
Alia turun ke dapur setelah menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Menyimpan semua belanjaan yang berserakan di mana-mana ternyata menyita waktu yang cukup lama.
Beruntung nyonya Farida mengajak anak-anaknya keluar, tapi dalam rangka apa? Entahlah, Alia pun tak tahu pasti dengan alasan apa mertuanya itu mengajak kedua cucu-nya keluar sepagi ini.
Dan yang lebih herannya lagi, semua pelayan di rumah itu tak terlihat satupun, padahal yang ia tahu hanya bik Ina yang meminta cuti hari ini, kalau pun ada yang izin, shift nya akan di isi dengan pelayan lain, dan sekarang ia benar benar kewalahan meng-handle semua pekerjaan rumah seluas istana itu.
Belum lagi ia harus menyiapkan sarapan untuk Hisyam yang begitu plin-plan dalam hal makanan.
"Huft! Apa orang kaya selalu berbelanja sebanyak ini? Kenapa tidak sekalian buka mini market di depan rumah, jadi aku bisa mengurus anak-anak sekaligus jadi karyawan di sana" Gumam Alia berandai-andai, sampai tak menyadari kehadiran Hisyam di sana.
Setelah beberapa menit berjibaku dengan berbagai macam belanjaan, barulah ia bisa memikirkan menu sarapan yang sesuai dangan lidah suaminya.
"Need help?"
"Brukk! Auww...." Alia meringis kala keningnya terhantuk ke pintu kabinet.
"You okay!"
Hisyam bergegas meraih Alia yang masih berjongkok menyentuh kepalanya yang terasa pusing.
"Apa ini sakit?"
Hisyam menyentuh kening istrinya yang memerah, meniupnya dengan pelan.
"Maaf, aku tak bermaksud mengagetkanmu" Ucap Hisyam lagi, namun Alia tetap bergeming, menikmati sentuhan lembut dan perhatian Hisyam yang selalu membuatnya lupa akan kesepakatan pernikahannya.
"Apa kamu akan menyiapkan sarapan untuk kita?"
Alia masih tak menjawab, pertanyaan Hisyam hanya di jawab Alia dengan anggukan burung beo.
"Kalau begitu biar aku saja" Hisyam menggeser tubuh Alia ke tepi, tapi bukannya senang di perlakukan manis oleh Hisyam, Alia malah merasa tak berguna dan tak di hargai.
"Apa yang tuan lakukan?"
"Membuat sarapan"Hisyam menyingsing lengan kemejanya hingga ke siku.
"Tapi itu adalah tugas saya"
Hisyam menatap istrinya sekilas namun cukup dalam dan melunakkan, "Lalu kenapa? Kamu bisa cuti hari ini"
Ucap Hisyam santai kemudian kembali fokus pada bahan makanan yang akan di olahnya, namun ia tak sadar jika ada hati yang sedang tersiksa dengan sikap baiknya.
"Bisakah tuan berhenti meremehkanku! Please, jangan membuatku selalu bergantung pada kebaikan yang tuan berikan"
Alia merasa jengah dengan perlakuan Hisyam yang selalu membuatnya lemah dan bingung.
Hisyam terdiam dan beralih memandang wajah kesal di sampingnya, mendengar nada bicara Alia yang sedikit di tekankan, Hisyam berpikir wanita yang telah di nikahinya itu telah salah paham dengan sikap perhatiannya.
"Kumohon, biarkan aku melakukannya sendiri" Alia memelas dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu salah paham, Alia, aku sama sekali tidak pernah...."
"Ya! Aku memang salah paham, aku selalu salah paham dengan semua perhatian yang tuan berikan, dan apakah tuan tahu? Aku begitu tersiksa dengan semua...."
"Dirrtt.... dirrtt..." Dering ponsel membuat Alia seketika menghentikan kata-katanya.
Hisyam merogoh ponsel di sakunya, menampilkan nama si penelpon yang sudah ia tunggu-tunggu sejak semalam.
"Kita bicarakan semuanya nanti" Ucap Hisyam pada Alia.
"Ta-tapi....."
Alia lagi-lagi tak dapat melanjutkan kata-katanya karna Hisyam sudah lebih dulu berlalu dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
"Jangan khawatir dan tepati saja janjimu!"
Hanya kata-kata itu yang sempat Alia dengar sebelum Hisyam banar-benar meninggalkan dirinya yang sudah sangat siap dengan keputusannya.
Alia menghela napas cukup dalam, niatnya untuk menuntaskan persoalannya harus tertunda lagi, dan ia harus memulai semuanya dari awal lagi.
Karna Hisyam belum turun juga, Alia akhirnya mengisi waktunya dengan menyiapkan sarapan.
Pancake pandan sudah terhidang di atas meja lengkap dengan kopi hitam favorit suaminya.
Alia duduk di samping kursi Hisyam, menuggu suaminya untuk sarapan bersama sekaligus mengutarakan keputusan yang telah ia pilih.
Alia terlihat berkali-kali menghela nafas, memantapkan hati bahwa dirinya telah mengambil keputusan yang tepat, meski terlihat baik-baik saja, tapi ada gemuruh dalam hatinya yang sulit ia redam.
Setelah beberapa menit, terdengar suara langkah dari arah tangga, Alia bangkit dan menghampiri asal suara itu.
Terlihat Hisyam sudah rapi, setelan jas navy dan sepatu pantofel yang mengkilat di ujung kakinya kini menghiasi penampilannya yang maskulin dan berwibawa.
"Tuan, sarapan sudah siap"
"Tapi, kita harus bicara!" Nada bicara Alia terdengar tegas, namun tidak di pedulikan oleh Hisyam yang terlihat buru-buru ke suatu tempat.
"Maaf, Alia, aku harus pergi, kita akan bicara setelah ku kembali!" Jawab Hisyam dengan raut wajah tegang.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Bukan apa-apa, bukan urusanmu"
Lagi-lagi Hisyam hanya menjawab tanpa menoleh, bukannya tak peduli, ia hanya tak ingin Alia bertanya lebih, karna pada akhirnya wanita berhati lembut itu akan menghalanginya jika sampai tahu dirinya berencana untuk melakukan balas dendam pada Mr Lee.
Alia mematung memerhatikan mobil sport yang di kemudikan oleh Hisyam melesat laju meninggalkan rumah.
Ada rasa marah karna di abaikan, tapi Alia berusaha untuk tak menanggapi perasaan itu, toh, ia sudah bertekat untuk melupakan perasaannya dan memposisikan diri di tempat yang seharusnya.
Tapi, meski begitu Alia masih tetap khawatir, entah kenapa perasaannya tak tenang setelah kepergian suaminya, apalagi tadi Hisyam terlihat begitu tegang dan seolah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa dia sedang mengalami masalah, tapi apa? Argh! Ku harap aku bisa membantunya sebelum aku benar-benar pergi"
"Pergi! Siapa yang pergi? Lalu, kenapa kamu berdiri disini?"
"Mah, dengarkan Alia dulu" Alia menyela.
"Kamu tidak berpikir untuk pergi, kan?"
"Mah, tenang dulu, mama salah paham, memang mama pikir Alia mau kemana tanpa Assyifa, coba"
Dengan lembut Alia mencoba menenangkan mertuanya yang tampak panik, tak siap jika Alia akhirnya menyerah dan memilih untuk meninggalkan keluarganya.
"Mama minum dulu, ya" Alia menuntun Farida ke meja makan, menuangkan segelas air putih lalu memberikannya pada wanita itu.
Sementara Ozan dan Assyifa sudah naik ke kamar bersama seorang pelayan yang sedari tadi ikut bersama nyonya Farida.
"Hm.... mama kemana saja, sih, mengajak anak-anak sepagi ini" Alia menghela nafas lega setelah Farida kembali terlihat santai.
"Ssttt...."
Farida meletakkan telunjuk ke bibirnya sembari celingukkan memerhatikan sekeliling.
"Mama sengaja, agar kalian punya waktu berdua" Bisik Farida.
"Apa!.... mama juga yang memberi cuti pada semua pelayan?."
"Sssttt! Pelankan suaramu, Hisyam akan marah jika tahu tentang ini....
Arkh! Dari mana ia mendapat sikap kaku dan datar itu" Farida bergumam.
"Tapi kalian sudah bicara dari hati ke hati, kan?"
"Um, itu...." Alia menggantung kata katanya sembari menatap sedih pancake dan kopi hitam favorit suaminya yang masih utuh di atas meja.
"Hm! Apa dia mengabaikanmu lagi? Biarkan mama bicara padanya!" Farida bangkit ingin beranjak namun segera di hentikan oleh Alia.
"Mah, sudahlah...."
"Dia itu pria yang tidak tahu bersyukur, dia jadi bod*h setelah mengenal Renata!"
Sambil menyingsingkan lengan, Farida tampak geram dengan sikap putra sulungnya itu.
"Mah, sudahlah, tuan Hisyam juga tak akan mendengar...."
"Harus! Selama dia tinggal di rumah ini, dia harus mendengarkan kata-kata mama!" Farida mempertegas.
"Masalahnya... tuan Hisyam sudah pergi beberapa menit yang lalu sebelum mama pulang"
"What, pergi? Anak itu banar-benar sudah keterlaluan!" Geram Farida semakin meningkat.
Dengan dada yang naik turun, Farida mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mencari kontak putranya di sana.
Berkali kali Farida menghubungi nomor yang tetcantum pada nama putranya, tapi lagi-lagi nomor Hisyam terus di alihkan ke pesan suara hingga wanita itu akhirnya menyerah dan meletakkam ponselnya dengan kasar.
"Mungkin saja tuan Hisyam ada urusan penting" Bujuk Alia.
"Tapi....!"
"Mah, mama harus bisa mengendalikan emosi, nanti darah tinggi mama kambuh lagi bagaimana"
"Huft...."
Farida menghela cukup dalam dan berusaha meredam emosinya.
Begitu pun juga dengan Alia yang tampak lega melihat mertuanya sudah kembali santai.
Bersambung.....