Single Parents

Single Parents
PERMAINAN TUAN LEE



Entah berapa menit Alia terdiam di dalam kamar mandi setelah meloloskan diri dari rangkulan tuannya.


Di sana ia mencoba mengusir desiran aneh yang menyerangnya saat membayangkan dirinya dalam pelukan Hisyam.


"Tidak! Aku memang seorang janda, bukan berarti dia bisa seenaknya memelukku, aku tak akan tertipu lagi dengan perlakuan lembut pria seperti itu!"


Alia bermunolog, seketika membuatnya teringat perlakuan lembut Adam yang hanya menunjukkan kebaikannya di awal pernikahan mereka.


Begitupun dengan Mike, pria tak berperikemanusiaan itu selalu membuatnya bergidik ngeri.


Bahkan saat Hisyam tiba-tiba memeluknya, wajah bringas Mike dan Adam lah yang kembali terbayang di ingatannya, membuat seluruh tubuhnya merinding membayangkan semua peristiwa itu.


"Tok... tok... tok...!"


Suara ketukan mengagetkan Alia, hingga dengan terbata-bata Alia mendekati pintu.


"Pakaianmu sudah di siapkan oleh pelayan! Dan, keluarlah segera untuk sarapan!" Teriak Hisyam dari luar.


"Ba...baiklah!" Jawab Alia singkat dan tak sengaja melihat pantulan dirinya di dalam cermin saat ia berbalik.


Dengan ragu Alia mendekati kaca dan memerhatikan kondisi tubuhnya yang mengenaskan, ia sangat shock setelah melihat luka pada wajahnya serta banyaknya bekas merah yang di tinggalkan Mike di leher putihnya.


Tanpa di sadarinya air matanya luruh tak tertahankan, merasa dirinya sangat di rendahkan dengan perlakuan tak senonoh Mike, membuatnya ingin berteriak mengungkapkan kekesalannya pada pria yang hampir saja merobohkan benteng harga dirinya.


Sama seperti Adam yang telah meninggalkan luka yang mendalam di hatinya dan tentunya tak akan pernah bisa ia lupakan sampai kapan pun.


"Lalu bagaimana dengan Hisyam, apakah pria itu juga akan memanfaatkan diriku sebagai wanita lemah yang tak berdaya?"


Alia lagi-lagi berseteru dengan perasaannya, bohong kalau ia tak merasakan getaran apapun saat seorang pria memperlakukannya seperti apa yang di lakukan Hisyam padanya.


Kadang ia memang merasa nyaman jika berada di sisi Hisyam, tapi entah kenapa bayangan silam selalu datang mengingatkan rasa sakit itu dan perlakuan Mike padanyalah yang semakin membuat luka itu berdarah kembali.


Alia masih berdiri menatap kaca, tangannya yang bergetar menghapus cairan bening yang keluar dari netranya, meski ia menyadari dirinya yang sangat lemah, tapi bukan berarti ia harus menyerah pada keadaan.


-


Di ruangan yang lain.


"Awas saja kamu Davis! Berani-beraninya dia mengejekku seperti itu, akan ku buat kamu menyesali kata-katamu tadi!"


Umpat Hisyam sambil mematut dirinya di hadapan cermin, memastikan tak ada yang kurang pada penampilannya.


Dengan setelan jas berwarna biru dongker serta jam mewah yang menghiasi pergelangan tangannya, pria itu semakin terlihat sempurna meski usianya hampir menginjak kepala empat.


Hisyam meninggalkan walk-in closet dan menghampiri meja yang telah di sulap sedemikian rupa atas arahan Davis.


Setelah memperhatikan menu sarapan yang beraneka ragam yang telah tehidang sempurna di atas meja, Hisyam kini tertarik pada sebuah kartu ucapan yang sengaja di selipkan di sela buket mawar yang terletak di antara menu yang tersaji.


"Meeting you was fate, becomeng your friends was choice, but, falling in love with you was completely out of my control"


[Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tapi, jatuh cinta denganmu benar-benar di luar kendaliku]"


"Cih! Apa dia benar-benar berpikir kalau kami berdua menghabiskan malam bersama... dan apa lagi ini, kekanak-kanakan sekali!"


Hisyam dengan acuh kembali meletakkan kartu ucapan yang di genggamnya, meraih secangkir coffee dan meneguknya sambil memerhatikan pemandangan pantai dari jendela.


Sementara Alia yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat mengendap-endap, ia berusaha tak menimbulkan suara saat menggapai pakaian yang di maksud oleh Hisyam dan membawanya kembali kekamar mandi.


Alia menilik penampilannya setelah mengenakan pakaian pemberian Hisyam.


Meski skinny jeans yang di padankan blus berwarna putih tulang tampak modis dan berkelas itu terlalu berlebihan untuk seorang pengasuh sepertinya.


Tapi pakaian itu lebih layak di gunakannya di banding dress berkilau dan kurang bahan seperti pilihan Hisyam sebelumnya.


"Hmm... ya sudahlah, setidaknya aku tak akan masuk angin jika mengenakan pakaian ini, dan lebih menyedihkannya lagi tidak ada oppa korea yang akan memakaikan jasnya saat aku kedinginan seperti di film film"


Canda Alia pada diri sendiri, sebelum menghampiri Hisyam ia mencoba untuk membuang jauh-jauh hal-hal yang bisa membuatnya semakin stress dan kembali fokus pada tekadnya, yaitu menjadi seorang ibu sekaligus ayah yang baij untuk putri kecilnya.


"Apa kamu menyukai pakaian itu?"


"I...iya, terima kasih..." Jawab Alia tulus.


"Baguslah kalau kamu menyukainya, tapi berterimakasihlah kepada Davis, dia yang memilihkan baju itu untukmu"


"Oh.... pantas saja seleranya beda"


Gumam Alia namun tetap samar terdengar oleh Hisyam.


"What? Did you say something?" Tanya Hisyam.


"Uh... bukan apa-apa, aku hanya terlalu lapar, bisakah aku memakannya sekarang?"


Jawab Alia gugup dan mulai meraih selembar demi selembar roti di hadapannya, hingga tanpa sadar ia hanya menyisahkan sedikit untuk tuannya yang hanya bisa memerhatikan gelagat pengasuh itu .


"Kenapa tuan tidak sarapan?" Tanya Alia setelah menyadari Hisyam hanya menatap dirinya tanpa menyentuh makanannya sama sekali.


"Bagaimana aku bisa sarapan, makanannya tidak akan cukup untuk kita berdua..."


Sindir Hisyam, namun masih terlihat santai melempar pandangannya keluar jendela.


Sedang Alia yang merasa terjebak oleh pertanyaannya sendiri perlahan mundur dan berusaha menelan makanan terakhirnya dengan pelan dan susah payah.


"Tok... tok...!" Beruntung, suara ketukan di balik pintu menetralkan suasana canggung yang di rasakan Alia.


"Tuan, mobilnya sudah siap, apa anda ingin pulang sekarang?"


Davis menghampiri keduanya saat Hisyam mengijinkannya untuk masuk.


"Nanti saja, setelah nona Alia menghabiskan sarapannya..."


"Aku sudah selesai tapi, apa Om Farhan yang akan mengantar kita?"


Mendengar pertanyaan Alia, Hisyam dan Davis saling menatap, mereka berdua baru sadar, apa yang akan terjadi jika Farhan sampai melihat mereka keluar bersama, apa lagi sampai tau bahwa dirinya menginap di hotel bersama Alia.


Melihat Alia yang sedang gusar, Hisyam pun mengisyaratkan sesuatu pada Davis, dan akhirnya pria itu pun pergi untuk melakukan perintah tuannya.


Hisyam dan Alia melangkah keluar meninggalkan hotel setelah mendapat telepon dari asistennya.


Dengan aksi penyamarannya, mereka akhirnya bisa keluar dari hotel dan bergegas menuju mobil.


Sesampainya di mobil, Alia hanya berdiri ragu saat Hisyam sudah siap di belakang kemudi, ia ragu jika harus kembali duduk sejajar dengan majikannya lagi.


"Masuklah, sebelum ada yang melihat kita!"


Teriak Hisyam saat menyadari keraguan di diri Alia, hingga ia segera menekan tombol dan otomatis pintu pun terbuka.


"Dia akan ikut denganku! bukankah kamu harus menemui istriku? Uh... don't forget Mike, dia bahkan terlihat lebih menyedihkan dari Sarah istriku"


Ucap seorang pria yang tiba-tiba berdiri di samping Alia dan menahan tangannya untuk tidak masuk ke dalam mobil.


Alia begitu kaget melihat Mr. Lee kini berdiri tepat di hadapannya sehingga dengan perlahan Alia mundur seiring gerakan tangan Mr. Lee yang ingin meraihnya.


"Don't you ever touch her!"


Teriak Hisyam seiring pukulan keras yang mendarat di tulang pipi Mr. Lee mengakibatkan sudut bibir pria itu mengeluarkan cairan merah segar dan tentu saja Mr. Lee tak terima dengan perlakuan itu, hingga aksi pukul memukul pun tak terelakkan.


Alia merinding menyaksikan aksi kedua pria yang sedang di kuasai amarah itu, sehingga dengan spontan wanita itu merosot menekuk lutut sambil menutup mata dan telinganya, tak sanggup melihat kekerasan yang terjadi tepat di depan matanya.


BRUUKK....! BRUUKK...!


Entah berapa lama Hisyam dan tuan Lee bersitenggang hingga menodongkan senjata satu sama lain, beruntung Davis dan beberapa bodyguard menghampiri mereka hingga aksi todong menodong pun bisa di hentikan tanpa menelan korban.


Mr. Lee tersenyum puas setelah merasa berhasil memancing emosi Hisyam, hingga ia bangkit dengan rasa percaya diri dan kembali mendekati lawannya yang terlihat geram menatapnya.


"Evrything is just getting started, i hope you petiently waiting for the next game....(semuanya baru saja di mulai, aku harap kamu bisa bersabar menunggu permainan selanjutnya...)"


Ejek tuan Lee sebelum berlalu dan menghampiri mobilnya, meski penampilannya terlihat compang camping tak karuan, tapi pria itu masih tersenyum bahagia, merasa rencana selanjutnya akan berjalan dengan begitu sempurnah