Single Parents

Single Parents
MENCARI ALIA.



Mobil sport berwarna silver yang di kendarai Hisyam meluncur meninggalkan kawasan pusat perbelanjaan.


Suasana hening semakin terasa, hanya deruan mesin yang terdengar memecah kesunyian malam itu.


Kesal dengan kelakuan Hisyam tadi, membuat moodnya seketika berubah tak seceria tadi, sehingga Hisyam pun tak ingin mengganggu wanita yang duduk di sampingnya saat ini.


Sebenarnya Hisyam berencana untuk meminta maaf atas keisengannya saat di mall, tapi setelah menyadari perubahan sikap Alia kini ia tak tahu harus memulainya dari mana.


"Apa dia resah memikirkan pertemuannya dengan Micheal? Tenang saja, akan aku pastikan pria itu tak akan mengganggumu dan menempatkanmu dalam situasi yang membuatmu tak nyaman"


Hisyam bertekad sekaligus memikirkan cara untuk mengembalikan keceriaan pengasuh itu, karna jujur dirinya begitu kaku untuk jadi penghibur yang baik.


"Ah... suasana kota menang sangat indah saat malam hari"


Hisyam menyerah dan memutuskan untuk memecah kesunyian, namun Alia tak menggubrisnya, wanita itu hanya menatap kosong ke luar jendela.


"Kenapa perasaanku menjadi tak enak begini?


Dan apa pentingnya kehadiranku di pesta itu? Bahkan Asisten dingin itu sandiri yang memintaku...


Tunggu! Apa, tuan Hisyam hanya berpura-pura baik padaku dan mengajakku ke pesta hanya untuk mempermalukanku? Ah... seharusnya aku mendengar kata-kata om Farhan waktu itu"


Alia berasumsi sendiri dan mulai mengaitkan kebaikan Hisyam akhir-akhir ini dengan maksud yang terselubung.


Untuk sesaat Alia kembali mengingat bagaimana Hisyam yang dulu sangat membencinya bahkan berniat untuk menyingkirkannya dari kehidupan Ozan.


Tapi kini, pria itu tiba-tiba berubah, sehingga membuatnya bergidik ngeri saat mengingat pesan Farhan agar berhati-hati pada majikannya itu.


"Ganti sepatumu dengan yang lain! Kita akan tiba sebentar lagi"


Ucap Hisyam, masih dengan tatapan lurus pria itu memasuki kawasan hotel, membuat Alia semakin yakin tentang kekhawatirannya.


"Aku ingin pulang, aku tak ingin berada di sini!" Tutur Alia sambil meremas ujung dress yang di kenakannya.


Cceekkiitt....!


Hisyam menghentikan mobilnya secara mendadak, sambil menghela napas pria itu memindai wajah Alia dengan seksama.


"Aku tau kamu tak nyaman dengan situasinya tapi, bisakah kamu menyingkirkan kekhawatiranmu itu!


Pilihlah salah satu dari sepatu itu! Lagi pula kita sudah berada di sini dan Davis sudah menunggu kita di dalam!"


Ucap Hisyam tegas dan keluar dari mobil setelah meletakkan dua papper bag berisi sepatu di samping Alia.


"Aku akan menunggumu di luar..." Hisyam menutup pintu, memberi ruang untuk Alia mempersiapkan diri.


Alia membuka satu persatu dari papper bag itu, dan tentu saja dia tak akan mengenakan high heels tadi sebagai pilihannya, hingga ia memutuskan untuk memilih flat shoes pilihan Hisyam meski menurutnya sepatu miliknya lebih nyaman dari sepatu manapun.


Hisyam tersenyum puas setelah melihat Alia mengenakan sepatu pilihannya, terlihat Alia mengekori Hisyam menuju tempat di mana pesta itu berlangsung, dengan langkah ragu wanita itu mengamati sekeliling hotel yang begitu ramai oleh pengunjung.


Perasaan Alia sedikit lega dengan suasana di sekitarnya setidaknya dia bisa meminta tolong jika sewaktu-waktu terjadi hal yang buruk padanya.


"Ada apa? Apa kamu tidak akan masuk?"


Hisyam menghentikan langkahnya setelah menyadari Alia hanya mematung menatap ragu pintu yang di jaga dua pria berjas hitam.


"Um... sebaiknya tuan duluan saja, aku akan menyusul kemudian"


Jelas Alia saat pintu di buka oleh dua bodyguard yang sedang membungkuk hormat pada Hisyam yang merupakan pemilik dari hotel tersebut.


Aura mendominan mulai terasa saat Hisyam melangkah memasuki ruangan di mana para koleganya menanti kedatangannya, semua mata tertuju padanya, begitupun para wanita single maupun yang berstatus pasangan juga terpesona menyambut kedatangan pria bertubuh atletis itu.


Dari jauh Mr. Lee dan sang istri sedang melambai ke arahnya, memamerkan kemesraan mereka pada tamu yang hadir di acara itu.


Tak jauh dari tempat itu Sarah yang sedang menikmati champagne di bar table hanya bisa menatap nanar sang suami bersama istri pertamanya.


"Enjoy the party, nyonya Lee?"


Hisyam menghampiri wanita yang sedang sibuk dengan alkohol dan cigarette di tangannya.


"Nyona Sarah? Huh...! Sounds like a joke"


Jawab Sarah acuh sambil menuangkan segelas champagne ke dalam gelas dan memberikabnya pada Hisyam.


"I'ts okay, aku sadar pria terhormat tak akan memperkenalkan wanita simpanannya di depan umum, sama halnya dengan wanita itu, dia juga tak punya hak untuk menuntut apapun, that's why aku merasa senasib dengannya"


Ungkap Sarah sambil memainkan gelas dengan ujung jarinya.


"Apa maksudmu wanita itu?" Hisyam memutar kursinya menghadap Sarah yang seolah sedang menyindirnya.


"Babysitter, secantik dia? Huh... kamu pikir bisa menyembunyikannya, wanita itu bahkan lebih menyedihkan dari aku, setidaknya aku bisa hang out, shopping, whatever i need..."


"Wait! Maksudmu Alia...?" Hisyam tercenggang mendengar penuturan Sarah.


"Klap... Klap...!"


Sarah bertepuk seru, dengan mata yang hampir tertutup menahan pengaruh alkohol yang di minumnya, wanita itu masih sempat berbisik sesuatu di telinga Hisyam.


"I like your style, kamu bahkan mencari wanita polos dan penurut untuk melayanimu"


Bisik Sarah di sertai ******* halus nan memikat, menghasilkan aroma parfums bercampur cerutu menusuk indra penciumannya.


"Don't be silly! Alia wanita baik-baik, dia tak seperti yang kamu tuduhkan"


Tampik Hisyam sambil mendudukkan Sarah ke tempat semula, tak ingin berdebat dengan wanita yang di pengaruhi alkohol itu, ia pun berlalu meninggalkan Sarah dengan perasaan kesal.


Malam semakin larut suasana pesta pun semakin meriah, di tengah keramaian Hisyam mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alia di antara para tamu yang hadir saat itu.


Khawatir tidak bisa menemukan pengasuh itu, Hisyam pun berencana untuk mencari wanita itu di luar tanpa memperdulikan Mr, Lee yang sedang membahas tentang rencana kerja sama mereka di tengah-tengah para hadirin.


Pidato singkat Mr. Lee di akhiri dengan mempersilahkan Hisyam untuk menanggapi rencana kerja sama mereka, walau sebenarnya rencana itu belum sepenuhnya di setujui oleh Hisyam sendiri.


"Silahkan tuan Hisyam, mungkin ada yang ingin anda sampaikan atas kerja sama kita ini"


Ujar Mr. Lee dengan senyum sumringah, kali ini ia merasa telah berhasil memancing perusahaan Hisyam masuk ke dalam bisnis ilegalnya yang hampir tercium oleh public.


Dengan bekerja sama dengan perusahaan besar seperti O.Z Group Company, tak akan ada yang curiga bahwa perusahaan manufaktur dan media paparazzi yang di gelutinya hanyalah sebuah tameng untuk menutupi bisnis ilegalnya.


"Jadi kamu memutuskan untuk bekerja sama dengannya? Kamu sudah gila! Mereka menjalankan bisnisnya dengan cara kotor, apa kamu mau di kaitkan dengan desas desus perusahaannya!"


Protes Davis, dengan berbisik pria itu mengusap kasar wajahnya, bukan hanya Davis semua tamu pun terlihat saling berbisik menanggapi pengakuan Mr. Lee tadi.


"Aku tahu kamu khawatir, aku akan mengurus masalah Mr. Lee , tapi saat ini aku ingin kamu cari di mana gadis indo itu berada"


Seru Hisyam dengan nada berbisik, ia tak ingin Michael tahu kalau Alia juga hadir di pesta itu.


Hisyam melangkah ke depan, kali ini ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Mr. Lee, hingga terpaksa kali ini ia harus angkat bicara.


"Attention please! Terima kasih atas kepercayaan anda, Mr. Lee tapi, kami belum bisa memberi jawaban dari tawaran anda, so thank you for your trast and enjoy the party"


Tutur Hisyam dengan santai namun bisa membuat Mr. Lee dan Micheal berang atas penolakan pria bertubuh atletis itu.


Merasa di permalukan, Mr. Lee kini berjalan menghampiri Hisyam yang sudah di kerumuni orang media dan rekan bisnisnya.


Sudah siap dengan segala pertanyaan yang sebenarnya sudah di rencanakan olehnya, Hisyam pun terlihat santai mendekati Mr. Lee yang terlihat marah.


"Hah... aku tidak menyangka bisnis kita akan berakhir secepat ini"


"Bukan berakhir, aku bahkan tidak pernah memulainya, tapi kamu tak perlu khawatir kerja kerasmu selama ini tak akan sia-sia"


Lanjut Hisyam santai, namun sebenarnya perasaannya tak tenang, hingga tak bisa fokus ingin segera beranjak mencari keberadaan pengasuh itu.


"Excuse me but, i have to go..."


"Uh! Aku hampir lupa, Micheal menemukan sesuatu yang menarik tentang gadis itu! Ups... i mean your beautiful babysitter, tidakkah kamu penasaran tentangnya?"


Sindiran Mr. Lee mampu menghentikan langkah Hisyam dan kembali menghadap pria bermata sipit itu, dengan rahang yang mengeras menahan amarahnya Hisyam perlahan mendekati lawan bicaranya.


"Bos! Aku sudah mencarinya, tapi tak menemukan gadis itu!" Lapor Davis membuat dua pria itu kembali meredam emosinya.


"Antarkan mereka ke ruanganku! Aku akan menyusul sebentar lagi!"


Perintah Hisyam dengan nada tegas sebelum berlalu meninggalkan Mr. Lee yang tersenyum puas, tau bagaimana cara memancing emosi Hisyam yang sulit di tunjukkan di hadapan umum