
maaf dear baru bisa up sekarang. habis vaksin dosis 2 jadi KO 😁
🥀
🥀
🥀
5 bulan telah berlalu.
Semenjak pertemuan Semmy dengan Clara beberapa bulan yang lalu, Semmy enggan mencari informasi soal Dira lagi.
Melihat sikap Clara yang demikian, ia yakin jika Clara akan menjaga Dira yang mengalami gangguan mental dengan baik.
Orang yang mengalami gangguan mental tidak akan menggugurkan kandungan kan?!, semoga saja..
Semmy juga enggan memberi tahu Dean soal Dira yang mengalami gangguan mental, pasalnya kondisi Dean saat ini semakin hari semakin memprihatinkan.
Jika keluarga Wilson tahu, ibu yang kini tengah mengandung cucunya mengalami gangguan mental, apakah mereka akan menerimanya?
Semmy hanya bisa berharap bahwa dengan dirinya tak mencari tahu tentang Dira lagi, Dira akan segera pulih dari penyakitnya, ya.. walaupun itu hanya kemungkinan kecil saja.
"Sem.. pinggang ku serasa sakit sekali.." keluh Dean yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia merintih pelan seraya memegang pinggangnya.
"bagaimana kalau kita kedokter saja bos, anda sudah dari kemarin mengeluh pinggangnya sakit." saran Semmy, terlihat gurat khawatir diwajahnya.
"tidak, tidak perlu, ini sudah tidak sakit lagi." tolak Dean.
"serius?. Saya khawatir bos.."
"ya, saya serius, kembalilah bekerja." potong Dean cepat.
Semmy berjalan meninggalkan ruangan Dean, sesekali ia menoleh pada Dean yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"hah.." helaan nafas Semmy terdengar begitu berat. Ia baru saja sampai di ruangannya dan baru akan membuka pekerjaannya, tapi Dean sudah menghubunginya, memerintahkan dirinya untuk kembali keruangannya.
"bos.."
"astaga bos.." Semmy terlonjak kaget melihat Dean yang tengah menahan sakit, wajahnya begitu pucat.
"Sem.. ini sakit sekali.." keluh Dean, tangan kirinya berpegangan pada meja kerjanya, sedangkan tangan kanannya memegang pinggangnya.
Dengan sigap Semmy membantu Dean agar tidak terjatuh.
"kita kerumah sakit saja tuan.." Dean hanya mengangguk pelan, Semmy dengan perlahan memapah Dean keluar dari ruangannya.
🏩
🏩
🏩
Semakin hari, usaha yang dirintisnya semakin berkembang pesat. Bahkan penjualnya pun sudah tersebar ke seluruh kota. Banyak konsumen yang merasa puas akan hasil karyanya.
"Dir, kamu gak capek apa?." cetuk Clara yang melihat Dira tengah sibuk dengan kertas dan pensilnya.
Saat ini keduanya tengah berada dirumah, mamah Seli melarang Dira untuk pergi ke pabrik, jadi sebagai gantinya, mamah Seli lah yang kini memantau para karyawan Dira.
Clara saat ini tengah cuti panjang, ia sengaja ingin menemani persalinan Dira.
"capek kenapa sih Cla?, aku biasa aja tuh." Dira masih asik dengan kegiatannya.
"kamu gak ngerasa mules-mules, sakit pinggang, atau nyeri gitu?!, nih kan udah waktunya kamu melahirkan Dir.. kalo sampai mundur dari HPL kamu harus operasi loh.." jelas Clara, tentu saja Clara merasa khawatir akan kondisi Dira, pasalnya semenjak awal kehamilan Dira sampai saat ini, Dira sama sekali tidak mengalami morning sicknes. Benar-benar hamil kebo.
"duh Cla.. kamu tuh bawel banget sih, gak akan terjadi apa-apa, tenang aja, toh HPL nya masih tiga hari lagi kan.."
"iya sih.. tapi.."
"udah ah Cla, aku mau ke toilet bentar, pengen pipis.."
Semenjak kehamilan Dira membesar ia jadi sering buang air kecil, bahkan dalam sehari ia bisa bolak balik ke kamar mandi hingga 10-15 kali.
"aku temenin.." Clara menawarkan diri.
"gak usah lah Cla, cuman buang air kecil doang." dengan perlahan Dira beranjak dari duduknya, ia melangkah kekamar mandi, diikuti oleh Clara dibelakangnya.
"kan aku udah bilang gak usah Cla.."
"aku tuh khawatir tau, udah deh gak usah bawel, ayo buruan jalan, keburu kencing dicelana tar kamu.." Clara menarik pelan tangan Dira.
Saat ini Dira sudah berada dikamar mandi, ia tengah menuntaskan hajatnya.
"Duh.. kok aneh sih rasanya, rasanya kaya pengen ngejen deh.." gumam Dira pelan.
dan.. pyar..
"Clara.." jerit Dira dari dalam kamar mandi.
Mendengar jeritan Dira, dengan cepat Clara mendorong pintu kamar mandi, untung saja tidak dikunci.
"ya ampun Dira.. ketuban kamu udah pecah.."
🖤