Single Parents

Single Parents
Diizinkan



"selamat datang sayang.." sambutan hangat wanita paruh baya itu berikan untuk anak-anaknya tercinta.


"ayo masuk, pasti kalian capek. Mama buatin minum dulu ya.." beliau berlalu kedapur, sedangkan Clara dan Dira duduk diruang tamu.


"capek.." keluh Clara, ia menyandarkan kepalanya disandaran sofa.


"sama, padahal aku cuman duduk aja." Dira terkekeh pelan.


Tak selang berapa lama, mamahnya Clara datang dengan membawa tiga cangkir teh hangat beserta cemilan ditangannya.


"nih sayang-sayangnya mama, minum dulu teh nya biar gak mual, ini teh terbaik di kampung ini loh.." meletakkan nampan diatas meja.


"mana ada mual mah, dia tuh hamil kebo!." Clara mencecap teh yang diberikan oleh Seli, mamahnya.


"o ya?!, bagus dong."


"hehe.. iya tante."


Seli memang sudah diberi tahu oleh Clara jika Dira saat ini tengah hamil. Clara juga sudah menceritakan semuanya tentang Dira pada mamahnya, tentu saja Seli merasa simpati pada Dira.


Dira berjuang untuk mamahnya, tapi kenyataannya tak seindah angannya.


Ah sudahlah, takdir memang begitu bukan?!


Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk Dira.


🏣


🏣


🏣


Kini sang rembulan malam telah berganti dengan teriknya sinar matahari. Walaupun begitu, disini tidaklah terasa panas, meski matahari menyengat, hawa dingin nan sejuk selalu menghiasi hari-hari di kota Bandung ini, dimana Seli tinggal selama ini.


Saat ini Seli, Clara dan juga Dira baru saja sampai rumah Seli setelah tadi mereka meminta izin pada kepala desa untuk Dira tinggal disana.


Tentu saja itu mendapatkan respon pro dan kontra, pasalnya Dira mengaku kalau ia tengah hamil akibat diper****. Dengan derai air mata buayanya, akhirnya Dira berhasil meyakinkan kepala desa untuk ia tinggal di desa ini.


Yaa walaupun ada yang mencibirnya bakal membawa sial dikampung itu, tapi tidak sedikit juga yang merasa iba akan nasib Dira.


"akhirnya.." Clara menghempaskan tubuhnya disofa, begitupun dengan Dira dan juga Seli.


"capek sayang?." tanya Seli.


"iya mah, ternyata debat dan akting itu menguras tenaga dan pikiran ya.." keluh Clara.


"tapi kamu hebat bener deh Dir, bisa akting sekeren itu.." lanjutnya seraya mengangkat kedua jempolnya pada Dira.


"iyalah, kan aku udah menyiapkannya semalaman." Dira terkekeh pelan mengingat aktingnya didepan kepala desa dan warga setempat tadi.


"gak papa kok pak, jika saya tidak diizinkan untuk tinggal disini.." Dira berucap dengan derai air mata.


"saya akan cari tempat lain."


"ya pergi saja dari sini."


"kita tidak mau jika desa kita nanti dapat sial gara-gara nampung wanita jal*** kaya dia."


"pasti dia tuh perempuan gak bener, makannya bisa hamil."


Itulah cibiran-cibiran dari sebagian warga disana.


"pak, nak Dira ini yatim piatu, ibunya bahkan baru beberapa Minggu ini meninggal.."


"Tan, gak papa, jika saya tidak diterima di desa ini, saya akan pergi, entah pergi kemana nanti. Anak ini tidak bersalah, tidak juga berdosa, saya yang salah Tante, karena saya tidak bisa menjaga diri saya sendiri, ini semua salah saya.." isak Dira terdengar pilu menyayat hati.


"kasih ya.."


"iya, baru juga ditinggal ibunya, malah diper***, sekarang hamil lagi."


"jadi gak tega, saya kan punya anak perempuan juga, bayangin aja kalo itu terjadi sama anak kita. hii.. amit-amit."


kasak kusuk para warga.


"pak biarin aja dia disini, kasihan dia, sudah tidak punya keluarga lagi." cletuk salah satu warga.


"ekhm, baiklah kalau begitu, dengan banyak pertimbangan dari saya dan juga para warga, saya memutuskan jika mbak Dira ini bisa tinggal di desa ini untuk sementara waktu."


flashback end


Tawa Dira dan Clara pecah disana, takkala mengingat hal tadi.


"kalian ini ya.." Seli geleng-geleng kepala melihat tingkah dua bocah didepannya.


"eh, Tante bisa menjahit ya.." seru Dira tiba-tiba ketika pandangannya melihat sebuah mesin jahit dan juga teman-temannya.


"hanya jika sedang bosan saja tante menjahit, iseng-iseng lah.." Seli mendekati mesin jahitnya.


"sudah lama tante tidak mencobanya, kamu bisa nak?."


"sedikit Tante, boleh Dira coba kah?." izinnya.


"tentu saja, tapi besok saja, sekarang kita istirahat, kasihan kan bayi kamu, pasti lelah."


"iya Tante."


🖤