan itu"
"Benar, saya memang mengenal tuan Hisyam dengan baik, karna selama ini saya bekerja untuk tuan Hisyam"
Jawab Alia sambil melirik suaminya yang terlihat tegang.
"Bekerja dengannya, jadi itu artinya, anda mengakui adanya kegiatan melobi di hotel itu, dan menghadiri pesta itu juga salah satu cara bisnis tuan Hisyam untuk memperkenalkan pelanggan kepada anda"
"Tunggu! Kalian tidak mengerti, nona Alia datang ke pesta itu karna...."
"Karna aku yang memohon untuk ikut" Potong Alia.
Sedang Hisyam yang tak menyangka akan jawaban Alia melirik tajam ke arah wanita di sampingnya.
"Maksudnya, anda melakukannya dengan suka rela, tanpa paksaan siapapun?" Wartawan satu.
"Lalu bagai mana anda bisa berakhir dengan tuan Mike?" Wartawan dua.
"Apa karna sudah saling mengenal? Atau lebih tepatnya, karna memang saling suka?" Hingga wartawan tiga juga tak mau kalah mengajukan pertanyaannya.
Seperti biasa, cerita Alia semakin membuat penasaran hingga para wartawan akan saling menyela dengan pertanyaannya masing-masing.
"Sebenarnya saya dan tuan Mike sudah saling mengenal sebelumnya"
Alia menggigit bibir bawahnya, mencoba mengumpulkan kekuatan saat mengingat kejadian buruk yang menimpanya waktu itu.
"Kebetulan tuan Mike mengundangku ke pesta itu, ku pikir semuanya baik-baik saja..."
Alia menjeda kata-katanya.
Sambil menelan salivanya dengan susah payah ia kembali melanjutkan ceritanya.
"Sebagai seorang wanita kampung dan berpendidikan rendah sepertiku, mendapat ajakan dari salah satu orang terkenal di negara ini, tentu saja aku menerimanya dengan senang hati.....
Tanpa berpikir sesuatu hal buruk bisa saja terjadi padaku...."
Alia tak dapat lagi melanjutkan ceritanya, dadanya yang terasa begitu sesak sekuat tenaga di di bendungnya agar air mata yang sedari tadi di tahannya tak ikut menunjukkan kelemahannya saat itu.
"Jadi, anda mengatakan, tak ada bisnis ilegal di hotel itu, tapi tuan Hisyam sangat berusaha untuk menjaga privasi anda selama ini, bukankah itu cukup membuat masyarakat curiga bahwa tuan Hisyam menyembunyikan sesuatu?"
"Itu karna.... tuan Hisyam adalah orang yang baik, hingga apapun yang terjadi, beliau akan berusaha melindungi pekerjanya, termasuk saya yang hanya bekerja sebagai pengasuh dari putranya....
Dan, mengenai video yang tersebar beberapa minggu ini, saya pribadi ingin meminta maaf atas kelakuan saya yang tak mengenakkan....
Dan saya harap setelah ini teman-teman media tidak menyusahkan tuan Hisyam dalam masalah ini lagi, terimakasih..."
Alia membungkuk meminta maaf, sebelum berlalu dengan rasa malu yang tak tertahankan.
Tapi biar bagaimanapun Alia tetap harus bertanggung jawab, karna membuat seluruh masyarakat resah dan tak nyaman.
Dan berharap tak akan ada lagi kesalah pahaman yang bisa merugikan nama Hisyam sekaligus bisnis keluarga Ozmand di masa yang akan datang.