Single Parents

Single Parents
Titik terang



Light Nigh Club.


Salah satu club ternama dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat masuk kedalam sana, itu pun harus dengan menunjukkan id card pada para penjaga.


Disalah satu meja, Dean dan kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Semmy dan Deva, mereka tengah merilekskan tubuh pikiran serta otak mereka.


Terlihat seorang wanita s*xsy menuangkan minuman pada gelas Deva yang sudah kosong, setelahnya ia kembali bergelayut manja di samping Deva.


"oke, berati fixs loe akan menjadi satu-satunya sponsor pada acara fashion show gue dua Minggu lagi." ujar Deva setelah ia mencecap minumannya.


"tak masalah, loe atur aja semuanya, gue ngikut aja. Loe tau sendiri gue gak begitu minat dengan dunia fashion. Nanti biar Semmy yang mengaturnya."


"oh ayolah, disini kita mau bersenang-senang, kenapa musti membahas pekerjaan sih?!. Lupakan soal kerjaan sebentar saja." kesal Semmy yang lagi-lagi harus mendengar urusan kerja. Ia lelah, sungguh lelah.


Deva dan Dean saling lirik, kemudian saling tawa bersama, mereka paham akan bagaimana keadaan Semmy.


"oke, oke, sepertinya loe butuh liburan Sem.." Dean menepuk bahu Semmy pelan. "maafin gue." lanjutnya.


"tak masalah, gue cuman butuh istirahat sejenak, mengesampingkan urusan kerjaan. Loe sendiri yang gak kompeten dalam bekerja, jadi ya gini deh.." keluh Semmy.


"sorry Sem, semenjak gue ketemu anak itu, gue jadi kepikiran terus. Loe udah nemuin dokter Clara?."


"dokter Clara?." Deva yang tak paham akan arah pembicaraan Dean dan Semmy akhirnya menyela.


"tunggu tunggu.. kalian ini ngebahas apa sih sebenarnya?, gue gak paham deh."


"Dira." jawab Dean singkat.


"Dira?, loe sudah menemukannya?."


"belum, tapi kunci dimana Dira berada sekarang ada pada dokter Clara." jawab Semmy.


"dokter Clara?, siapa dia?, kenapa gue gak tau apa-apa disini?, gue berasa jadi orang bodoh." kesal Deva.


Akhirnya Semmy pun menceritakan semuanya perihal siapa dokter Clara hingga pertemuan mereka dengan anak kecil yang mirip dengan Dira beberapa hari lalu di Bandung.


"jadi kalian mencurigai dokter Clara?." tanya Deva setelah mendengar cerita Semmy.


"ya, gue yakin kalau dokter Clara tau dimana Dira berada sekarang, tapi masalahnya disini dokter itu menghilang entah kemana."


"kenapa tidak mengancam dokter Arya saja?, bukankah dia papanya?."


Semmy dan Dean saling pandang, sedetik kemudian mereka tersenyum tipis.


"ancam dokter Arya Sem, jika dalam tiga hari ini anaknya tidak muncul dihadapanku, pecat dia, pastikan ia tidak akan mendapatkan pekerjaan dimanapun ia berada." titah Dean.


"siap tuan."


"kenapa membahas pekerjaan disini sih?!, kita disini mau bersenang-senang loh.." Deva memegang dadanya dengan sebelah tangannya, mendramatisir keadaan. Ia membalikkan kata-kata Semmy beberapa menit yang lalu.


🍃


🍃


🍃


Pukul sebelas malam, Dean baru saja tiba dirumahnya, tampak sepi, seperti biasa. Ia memilih membersihkan diri, kemudian mengistirahatkan tubuhnya agar lebih fresh esok.


___


Pagi-pagi dikediaman Wilson, sudah dihebohkan dengan ocehan nyonya Wilson yang cetar membahana, dengan semangat 45 ia menceritakan pertemuannya dengan El pada sang suami kemaren.


flashback on


"wah.. ternyata dia sangat mirip denganmu ya.." suara Wina memecah keheningan.


"iya nyonya." jawab Dira canggung.


"jangan panggil nyonya, panggil Tante saja biar lebih akrab."


"iya Tante."


"jadi.. kalian ini sudah berteman sejak lama?."


"iya nyonya." kini giliran Clara yang menjawab.


'duh.. tenang Clara, tenang. All is well. semua akan baik-baik saja.' batin Clara.


"huh.." Clara menghembuskan nafasnya pelan.


Wina hanya mengangguk pelan mendengar Jawaban Clara. Pandangannya beralih menatap El yang tengah asik memakan es cream coklat vanila yang ia pesan tadi. Bibirnya tertarik keatas, membuat senyuman diwajahnya.


"kenapa tidak pesan yang rasa stroberi sekalian nak?." tangan Wina terulur ingin membersihkan noda es crem di sudut bibir El, tapi dengan sigap lagi-lagi El menolaknya. Bocah itu menjauhkan tubuhnya kebelakang.


"em.. maaf Tante, El memang tidak begitu suka jika disentuh oleh orang yang tidak ia kenal." Dira merasa tidak enak dengan Wina.


"mom, El memang tidak suka disentuh oleh orang asing!." ketus El.


"El.."


"sudah tidak apa-apa, El ini mirip sekali dengan anak Tante waktu kecil, dia juga tidak suka disentuh oleh orang yang tidak ia kenal dulu. Menggemaskan sekali." jelas Wina dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Entah mengapa ia bisa langsung suka dengan El. Sikapnya yang dingin dan ketus itu membuatnya teringat kembali akan masa kecil Dean.


'ya iyalah mirip dengan anakmu nyonya, hla wong dia ini cucumu.' jerit Clara dalam hati.


flashback off


"ada apa sih ma, pagi-pagi udah heboh aja." Dean baru saja tiba diruang makan, bergabung dengan kedua orang tuanya.


"iya nih, mamamu heboh, kemaren dia bertemu dengan orang yang mirip dengan kamu waktu kecil katanya." jawab tuan Wilson.


"iya Dean, namanya El, dia menggemaskan sekali." ujar Wina, pikirannya masih melayang membayangkan wajah tampan El.


"El?."


'seperti tidak asing namanya.' batin Dean.


"iya, namanya El, dia anak dari temannya dokter Clara." jelas Wina.


"dokter Clara?." tanya Dean meyakinkan.


"iya, dokter Clara, anaknya dokter Arya, masak kamu lupa sih, kemaren mama bertemu dengannya di mall, dia sama temennya dan juga anak temennya, namanya El. Kemaren mama gak sengaja nabrak El dan membuat es crem nya berantakan, jadi mama ganti deh, akhirnya kita ngobrol-ngobrol, ya begitulah.. El itu mengemaskan sekali, tidak suka disentuh sama orang asing, persis seperti kamu waktu kecil." jelas Wina panjang lebar.


"mama tau siapa nama temannya dokter Clara?." Dean mencoba menggali informasi dari sang mama.


"em.. mama lupa kemaren tidak tanya namanya, tapu orangnya cantik, ramah juga."


"ah, mama gimana sih, masa ngobrol-ngobrol gak tau namanya."


"yaa.. namanya juga keasikkan ngobrol.."


"kalo alamat rumahnya tau?." harap Dean.


"mama juga gak nanya soal itu, hehee."


"duh.. mama ini..."


🖤